Prolog
"Pelan-pelan buka pagarnya. Jangan sampai membangunkan seisi rumah". Tanpa mengalihkan pandangan dari balik kemudi mobil kepintu pagar rumahnya, Anandita merogoh kunci dan melemparkanny kunci pagar kepada seila yang duduk disampingnya.
Dengan cekatan seila membuka pintu mobilnya, lalu berlari menuju pagar. Jauh sebelum mobil itu mendekati komplek tempat tinggal mereka, seila mempersiapkan diri dengan melepaskan high heels yang ia kenakan dan bersiap sesuai rencana yang di susun matang kakaknya agar mereka bisa masuk ke rumah dengan aman.
Anandita menggenggam erat kemudi sementara matanya menatap tajam ke arah seila yang berusaha membuka pagar dengan perlahan agar tidak ketahuan. Ia tidak memedulikan adik bungsunya, Clarisa yang semakin mencondongkan tubuhnya kedepan dari bangku belakang, Anindita pergi bertiga dengan kedua adiknya, seila dan Clarisa.
"Apa masih ada yang bangun? kita bisa langsung masuk kerumah kak?" bisik Clarisa sangat tegang.
"hush!" sergah Anandita cepat.
Tanpa mengalihkan pandangan dari seila, Anandita kembali memperingatkan Clarisa. "ingat kata-kataku tadi yah! jangan mengeluarkan suara sedikitpun. Jika saja yang pergi aku malam ini, mungkin aku tidak perlu setegang ini. Tapi gara-gara Clarisa dan kamu ikutan nyusul naik taksi online segala, sekarang kita hanya bisa berdoa agar ayah dan bunda tidak begadang untuk menghukum kita bertiga. Terutama karena kamu ikut."
"Ta-tapikan aku memang harus ikutan,"gumam Clarisa. hati Anindita sebenarnya tidak tega melihat adik bungsunya merasa bersalah. Ia tahu bagaimana kedua orangtuanya ekstra ketat menjaga mereka bertiga, terutama Clarisa yang paling polos diantara mereka bertiga.
Anandita yang berjiwa pembangkang senang sekali bertingkah semaunya, membuat orangtuanya selalu pusing memikirkan anak sulungnya. Namun kali ini ia tidak habis pikir, seila yang selalu mencontoh perilakunya, berani- beraninya mengajak Clarisa nekat menyusulnya menonton konser musik internasional malam ini.