Pulang Nonton Konser
Anandita dan kedua adiknya, seila dan clarisa sedang dilanda ketakutan. Pasalnya mereka pulang tengah malam sehabis nonton konser musik internasional.
"Pelan-pelan buka pagarnya. Jangan sampai membangunkan seisi rumah."
Tanpa mengalihkan pandangan dari balik kemudi mobil ke pintu pagar rumahnya, Anandita merogoh kunci dan langsung melemparkan kuncinya ke Seila yang duduk di sampingnya.
Anandita menghela nafas berat, lalu menginjak gas mobil perlahan sampai di depan pagar besi rumahnya yang pagarnya sudah di buka oleh seila.
"Sudah jangan menangis! jangan lupa lepas sepatumu dan tutup mulutmu rapat-rapat begitu aku mematikan mesin mobil." Anandita memerintahkan adiknya sambil menjalankan mobil perlahan, lalu mengerem persis didepan garasi. Dengan cepat anandita keluar dari mobilnya membantu seila untuk menutup pintu pagar.
BRUUK!!! Anandita langsung menghentikan usahanya menarik salah satu pintu pagar begitu mendengar Clarisa kelepasan menutup pintu mobil dengan agak keras. Matanya melotot marah pada Clarisa yang meringis meminta maaf dalam ekspresi wajahnya.
"Ini salahmu," desis anandita, melemparkan kekeslan pada seila yang masih memegangi pintu pagar.
"Sekalian saja kalian berdua menekan bel rumah dan membangunkan semua orang."
Sambil menggerutu, Anandita dan Seila mendorong pintu pagar sampai tertutup.
"Kalian benar-benar membuat hariku menjadi berantakan."
" Clarisa memaksa ikut, tidakkah kamu merasa senang jika kita bertiga menonton konser bersama? dan lagi ini pertama kalinya kita kekonser sampai tengah malam."
Seila yang sudah tidak tahan dengan omelan kakaknya akhirnya membuka mulut. Ia memperhatikan Anandita mengembok pintu pagar dengan perlahan. Lalu melirik pada clarisa yang mendekap tas tangan dan sepatunya sambil menatap kedua kakaknya dengan wajah sedih.
"Sediit lagi Clarisa pasti nangis deh," bisik Seila menatap Anandita.
Sambil menghela nafas panjang, Anandita melenggang melewati kedua adiknya.Tanpa menggunakan alas kaki seperti saat seperti ini membuat tubuhnya sedikit lebih pendek dari kedua adiknya.
"Tentu saja aku senang." Anandita mendesah sambil melangkah dan berhenti diantara Seila dan Clarisa . "Tapi mengingat banyaknya miscall di ponselku, ponselmu.." Ia menunjuk Seila, lalu beralih menunjuk Clarisa, "dan ponselmu, belum lagi SMS dengan isi penuh ancaman hukuman dari ayah bunda. Yang pasti aku yang akan menanggung hukuman paling berat untuk kejadian hari ini....tentu saja aku kesal."
"Kalau cuma aku yang pergi sendiri, masih bisa aku tanggung akibatnya. Nah ini kamu juga bawa Clarisa. Aku sudah bilang kemungkinannya hanya seupil bahwa ayah dan bunda tidak menunggu kita dengan sapu untuk menyabet kita." Anandita berkacak pinggang dan menatap bergantian pada kedua adiknya.
Seketika Clarisa memeluk erat Anandita yang masih berkacak pinggang dan menoleh kaget pada adik bungsunya yang tiba-tiba memeluknya erat. Tidak perlu diragukan lagi, rasa bersalah Clarisa pasti sangat tinggi.
"Kak dita, jangan marah lagi. Meski kemungkinannya sebesar upil, Tapi ada juga kok upil yang ukurannya besar". ucap polos Clarisa.
"Bisa jadi ayah dan bunda sudah tidur. Apalagi tadi mereka ada acara di luar, kemungkinan mereka sudah tidur karena kelelahan." Ucap Clarisa pelan.
Sorot tajam mata Anandita menghentikan gelak tawa Seila setelah mendengar kalimat si bungsu. Anandita menghela nafas panjang dan balas memeluk Clarisa.
"Meskipun mereka sudah tidur, masih ada besok pagi untuk menerima hukuman,' sahut Anandita pasrah.
"Sudahlah, aku gerah dan mau mandi, lau tidur. Memikirkan hukuman yang harus kutanggung karena ulah kalian berdua membuat aku capet setengah mati."
"Lain kali jangan merencanakan pergi ke konser sendirian ya!" Seila mendekatkan bibirnya ketelinga Anandita. " Bawa aku juga lain kali." Senyum usil Seila membuat Anandita tidak dapat berkata-kata. Hati dita merasa antara bersalah tidak mengajak kedua adiknyadan kesal karena mereka berdua selalu membuntuti dan meniru kelakuannya.
Kreeekk.....
Jantung Anandita serasa mau lepas ketika pintu rumah terbuka lebar. Ia seperti berada di dalam film horor, juga yakin kedua adiknya merasakan hal yang sama. kakinya lemas begitu melihat kedua orangtuanya yang berdiri dengan wajah garang, menghadang di depan pintu.
Ayah mengacungkan sapu tinggi-tinggi sementar bunda berkacak pinggang di belakang tubuh ayah yang tingginya sejajar.
"Anak siapa yang dini hari seperti ini baru pulang? Hah!! dasar anak bandel!" Ayah berteriak maju sambil melambaikan sapu panjang yang terlihat lebih panjang daripada tubuhnya sendiri.
Spontan Anandita merentangkan kedua tangannya untuk melindungi kedua adiknya yang langsung menunduk. Ia sendiri otomatis menunduk sambil berteriak. " Dengar dulu, yah!" pekik Dita sambil menangkup ujung sapu begitu hendak mendarat di kepalanya.
Posisi anindita setengah berjongkok sementara kedua adiknya berlutut di kanan dan kirinya.
"Anak siapa yang nggak tahu aturan seperti ini? Jawab ayah! anak siapa?" Ayah membentak sambil menggoyangkan sapu yang berhasil di tangkap Anindita. Anandita berusaha keras agar sapu itu tidak lepas dari tangannya.
Ia sudah sering mengalami kejadian menyakitkan ketika sapu mendarat sukses di bokongnya.
"Anak ayah." Anandita menjawab sambil mengimbangi arah goyangan sapu diatas kepalanya.
Mendengar Anandita menjawab dan menahan serangannya, ayah semakin geram. Bunda menahan tangan ayah agar berhenti. Namun emosi ayah tidak terkendalikan malam ini.
"Berani kamu saya ayah? kamu yang paling tua tapi tingkahmu yang paling liar.
"Ayah sendiri tadi yang tanya anak siapa. Aku cuma menjawab pertanyaan ayah. Ayah dengar dulu penjelasanku," jawab Anindita terengah-engah. Ia melirik kedua adiknya di sampingnya.
"Kalian kenapa diam saja?! Bantu aku," bisik Anandita kesal.
"Yah, aku dan Clarisa yang menyusul kak Dita. Kami cuma ingin menonton konser bersama kak Dita."
Akhirnya Clarisa meraih gagang sapu keramat yang jadi rebutan Anandita dan ayah. Masih berlutut, Seila memberi kode kepada Clarisa untuk membantu. Mereka semua tahu Clarisa paling bisa membuat luluh hati orangtua mereka.
Namun bukannya membantu dengan membuka mulutnya, Clarisa malah mulai terisak dan mulai menangis sambil memeluk sepatu dan tas di tangannya semakin erat. "Semua ini gara-gara aku......Hoaaaaaa..hiks...Hhks..hiks...
Tangis Clarisa yang pecah pada tengah malam membuat semua orang sontak memandang Clarisa.
Anandita menghela nafas panjang melihat adiknya menangis . Tangannya melonggar dan dengan pasrah melepaskan ujung sapu dari genggamannya. Tanpa disangka sapu terjatuh dihadapannya, karena ayah melepaskan ujung sapunya.
Memang tak ada yang bisa menang jika tangis Clarisa sudah pecah.
Bunda langsung maju dan berkacak pinggang menatap ketiga anak gadisnya itu. "Semua berlutut!" Perintah bunda cepat. Anindita langsung bergerak tanpa sempat berfikir. Ia sepenuhnya berlutut bersama Seila sementara Clarisa masih sempat menyeka air matanya.
Clarisa melirik orangtuanya yang berdiri dihadapannya, yang hampir membuat senyumannya mengembang adalah perut bundar ayah yang menonjol ketika ikut-ikutan berkacak pinggang disamping bundanya.
"Yang satu sudah dua puluh empat tahun, yang satu dua puluh dua tahun, yang satu lagi masih SMA. Kalian bertiga mau jadi apa?! Bunda tahu kamu tidak membawa adik-adikmu keluar. Tapi kamu tahu sendiri sebagai yang paling tua seharusnya memberikan contoh yang baik. Bukannya berkeliaran sampai tengah malam begini. Karena mencontoh kamu, mangkanya mereka berdua ikut-ikutan menyusul."
Bibir Anandita mengerut. Kalimat itu suda sering kali ia dengar sepanjang hidupnya. Sebagai anak paling tua di keluarga ekstra ketat seperti keluarganya ini, Ia harus bertanggung jawab atas ulah kedua adiknya. Aturan protektif di keluarganya bisa dibilang akibat orangtuanya yang sangat menyayangi anak-anak perempuannya.
"Kalau terjadi sampai terjadi sesuatu dengan kalian bagaimana?" Pertanyaan bunda yang melengking dari mulut bunda membuat lamunan Anandita buyar. Ia memandang bunda yang masih berkacak pinggang.
Sambil menjewer telinga anak-anaknya, yang dianggap keterlaluan oleh bunda, karena pulang dari konser sampai menjelang pagi.
"Kalian sudah mengerti kesalahan kalian apa?" tanya bunda dengan lantang.
" Ia.... sudah," jawab Anandita dan Seila dengan malas.
"kalian hanya bisa menjawab sudah, tapi pasti akan mengulangi lagi, terutama yang dua ini," bunda berkata sambill menunjuk Anindita dan Seila. Telunjuknya berhenti di depan Seila.
"Hukuman untuk kalian bertiga, besok pagi jam enam kalian harus sudah bangun, temani bunda jogging keliling komplek."
"Jam enam?!" Seila langsung melirik jam tangannya sekilas.
"Sekarang saja sudah jam tiga. Masa tidur tiga jam? mana bisa tidur nggak sampai tiga jam," protes Seila.
" Buna tidak peduli. Semua salah kalian sendiri. Pulang jogging, kita semua akan makan siang bersama keluarga Dokter Jemi wirawan . Setelah itu kalian harus bantu bunda bersih-bersih rumah. Hukuman kali ini terpaksa ringan, mengingat kita akan ada janji makan siang penting."
"Dokter jemi wirawan?" Anandita berusaha mengingat dokter yang disebutkan bunda. Namun ayah langsung beranjak maju dengan telunjuk memperingatkan.
"Ayah sudah kenal dengan Dokter Jemi. Besok kita hanya makan siang bersama agar acara perkenalan tidak terasa kaku, jadi jangan bikin ulah. Mereka keluarga terpandang. Kamu sudah membuat ayah dan bunda khawatir dengan semua pacar yang suka kamu ajak kesini yang tidak jelas itu. Jadi, jangan anggap perjodohan ini mainan."
Anandita melongo. Ternyata orangtuanya benar-benar serius dengan perkataan mereka. Baru beberapa minggu mereka melontarkan ide untuk mencarikan calon menantu yang pas untuk Anandita. Selain prihatin dengan pacar yang suka dibawa Anandita pulang kerumah tidak ada yang kecantol dengan orangtuanya, mereka mau yang terbaik untuk anak sulungnya, dengan mencarikan laki-laki yang bisa diandalkan untuk anak tertuanya yang agak liar.
"Jadi ayah bunda serius?!" tanya Anandita tidak percaya.
"Superserius!" Terdengar jawaban keduanya.
Ayah melanjutkan, "jangan dikira ayah tidak akan memberikan hukuman, setelah pulang dari makan siang akan ada hukuman untuk kalian," gumam ayah.
"Acara perjodohan ini kan juga hukuman," gumam Anandita lesu. Bahunya melorot, Ia memikirkan cara untuk lolos dari ide gila ini.
"Sekarang kalian boleh masuk istirahat, mandi lalu tidur, besok pagi jam enam akan bunda bangunkan."
Anandita hanya bisa menatap kosong. Ia belum ingin beranjak. Seila dan Clarisa seketika mendekat. "Bagaimana ini? Sepertinya mereka serius dengan perjodohan itu. Bisa-bisa dua tahun lagi mereka juga merencanakan ide yang sama untuku," ucao Seila khawatir.
"Kalau aku nunggu berapa tahun lagi," tanya Clarisa polos. Anandita dan Seila berbalik menatap lugu adiknya.
Anandiita mendesah perlahan. "kita lihat dulu besok. Belum tentu baru ketemu sekali, lalu main putuskan jadi nikah. Kalau ternyata orangnya jelek dan gendut, bagaimana" Iihhh...."
Anandita bergidik membayangkan besok siang.
"Kalian mau sampai kapan berdiri disitu?"
Bunda melambaikan sapu di tangannya dan menghentikan bisik-bisik rahasia diantara ketiga anaknya.
"Aku mau berlutut sampai ayah bunda membatalkan niat perjodohan ini," ucap Anandita spontan. Dagunya terangkat dan menatap wajah bunda, yang langsung melongo menatap wajah anknya. Seila dan Clarisa yang masih disampingnya juga melongo. Bahkan ia pun secara tidak sadar dengan ucapannya sendiri yang terucap spontan.
Selama beberapa detik saling menatap dalam suasana hening. Bunda menghela nafas panjang. Bukannya marah, ia hanya menatap tajam sebelum berbalik dan beranjak santai masuk kedalam rumah.
"Tidak ada perubahan rencana. Kamu boleh berlutut sampai pagi di situ, bunda dan ayah mau lanjut tidur, kalian masuklah lalu istirahat, besok kita harus bangun pagi." bunda dan ayah melenggang masuk kerumah menuju kamarnya.
Dengan langkah gontai, ketiga kakak beradik itu masuk kerumah dan menuju kamar masing-masing.