ALISNYA tebal. Kacamata persegi membingkai wajahnya yang tampak kaku. Sikap diam dan hanya sesekali meimpali percakapan membuat anandita yakin, laki-laki di hadapannya ini memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan dirinya.
Sepanjang malam Anandita memperkirakan dokter pujaan hati orangtuanya pasti berkacamata.Namun dalam bayangannya pula, dokter dari keluarga terkenal ini seharusnya tidak jauh dari gambaran laki-laki kutu buku yang dia fikirkan.
Dokter daniel Wirawan duduk di hadapan Anandita, mengenakan kemeja biru polos berlengan pendek dan celana jeans. Dengan jam tangan mahal di pergelangan tangan kirinya.
Potongan rambutnya biasa saja. Dokter yang katanya baru berumur tiga puluh lima tahun ini tampil angkuh dan percaya diri. Sepertinya dia sudah banyak menyelamatkan banyak pasien.
Mata Anandita bergerak menelusuri detail laki-laki yang dianggap orangtuanya serasi untuk mendampinginya sepanjang hidup yang pastinya sangat panjang.
Selagi orangtuanya sibuk berbasa basi dengan orangtua calon suaminya, Anandita memanfaatkan waktu untuk menilai sang dokter. Kedua adiknya sibuk mengelilingi meja makan yang penuh dengan hidangan, tidak memedulikan acara perjodohan kakaknya,
Anandita tidak tahu, kalau Dokter Daniel juga sedang meneliti anandita dengan matanya. Dokter pendiam itu menatapnya tanpa perubahan di raut wajahnya sementara menuangkan teh dari teko ke cangkirnya, lalu menyesap perlahan.
"Jeng Sinta bagaimana jika kita ngobrol sambil mulai makan siang?" Bunda mengajak makan calon besannya.
Suara tawa yang terlampau senang membuat Anandita menoleh, lalu memandang wajah bunda dan berusaha keras agar tidak mengangkat tangannya untuk menutup mulut bunda yang terbuka lebar.
"iyah jeng Lusi," ucap tante Sinta yang tampak seumuran dengan bunda. "Anandita bisa panggil tante si Sinta kalau masih canggung untuk manggil Mama."
Mata Anandita membulat mendengar pernyataan optimis calon mertuanya. Mau tak mau ia harus berhenti mengamati calon suaminya dan cepat-cepat melemparkan senyum ramah.
"Anandita biasanya dipanggil apa?" tanya tante Sinta, mulai menaruh perhatian.
aMeski menyadari Daniel masih memandanginya, Anandita berusaha santai dan tersenyum ramah. Ia berpura-pura tidak ambil pusing dengan keberadaan Daniel. "Panggil Dita saja, tante."
"Dari tadi Anandita dan Dokter Daniel diam saja," ucap bunda basa-basi lagi." Suara ramahnya terdengar penuh akal usil yang bisa diprediksi Anandita. "Mungkin sebaiknya kita biarkan mereka ngobrol sementara kita memilih makanan,"
Tante Sinta mengangguk setuju dan langsung berdiri dari kursinya untuk berjalan bersama bunda. Suara obrolan mereka terdengar oleh Anandita. Untuk menghilangkan rasa canggung, Anandita mengangkat cangkir tehnya dan dengan segera meminumnya.
"Kamu juga bisa mulai memilih sesuatu jika mau," ucap Anandita setelah meletakan cangkir di meja. Ia berdeham kecil sambil menegakan punggung, menatap kembali Dokter muda yang ternyata sosoknya jauh berbeda dengan imajinasi jelek di kepala Anandita.
"Restoran ini favoritku karena banyaknya pilihan makanan yang mereka sajikan. Jadi tidak perlu malu-malu untuk mulai memakan siang. Mungkin tadi bundaku terlalu lama berbasa-basi," ucap Anandita, tersenyum.
Laki-laki itu menoleh ke kanan-kiri, memperhatikan banyaknya sajian bufet. Setelah itu dia kembali menatap Anandita.
"Kita bisa memilih bersama jika kamu mau."
Anandita terpengarah. Suara berat yang ia dengar untuk pertama kalinya dari mulut dokter membuatnya kikuk.
ah, tepatnya pengalaman pertama dijodohkan seperti inilah yang membuat Anandita gugup. Ia tidak tahu apa pun tentang laki-laki di hadapannya., kecuali doktrin kedua orangtuanya bahwa manusia pintar ini serasi untuk mendampinginya seumur hidup.
"Aku belum lapar." Entah kenapa nada suara Anandita terdengar agak ketus padahal sebenarnyaia tidak bermaksud begitu.
Dokter muda itu hanya mengangguk. Setelah itu ia menangkupkan tangan dan meletakannya di meja. tubuhnya condong ke hadapan Anandita, sementara Anandita secara naluriiah mundur hingga mencapai punggur kursi.
"Kenapa orangtuamu sampai memaksa mencarikan suami untukmu?" tanya daniel tanpa tedeng aling-aling. "Kamu tampak terpaksa datang ke sini."
"Kamu tidak terpaksa?" Balas Anandita cepat. Matanya terkunci menatap Daniel.
"Aku memang serius mencari istri," jawab Daniel, yakin.
Dagu Anandita sedikit terangkat. Matanya menyipit curiga. Ia menarik nafas dalam-dalam. Kedua sikunya diletakkan di sandaran kursi. Kakinya menyilang, sementara otaknya menebak nebak kasus apa yang dialami anak keluarga dokter terkenal ini.
"Orangtuaku takut aku salah pilih pacar, dan berakhir dengan laki-laki yang salah. Mereka sangat protektif terhadapku dan kedua adikku. Dan, mengingat aku mulai terjun membantu perusahaan keluarga, mereka benar-benar tidak ingin aku salah langkah."
Hening.
"Bagaimana denganmu? Kasus yang sama atau ada cerita yang berbeda?" Tanya Anandita ingin tahu.
Senyum muncul di bibir Daniel. Lelaki itu juga meletakkan tangannya pada sandaran bangku. "Keluargaku juga protektif. Namun, bukan terhadap aku ataupun saudara-saudaraku," ucap Daniel dengan mata terpaku pada wajah Anandita. "Aku akan mengatakan yang sejujurnya." Daniel menatap serius pada Anandita. "
"Tiga bulan lalu tunanganku meninggalkanku. Yup, meninggalkan secara sepihak sementara undangan pernikahan kami, menurut rencana, akan dibagikan tiga bulan lagi."
"Banyak pihak sudah mendengar rencana pernikahanku, segala persiapan hampir selesai. Orangtuaku tidak mau malu. Aku tidak mau menambah kepenatan karena berseteru dengan mereka. Secara emosi dan fisiku terkuras habis, bagaimana kalau kau jadi pengantin pengganti, dan kita melakukan pernikahan kontrak," timpal Daniel.
Dia menghela nafas perlahan dan membiarkan Anandita melontarkan pertanyaan dengan tidak sabar.
"Jadi kamu mencari calon pengantin pengganti untuk secepatnya supaya acara pernikahan tiga bulan mendatang itu bisa tetap terlaksana?" Sela Anindita. Ia tidak percaya mendengar cerita ala sinetron seperti ini.
"Aku mengerti jika kamu merasa sakit hati dan penuh emosi terhadap semua yang sudah terjadi. Tapi apakah kamu serius mencari calon istri pengganti secepat ini? Kamu mencari wanita yang mau menikah denganmu dalam waktu tiga bulan dan hidup bersamamu selamanya. Apakah itu tidak...?"
"Tidak untuk selamanya," Daniel memotong untuk menghentikan pertanyaan Anandita.
Anandita terdiam. Wajahnya bingung, menatap wajah serius Daniel.
" Tidak - untuk - menikah - denganku -selamanya," ulang Daniel, menekankan jawabannya agar Anandita benar-benar yakin dengan kata-kata yang ia dengar. Lalu ia melanjutkan, "tunanganku, atau lebih tepatnya mantan tunanganku, juga dokter di rumah sakit keluarga. Dia mendapat tawaran karier dan beasiswa sekolah di luar negeri saat kami merencanakan pernikahan kami. Awalnya dia ingin melepaskan kesempatan itu, namun sepertinya tekanan persiapan pernikahan dan juga stres karena orangtuaku tidak begitu menyukainya, membuat ia memutuskan untuk meninggalkanku. Aku yakin dia pasti akan kembali padaku. Namun orangtuaku terlanjur marah dan malu.
Terlebih karena sejak awal mereka tidak sepenuhnya setuju. Jadi, sekarang aku mengikuti keinginan mereka untuk tetao menjalankan rencana pernikahan ini. Namun aku hanya menawarkan pernikahan 'sementara' dan bukan untuk selamanya.
Aku hanya ingin meredam emosi orangtuaku sambil menunggu tunanganku kembali."
Meski terkejut mendengar Daniel blakblakan, Anandita otomatis mengangguk perlahan. Ternyata kasus sang dokter lebih berbelit daripada yang ia duga.
"Jadi kamu yakin tunanganmu akan kembali. Hmmm... Menarik," gumam Anandita sambil mengangguk.
Anandita mengulurkan tangan untuk mencapai teko teh di depannya, lalu menuangkan isinya ke cangkir Daniel. Seakan sedang melakukan pertemuan bisnis, Anandita berusaha meresapi cerita yang baru ia dengar. Ia memandangi Daniel sambil berusaha menilai kesungguhan Daniel dari ceritanya.
"Aku berharap pertemuan pertama ini langsung membawaku pada wanita yang mau menikahiku hanya setahun." Daniel bersuara. "Jika kamu keberatan dengan kejujuranku, aku sangat memahami.
"Aku hanya tidak ingin berbohong pada wanita yang akan mendampingiku selama setahun."
Anandita mengangguk, meski membayangkan betapa rumitnya dan kasihannya laki-laki ini.
"Kamu tidak takut aku akan mengatakan niatmu ini kepada orangtua kita? Siapa tahu aku marah setelah mendengarkan pengakuanmu." Anandita menatap Daniel, penasaran.
"Menurutku, zaman sekarang tidak banyak yang setuju dijodohkan. Namun jika itu terjadi, aku siap. Karena hal paling buruk dapat kubayangkan," jawab Daniel santai.
"Bagaimana denganmu? Kamu hanya mengatakan orangtuamu sangat protektif." Pertanyaan Daniel mengalihkan lamunan Anandita ke alam sadar.
Anandita menatap Daniel. "Mereka sangat protektif. Dan aku merasa terkekang. Meski aku belum serius mencari suami, apalagi berkeluarga, orangtuaku merasa suami yang serasi dengan latar belakang keluarga kami sangat penting."
Anggukan Daniel sebagai respons membuat Anandita merasa lebih santai. Bagaimanapun di zaman modern seperti ini perjodohan bukan hal lumrah lagi, pikir Anandita.
"Aku bisa mengerti, mengingat bagaimana orangtuaku membanggakan betapa suksesnya orangtuamu," ucap Daniel penuh pengertian.
Anandita mencibir begitu mengingat perusahaan keluarga yang besar dan cukup membanggakan yang berhasil di kelola orangtuanya. "Dan sepertinya orangtuaku harus bersabar merencanakan acara seperti ini beberapa tahun ke depan karena aku belum siap memikirkan pernikahan," ucap Anandita dengan nada bercanda. Ia mengangkat cangkir teh dan meminumnya.
"Tidakkah kamu fikir pertemuan kita siang ini benar-benar takdir?" Ucap Daniel, menatap Anandita.
Anandita melirik wajah Daniel yang tampak mengeras. Kacamata perseginya membuat laki-laki itu terlihat serius dan kaku sekalipun tersenyum.
"Aku berencana menunggu tunanganku pulang sekaligus menutupi rasa malu orangtuaku. Kamu berencana menunggu beberapa tahun lagi untuk mencari laki-laki yang tepat sambil berharap orangtuamu tidak menunggumu dengan segala upaya mengenalkanmu pada laki-laki yang mereka anggap pantas?"