Mengambil Keputusan

333 Kata
"Tidakkah kamu pikir pertemuan kita ini adalah takdir?" " Aku menunggu tunanganku kembali padaku dalam kurun waktu setahun, sekaligus menutupi rasa malu orangtuaku sedangkan kamu mencari laki-laki yang tepat untuk beberapa tahun lagi, sambil berharap orangtuamu tidak mengganggumu dengan segala upaya perjodon lagi." Penjelasan Daniel menyentakkan ide di kepala Anandita. Sepertinya ide itu sudah terbentuk di kepala Daniel. Senyum usil Anandita muncul, sementara dibenaknya mulai membayangkan ide gila Daniel. Ia meletakkan cangkir tehnya, menegakkan punggungnya dengan sedikit bersemangat Anandita mencondonkan tubuhnya. "Kamu pikir dalam setahun tunanganmu akan kembali?" tanya Anandita memastikan. "Jika ia tidak kembali, berarti apa yang sudah ia putuskan memang yang terbaik untuknya. Aku yakin dia akan kembali. Apapun yang terjadi, aku akan melepaskanmu dalam setahun," jawab Daniel tegas. Tawa geli Anandita membuat kening Daniel berkerut. "Aku belum mengatakan setuju untuk menikahimu dalam setahun ke depan." Rasa gugup dan gelisah yang awalnya menyelimutinya sekarang hilang. Dan sifat Anandita yang asli muncul. Ia mengedikkan pundak dan tersenyum riang. Tanpa banyak bicara, ia bangkit dari kursi. Membetulkan letak tas tangannya di kursi, lalu tersenyum pada Daniel yang masih memperhatikannya dengan raut penuh tanya. "Mari kita berbisnis sambil memilih makanan," Anandita berkata sambil menunjuk k arah meja makanan di tempat mereka duduk. Daniel tersenyum kecil mendengar Anandita dan turut berdiri, yang ternyata tinggi gadis itu tidak sampai telinganya meski ia mengenakan high heels. "Hmmmm.... sepertinya kita bisa memulai pembicaraan dengan persiapan gaun pengantin. Jika semuanya oke, kita harus melakukan penyesuaian gaunku," Anandita berkacak pinggang dan mendongak. "Semua sudah siap. kamu hanya perlu datang ke acara pernikahan. Aku bisa segera mengirim email contact person wedding organizer and bridal yang sudak kami pesan," jawab Daniel serius. "Aku sudah melakukan hal gila. Setuju menikahi laki-laki yang baru beberapa menit yang ku temui dan sekarang kamu mengatakan bahkan untuk acara pernikahan, aku hanya perlu datang tanpa mempersiapkan apapun." "Tidak gila menurut orangtua kita. Mereka sudah merencanakan hubungan bisnis. Orangtuamu akan menanam modal ke rumah sakit keluargaku. Menguntungkan kedua belah pihak." Penjelasan Daniel lebih terdengar seperti bisnis daripada perjodohan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN