Perjanjian Pra Nikah

1339 Kata
"Maaf! Maaf banget yah!" Sambil menatap wajah Daniel dengan perasaan bersalah, Anandita meletakkan tas tangannya di kursi kosong sementara cepat duduk di depan Daniel yang sudah menunggunya hampir satu jam. "Berapa kali kamu bilang harus mengatakan maaf?" piring dan gelas yang sudah kosong menunjukkan bahwa laki-laki itu benar-benar tidak berniat menunggu Anandita datang untuk makan siang seperti kesepakatan sebelumnya. Anandita mengangkat tangan dan menggoyangkan ponsel. "Karena aku sangat merasa bersalah membuatmu menunggu satu jam. Aku ada meeting mendadak. Kamu tidak tahu betapa aku harus mengikuti kegiatan kantor hanya untuk membuktikan pada semua orang bahwa aku bukan sekedar anak bos yang tidak tahu apa-apa." "Maaf," ucap Daniel singkat. Raut wajah yang tidak berubahitu membuat Anandita mengerutkan kening, menilai apakah laki-laki itu tulus dengan kata maafnya. "Aku terbiasa makan siang dengan cepat karena bagiku waktu sangat berharga. Dalam waktu satu jam mungkin aku bisa menyelamatkan nyawa seseorang," timpal Daniel ketika Anandita menatap piring yang kini kosong di hadapannya. Tentu saja dokter selalu berfikir waktu sangat berharga. Jika pengusaha seperti diriku berfikir waktu adalah uang, bagi Daniel waktu adalah nyawa. Anandita mengangguk-angguk paham atas sudut pandang Daniel. "Lain kali aku akan berusaha tepat waktu, sementara kamu juga sebaiknya menungguku datang sebelum menghabiskan makananmu." Tanpa menunggu persetujuan Daniel untuk berkompromi, gadis itu menyandar santai ke punggung kursi, kakinya menyilang, lalu tersenyum lebar. "Lalu apa yang perlu kita mulai?" "Bagaimana dengan orangtuamu?" tanya Daniel tanpa memedulikan pertanyaan Anandita. Sambil menerawang, Anandita mengingat reaksi orangtuanya ketika ia memberitahu dirinya akan makan siang dengan calon menantu idaman mereka. "Hmmm...mereka terlihat seperti sudah yakin memenangkan lotre dokter sebagai menantu." Senyum kecil Daniel setelah mendengar perkataan Anandita dan membuat Dita memperhatikannya. "Mereka memang sudah memenangkannya, tapi dalam waktu setahun." "Bagaimana dengan orangtuamu?" tanya Anandita. "Sama seperti orangtuamu," jawan Daniel cepat. meski di ucapkan tanpa nada bercanda. "Aku dengar semua anggota keluargamu dokter. Kenapa kali ini kamu dan orangtuamu mencari calon menantu yang tidak memiliki latar belakang yang sama." "Kakek-nenekku dokter. Om dan tanteku dokter. Sepupuku dan istrinya dokter." Ucap Daniel sambil menyebutkan keluarga besarnya sembari menghitung di jari-jarinya. "Tentu saja keluargaku mengharapkan aku mendapatkan pendamping dokter pula. Namun..." "Ooohhh.." Desah prihatin yang keluar dari mukut Anandita menghentikan penjelasan Daniel. "Aku mengerti, tunanganmu itu juga dokter. Jika ia kembali, tentu saja orangtuamu akan lebih bergembira," ucap Anandita. "Tidak semudah itu."Jawaban Daniel membuat Anandita penasaran. "Tunanganku bukan dari keluarga berada seperti keluargamu. Meski ia dokter, dari awal orangtuaku tidak begitu menyetujui karena mereka menganggap dia tidak sepadan dengan kami." "Hmmm..." Anandita bergumam pelan.Orangtuamu takut tunanganmu memanfaatkan status sosialmu. Meskipun aku bukan dari keluarga dokter, juga tidak memiliki grup rumah sakit sebesar keluargamu, orangtuamu merasa aku calon yang pas karena kesuksesan orangtuaku,kan? Belum lagi suntikan modal yang siap dituangkan ayahku kerumah sakitmu." Tawa kecil Daniel membuat Anandita menghentikan ocehannya. Ia memperhatikan lekat laki-laki berkemeja polos coklat itu. Sebenarnya Daniel memiliki wajah diatas rata-rata. Apalagi dengan badan jangkung dan rahang tegas. "Dan mereka tidak ingin para keluarga dokter lainnya bergunjing tentang keluarga kami," Imbuh Daniel tersenyum melihat cara lucu Anandita memahami kisah hidupnya. Anandita berpura-pura membaca buku menu. Sementara matanya menelusuri daftar menu yang ada di tangannya, sementara mulutnya kembali bicara. "Keluarga kita sama-sama puas dengan pertemuan kemarin dan juga perkembangan hubungan kita sampai hari ini. Lalu selanjutnnya bagaiman?" Map ungu berukuran sedang, tebal, dan berat, dari cara map itu diletakkan, mengalihkan Anandita dari buku menu. Sampul map dengan tulisan berjudul My Wedding Plan di letakkan tepat di samping buku menu. Setelah menerjap beberapa kali memperhatikan map tebal itu, Anandita menatap Daniel penuh tanda tanya. "Semua detail persiapan pernikahan ada di situ." Daniel mengisyaratkan dengan gerakan mata. "tunanganku menyiapkan dalam map ini sebelum dia memutuskan pergi." Anandita membuka sampul map cantik itu dan membaca tulisan font serupa sampulnya. Syahrini and Daniel "Hmmm... jadi namanya syahrini," gumam Anandita. Pada lembar pertama ia menemukan daftar keperluan yang dicentang sebagai tanda sudah dilakukukan. Map itu disusun berdasarkan bagian-bagiannya. "Panggilannya Rini." Tanpa merespons Daniel, Anandita menyibak bagian map yang bertuliskan Venue. Sketsa dekorasi panggung cantik dan elegan membuat ia terpesona. Untuk pertama kalinya ia melihat perencanaan pernikahan yang sedemikian detail. Semakin ke belekang, semakin terlihat betapa pernikahan itu dipersiapkan sedemikian matangnya. Ada contoh pallete warna, tatanan meja tamu, serta rincian bunga. "Kamu bisa mempelajarinya di rumah. bahkan kamu bisa menambahkan yang kurang dari yang sudah aku dan rini persiapkan. Aku perlu tahu apakah kamu setuju denagn syarat dan kondisi yang kuajukan. Jika tidak, aku hanya membuang-buang waktu." Laki-laki ini kaku dan tidak suka basa-basi. Daniel tidak seperti laki-laki kebanyakan yang Anandita kenal. Pria seperti dihadapannya ini sangat mencintai tunangannya dan sepertinya dia layak dipercaya. "Setahun hidup bersamamu..." desah Anandita. Pikirannya membayangkan bagaimana mereka harus berpura-pura dan saling membantu dalam kehidupan mereka kelak. "Jika aku tidak serius menerima idemu, aku tidak akan berada di sini," lanjut Anandita meyakinkan. Daniel menatap mata Anandita untuk memastikan jawaban yang ia dengar. Setelah beberapa detik, Daniel menarik tangannya dari map. "Sikapmu tidak seperti umur aslimu. Saat tahu umur kita selisih jauh, aku pikir aku akan berkenalan dengan anak kecil." "Dokter memandang rendah aku, ya?" tanya Anandita bercanda. "Dokter sedang memandang penerus WINGS Grup. Meskipun aku masih dua puluh empat tahun, bakat dan bibit dari kakek nenekku yang pedagang mengalir pekat ddi dalam darahku." Kini Anandita ganti memandang Daniel dalam-dalam memperhatikan Daniel yterdengar mudah dan sedang tersenyum mendengar perkataannya yang di fikirnya lucu menurut Daniel. "Sekarang dari mana kita mulai?" Suara rendah dan berat itu membuat Anandita memikirkan lebih dalam kesepakatan yang ia lakukan dengan Daniel. Meski kesepakatan ini terdengar mudah dan sederhana, sebenarnya sangat rumit dan riskan. Selain membeli waktu, apa hal berharga lain yang Anandita dapat raih? "Bagaimana cara kita berpisah nanti?" tanya Anandita spontan. ia mendongak dan melihat Daniel yang terkejut dengan pertanyaannya. "Bagaimana kia berpisah tanpa meninggalkan status buruk untukku dan juga tidak menyakiti keluarga kita?" "Aku akan menjadi janda muda dalam kurun waktu setahun." "Aku merencanakan perjanjian pranikah di antara kita. Pertanyaanmu membuatku memikirkan pembatalan pernikahan. ajukan pembatalan pernikahan setelah setahun pernikahan kita. Kamu bisa melaporkan apa pun tentang diriku agar pernikahan kita di anggap batal," ucap Daniel dengan kening berkerut. "Jika begitu sama saja dengan membuat keluargamu harus menanggung malu. Seakan permaalahn sudah dapat diselesaikan, Daniel menjawab dengan santai. "Pada saat itu aku yakin Rini sudah kembali padaku dan rsa malu keluargaku sudah tidak berlaku lagi bagiku." "Kenapa kamu tidak menunggu Rini sampai datang dan membiarkan keluargamu gusar dan malu?" Anandita menghentakkan map yang ia pegang dengan kesal ke meja. Daniel menghela nafas panjang. "Ternyata kamu tidak sabaran. Mereka pasti akan tetap mencarikan wanita lain. Dan aku yakin orangtuaku, juga kakek nenekku, akan memastikan aku menikahi seseorang dalam tiga bulan ini. Aku sangat beruntung bertemu denganmu karena kita bisa saling membantu. Apakah kamu mulai keberatan dengan rencana ini?" Anandita merasa kesal. Matanya terpaku pada map tertutup itu. Ia menarik nafas agak panjang, lalu menatap Daniel. Sambil menegakkan punggung, ia merengut pada laki-laki yang baru dua puluh empat jam ini ia kenal. "Mungkin semua ini memang gila. Mungkin juga ini yang terbaik." Ucap Anandita dengan tarikan nafas panjang. "Oke, Dokter Daniel mulai hari ini kita pasangan kekasih yang akan menikah tiga bulan mendatang. Mulai detik ini semua orang yang mengenal kita akan menganggap kita pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta." Anandita mengulurkan tangan dan menunggu Daniel membalasnya sebagai tanda kesepakatan. "Permulaan yang sangat bagus," ucap Daniel sambil menggenggam erat tangan anandita. Sekalipun Daniel melepaskan tangannya dengan cepat, gadis itu bisa merasakan kuatnya genggaman Daniel. Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul untuk memenuhi rasa penasarannya akan calon suaminya. Namun yang keluar dari mulutnya benar-benar tidak berasal dari kepalanya. "Aku tidak menyukai soft ungu dan rentetan warna pastel yang di gunakan untuk pernikahan kita. Apakah ada kemungkinan menggantinya dengan warna lain?" "Aku sudah melunasi semuanya. Sebaiknya kamu tidak terlalu memedulikan hal receh seperti itu karena ini bukan pernikahan serius," jawab Daniel santai. "Sebagai orangtua yang mengenal diriku, pasti ayah dan bunda akan terkejut jika aku mengatakan akan menikah denganmu secepat ini. Bagaimana jika mereka malah merasa kehilangan, bahkan menyesal menjodohkanku secepat ini," "Kita lihat dulu reaksi mereka," jawan Daniel. Maaf kalo banyak typo >>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN