Tiga Bulan Lagi

1036 Kata
"WHAT?!" Ayah berteriak keras sementara bunda menahan nafas sambil melotot. Anandita yakin Ayahnya syok sangking kagetnya, sedangkan bunda matanya melotot, untung tidak sampai copot bola matanya saat mendengar kalimat yang dilontarkan Daniel. Anandita tidak sempat melihat Seila dan Clarisa yang duduk bersama mereka di ruang makan. Mungkin kedua adiknya itu tersedak setelah mendengar yang di ucapkan Daniel. Anandita menggenggam sendok makan sambil menggigit bibir. Ia sudah menduga reaksi kedua orangtuanya. Mereka merasa terlalu cepat putrinya melepaskan status gadisnya. Anandita dan Daniel sama sama berjanji jika orangtua Anandita keberatan dengan pernikahan yang akan dilangsungkan secepatnya yaitu tiga bulan lagi, mereka sepakat akan menjadi teman saja. Ayah berdiri dari kursinya, tangannya meraih tangan Daniel, Daniel yang terlihat sangat tenang. "Om sangat senang mendengarnya, om sangat berterima kasih." Anandita melongo. Ayah menepuk nepuk tangan Daniel sambil tertawa lebar. Anandita menatap bunda yang sedang menekan dadanya dan tersenyum lebar. Anandita menatap adik-adiknya yang bengong dengan mulut menganga. Begitu Om bertemu papamu, Om sangat sreg seperti bertemu dengan jodoh sendiri. Seperti om dulu bertemu dengan tante ini," Sahut ayah. Sangat terlihat pipi bunda merah seperti tomat saat di goda ayah. Lucu juga yah. "Kami sudah mendengar perihal desakan pihak Nak Daniel untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Om tidak menyangka putri kami yang satu ini bisa tnduk secepat ini. Om benar-benar tidak mengira kalian bisa jatuh cinta secepat ini. Bahkan sampai tidak sabar menikahi anak Om. Siapa yang tidak bangga mempunyai menantu seorang dokter spesialis bedah jantung. Om terharu mendengar kesungguhan Nak Daniel menerima anak om yang liar ini." Ayah sambil mengelus kepala Anandita. "Ayah serius?" tanya Anandita tidak percaya. "bagaimana ayah tidak serius?" potong bunda. "Nak Daniel serius mau melamar dita, kan?" Bunda menatap Daniel yang duduk di depannya dengan wajah penuh harap. "Sangat serius. Malam ini saya datang untuk memperjelas hubungan kami, dan sekalian ingin mendapatkan persetujuan dari Om dan Tante, mengingat kami berdua dan juga orangtua saya menginginkan acara pernikahan secepatnya," jawab daniel dengan tegas dan lancar, seperti tidak ada beban. Anandita menengok ke arah Daniel. Dari wajahnya yang kaku dan gaya bicaranya yang serius, siapa yang tidak percaya pada laki-laki ini? Dan ayah terlihat sangat percaya dengan ucapan Daniel, untuk mendapatkan persetujuannya. Anandita tidak habis fikir, betapa mudahnya orangtuanya ingin melepaskan anaknya kepada Daniel, laki-laki yang baru berkenalan dengannya beberapa hari saja. Selama ini jika Anandita membawa pacar-pacarnya, ayahnya seperti singa yang siap menerjang siapapun, sangking waspadanya dia untuk menjaga anak gadisnya. "Secepat apa?" Tanya bunda, sangking semangatnya. Anandita sangat kesal karena orangtuanya terlihat tidak sabar untuk menyerahkan dia ke Daniel. Hmmmmm.... "Tiga bulan kedepan." jawab Daniel sambil memandang bunda dan ayah bergantian. Pasangan itu terpengarah. Daniel melanjutkan. " Semua sudah saya siapkan. Saya tinggal menunggu persetujuan Om dan Tante." APA? TIGA BULAN LAGI?!" teriak ayah, bunda yang heboh. Sedangkan Clarisa dan Seila langsung menganga mendengar ucapan Daniel, sambil saling memandangi kakaknya. "Bagaimana mungkin pembicaraan penting begini kita tidak merayakannya," ucap ayah sambil menengok ke bunda. Bunda yang sambil menyeka air matanya yang terlihat terharu sambil mengangguk. "Tidak perlu Om, kan kita sudah makan malam, sehangat suasana ini saja tidak apa-apa." jawab Daniel cepat. "Benar-benar malam ini membuat ayah begitu bahagia, mimpi apa semalam kita bun, anak kita secepat ini sudah cocok dengan nak Daniel." "Apakah tiga bulan tidak terlalu cepat , yah, bun?" tanya Anandita heran ke arah orangtuanya. Mereka akan merelakan anak sulungnya untuk dinikahi pria ini yang akan di persunting dalam waktu yang dekat. " habis nikah nanti aku akan tinggal dengan Daniel loh yah, bun." "Ayah dan bunda rela?" timpal Seila yang shock mendengar kakaknya ingin cepat di nikahi oleh Daniel. Anandita langsung melirik ke adiknya yang terlihat sangat sedih. Senyum lebar ayah maish terpampang di wajahnya. "Tentu saja ayah dan bunda rela. Masih sama-sama tinggal di kota yang sama ini. Ngomong-ngomong tentang tempat tinggal kalian nanti bagaimana? Tanah ayah banyak, sudah ada hak untuk kalian bila nanti kalian pada menikah. Ayah mau bikinkan rumah untuk kalian, ayah tidak mau berjauhan dengan kalian." ucap ayah. "Maaf Om, saya sudah siapkan rumah untuk kami tinggali, saya harap Om tidak keberatan," sahut Daniel mantap. Sambil menyuap makanannya yang terlihat sangat tenang. Melihat tingkah Daniel, Anandita menjadi gemas sendiri. Ia menyampirkan tangan kirinya ke atas lengan kanan Daniel. Menghentikan gerakan tangan Daniel yang sudah mau menyendokkan makanannya kembali, sambil menatap Daniel dengan kerutan di dahinya sementara Daniel menoleh dan menatapnya dengan penuh tanya. Seperkian detik kemudian, Daniel yang salah mengartikan ekspresi Anandita, berbalik menatap Om Rio dan melanjutkan kalimatnya. "Saya sudah punya rumah sendiri om. Memang tidak terlalu besar seperti rumah ini, tapi cukup nyaman untuk kami tinggali. Om dan Tante bisa datang kapan saja." Cih!! Anandita mengumpat dalam hati. Tentu saja rumah yang ia siapkan sudah ada untuk tunangan yang lari entah kemana itu. Daniel pasti pernah mengatakan hal yang sama juga kepada orangtua Syahrini saat melamarnya. Bisa jadi Syahrini pun sudah mempunyai perabotan di rumah yang Daniel siapkan untuk mereka nanti. Anandita kesal kepada orangtuanya kenapa dengan mudah melepasnya. "Tiga bulan itu tepatnya tanggal berapa? Banyak sekali yang perlu dipersiapkan. Belum tempat, belum lagi undangan. Aduh... kita harus mulai mencatat siapa saja yang akan kita undang." Bingung sendiri dengan alam pikirannya, bunda bergegas berdiri dan menghampiri meja telepon yang di dekat meja ruang tamu. Pasrah dengan pemandangan di hadapannya, Anandita bertukar pandang dengan Daniel. Laki-laki yang baru ia kenal beberapa hari itu menunduk mendekati wajah Anandita. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Anandita mengerjap, menunggu apa yang akan dilakukan Daniel. Perlukah Daniel menambah akting dengan menciumnya. "Semua berjalan lancar. Kenapa kamu malah bingung sendiri?" bisik Daniel, yang ternyata tidak mencium Anandita. Rasa kecewa Anandita teralihkan ucapan ayah. Kali ini ayahnya berdeham dan berkata tegas, "Om merasa sangat beruntung meski merasa kehilangan. Om hanya minta satu dari nak Daniel." Mata terarah sepenuhnya ke ayah yang menatap serius pada Daniel. Anandita bersusah payah menelan ludahnya. Baru kali ini ia melihat raut wajah ayahnya haru campur bahagia. Ayah menangkup tangan Daniel dengan kencang, berusaha menekan maksudnya. "Selama ini om menjaga ketat ketiga anak gadis Om, Jadi Om minta, Nak Daniel juga akan menjaga Anandita dan sebaik-baiknya. Apalagi antara keluarga Om dan keluarga Nak Daniel berteman baik. Setelah menikah, Om tidak ingin anak Om tinggal jauh-jauh dari Om." (maaf kalau banyak typo) minta love dan likenya yah kakak :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN