"AKU tidak menyangka, kau memutuskan secepat itu untuk menikah, dan akan memakai gaun pengantin ini."
Anandita menatap bayangan Seila dalam balutan gaun yang di kenakannya pada pernikahnnya nanti, pada pantulan cermin besar yang ada di hadapannya.
Sudah ratusan kali, adiknya ini menanyakan keseriusan kakaknya untuk menikah, dia masih tidak percaya.
Tangan Anandita menyusuri detail gaun pengantin yang tidak pernah ia pilih itu dan membiarkan beberapa karyawan bridal vendor melakukan tugas mereka. Ia tidak memusingkan Seila dan malah membayangkan bagaimana sebenarnya rupa pemilik sah gaun pengantin yang sedang ia kenakan ini.
Ketika pertama kali ia Anandita mencoba gaun pengantin ini, ukurannya kepanjangan dan agak kebesaran dari tubuhnya.
Dan sekarang saat ia kenakan sudah sangat pas di tubuhnya, karena sudah di kecilkan sesuai ukuran badannya.
"Dita!" Panggil Seila mengagetkan.
"Apa sih?" Ngagetin aja," pekik Anandita, menatap adiknya yang terlihat anggun dalam gaun dress midi Boat nick peach yang ia kenakan untuk pernikahan Anandita nanti," Kakak beradik ini sedang Fitting baju.
"Apa yang kamu tahu tentang calon suamimu itu? Seperti apa dia ketika praktek di rumah sakit? Apakah kamu sudah mengenal kepribadian dia? Bagaimana keseharian dia?"
Tentu saja Anandita tidak tahu menahu tentang calon suaminya. Selama ini mereka hanya fokus pada persiapan pernikahan dan merencanakan segala hal untuk pernikahan palsunya. "Bahkan aku belum pernah melihat Daniel mengenakan jas dokternya," ucap Anandita, menerawang.
"Kamu benar-benar nekat, dan gila!" sahut Seila, ia berdiri lalu berjalan menghampiri Anandita sambil sedikit mengangkat gaunnya. Tangannya ia letakkan di pundak Ananita. Ia menatap dalam-dalam mata Anandita. "Aku punya ide bagus. Baru saja terfikir. Bagaimana jika kita mengintai calon suamimu hari ini?"
Anandita jadi salah sangka, karena Seila terang-terangan bicara ingin memata-matai calon suaminya, yang di dengar oleh karyawan-karyawan yang sedang memakaikan gaunnya, sesekali mereka bersenda gurau menimpali ide Seila.
"Bukanya kamu hari ini harus ke kampus?" tanya Anandita.
"Bolos sesekali bolehkan, please," mohon Seila dengan nada yang dibuat-buat. "Kamu penasaran kan dengan calon suamimu, bagaimana dia sebenarnya, mangkanya kami akan menemanimu mengintainya," senyum jahil Seila yang juga menatap Clarisa yang sedang di mencoba gaunnya.
Anandita juga penasaran dengan calon suaminya itu, bagaimana sebenarnya keseharian Daniel yang sebenarnya, Ia harus beradaptasi nanti dengan daniel karena mereka akan tinggal bersama.
"Bagaimana dengan Clarisa?" Anandita yang menatap adiknya yang sedang mencoba gaun yang nanti akan ia gunakan di hari pernikahan Anandita.
Seila tersenyum menang, akhirnya mereka akan ke rumah sakit untuk mengintai calon kakak iparnya, yang dalam waktu dekat akan jadi kakak iparnya. "Memang agak repot kalau membawa clarisa, tapi mau bagaimana lagi ayah sibuk ke kantor, bunda sedang antar undangan.
"Jadi bagaimana?" tanya karyawan yang mengenakan seragam pink dengan bordir nama desainer pemilik tempat ini di bagian dadanya. Wanita yang diperkirakan usia nya kepala empat ini tersenyum lebar dan penasaran dengan pembicaraan calon pengantin ini dengan adiknya.
Anandita memperhatikan sekelilingnya. Semua karyawan menatapnya, pasti mereka heran kenapa wanita yang berbeda yang akan menggunakan gaun pengantin yang sebelumnya sudah di pesan Daniel.
Gadis itu menatap dirinya dalam balutan gaun pengantin yang pas ditubuhnya. Semuanya sudah siap. Ia tidak perlu repot lagi untuk memikirkan yang lainnya. Karena Daniel hanya membutuhkan dirinya sebagai pengantin pengganti dengan perjanjian yang mereka sepakati sebelumnya.
Keheningan menanti jawaban Anandita pecah ketika Clarisa keluar dari ruang ganti yang terbuka. Dengan warna yang senada dengan gaun yang akan di gunakan Seila. Clarisa muncul dengan senyumannya yang cantik pada kedua kakaknya.
"Bagaimana, Cantik seperti seorang putri kah?" Clarisa menghampiri kedua kakaknya, sambil tersenyum. Gaun Dress off the shoulder itu membuat Clarisa cantik dan anggun.
"Tinggal ditambah mahkota di kepalamu, kau akan tampak seperti putri yang di dongeng-dongeng," gurai Seila.
"Cantik Cla, Ucap Anandita tulus. Tidak usah berlama-lama, hari ini kita ada misi khusus,"sambil menggamit tangan Clarisa.
Sementara Clarisa kebingungan. Selama beberapa saat mereka bertiga kompak berdiri sejajar di depan cermin seakan berpose.
Anandita teringat sesuatu. "Bagaimana kalau kita berpose dulu." Anandita menatap karyawan yang ada di dekatnya, "Boleh minta tolong fotoin kita bertiga kak?" ia menyodorkan ponselnya untuk diambil gambar mereka.
Sekarang mereka bertiga sedang berada di lobi rumah sakit Mulia Sejahtera, rumah sakit yang dikelola keluarga besar Daniel. Rumah sakit terkenal di indonesia yang memiliki cabang di kota-kota besar Indonesia ini merupakan tempat Daniel praktek melayani pasien-pasiannya.
"Kamu gak perlu memakai kacamata hitam." Anandita melirik Seila yang hendak memakai kacamata hitamnya. " nanti dikira pasien buta, malunya ituloh."
Tangan Bibiana tidak jadi memasang kacamata hitamnya. Ia memandang Anandita sewot. "Ini suapaya penyamaran kita gak ketahuan tau.." Sewot Seila.
"Kak kita mau ngapain sih kesini? siapa yang sakit? kita mau jenguk seseorang," racau Clarisa sambil melirik kedua kakaknya. Clarisa belum tahu rencanan mereka.
Tinggi mereka hampir sama , dan berwajah hampir mirip. hanya model rambut yang berbeda. Rambut Clarisa potongan soft layer agak kecoklatan membawa tas selempang. Seila dengan rambut panjang berponi dan tas sebahunya dan Anandita dengan rambut layer panjangnya dengan warna yang sama dengan kedua adiknya yang hanya hand bag kecil ditangannya. Mereka seperti Tripple Sisters On Action.
"Anak kecil jangan banyak tanya yah, kamu ikutin kita ajah, jangan bawel," sahut Anandita.
"Daniel tidak menjawab teleponku, mungkin dia lagi sibuk atau masih diruang operasi. Jika kita tidak sengaja bertemu dengannya di sini, kita berpura-pura mengajaknya makan siang. Tidak perlu sembunyi-sembunyi, oke."
"Lalu bagaimana kita mulai investigasi?" tanya Seila sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
Anandita membaca signboard yang ia baca. Ketika Seila dan Clarisa ingin melihat juga, Anandita melangkah menuju koridor. Tidak mau ketinggalan akhirnya kedua adiknya membuntutinya dengan cepat.
"Kita cari dulu ruangan Daniel," jawab Anandita. Ia tidak punya rencana matang.
Di sisi kanan berjajar ruangan yang di pintunya di tempeli nama dokter. Di sisi kanan terdapat deretan kursi tunggu pasien. Terdapat beberapa kursi kosong.
Sudah beberapa kali ia mengunjungi rumah sakit ini, tapi baru kali ini ia berjalan di koridor rumah sakit ini dengan status
calon istri yang hendak mengunjungi suaminya yang bekerja.
Anandita berhenti ketika membaca plat nama bertuliskan
Dr. Daniel Wirawan, Sp.JP, Sp. An, Sp.B FIHA, FAPSC di depan pintu. "Ini ruangan nya?" tanya Clarisa yang suaranya terdengar di dekat telinga Anandita.
"Sepertinya sekarang bukan jadwal praktek Daniel." ucap Seila yang melihat kearah deretan kursi tunggu yang ada di depan ruangan ini. "Apa kita masuk saja?" usul Seila. Tangannya terulur memegang gagang pintu. Anandita memukul tangan Seila.
"Jangan maen sembarangan masuk. Kalau yang punya ruangan ada di dalam bagaimana?" sentak Anandita melotot. "Harus hati-hati kalau mau bergerak," desisnya memperingatkan.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Suara itu mengagetkan Anandita. Hampir saja dia terlonjak kaget. Kedua tangannya memegang dadanya langsung menoleh untuk memastikan seseorang yang ada di dekatnya.
Suster perawat berpakaian seragam rumah sakit tengan memandang mereka bertiga.
"Sekarang bukan jam praktek Dokter Daniel. Jika ingin mendaftar bisa kebagian pendaftaran di depan." Suster dengan wajah judes itu menempatkan dirinya di depan pintu ruangan Daniel. Tangan kanannya menggapai gagang pintu yang tadi di pegang Seila.
"Kami bukan pasien," ucap Seila tidak kalah judesnya.
Anandita berdiri di depan suster tersebut, sementara kedua adiknya bediri di belakang Anandita, namun Anandita bungkam tidak berupaya menjelaskan.
Clarisa meletakkan tangannya di bahu Anandita, lalu tersenyum ramah pada suster itu.
"Kakak saya calon istri Dokter Daniel. Kami cuman ingin berkunjung."
"Calon istri Dokter Daniel?!"
Wajah judes suster itu langsung terlihat ramah. Sedikit melongo, dan lalu mengamati Anandita kemudian menatap Clarisa yang masih tersenyum ramah, dan kepada Seila yang mengangkat dagunya agak sedikit kesal.
Tangan suster itu langsung lepas dari gagang pintu. Ia menyalami Anandita.
"Ya ampun, maafkan saya. Saya tidak tahu." Suster itu melepaskan tangannya selesai menjabat tangan Anandita. Kemudian langsung menyalami Seila dan Clarisa bergantian.
"Yang ini adik-adiknya? Ibu Dokter cantik sekali, Dokter Daniel tidak banyak cerita, jadi kami semua tidak tahu, silahkan Bu Dokter, silahkan masuk."
Aku bahkan tidak perlu kuliah kedokteran untuk dapat dipanggil Dokter, Batin Anandita.
Dengan cekatan suster itu membuka pintu ruang praktek lebar-lebar dan mempersilahkan mereka semua masuk.
Anandita memperhatikan ruangan praktek ini. Sama seperti ruangan dokter pada umumnya. Di samping kiri ada ranjang untuk pemeriksaan, lengkap dengan alat standar kedokteran.
"Dokter Daniel sedang di ruang operasi. Jadwal prakteknya hari ini pukul empat sore. silahkan duduk dulu jika ingin menunggu." Suster itu menunjuk kedua kursi di hadapan meja dokter.
Seila dan Clarisa hanya mengangguk, lalu duduk di kursi yang di tunjuk suster tadi. Sebaliknya Ananditanmendekati meja kerja Daniell, yang jadi perhatiannya ada di atas meja. Terdapat beberapa bingkai foto, dan ia terpaku pada bingkai-bingkai itu.
"Dokter tidak pernah cerita tentang kakak saya?" tanya Seila pada suster yang masih setia menunggu disana menemani mereka, Seila mulai melancarkan investigasinya. Anandita membiarkan adiknya melakukan tugasnya, sementara ia memperhatikan satu per satu foto yang ada di atas meja.
"Dokter Daniel orangnya pendiam. Tidak bercerita jika tidak ditanya. Meski ditanya pun beliau tidak suka bercerita soal pribadi. Apalagi setelah...."Suster tersebut menggantung ucapannya. Dengan tidak sabar adiknya masih ingin tahu kenapa suster itu tidak melanjutkan ucapannya.
"Siapa yang tidak mengetahui berita gembira tentang pernikahan seorang penerus Rumah sakit ini? kami semua yang bekerja di rumah sakit ini tentu sangat gembira mendengarnya."
Anandita mendengarkan cerita suster itu sambil mengangkat foto yang ada di meja itu. Di foto itu Anandita Daniel tampak tersenyum bahagia, merangkul mesra wanita yang penampilannya jauh lebih sederhana di banding dirinya, Dalam tampilan tanpa makeup, rambut yang di gerai panjang dan kulit putih di foto itu menunjukkan usianya beberapa tahun lebih tua dari Anandita.
Suster itu kini melihat Anandita sedang memandangi foto yang di pegang Anandita. Dan menghampiri Anandita dengan kikuk. Seperti kebingungan antara mau merampas foto yang di pegang Anandita dan tetap mengunci mulutnya.
"Siapa ini?" tanya Anandita lembut.
"Ehhh, a-anu..i-itu.." ucap suster itu terbata-bata. "Itu Dokter Syahrini. Dokter yang bekerja di sini juga. Dulu dia bekerja di unit gawat darurat. Tapi beberapa waktu lalu dia mendapatkan tawaran beasisiwa dan juga magang di rumah sakit luar negeri."
Anandita mengangguk perlahan. Dengan santai, Anandita berbalik menatap suster tersebut dan tersenyum lebar. Ia sengaja menarus bingkai foto itu dengan posisi terbalik, agar kedua adiknya tidak melihat.
"Saya tahu, Daniel pernah bercerita," ucap Anandita santai. Ia ingin terdengar Daniel dan dirinya sudah sangat dekat dan selalu berbagi cerita. "Biasanya kami bertemu di luar. Hari ini sebenarnya aku ingin memberinya kejutan."
"Silahkan ibu duduk dulu." Suster itu mempersilahkan Anandita duduk di kursi kerja Daniel. Anandita duduk di kursi Daniel dan ia sangat senang sekali bisa mendapatkan informasi itu.
"Dokter Daniel memang yang paling pendiam diantara dokter yang lain. Beliau terkenal di kalangan para suster. Tampan, pintar, masih muda lagi."
"Banyak ceweknya?" tanya Seila cepat, penasaran.
Suster itu menoleh pada Seila. "yang naksir banyak, tapo Dokter Daniel orangnya setia. Selama dengan..." Suster itu langsung diam.
"Dengan mantan pacar maksudnya," ucap Anandita ,mencoba membantu.
"Iya...iya. Selama dengan mantan pacarnya yang dulu itu, Dokter Daniel selalu setia. Tidak pernah neko-neko. Apalagi Dokter Daniel selalu sibuk," jawabnya bersemangat.
"Sebentar saya ambilkan minum dulu ya." Suster itu membuka pintu dan keluar secepat kilat.
"Kamu tahu tentang mantan pacar calon suamimu?"
Seila bertanya sambil melihat foto yang tadi di balik oleh Anandita. Anandita secepat kilat menggapai foto yang barusan di lihat Seila dan langsung membuka laci meja dan langsung memasukan foto tersebut.
"Daniel pernah cerita," jawan Anandita cepat.
"Apa mantannya itu dokter yang tadi di sebut suster tadi?" Seila penasaran.
"Sepertinya begitu," jawab Anandita singkat. Ia tidak ingin adiknya bertanya lebih banyak lagi. Karena itu ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke pintu.
"Sebaiknya kita pergi. Dan lagi ini sudah jam makan siang. Aku akan mencari suster tadi dan mengatakan kita akan pergi.
"Kalian mau ikut atau...."
"Aku tunggu di sini," jawab Seila yakin, tidak menoleh sekalipun, dia sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Jangan jahil!" Jika Daniel kembali dan menemukan kalian di sini.."
"Tentu dia akan merasa senang melihat calon istrinya dan adik iparnya berkunjung untuk mengajaknya makan siang bersama," sahut Seila cepat.
Anandita terdiam mendengar Seila bicara. Ia mempertimbangkan ingin menyeret kedua adiknya pulang, atau tetap berada di sini seperti yang di inginkan Seila.
Wajah polos Clarisa yang menatapnya, membuat Anandita mendesah pelan, mungkin ia harus mengalah karena tidak tega. Ia memutuskan untuk mencari suster tadi.
Secara tidak sengaja dia mendengar suara si suster tadi. akhirnya Anandita menghentikan langkahnya. Secepatnya menyender pada tembok seperti bersembunyi.
"Kalian tahu tidak, aku barusan bertemu dengan calon istri Dokter Daniel, dia sangat cantik, sangat jauh levelnya di banding Dokter Syahrini, dari penampilannya saja sudah bisa di tebak dia anak orang kaya dan aku setuju jika Dokter Daniel menikah dengan calonnya yang sekarang, sangat serasi dengan Dokter daniel, cantik dan tampan jangan lupakan mereka sepadan. Berbeda jauh dengan Dokter Syahrini yang hanya orang biasa."
"Tapi kan kita tahu, kalau Dokter Daniel sangat setia dengan Dokter Syahrini, mungkin perjodohan mereka terpaksa di lakukan, karna kepalang malu, sebab Dokter Syahrini pergi keluar negeri. Aku yakin Dokter Rini pasti menyesal telah mekakukan itu, karena Dokter Daniel menikah dengan wanita lain."
Rupanya ruangan di balik persimpangan itu tempat mangkal para perawat.
"Tapi yang aku takutkan Dokter Daniel hanya menjadikan pernikahannya ini agar keluarganya tidak malu, karena Dokter Rini yang kabur. Mangkanya Dokter Jemi wirawan mencarikan anak pengusaha kaya raya untuk menggantikan calon istri untuk anaknya. Bagaimana jika nanti mereka menikah, malah Dokter Rini kembali kepada Dokter Daniel dan merea malah melakukan perselingkuhan, bukannya Dokter daniel hanya cinta dengan Dokter Rini. Ini akan menjadi berita besar."
Para perawat terdengar saling menimpali. Semuanya berbicara dengan suara pelan.
Memang di dalam hati Daniel hanya ada Syahrini. pernikahan ini hanya berlangsung setahun dan Daniel akan kembali dengan kekasihnya. Batin Anandita sambil berbalik, melangkah santai ke ruang praktek Daniel.
Di ruang praktek Daniel, Anandita menemukan kedua adiknya masih duduk di tempat yang sama. Terlihat jelas Seila terkejut melihat pintu tiba-tiba terbuka sementara Clarisa tersenyum seperti biasanya.
"Ayo kita makan siang!" ajak Anandita tanpa masuk keruangan itu, dia hanya memberikan kode dengan gerakan kepala.
Tanpa banyak kata, Clarisa langsung menghampiri kakaknya dan menggamit lengannya dengan manjanya.
"Aku akan sangat merindukanmu setelah kamu menikah." Clarisa meletakkan kepalanya di pundak Dita. "Sebentar lagi aku akan mendapatkan kakak ipar seorang dokter. Kamu benar-benar beruntung kak," lanjut Clarisa.
"Bisa benar-benar lebih beruntung jika melihat surat perjanjian pranikah yang sudah disiapkan calon suamimu," timpal Seila disamping Anandita dengan suara berbisik, yang membuat Anandita terkejut.
Makasi sudah mampir, please tap lovenya yah kakak :)