Rumah bertingkat dua dengan desain modern itu memiliki halaman yang luas menghadap ke jalan. Rumah ini terletak di perumahan elite yang ada di Bandung, Dengan Suasana yang sejuk. beberapa pohon besar dan rindang mebuat sejuk halaman. Papan nama menggantung tepat di atas nomor rumah yang tercetak Praktek Dr. Daniel Wirawan, Sp.JP, Sp. An, Sp.B FIHA, FAPSC.
Terlihat beberapa mobil parkir berderet, mungkin itu pasien yang akan berobat. Setelah melewati pintu pintu pagar tampak gerbang menuju pintu masuk rumah utama dan garasi. Jalan kecil menuju ruang praktek di sisi rumah tertata asri dan rapih pepohonan, di lengkapi kolam ikan kecil dan di pinggirnya berbagai macam bunga dengan pot-pot besar.
Mobil Anandita parkir di halaman. Hari ini pertama kalinya ia melihat rumah yang akan ia tempati dalam setahun ke depan.
Untuk pertama kalinya pula, laki-laki yang menyambutnya itu membukakan pintu mobil untuk Anandita. Tanpa senyuman dengan wajah datar, Daniel berjalan menuju pintu utama.
"Apa Jam Praktekmu sudah mulai?" Anandita bertanya sambil mengikuti Daniel yang berjalan didepannya.
Antara rumah dan ruang prakteknya terpisah oleh tanaman setinggi lutut. Beberapa pasien berjalan ke ruang tunggu yang di kelilingi kaca sehingga dari dalam mereka bisa melihat pemandangan halaman luar.
"Masih setengah jam lagi. Biasanya mereka datang lebih awal untuk mengambil nomer antrean."
Tanpa basa-basi, Daniel langsung masuk ke rumah. Anandita membuntutinya dalam diam. Matanya sibuk meneliti rumah ini. Ruang tamu kecil dengan sofa berukuran sedang menyambutnya. meja kopi kecil pelengkapnya. Dengan dekorasi lukisan bunga tulip yang besar menghiasi dinding ruangan itu.
"Aku membeli rumah ini beberapa tahun lalu. Setahun lalu aku melamar Rini, dan rencananya rumah ini akan kami tinggali setelah kami menikah. Belum lengkap karena baru aku tempati beberapa bulan lalu, sebelum Rini pergi.
Daniel berjalan menuju ruang keluarga yang lebih besar di balik tembok pemisah. Anandita mengikuti Daniel, mengangguk-angguk tanpa mendengarkan.
Sofa berbentuk L terlihat sangat nyaman. Ruang keluarga bersambung dengan ruang makan luas yang berisi meja makan kecil dengan empat kursi. Dari tengah ruangan, Anandita bisa memandang ke lantai dua.
"Kamar tamu ku ubah menjadi ruang praktek." Daniel menunjuk pinti di dekat ruang makan. "Kamar utama ada di lantai atas. Selain itu ada dua kamar tidur, kamu bisa menggunakan salah satunya. Dua kamar itu belum aku isi, karena rini ingin menjadikannya kamar anak."
Anandita memandang Daniel prihatin. Laki-laki itu pasti sedih harus mengingat kenangan bersama tunangannya.
"Aku tidak ingin satu perabotan pun berubah di dalam rumah ini, karena Rini yang mengatur semuanya," ucap Daniel penuh penekanan. Ia menatap Anandita seakan menegaskan. "Karena kamu hanya akan tinggal sementara di rumah ini, aku rasa hal ini tidak membebanimu."
Lelaki setia. Daniel masih berusaha mempertahankan kenangannya, sungguh bucin sekali laki-laki ini. Padahal rumah ini belum ada perabotan seperti rumah pada umumnya, slain tempat seadanya untuk duduk dan makan.
"Aku akan membawa perabotan yang aku butuhkan, dan akan aku bawa kembali ketika kita berpisah," ucap Anandita dingin.
Seakan tidak mau kalah, ia sambil berkacak pinggang.
"Dan peringatan untukmu, jangan lagi pasang fotomu dengan tunanganmu di ruang kerjamu. Aku tidak mau mendengar suster-sustermu bergosip dengan riang nya. Belum lagi yang di pikirkan orang yang melihat kamu memasang foto wanita lain sementara kamu menikah denganku."
"Ok," jawab Daniel singkat. Anandita mengerjap, meyakinkan diri kalau Daniel serius.
"Kamu ingin aku menemanimu keliling rumah, atau kamu mau sendiri?" aku harus siap-siap karena jam praktek mulai." Daniel menjauh.
Anandita berpikir sejenak. "Aku bisa berkeliling sendiri. Apakah tidak ada pembantu yang menemaniku? mungkin aku bisa melakukan persiapan atau memulai bersih-bersih sedikit?"
"Aku tidak punya pembantu," jawab Daniel sambil berhenti.
Dari sorot matanya, Anandita tampak berpikir bahwa Daniel menilainya sebagai gadis manja, tidak seperti tunangannya yang sederhana itu.
"Hanya ada tukang kebun yang datang pagi dan pulang setelah jam praktek selesai. Dia merangkap membantu untuk memarkirkan mobil pasien yang datang. Dan dua suster yang datang satu jam sebelum jam praktek di mulai, mereka tidak aku ijinkan masuk ke rumah utama jika tidak ada yang penting."
"Lalu siapa yang membersihkan rumah? cuci baju? masak?" Anandita bingung jika tidak ada orang lain selain mereka berdua nanti setelah mereka menikah, membayangkannya dia jadi pusing sendiri. Karena di rumahnya ada bibi yang bantu melakukan pekerjaan rumahnya.
"Dari awal memang Rini tidak mau ada pembantu. Karena ia mau melakukan tugasnya sebagai istri walau kita sama-sama bekerja, mungkin nanti setelah memiliki anak, kita bisa pakai jasa pengasuh anak," jawab Daniel panjang lebar.
Kedua tangan Anandita terangkat, tanda menyerah, sekaligus mengangguk. "Fine. Aku mengerti.
Daniel beranjak ke ruang prakteknya. Begitu pintu di tutup, Anandita memandang sekelilingnya. Tidak ada debu secuil pun, bagaimana rumah ini bisa sebersih ini, apakah laki-laki itu yang membersihkan segalanya sendiri, menyapu, mengepel, sedangkan Anandita selama ini tidak pernah bebersih rumah, karena ada bibi yang sudah melakukan segalanya di rumahnya.
Anandita bergegas menghampiri tangga, ingin melihat kamar tidur yang akan ia tempati nanti.
Suara hak sepatu Anandita terdengar nyaring di lantai dua rumah itu. Ia masih tidak habis pikir denagn laki-laki yang akan ia nikahi nanti, karena masih saja cinta setengah mati dengan tunangannya, padahal sudah jelas wanita itu kabur dari dirinya.
Ada tiga pintu besar di depannya sekarang,. Ia membuka lebar-lebar ketiga pintu besar tersebut. Yang dua kamar kosong sama sekali tidak ada perabotannya, sedangkan satu kamar sudah terisi perabotan sudah bisa di pastikan ini kamar utama, yaitu kamar yang di tempati laki-laki itu.
Dinding tembok berwarna krem di d******i dengan warna abu-abu. Dengan tempat tidur king size. Di sisi kanan tempat tidur terdapat jendela besar yang terbuka, yang memperlihatkan kolam renang dan taman kecil untuk sekedar bersantai. Dan dikamar ini ada lemari geser dengan cermin besar.
Tanpa sadar Anandita sudah berdiri di depan tempat tidur. Ia melihat di depan tempat tidur, persisnya di atas dinding ada sebuah foto besar.
"Foto prewed." Suara Daniel mengagetkannya.
Tubuh Anandita terlonjak kaget, sementara kedua tangannya memegang d**a yang berdetak kencang.
"Salahmu sendiri, kenapa masuk ke kamarku," ucap Daniel dingin.
"Mana aku tahu ini kamarmu, oh yah bagaimana dengan foto prewed kita, kita kan belum menyiapkannya,"
"Untuk apa?" kening Daniel mengkerut.
"Undangan, slide show di resepsi, dan untuk di pasang di pintu ballroom." Anandita sambil menghitung jarinya.
Daniel langsung melambaikan tangan tanda tidak setuju. "Tidak perlu. Untuk undangan kita tidak usah pakai foto, untuk pajangan yang akan di pasang di ballroom, akan menggunakan foto kita yang diambil kilat setelah acara ijab kabul. Kita tidak perlu foto-foto lagi untuk di pamerkan, karena pernikahan ini tidak di lakukan sungguh-sungguh.
Anandita kecewa medengar ucapan Daniel, walaupun ini pernikahan kontrak, setidaknya dia punya kenangan indah saat menikah.
Daniel bisa lihat raut wajah Anandita yang terlihat sedih.
"Aku yakin keluargamu mampu membiayai apapun yangkalian inginkan termasuk foto yang akan kita pajang nanti, tapi pernikahan ini hanya sementara. Aku tidak nyaman membiarkan orangtuamu menghabiskan biaya untuk pernikahan bohongan."
Cara pandang laki-laki ini membuat Anandita mengerti, tapi dia juga merasa ingin membuat acara pernikahan sesuai keinginannya. Kenyataan bahwa pernikahan ini hanya sandiwara dan membuat Anandita jadi bodoh memikirkannya.
"Sampai kapan kamu mau di sini? Aku mau ganti baju." jawab Daniel sambil melihat pakaiannya.
"Apa yang ada di sana?" tunjuk Anandita ke ruangan yang menyambung dengan kamar tidur ini.
"Kamar mandi," jawab daniel singkat.
Daniel tidak sabaran ingin mengganti pakaiannya, tapi Anandita malah masih berdiri di situ.
Namun Anandita penasaran ingin melihat, Dengan tersenyum manja Anandita bergegas melangkah ke kamar mandi itu." Aku ingin lihat boleh yah?"
Dengan malas Daniel membuntuti Anandita ke kamar mandi.
Anandita melongo melihat kamar mandi Daniel yang berukuran cukup luas dan mewah. Ada Bathtub di dekat jendela yang bisa melihat taman dan kolam renang di bawahnya, di sampingnya terdapat shower berdinding kaca , di tengah- tengah itu ada sofanya dan kaca besar di dinding kamar mandinya, Anandita membayangkan dia akan dengan senang berlama-lama di kamar mandi Daniel.
"Wuahhhhhh.....kita bisa berendam sambil melihat keluar, pemandangannya juga bagus, apalagi kamar mandi ini sepertinya sangat nyaman." ucap Anandita takjub.
"Bukan kita, tapi aku," koreksi Daniel.
Anandita berbalik dan memandang Daniel dengan memandang manja. "Boleh ka kalau sesekali aku pinjam kamar mandinya."
"Pinjam?" Daniel trsenyum geli mendengar perkataan Anandita. Melihat senyum langka Daniel, Anandita terpaku pada wajah Daniel. "Kamu pikir ini buku? pakai di pinjam segala?"
Tangan Anandita terkatup memohon. Senyuman manjanya semakin mengembang. Anandita mendekati Daniel dan bergaya dengan manisnya. "Please boleh yah....sepulang kerja aku kan capek, kamu kan sibuk praktek, jadi aku boleh dong berendam di sini?"
Anandita menanti jawaban Daniel dengan masih tersenyum padanya. Tangan kanan Daniel mengacung jari telunjuk. "Oke hanya dalam waktu setahun ini," jawab Daniel sebelum senyumnya pudar. "Sekarang cepat keluar dan lihat kamarmu. Kamu tinggal pilih mau kamar yang sebelah mana, kedua kamar itu masih kosong. Katakan saja apa yang kamu butuhkan, aku akan mengisinya nanti."
Anandita langsung melompat senang, hampir saja dia memeluk Daniel, untung dia masih waras tidak melakukannya. Tangannya memukul pundak Daniel.
"jangan khawatir. Aku akan bawa sendiri perabotanku. Dan aku akan angkut sendiri barang-barangku lalu setelah urusan kita selesai, aku juga yang akan mengeluarkan sendiri semuanya. Kamu tidak perlu repot mengurusi keperluanku sekarang, karena kamu sudah banyak mengeluarkan banyak biaya untuk pernikahan kita. Sekarang aku mau keliling lagi. Selamar bekerja suamiku," sambil mengedipkan mata ke Daniel.
Daniel tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Anandita yang manja.
*terimakasih sudah mampir, please tab love nya yah kak