Hari pernikahan

1128 Kata
Sambil melangkah perlahan dan menarik napas panjang karena gugup. Tangan kanannya melingkari erat lengan ayahnya, sedangkan tangan kirinya mengenggam erat buket bunga mawar merah dan melirik tamu undangan yang hadir memadati tempat pemberkatan hari ini. Anandita menarik napas panjang karena gugup, dari balik kerudung yang menerawang, Anandita melihat Daniel yang berdiri di altar. Langkahnya menjadi lebih mantap ketika matanya bertemu dengan mata Daniel, yang tersenyum ke arahnya, mereka saling tersenyum. Anandita dengan gaun indahnya V-nick pink sleeveles sequins evening dress big ball gown bride dress dan Daniel dengan jas pengantin yang bila disandingkan dengan Anandita sangat sempurna dan serasi, penampilan mereka sangat istimewa. Langkah mempelai wanita itu terhenti ketika Daniel mengambil alih Anandita dari ayahnya. Tanpa di sangka ayahnya menarik tangan Anandita dan memeluk Anandita dengan erat. Setetes air mata terasa di kulit bahu Anandita. Ia sudah menduga ayahnya sangat bersedih, seketika suasana menjadi haru, orang-orang yang menyaksikan ada yang menyeka air matanya melihat pemandangan di depan mereka, seorang ayah yang menyerahkan anaknya kepada laki-laki yang akan menikahi anaknya. Tanpa di sengaja Daniel membuat Anandita terkejut dengan sikapnya, ia memegang bahu ayah Anandita yang membuat ayahnya melepaskan pelukannya, Daniel menganggukan kepala dengan maksud semuanya akan baik-baik saja. Ayah memberikan tangannya Anandita ke dalam tangan Daniel. "Om serahkan Anandita ke kamu, tolong jaga Dita ya." Anandita memandangi tangannya yang di genggam Daniel lalu beralih melihat ayahnya yang sambil menyeka air matanya.Ayah Anandita Lalu turun ke kursi yang memang di khususkan untuk keluarga pengantin Kini mereka berada persis di depan pastor yang siap memulai pemberkatannya. "Kamu sangat cantik, Dita." Daniel berbisik tepat di telinga Anandita, lalu kembali menatap pastor. Anandita hanya menanggapi dengan biasa saja. sambil memegang gaunnya, "maksud kamu gaunnya yang cantikkan." ucap Anandita pelan. "Ingat kata ayahku! jaga aku selama aku bersamamu." Setelah mereka mengucapkan janji suci, akhirnya Anandita dan Daniel sudah sah terikat oleh pernikahan yang sakral. Dengan penuh haru Ayah, bunda serta Seila dan Clarisa saling menangis dan memeluk pengantin yang sudah menjadi suami istri itu. Ada rasa bahagia bercampur haru saat ini, ayah dan bunda memberikan selamat kepada Anandita dan Daniel, Papah dan Mamah Daniel beserta keluarga tak luput untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai wanita dan pria. Seila dan Clarisa memeluk kakaknya dengan berderai air mata. "Aku tidak menyangka, semua ini benar-benar terjadi, kau menikah dan sekarang sudah menjadi istri dari seorang dokter. Kami akan merindukan kegilaan yang sering kita lakukan, dit," ucap seila haru. Sedangkan Clarisa sudah bercucuran air mata dalam pelukan kakaknya, sampai ingusnya membasahi pundak Anandita. "Kakak sekarang sudah menikah, nanti aku akan sangat rindu kalau kamu tidak ada di rumah, tidak ada lagi yang aku usilin kalau kamu tidak ada di rumah, Seila sedang sibuk-sibuknya kuliah." Ucap Clarisa sedih. Dan setelah acara pemberkatan selesai, kemudian di lanjutkan dengan resepsi yang dilakukan di hotel dengan suasana yang meriah dan megah. Tubuhnya menggeliat tanda Anandita sangat lelah, kini mereka sudah berada dalam pesawat, Daniel yang duduk disampingnya melirik sekilas Anandita. Dari pesawat sebelum berangkat hingga take off Anandita tidak berhenti berkicau seperti burung beo. Belum sempat istirahat yang cukup, mereka harus mengejar keberangkatan untuk pergi bulan madu, Daniel memang sudah merencanakan untuk bulan madu setelah menikah, tetapi itu dengan tunangannya. Sedangkan sekarang yang berangkat bukan Daniel dan tunangannya Syahrini, tetapi Daniel pergi dengan Anandita yang sekarang menjadi istri sahnya yang hanya dalam waktu setahun di nikahinya. "Bagaimana mungkin kamu tidak memberi tahuku kalau kita akan pergi berbulan madu, kamu ingin memanfaatkan aku yah, dan mencari keuntungan sendiri, bahkan kita tidak cukup istirahat dari habis resepsi semalam, begitu banyak undangan yang datang, padahal aku tidak mengundang teman-temanku, kenapa undangan begitu membludak, kaki ku saja masih sangat pegal sekarang," sungut Anandita yang membeo. Anandita tidak perduli dengan penumpang yang lainnya, yang secara tidak sengaja mendengar ocehannya, serta pramugari yang menatapnya dengan tersenyum ramah. "Bukan salahku kalau undangan yang datang membludak tadi malam, aku juga sangat lelah bukan kamu aja, itukan orangtua kita yang mengundang. Sedangkan soal bulan madu ini, aku memang sudah merencanakannya bersama Rini tunanganku, mana aku tahu kalau kami tidak akan jadi menikah, dan sekarang yang menjadi istriku itu kamu. Aku membeli paket honeymoon untuk dua minggu, satu bulan setelah bertunangan aku dan Rini sudah mengajukan cuti untuk acara pernikahan kami. Tapi semua di luar dugaanku. kalau dia akhirnya pergi meninggalkanku," Daniel menjelaskan dengan nada yang agak sedih. "Aku juga sebenarnya tidak ingat kalau mamahku tidak mengingatkan, kalau kita punya paket bulan madu. Sebenarnya bulan maduku dengan Rini, maaf." Ucap Daniel Anandita menatap Daniel, dengan memicingkan matanya dan berbisik, "kita bahkan tidak membawa persediaan pakaian kita, aku hanya membawa diri dan tas kecil ini," sambil memperlihatkan handbag mungilnya pada Daniel. "Dan ya ampun aku bahkan tidak membawa underwear satupun untuk diganti." Racau Anandita. "Aku juga tidak bawa apapun, aku kan tadi sudah bilang, kita akan beli disana kalau sudah sampai, apapun yang kamu butuhkan akan kita beli. Sudahlah nikmati saja kepergian ini, anggap saja kita liburan. Aku juga capek, bukan cuma kamu." Anandita yang masih kesal dengan Daniel, mengetukan jarinya di pegangan tempat duduknya yang ada disamping Daniel, hanya berjarak beberapa senti, Daniel kembali menatap Anandita, dia tau kalau istrinya sedang kesal. "Sekarang kamu tidur gih, dari pada ngomel terus, aku pusing dengarnya." Jawab Daniel. "Aku mana bisa tidur, aku masih kesal sama kamu, bisa-bisanya ada rencana bulan madu segala, yah walaupun kita gak akan ngapa-ngapain tapi kan aku gak prepare buat siapin keperluanku." kesal Anandita. Daniel yang dari tadi terlihat santai, langsung menegakan punggungnya dan memanggil pramugari yang berada dekat di depan mereka. "Bisa minta kopi untuk kami berdua? Istri saya butuh kopi untuk menghilangkan kantuknya," ucap santai begitu pramugari cantik itu menghampiri mereka. Yang di respon pramugari dengan anggukan dan tersenyum geli kearah mereka. Anandita yang merasa di goda dengan ucapan Daniel spontan membalasnya, sambil berlendot sok manja memegang lengan Daniel, "Ini semua kan karena kamu, bisa-bisanya aku tidak di bolehkan tidur semalaman sampai menjelang pagi, aku kan capek banget sekarang." Sambil tersenyum ke pramugari yang masih memandangi kedua suami istri itu. "Semalam adalah malam pengantin kami, suami saya sangat bersemangat sampai saya kelelahan. Omong-omong saya minta teh manis panas saja, saya tidak minum kopi, terimakasih." Pramugari itu tersenyum kikuk mendengar perkataan Anandita yang menggoda suaminya. Wanita itu hanya mengangguk dan berlalu. Daniel melotot mendengar perkataan Anandita yang gamblang, seakan-akan mereka memang melakukan hal itu semalam. "Jangan ganggu aku sampai pesawat ini mendarat, aku mau tidur." Sambil menutup mata. Melihat reaksi suaminya yang dingin, Anandita merasa menang. Ia sengaja menggoda suaminya lagi, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Daniel dan membisikkan "Sepertinya aku akan menikmati masa-masa menjadi istrimu." Daniel langsung menjauhkan kepala Anandita yang ada disamping telinganya dengan tangannya. Lalu melipat tangannya ke d**a dan memejamkan mata. Anandita tersenyum usil, bisa mengerjai suaminya yang menjadi kesal oleh tingkahnya. *Semoga menimati ceritanya, maaf bila banyak typo, please tab lovenya kakak. terimakasih...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN