Tibalah Anandita dan Daniel di tempat tujuan. Raja Ampat, turun dari kapal kecil kita di sambut dengan jembatan kayu yang panjang dan di tengah+tengahnya semacam gapura kayu yang diatasnya bertuliskan WELCOME TO RAJA AMPAT DIVE LODGE, yah tempat ini yang sudah disiapkan oleh Daniel untuk honeymoon nya , Daniel sudah mempersiapkan bulan madunya dengan istrinya, tapi bukan Anandita yang sekarang menjadi istrinya, tetapi untuk mantan tunangannya yang kabur keluar negri. Daniel memesan kamar resort yang ada di raja ampat, sudah jauh-jauh hari setelah dia dan Rani bertunangan, kemudian memesan kamar hotelnya.
"Ya ampun!! bagaimana mungkin hanya ada satu tempat tidur, dan lagi ini kamar pengantin, yang memang di peruntukan buat malam pertama pengantin," seru Anandita yang berbicara sambil merona. Bagaimana mungkin dia dan Daniel tidur dalam satu kamar, satu tempat tidur dengan kasur yang berhiaskan bunga mawar berbentuk hati berada di tengah-tengah kasur dan handuk yang berbentuk burung angsa putih yang sengaja di hias oleh pihak hotel.
Sambil menaruh tas tangannya di meja dekat kasur king size pengantinnya Anandita memperhatikan ruangan ini. Kamar tidur ini langsung menghadap ke arah laut yang di depan kamar ada teras kayu dan dan kursi juga bisa untuk bersantai, berjemur diri. Anandita tidak percaya tempat bulan madu yang di pesan Daniel sangat romantis, melihat dari dinginnya laki-laki ini, dan wajahnya yang selalu datar, dia punya sisi romantis juga.
Memang Dita belum pernah ke raja ampat, ternyata ada resort seindah ini di raja ampat, yah walaupun jauh kemana mana, tempat ini terpencil dan di kelilingi hutan hujan yang rimbun, resort dapat di akses dengan perahu dari Papua Barat, dan letaknya terpencil di pantai Laut Halmahera. Ada beberapa toko
Tempat yang romantis, kalau ke sini dengan suami yang di cintai ,aku akan sangat bahagia, lah ini aku pergi dengan suami sementara, tidak cinta lagi. Anandita yang bicara dalam dirinya sendiri. Anandita menoleh menatap punggung Daniel. Laki-laki itu terdiam di depan pintu kaca yang memarkan keindahan di luar sana.
"Bagaimana kita akan tidur, kalau ranjangnya cuma satu?" tanya Anandita yang kesal sambil berkacak pinggang.
"Daniel berbalik dan memandang istrinya dengan raut wajah datar. "Tentu saja aku hanya memesan satu kamar dan satu tempat tidur, karena memang tujuannya untuk bulan madu bersama istri ku, mana mungkin pengantin baru memesan kamar yang terpisah, lucu banget sih kamu," dengan nada kesal Daniel menjawabnya, Daniel beranjak kemudian duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Aku sangat lapar, bagaimana kalau kita memesan sarapan untuk kita sekarang, setelah sarapan aku mau tidur, aku sangat lelah, dan lagi kasur ini sepertinya sudah ingin di tiduri, sepertinya sangat nyaman kalau sudah berbaring," Daniel yang sudah memegang telepon hotel untuk menelpon resepsionis, urung dilakukan karena Anandita memegang tangannya memasang wajah sok manja sambil memelas.
"Tunggu dulu, ini bagaimana urusan ranjang, aku juga mengantuk, lapar juga sih, tapi kan urusan kamar dan ranjang belum selesai." ucap Anandita. Ia sambil melirik kasur yang hanya ada satu ukuran besar, dan sangat menggiurkan untuk di tiduri, yah walaupun masih berhiaskan bunga-bunga mawar di atasnya.
Daniel tersenyum mendengar ucapan Anandita yang terdengar manja, dia masih saja memikirkan kasur.
"Kasur ini kan besar, cukup untuk kita tiduri berdua," Daniel berucap dengan santainya.
Sedangkan Anandita melongo mendengarkannya. Bagaimana mungkin kita tidur sekamar dan seranjang, yah walaupun kita sudah jadi suami istri, tapi kan statusnya bohongan. Anandita berbicara sendiri dalam hati. Benar-benar sudah tidak waras laki-laki ini. Batin Anandita.
"Kamu mau ambil kesempatan dalam kesempitan yah! bagaimana mungkin kita seranjang," kesal Anandita.
"Kenapa tidak pesan extra bed saja sih?" tanya Anandita.
Daniel memandang Anandita dengan kening berkerut. "Kita tidak mungkin menambah kasur, kamar ini adalah kamar yang paling bagus pemandangannya, aku sudah membayar mahal untuk kamar ini, nikmati saja, anggap saja kita liburan melepas penat dari hiruk pikuk dari kota besar. Lihat lah pemandangan disini sangat indah dan bikin hati jadi nyaman, lagian aku tidak akan ambil kesempatan seperti yang kamu ucapkan, yah kecuali kamu yang pancing aku," Daniel tersenyum nakal, menggoda Anandita yang masih cemberut.
"Aku akan memesan kamar sendiri kalau begitu," sungut Anandita.
"Yah silahkan, tapi aku tidak mau mengeluarkan lagi untuk membayar biaya kamar, bila kamu masih ngotot mau pindah kamar, aku bayar mahal untuk kamar ini, dan harganya tidak murah, aku bayar pakai dolar, sedangkan kita disini dua minggu lamanya," ucap daniel santai.
Anandita yang tidak percaya dengan ucapan Daniel, bahwa mereka akan disini dua minggu, apa yang di pikirkan Daniel sih, liburan sampai selama itu, oh yah kan judulnya bulan madu yah, yah wajar kalau liburnya lama, tapi kan mereka bukan mau bulan madu yang sesungguhnya, kepala Anandita terasa pusing memikirkan masalah ranjang, juga liburan yang panjang ini.
"Bagaimana mungkin kita bisa sampai dua minggu disini, aku kan harus bekerja, dan mana mungkin kita tidur seranjang," desah Anandita yang terdengar memelas.
"Keluarga kita sudah tahu, kalau kita bulan madu selama dua minggu disini, kalau kita potong liburan ini, mereka pasti curiga dengan kita, kita harus lebih meyakinkan bahwa kita menikmati bulan madu ini," jawab Daniel serius.
"sudah jangan lagi pikirkan masalah ranjang, kita bisa berbagi, lagian ini kasur ukurannya besar, cukup untuk kita berdua, badanmu juga kecil dari pada aku, lagian apa salahnya kita berada di kamar dan seranjang bareng, kita kan sudah suami istri, yah walaupun hanya sementara, kamu pasti mikir yang tidak-tidak kan," Daniel tersenyum sambil menggoda Anandita yang memikirkan dirinya akan berbuat macam-macam dengan dirinya.
Pikiran kamu itu jangan kemana-mana, aku gak seperti yang kamu bayangkan, kecuali ada yang mancing-mancing," atau kamu mau tidur di sofa ajah? yah gak apa-apa sih, aku sih mau tidur dikasur ajah, sepertinya sangat empuk dan lagian badanku sudah tidak sabar mau rebahan," ucap Daniel santai.
Anandita melongo mendengar ucapan Daniel, mana mungkin dirinya tidur di sofa, seharusnya kan Daniel yang mengalah pada dirinya, dia kan laki-laki, dengan pasrah Anandita menerima ajakan Daniel, tidur sekamar dan seranjang dengan suaminya, suami bohongannya.
"Yah baiklah, aku pasrah deh, tapi awas yah kalo macam-macam," ancam Anandita.
Yang hanya di beri senyuman oleh Daniel. Akhirnya Anandita menerima sarannya, Daniel pusing membahas ranjang terus. Daniel sudah mau memesan makanan tetapi dilarang Anandita.
"Sekarang tidak perlu pesan sarapan, kita makan di luar resort saja, kita berkulineran saja sambil mencari keperluan kita, aku perlu pakaian ganti, mana kita akan lama disini, banyak dong yang harus di beli, salah kamu sendiri yang tidak membolehkan ku membawa perbekalanku,"
"ya sudah kita tidak jadi sarapan disini," sambil meregangkan badannya yang terasa pegal karena kurang istirahat dari acara pernikahan mereka, sampai harus buru-buru ke raja ampat.
"Sepertinya di sekitar sini ada beberapa outlet kecil yang menjual perlengkapan seperti pakaian dan souvenir untuk para wisatawan, kamu bisa beli apa saja yang kamu butuhkan.