PUDARNYA PESONA GUS FARISDiperbarui pada Nov 18, 2021, 17:14
Di tulis oleh; M. Fadol Rizky
_________________________________
Aku tak tau apakah ini nikmat atau ujian. Aku tak tau apakah aku harus bersedih atau bersenang riang.
Aku tak tau apakah aku harus menangis atau tertawa. Aku tak tau apakah aku harus bahagia atau bergundah gulana.
Namaku Nur Halimah. Semua orang memanggilku Nur, yang artinya adalah cahaya.
Cahaya yang tak pernah redup dalam jiwa, senantiasa menerangi gelapnya hati di kala gundah melanda.
Aku adalah seorang gadis desa sederhana, yang hanya dapat mengerjakan hal² kecil dalam kesehariannya.
Bapakku adalah sesosok lelaki separuh baya. Usia nya tak lagi muda. Wajahnya sedikit renta. Namun tanggung jawabnya sungguh sangat luar biasa. ia sangat mencintai keluarganya lebih dari segalanya. Dengan segala keterbatasannya, ia sanggup melakukan apapun demi kebahagiaan keluarganya.
Ia adalah cinta pertamaku perihal mencintai seorang pria. Betapa ia adalah sosok lelaki yang begitu bertanggung jawab akan segala kebutuhan keluarga dan kebahagiaan keluarga kecilnya. Terutama aku, anak perempuan pertamanya. Dan anak perempuan nya satu² nya.
Ia adalah orang pertama yang akan tersakiti ketika aku tersakiti. Ia adalah orang pertama yang akan terluka bila aku terluka.
Ia adalah orang pertama yang akan berbahagia dan bangga ketika melihatku tertawa penuh bahagia.
Bapakku membuka usaha kecil-kecilan dirumahku untuk menghidupi kami sekeluarga. Hasilnya memang tidaklah seberapa, namun cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga. Sangat cukup untuk menghidupi kami sekeluarga. Bahkan apapun akan di kerjakannya. Asalkan dapat mencukupi semua kebutuhan kami sekeluarga.
Sesosok lelaki yang begitu luar biasa. Yang rela melakukan apapun demi keluarga yang begitu di cintainya. Dan rela mengorbankan apapun demi keluarganya dengan segala keterbatasannya.
Sedang ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak mempunyai penghasilan apa².
Sejak kecil aku sangat manja pada bapakku. Setiap kali ia bepergian selalu aku ikut kemana pun ia pergi. Tak pernah sekalipun aku lepas dari pangkuannya.
Bahkan ketika ia pergi mengendap-gendap dariku karena tak ingin kepergiannya di ketahui olehku. Aku langsung menangis menjerit saat tau jika aku telah di tinggal pergi oleh bapakku tanpa sepengetahuanku.
Hampir setiap hari masa kecil ku selalu bergelut dengan waktu dan ruang yang sama. Juga dengan uraian cerita yang tak pernah ada beda. Aku selalu tertimang manja oleh sosok bapakku yang begitu mencintai ku melebihi segalanya.
Masa kecilku tak pernah jauh dari sosok dirinya.
Aku selalu bersamanya sepanjang waktuku di setiap detiknya. Tak pernah sedikitpun terlepas dari pelukan hangat kasih sayangnya.
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara.
Aku mempunyai seorang adik lelaki yang usianya terpaut dua tahun lebih muda.
Namun dia tak seperti diriku. Sejak kecil ia jarang ikut bapak pergi apalagi ibu.
Bahkan ia lebih sering keluar rumah bermain bersama teman² sebayanya. Bermain kelerang dan layangan seharian hingga terkadang lupa pulang.
Tidak seperti diriku yang tak pernah bisa jauh dan tak bisa lepas dari bapakku.
Pun saat bersekolah, bapakku lah yang selalu mengantarku ke sekolah setiap hari. Mengendarai motor butut pemberian nenek yang beberapa tahun lalu ia beri.
Dan saat aku pulang, selalu ia datang menjemputku setiap hari menjelang siang. Terkadang aku berjalan kaki bersama teman² saat aku lihat bapakku tidak datang menjemput aku di depan pintu gerbang. Namun aku lebih sering di jemput oleh bapak ku saat jam dinding menunjukkan jam 12 siang. Dimana sudah waktunya aku berpulang dari sekolahan.
Hari hariku begitu menyenangkan. Aku bahagia dengan kehidupanku yang penuh kesederhanaan. Meskipun serba seadanya namun terasa begitu sempurna karena adanya keluargaku yang begitu mencintaiku melebihi apapun yang ada.
Ketika aku menginjak usia 13 tahun. Kedua orang tuaku menitipkanku di sebuah Pesantren yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalku.
Tepat setelah aku menyelesaikan pendidikan ku di Sekolah Dasar.
Aku begitu riang dan senang saat aku tahu jika bapak ingin memondokkan diriku. Dalam bayanganku, hidup di Pesantren itu begitu menyenangkan. Banyak teman. Dan banyak hal² baru disana yang bisa aku lakukan.
Tanpa berfikir panjang. Aku kemasi baju² ku dengan begitu riangnya. Semua buku dan barang-barangku aku taruh dalam kardus sehari sebelum aku berangkat ke Pesantren.
Tak sabar rasanya hati ini menunggu keberangkatanku ke Pesantren waktu itu.
Hingga pada akhirnya tibalah saatnya. Saat dimana aku berangkat ke Pesantren Yang sudah tak sabar aku nantikan. Aku berangkat kesana di antar Bapak dan ibuku.
Aku yang sedari awal memang begitu ingin melanjutkan Pendidikan di Pesantren, merasa begitu bahagia dan senang. Karena semuanya berjalan senada dengan apa yang aku inginkan.
Setibanya disana bapakku langsung pergi ke Kantor Pesantren membawa berkas² serta Formulir yang di butuhkan untuk persyaratan Santri Baru.