PUDARNYA PESONA GUS FARIS
Di tulis oleh; M. Fadol Rizky
_________________________________
Aku tak tau apakah ini nikmat atau ujian. Aku tak tau apakah aku harus bersedih atau bersenang riang.
Aku tak tau apakah aku harus menangis atau tertawa. Aku tak tau apakah aku harus bahagia atau bergundah gulana.
Namaku Nur Halimah. Semua orang memanggilku Nur, yang artinya adalah cahaya.
Cahaya yang tak pernah redup dalam jiwa, senantiasa menerangi gelapnya hati di kala gundah melanda.
Aku adalah seorang gadis desa sederhana, yang hanya dapat mengerjakan hal² kecil dalam kesehariannya.
Bapakku adalah sesosok lelaki separuh baya. Usia nya tak lagi muda. Wajahnya sedikit renta. Namun tanggung jawabnya sungguh sangat luar biasa. ia sangat mencintai keluarganya lebih dari segalanya. Dengan segala keterbatasannya, ia sanggup melakukan apapun demi kebahagiaan keluarganya.
Ia adalah cinta pertamaku perihal mencintai seorang pria. Betapa ia adalah sosok lelaki yang begitu bertanggung jawab akan segala kebutuhan keluarga dan kebahagiaan keluarga kecilnya. Terutama aku, anak perempuan pertamanya. Dan anak perempuan nya satu² nya.
Ia adalah orang pertama yang akan tersakiti ketika aku tersakiti. Ia adalah orang pertama yang akan terluka bila aku terluka.
Ia adalah orang pertama yang akan berbahagia dan bangga ketika melihatku tertawa penuh bahagia.
Bapakku membuka usaha kecil-kecilan dirumahku untuk menghidupi kami sekeluarga. Hasilnya memang tidaklah seberapa, namun cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga. Sangat cukup untuk menghidupi kami sekeluarga. Bahkan apapun akan di kerjakannya. Asalkan dapat mencukupi semua kebutuhan kami sekeluarga.
Sesosok lelaki yang begitu luar biasa. Yang rela melakukan apapun demi keluarga yang begitu di cintainya. Dan rela mengorbankan apapun demi keluarganya dengan segala keterbatasannya.
Sedang ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak mempunyai penghasilan apa².
Sejak kecil aku sangat manja pada bapakku. Setiap kali ia bepergian selalu aku ikut kemana pun ia pergi. Tak pernah sekalipun aku lepas dari pangkuannya.
Bahkan ketika ia pergi mengendap-gendap dariku karena tak ingin kepergiannya di ketahui olehku. Aku langsung menangis menjerit saat tau jika aku telah di tinggal pergi oleh bapakku tanpa sepengetahuanku.
Hampir setiap hari masa kecil ku selalu bergelut dengan waktu dan ruang yang sama. Juga dengan uraian cerita yang tak pernah ada beda. Aku selalu tertimang manja oleh sosok bapakku yang begitu mencintai ku melebihi segalanya.
Masa kecilku tak pernah jauh dari sosok dirinya.
Aku selalu bersamanya sepanjang waktuku di setiap detiknya. Tak pernah sedikitpun terlepas dari pelukan hangat kasih sayangnya.
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara.
Aku mempunyai seorang adik lelaki yang usianya terpaut dua tahun lebih muda.
Namun dia tak seperti diriku. Sejak kecil ia jarang ikut bapak pergi apalagi ibu.
Bahkan ia lebih sering keluar rumah bermain bersama teman² sebayanya. Bermain kelerang dan layangan seharian hingga terkadang lupa pulang.
Tidak seperti diriku yang tak pernah bisa jauh dan tak bisa lepas dari bapakku.
Pun saat bersekolah, bapakku lah yang selalu mengantarku ke sekolah setiap hari. Mengendarai motor butut pemberian nenek yang beberapa tahun lalu ia beri.
Dan saat aku pulang, selalu ia datang menjemputku setiap hari menjelang siang. Terkadang aku berjalan kaki bersama teman² saat aku lihat bapakku tidak datang menjemput aku di depan pintu gerbang. Namun aku lebih sering di jemput oleh bapak ku saat jam dinding menunjukkan jam 12 siang. Dimana sudah waktunya aku berpulang dari sekolahan.
Hari hariku begitu menyenangkan. Aku bahagia dengan kehidupanku yang penuh kesederhanaan. Meskipun serba seadanya namun terasa begitu sempurna karena adanya keluargaku yang begitu mencintaiku melebihi apapun yang ada.
Ketika aku menginjak usia 13 tahun. Kedua orang tuaku menitipkanku di sebuah Pesantren yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalku.
Tepat setelah aku menyelesaikan pendidikan ku di Sekolah Dasar.
Aku begitu riang dan senang saat aku tahu jika bapak ingin memondokkan diriku. Dalam bayanganku, hidup di Pesantren itu begitu menyenangkan. Banyak teman. Dan banyak hal² baru disana yang bisa aku lakukan.
Tanpa berfikir panjang. Aku kemasi baju² ku dengan begitu riangnya. Semua buku dan barang-barangku aku taruh dalam kardus sehari sebelum aku berangkat ke Pesantren.
Tak sabar rasanya hati ini menunggu keberangkatanku ke Pesantren waktu itu.
Hingga pada akhirnya tibalah saatnya. Saat dimana aku berangkat ke Pesantren Yang sudah tak sabar aku nantikan. Aku berangkat kesana di antar Bapak dan ibuku.
Aku yang sedari awal memang begitu ingin melanjutkan Pendidikan di Pesantren, merasa begitu bahagia dan senang. Karena semuanya berjalan senada dengan apa yang aku inginkan.
Setibanya disana bapakku langsung pergi ke Kantor Pesantren membawa berkas² serta Formulir yang di butuhkan untuk persyaratan Santri Baru. Aku dan ibuku menunggu di luar di ruang tunggu.
Dan saat semua keperluan pendaftaran sudah bapak selesaikan. Tiba² saja bapak datang menghampiriku.
“Nur, kamu yang kerasan ya di tempat barumu.”, kecup bapakku ke keningku dengan mata berkaca² .
“inggeh pak”, jawabku penuh mantap.
“Yang giat belajarnya..! Ngajinya juga yang giat ya jangan malas². Biar kelak ketika dewasa kamu bisa menjadi orang hebat. Jadi Ustadzah, kalu perlu jadi Pengasuh Pesantren seperti Nenekmu, banyak santrinya. “ imbuhnya, dengan telapak tangan memegang pundakku penuh harap.
Sepeninggal kakekku beberapa tahun lalu, Nenekku menikah lagi dan tinggal di tanah kelahirannya di luar kota.
Saat itu aku masih kecil belum mengerti apa². Disana ia mendirikan sebuah lembaga Pesantren bersama suaminya.
Ia memang seorang yang kaya raya. Hasil dari warisan orang tua nya yang semasa hidupnya dikenal sebagai seorang pekerja keras. Dengan hasil jerih payahnya itu Ia berhasil membeli Puluhan hektar tanah dimana-mana. Tak heran jika saat ini nenek ku menjadi kaya raya setelah menerima warisan dari bapaknya.
Sebagian harta nya ia gunakan untuk membangun lembaga di tanah kelahirannya. Lengkap dengan sekolah Formal hingga Tingkat MA.
Bapakku, yang merupakan anak beliau satu² nya yang tersisa. Sangat Jarang sekali berkunjung kesana.
Saat di tanya kenapa, selalu bapak bilang jika alasan kenapa ia jarang berkunjung kesana sebab Bapak sungkan dan malu katanya. Malu karena Nenek adalah orang yang serba ada sedangkan kami orang tak berada.
“insyaAllah pak, doakan Nur ya pak.” Jawabku penuh haru.
Ibuku hanya menciumiku. Tak mampu berkata apa². Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia terlihat menangis mengisak-isak di depanku.
Aku tak tega melihat isakannya. Aku peluk ia dengan airmata.
Kemudian bapakku juga memelukku penuh haru dan iba.
“Ya sudah, kami pulang ya nak.” Ucap bapakku setelah memelukku begitu erat.
“Inggeh pak,” jawabku menundukkan kepala. Menahan bendungan airmata.
Aku lihat mereka pergi meninggalkanku. Meninggalkanku di tempat baruku, di rumah baruku. Di sebuah Pesantren yang terletak di sudut Kota.
Tempat dimana aku melanjutkan pendidikanku. Guna menimba ilmu sebagai bekal hidupku di masa yang akan datang.
Aku pun beranjak dari tempatku. Masuk ke ruang asrama dengan raut sedih menggumpal. Airmata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya tak mampu lagi aku membendungnya.
Airmataku tiba² berjatuhan, bercucuran, menderai-derai membasahi pipiku.
Semenjak berada di Pesantren aku tak pernah melupakan pesan bapakku. Saat aku malas untuk belajar. Pesan itu selalu aku jadikan bara api untuk membakar semangatku.
Saat rasa lelah mulai terasa menopangi pundakku. Pesan itu selalu aku jadikan s*****a untuk menyulut semangatku.
Hari² ku hanyalah bergelut dengan A-Qur’an, kitab² kuning dan buku².
Aku benar² tak ingin mengecewakan mereka. Terutama bapakku. Karena ia lah sosok yang sudah bersusah payah mencari nafkah untuk membiayai ku menimba ilmu.
Semangatku dalam belajar Tak pernah aku biarkan memudar. Dan tekad ku untuk menjadi orang yang hebat tak pernah sedikitpun aku hambat. Aku ingin bapak bangga padaku, bangga telah membesarkanku dan membiayai pendidikanku. Aku ingin membuatnya bangga padaku dengan segudang prestasiku.
Hari Demi Hari Berlalu, Tak terasa dua tahun sudah aku berada di Pesantren ini guna menimba ilmu.
aku yang mulanya hanyalah seorang gadis kecil yang tak pernah mengenal tentang cinta. Gadis yang tak pernah kagum akan sosok seorang pria. Kini telah berubah menjadi seorang gadis beranjak dewasa.
Tanpa terasa aku kini sudah menginjak usia 16 tahun. Aku yang awalnya begitu bersemangat perihal belajar. Seketika itu semangatku mulai runtuh dan memudar.
Aku terjatuh dan terperosok akan kekagumanku pada seorang pria yang kebetulan Dia adalah seorang Ustadz yang tanpa Sengaja aku temui di depan asrama. Ustad Anif namanya.
Seiring dengan berjalannya waktu, perlahan sosoknya mampu memikat hatiku. Ia yang hampir setiap hari lewat di depan asramaku guna mengajar di ruang kelas yang berada di depan kamarku. Perlahan menggoyahkan tekad dan semangatku dalam menuntut ilmu.
Aku terjerat akan rasa kagum ku akan kepribadiannya. Kepribadian nya yang begitu sopan dan murah senyum saat ada santri yang menyapa. senyum yang sangat memukau nan merona. wajah yang menawan, sayu meneduhkan jiwa.
Seketika aku jatuh hati padanya. Namun aku tak pernah mampu untuk mengungkapkannya. Aku hanya bisa mengaguminya tanpa bisa memilikinya. Aku hanya bisa memandangnya tanpa bisa menyentuhnya.
Aku yang mulanya tak pernah mengenal apa itu cinta. Tiba² di buat nya jatuh cinta.
Hari demi hari aku lalui hanya untuk menunggu kehadirannya. Setiap kali ia lewat didepan kamar asramaku hati ini terasa berdebar begitu hebat. Jantung ku berdetak begitu cepat.
Aku benar² di buatnya mabuk kepayang. Hingga aku lupa akan semua pesan yang pernah bapak sampaikan.
Hingga suatu ketika, saat Liburan Bulan Maulid tiba. aku pulang ke rumahku. Pulang bersama teman² lainnya. Kami pulang kerumah masing² selama beberapa hari.
Dan malam harinya. Saat aku sedang selesai melaksanakan sholat Maghrib di kamarku. Tiba² saja HP ku bergetar;
“Assalamualaikum, Nur Halima..?” tulisnya, mengirim pesan singkat kepadaku.
“Wa ’alaikumsalam, iya benar. maaf sebelumnya. Ini siapa ya..?” tanyaku penasaran.
“saya Ustad Anif, maaf bila sms saya mengganggu dik Nur.” balasnya.
Hati ini berdebar-debar membaca balasan pesan singkatnya.
Aku senang luar biasa. Hati ku meriang-riang tak terkira. Lelaki yang selama ini aku kagumi dan aku damba² kan tiba² saja menghubungi ku lewat sms di HP ku.
Aku dekap HP itu. Aku tersenyum-senyum sendiri tersipu malu.
“Oh, iya ustad. Tidak kok ustad, sama sekali tidak mengganggu. “ balasku, semringah.
Obrolan demi obrolan tercipta begitu hangat malam itu.
Aku yang sedari awal memang begitu mengagumi sosoknya. Dibuatnya tiada henti tersenyum dan tertawa. Setiap dentingan HP karena ada Pesan SMS masuk darinya. Selalu mengundang tawa bahagia.
Dan semenjak kejadian itu, ia sering sekali mengirim pesan singkat kepadaku. Terkadang sedikit rayuan dan gombalan tercipta dari ketikan tangannya. Membuat ku terlena dan di mabuk cinta asmara.
Waktu demi waktu datang silih berganti. Tak terasa masa liburan di rumah sudah tinggal menghitung hari.
Aku yang sedang di landa cinta pada seorang pria yang kebetulan mengajar santri Putri di Asrama. Begitu ingin kembali ke Pesantren secepatnya.
Ingin segera kembali Ke Pesantren rasanya. Aku ingin sekali bertemu dan melihat sosok ustad Anif. Ustad Yang hadirnya sempat memukau hatiku dengan ketikan² singkatnya beberapa hari lalu selama liburan.
Dan, beberapa hari kemudian. Tibalah saat dimana aku harus kembali ke Pesantren karna masa libur telah usai. Aku pun bersiap-siap melanjutkan perjuangan di Pesantren yang sudah hampir 3 tahun aku habiskan untuk belajar disana.
Saat denting jam menunjukkan pukul 15:30 sore. Aku pun berangkat kembali ke Pesantren. Seperti biasa, aku berangkat kesana di antar bapakku dengan motor Honda kebanggaannya.
Setibanya disana. Aku cium tangannya. Dan Bapakku pun langsung pulang tanpa sepatah kata.
Aku berjalan menuju asrama, dengan tas ransel berisi baju dan keperluan lainnya.
Disana aku bertemu dengan teman² yang lainnya. Kami pun saling bercerita dan tertawa bersama. Menceritakan segala kegiatan serta kesibukan kita selama liburan di masing² rumah kita.
Aku sangat ingin menceritakan tentang obrolanku dengan Ustad Anif lewat HP beberapa hari lalu pada mereka. Tapi aku menahannya. Karena aku tak ingin mereka tahu akan kedekatan kita.
“ Nur, pas libur kemaren kamu ngapain aja..? “ tanya mbak Ayu, salah satu teman kamarku.
“Gak kemana² mbak, dirumah aja. “ jawabku menahan senyum.
“Eh, sama Nur . Aku juga. “ ucapnya, tertawa menganga.
Kami hanyut dalam gumaman penuh canda. Saling tersenyum dan bergelak tawa. Saling bercerita, saling berbagi akan semua yang telah kita lalui selama liburan tiba.
Tanpa kita sadari tiba² saja Ustad Anif datang memhampiri kita. “Ehem ehem”, derhamnya.
Aku pun tersenyum menahan malu melihat tingkahnya. Dan aku lihat mbak Ayu pun tersenyum cengingisan menahan tawa.
Melihat mbak Ayu dan Ustad Anif tersenyum sama². Tiba² saja aku bingung seketika. Seolah-olah juga ada kedekatan di antara mereka. Seperti halnya diriku yang juga sedang dekat dengannya.
“Aaaah, mungkin Cuma perasaanku saja.” Tepisku dalam hati.
Hari demi hari aku lalui. Ustad Anif yang sosoknya sempat aku kagumi karna obrolan hangat beberapa waktu lalu itu. Kini sudah jarang aku temui. Ia jarang lewat depan asramaku lagi. Tak lagi sering menampakkan diri.
Kalaupun bertemu, dia tak sehangat dulu lagi. Entah apa yang terjadi. Aku sempat merasa kehilangan sosoknya. Namun aku mencoba untuk tak terlalu memperdulikannya. Karena aku sadar jika aku memang hanya sekedar dekat saja. Belum ada hubungan apa² di antara kita.
Hingga suatu hari aku dengar jika Ia sedang dekat dengan mbak Ayu. Bahkan sebentar lagi ia ingin melamar mbak Ayu sahabatku.
Tentu aku kaget mendengar kabar itu. Karena merasa di permainkan olehnya.
Aku merasa jika kehadirannya beberapa waktu lalu hanyalah bualan belaka.
Aku ingin menangis. Tapi apalah dayaku, aku tak berhak menangisinya karena dia pun bukan siapa².
Dan semenjak kejadian itu, aku tak kerasan lagi berada di pondok Pesantren dan tak betah tinggal di asrama.
Hari² ku disana yang awalnya begitu menyenangkan kini berubah menjadi kedukaan.
Kebersamaan bersama teman² yang tadinya selalu aku rindukan. Kini tak lagi aku inginkan.
Aku pun sering pulang. Kadang sampai dua kali dalam sebulan.
Entahlah, semuanya benar² berubah sekarang. Hidup di Pesantren tak lagi mengasikkan. Hidup di Pesantren tak lagi meneduhkan. Hidup di Pesantren tak lagi berkesan. Semuanya tak lagi menyenangkan. Setiap harinya hanya rasa lelah dan suntuk yang aku dapatkan. Terasa ada rasa letih mengurai-urai dalam fikiran.
Pernah sekali aku pulang kerumah begitu lama. Pulang dengan perasaan bingung dan hampa.
Aku meminta Bapakku untuk menjemputku ke Pesantren.
Yang kebetulan aku sedang sakit demam.
Aku kirim seuntai surat pada bapakku yang aku titipkan pada tetangga yang sedang menjenguk anaknya di Pesantren.
“Bapak, Jemput Nur yah pak. Nur sedang sakit pak, sedang tidak enak badan. “ Tulisku singkat di sepucuk surat. Lalu kemudian aku lipat.
Esok harinya Bapak pun datang menjemputku. Dan membawaku pulang bersama segala rasa gundahku.
Selama dirumah, Setiap hari yang bisa aku lakukan hanyalah membantu ibuku menyelesaikan pekerjaan rumah nya.
Mencucikan baju bapak dan adik lelakiku satu² nya. Menyapu halaman rumah, ngepel lantai, ngelap jendela, bahkan membakar s****h di pekarangan rumah.
Semua itu adalah pekerjaan yang sudah biasa aku lakukan selama berada dirumah. sangat sederhana namun bermakna.
Tak pernah aku bayangkan jika ternyata aku akan di jodohkan oleh seorang lelaki yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Gus Faris namanya.
Sesosok lelaki begitu berwibawa nan bersahaja. Berasal dari keluarga terhormat di daerahnya. Ia adalah anak lelaki tertua dalam keluarganya. Bahkan ia adalah anak lelaki satu² nya dalam keluarganya. Pewaris takhta satu² nya yang kelak akan menggantikan abahnya.
Ya, ia adalah seorang Putera mahkota. Yang kelak akan melanjutkan Perjuangan orang tuanya dalam memimpin sebuah Pesantren yang sudah puluhan tahun di dirikan oleh leluhurnya. Lelaki yang nyaris menjadi idaman semua wanita. Di damba kan semua gadis desa. Dan di impikan banyak perempuan untuk dapat bersanding dengannya.
Malam itu bapak memanggilku. Dan menyuruhku untuk duduk di sebelahnya ; "Nduk, bapak mau bercerita tentang kejadian yang bapak alami sore tadi.” Ucap bapakku padaku dengan raut wajah tak seperti biasanya.
"Inggeh, Nopo geh pak? ", tanyaku penasaran.
" Gini, Bapak kan tadi kerumah Kh. Zainudin. Beliau ngendikan, Jika ia punya seorang keponakan yang sedang mencari calon istri." Lanjut bapakku dengan suara datar.
"Beliau meminta bapak untuk menjodohkanmu dengan keponakannya. Piye menurutmu nduk ?", bapak melanjutkan pembicaraannya.
Mendengar cerita bapak itu. Tiba² jiwa ini terasa remuk seketika. Perasaan bingung dan bimbang mengguyur ke seluruh relung jiwa. Aku hanya terdiam tak bisa berkata apa². Mulut ini rasanya terbungkam. Serasa tertutupi seribu tapak tangan. Bibirku kaku membeku. Sukma ku mengharu biru.
Betapa tidak, Aku belum pernah mengenal calonnya. Bahkan melihat wajahnya saja aku tak pernah. Bagaimana mungkin aku dan dia bisa menikah ? Jangankan untuk menikah, bahkan membayangkan aku menikah dengannya saja aku tak pernah.
Memang bisa saja aku menolaknya. Tapi aku sadar jika itu tak mungkin bagiku untuk melakukannya. Karena aku tahu betul jika bapakku sangat menghormati Kh. Zainudin. Beliau adalah kerabat dekat bapakku. Ia adalah suami Tante Jamilah, Sepupu bapakku.
Beliau adalah seorang Tokoh Kyai yang paling masyarakat segani di antara kyai² lainnya disini.
Seorang kyai yang sudah begitu banyak mengukir jasa untuk masyarakat sini, lebih² pada keluargaku.
Jika aku menolak tentu aku akan mengecewakan bapakku. Namun jika aku menerimanya aku yang tersiksa. Karna aku belum pernah mengenal calon nya apalagi mencintainya. Sungguh sangat dilema, menguras fikiran dan tenaga.
"Siapa namanya pak ?", tanyaku sekenanya.
" Gus Faris nduk, Ahmad Faris Zakariya". Jawab bapakku penuh mantap, matanya binar tertatap, suaranya berhembus begitu kuat, sembari mengingat-ngingat nama lelaki yang sedari tadi ia ceritakan.
"Nur istikhoroh_kan dulu ya pak”, Sahutku dengan perasaan bimbang tak tau arah.
Aku berdiri beranjak pergi. Meninggalkan bapak sendiri. Kemudian aku masuk ke dalam kamar.
Aku tutup pintu rapat². Aku tutup jendela dan semua selah² di sudut kamar.
Aku duduk di depan pintu. Duduk tersungkur meratap mengaharu. Aku menangis tersedu², merintih menderu², batinku menjerit menangis tak menentu.
Aku serasa sedang berada di tengah² lautan. Terombang ambing tak tahu jalan.
Aku laksana keringnya dedaunan. Yang terbang tanpa arah dan tujuan. Terhempaskan tiupan angin begitu kencang.
Aku bak seorang tahanan. Yang tak bisa melakukan apapun kecuali pasrah pada keadaan.
Hatiku benar² hancur, hancur sehancur-hancur nya. Hatiku remuk meluluh rontakkan segenap jiwa.
Pikirankau kacau. Menghunuskan rasa letih dalam hati penuh risau.
Dan tiba²; "Tok Tok Tok. " Nduk, buka pintunya nduk”. Terdengar suara ibu dari balik kamar sedang mengetuk pintu.
Aku pun beranjak dari keterpurukanku. Aku usap air mataku.
Aku tegarkan perasaanku. Aku buang segala kesedihan yang sedari tapi menghujaniku.
Aku tak mau ibu tahu, jika aku sangat terpukul dengan perjodohan itu.
"Iya buk, ada apa buk..?” Jawabku sembari membuka pintu. " Bikinkan bapakmu kopi ya, ibu mau pergi belanja sama adikmu." Ucapnya.
"Inggeh buk”, Jawabku menundukkan kepala.
"Kamu kenapa Nur ?" Kok seperti habis nangis ?" Tanya ibuku penasaran.
"Ah tidak Buk, Nur tidak apa², mungkin karna barusan sempat ketiduran. Makanya mata Nur agak memerah", jawabku menimpali.
"Ya sudah ibu berangkat ya Nur, jangan lupa kompor nanti matikan ya". Imbuhnya.
"Inggeh Buk", jawabku menundukkan kepala.
Aku berjalan menuju dapur. Membuatkan secangkir kopi untuk bapak. Kemudian aku taruh kopi itu di atas meja.
Aku ambil sehelai kain lalu aku bersihkan meja itu, karena ada sedikit percikan kopi yang mengotori saat aku menaruhnya.
"Nur, kamu jangan kecewakan bapak ya nak.!, Bapak malu sama Kh. Zainudin Nur kalau seandainya kamu gak mau di jodohkan sama keponakannya. Hanya beliau satu² nya Kerabat bapak di desa ini Nur. Beliau sudah seperti kakak kandung bapak sendiri. " Tuturnya, sembari memegang pundakku.
Jiwa ini remuk seketika mendengar ucapan bapakku. Helai demi helai kata yang di ucapkannya seolah-olah menusuk-nusuk hatiku.
Mengundang rasa sakit bercampur haru ke relung kalbu.
Aku tertegun mendengar semua ucapan bapakku. Merenung tak menahu.
Bibir ini terasa kaku. Dan sekujur ku lunglai membiru.
"Nur, kamu dengar ucapan bapak kan nak.?” Lanjutnya, meleburkan lamunanku.
"Inggeh Pak, Nur dengar kok." Jawabku dengan perasaan tak menentu.
"Kalau begitu Nur tidak perlu istikhoroh pak, asal bapak dan ibu meridhoi, Nur Yakin Allah juga akan meridhoi.” Imbuhku waktu itu.
"Iya nak, Bapak dan ibu mu Ridho nak, kami ridho." Jawabnya, mengelus-ngelus pundakku.
“Tidak sia² bapak memondokkan mu nak”, tuturnya. Meluluh rontakkan segenap jiwa.
Hari demi hari berlalu. Pagi itu, aku buka kaca jendela kamarku. Aku lihat langit masih sama seperti dulu.
Teriknya masih terasa hangat, menghangatkan sekujur tubuhku.
Terlihat gumpalan awan masih setia menemani langit biru.
Aku hirup udara pagi sembari mengangkat kedua tanganku.
Aku helakan nafas panjang mencoba melepas segala beban yang sempat menopangi kisahku. Aku lepaskan segala beban yang sempat menekan kuat kepala dan fikiranku.
Dan saat aku menikmati semua keindahan itu. Tiba² dari balik kamar bapak memanggilku.
Memberikan kabar bahwa nanti sore Gus Faris akan datang kesini mengunjungi rumahku.
"Udah bangun nduk, " Panggilnya.
"Nanti sore Gus Faris mau kesini, kamu harus siap², jangan lupa dandan yang cantik Ya nduk." Ucapnya, dengan sedikit senyuman tampak merekah di wajahnya dari balik pintu kamarku.
Aku tak menjawab apa². Hanya menganggukkan kepala. Sebagai isyarat bahwa aku menyetui suruhannya. Meskipun dengan berat hati dan memaksa.
Ucapan kabar kedatangan Gus Faris yang di lontarkan bapakku terdengar bagaikan serpihan peluru yang melesat tajam menusuk jantungku. Membunuh jiwaku, dan membantaiku penuh pilu.
Aku bergegas membersihkan kamar. Menyapu rumah dan halaman. Bahkan pekarangan pun tak lupa aku bersihkan.
Aku bersihkan kaca² jendela di setiap ruangan. Membereskan berkas² yang berserakan.
Merapikan segalanya yang terlihat berantakan.
Aku melakukan semuanya Seolah-olah tanpa beban. Padahal kepala ini terasa berat memikirkan kemungkinan² buruk yang mungkin saja terjadi di masa yang akan datang.
Namun aku coba untuk tak terlalu memperdulikan semuanya. Mencoba pasrah pada apapun kehendak Sang Maha Pencipta.
"Tuhan, aku yakin Engkau Maha Tahu akan apa yang terbaik buat hamba. Apapun kehendak-MU, Kuatkan hamba Tuhan", Rintihku dalam hati.
Tanpa terasa Jam dinding sudah menunjukkan tepat jam Tiga sore. Sinar mentari perlahan Suru. Teriknya pun perlahan mulai meredup. Silau nya mulai terasa tak begitu mengganggu bola mata. Langit tertutup awan sedikit mendung.
Aku pun bergegas mandi. Karena sebentar lagi Gus Faris akan datang bertamu kerumahku. Sesuai dengan ucapan bapak tadi pagi.
Aku yang sedari tadi di hujani gelisah tiada henti. Sekuat hati mencoba bangun dari ketidak adilan ini.
Aku kumpulkan kepingan² hati yang telah hancur luruh sedari pagi. Aku kuatkan hatiku meski perasaan haru terus menerus menggerusku.
Berkali-kali aku mencoba berdiri tegar. Namun berkali-kali pula keraguan itu acap kali datang tanpa di hantar.
Handphone bapak pun berbunyi. Mengacaukan pikiran ku dan meremukkan hati.
Aku yakin jika Dentingan Handphone itu adalah Telepon dari Gus Faris yang memang sudah sedari tadi bapak dan ibuku nanti².
Aku tak tau harus aku apakan tubuhku ini. Apakah aku harus berlari. Atau berdiam disini mengikuti arus dn pasrah pada Takdir Ilahi.
Aku yang mencoba tak peduli tiba² saja di kagetkan oleh suara lirih yang berasal dari halaman depan.
"Assalamualaikum, " Terdengar suara ucapan salam dari luar. Suara yang menggelegar. Penuh asa dan menggetarkan.
Aku yakin jika suara itu adalah suara Gus Faris.
Aku intip dia dari balik tirai kamarku. Namun aku tak bisa dengan jelas melihat sosoknya.
Mata ini tak mampu menjamah wajahnya. Tak bisa seksama memperhatikan seperti apa wajahnya dan seperti apa orangnya. Aku terus saja mencoba mengintip sosoknya meski tak sedikitpun tampak oleh mata.
Hingga tak lama kemudian datanglah ibu menerobos masuk ke kamarku. Meleburkan rasa penasaranku.
"Nur, kenapa masih berdiri disini.?
cepat buatkan kopi. Itu Gus Faris sudah datang. Cepat ke dapur sana gih.!!", suruhnya.
" Inggeh Bu, " Jawabku sebisanya.
Aku bergegas pergi ke dapur meng-iyakan suruhan ibu.
Membuatkan secangkir kopi untuk Gus Faris yang sore ini datang bertamu.
Dengan perasaan tak menentu. Aku aduk perlahan-lahan seduhan air panas yang telah aku tuang dalam cawan. Kata seduh dan sedih benar² melebur menjadi satu kala itu.
Fikiranku melamun tak tentu. Hatiku berdebar². Jantungku berdetak begitu kencang.
Aku berjalan mengantarkan kopi ke ruang tamu.
Berjalan serasa tubuh ini sedang melayang. Tubuhku berada disini, namun otak dan fikiranku terbang entah kemana. Kaki ini seolah tak menginjak tanah. Berjalan jauh melangit terombang ambing tanpa arah.
Rasa bimbang dan ragu benar² menghantuiku waktu itu. Meremukkan hati dan Fikiranku.
Aku taruh kopi itu di atas meja, tepat di depan Gus Faris yang sedang duduk di kursi depan.
Aku menaruh kopi itu sembari menundukkan kepalaku, dan aku alihkan pandanganku. Aku benar² malu, rautku seketika memerah tersipu.
Ketika aku hendak ingin pergi. Tiba² saja ibu meleraiku dan memintaku untuk tetap disini.
"Duduk sini nduk", ucap ibuku. Sembari memegang kursi yang terletak tepat di depan Gus Faris.
Aku pun duduk di kursi yang di tunjuk ibu. Dengan perasaan resah penuh gelisah. Dan dengan hati gundah gulana.
Entah apa yang ada dalam pikiranku waktu itu.
Sungguh aku tak menahu. Yang aku tahu hanya satu. Bahwa lelaki yang saat ini berada tepat di depanku, kelak akan menjadi suamiku. Suami yang kelak akan membawaku pergi dari rumahku. Meninggalkan keluarga kecilku.
Suami yang kehadirannya tak pernah aku semogakan dalam doaku. Namun semesta memaksaku untuk menerima segala tentang nya meski dengan rasa sakit menderu-deru.
Tak berselang lama. Bapak dan ibu pun beranjak pergi meninggalkan kami. meninggalkan aku dan Gus Faris berdua saja di ruang tamu. Membiarkan kami tenggelam dalam keheningan yang bagiku tiada arti. Dan memberi kami jeda untuk sekedar mengobrol kan hal² yang sama sekali tidak aku ingini.
Aku betul² syok waktu itu. Pikiranku benar² kacau. Torehan luka terasa telah merobek-robek sukmaku. Jiwa ku mengaung menangis pilu. Batinku menjerit menggerutu.
" Haaaai Nur, apa kabar ?" Sapa gus Faris padaku, sedikit kaku.
Aku sama sekali tak membalas sapaannya. Sedikitpun aku tak menggubrisnya. Tak peduli dia menganggapku acuh atau apa. Aku hanya ingin menunjukkan ketidak suakaan ku saja. Entah apa yang ada di pikirannya waktu itu. Aku benar² tak ingin peduli akan apapun isi kepalanya. Aku benar² tak ingin peduli apapun anggapannya tentang sikap kerasku.
Kemudian ia pun melanjutkan perbincangannya denganku.
Dia berbicara banyak padaku. Sesekali bercerita tentang seperti apa dia di masa lalu.
Banyak hal yang ia ucapkan dan ia utarakan padaku.
Namun aku tak memperdulikan semua itu. Meskipun di tengah² obrolannya dia meminta ku untuk bertanya sesuatu. Aku tak pernah menanyakan sesuatu apapun itu. Aku tetap tak ingin tahu. Bergeming dalam kehampaan mengiris kalbu.
Aku hanya diam membisu. Sesekali menganggukkan kepalaku.
Dan saat ia sedang begitu asyik menceritakan segala tentangnya padaku. Tiba² saja rasa penasaranku kembali datang mendobrak-dobrak hatiku.
Diam² aku intip wajah sosok lelaki yang sedari tadi duduk di depanku itu. Aku penasaran seperti apa sosok lelaki yang bernama Gus Faris yang saat ini sedang duduk di depanku diruang tamu.
Dimataku ia terlihat tinggi tegap. Tubuhnya kekar membugar. Kedua matanya membinar. Wajahnya sedikit manis masam. Berkulit sawo matang.
Bola matanya hitam lekat. Hidungnya sedikit mancung.
Kepalan tangannya pun tak lepas dari intipan mataku. jemarinya kecil melentik. Terurai begitu elok nan cantik.
Dari sekian banyak obrolannya waktu itu. hanya satu yang mampu aku tangkap dan aku rekam di kepalaku.
Yaitu, ia ingin segera melamarku. Menikahiku dan membawaku pergi untuk tinggal bersamanya di rumahnya bersama keluarga nya yang bahkan aku pun tak pernah tau dimana itu. Aku hanya bisa pasrah pada kehendak semesta seperti apapun kisahnya. Aku hanya ingin melihat orang tuaku bangga dan bahagia. Meski aku harus mengorbankan perasaanku atau bahkan harus mengorbankan kebahagianku demi itu semua.
Aku hanya ingin melihat mereka berbahagia. Meski aku harus menyiksa diri sendiri untuk menebusnya.
Keesokan harinya aku dan bapak pergi mengunjungi Pesantren. Bapak pergi ke Dalem menemui Kyai untuk sowan, sekaligus berpamitan. Meminta izin atas hajat nya untuk menikahkan ku dengan Gus Faris.
Sedang aku pergi ke Asrama mengemasi barang²ku.
Disana aku bercerita banyak hal tentang Perjodohanku kepada teman² ku. Aku bercerita tentang betapa terpukulnya aku. Dan betapa tersiksanya batinku. Aku bercerita dengan airmata ikut berbicara. Berbicara akan betapa batin ku merasakan sakit sebab Perjodohan yang sama sekali tak aku harapkan itu.
Hari² pun berlalu. Detik demi detik berdetak begitu kencangnya. Mengusaikan segala penantian di penghujung senja.
Semenjak kedatangan Gus Faris ke rumahku waktu itu.
Tiga kali purnama sudah telah aku lewati.
Namun hati ini masih saja di hantui rasa ragu tak menentu. Gejolak jiwa seringkali menyerukan hampa nan kelabu. Desahan ketidak pastian selalu saja mendobrak² dinding hati yang sudah susah payah aku yakinkan tentang kebenaran keputusanku.
Bahkan bayangan wajah kedua orang tua ku di benakku sama sekali tak mampu meluluhkan hatiku.
Sungguh, hati ku benar² pilu. Pilu yang mengalir deras menderu-deru. Menorehkan luka begitu dalam menggores kalbu. Sakitnya menusuk-nusuk tajam jauh ke dasar hatiku.
Jiwaku tiada henti merintih. Rasa perih, pedih, sedih, semuanya melebur menjadi satu.
Tepat pada Tanggal 01 Oktober 2014, tibalah hari itu.
Hari dimana Gus Faris akan datang melamarku, sekaligus mempersuntingku.
Dan bukan hanya itu. Ijab Qobul pun akan di laksanakan pada waktu itu juga. Sesuai dengan kesepakatan antara Bapak dan Kh. Zainudin beberapa waktu lalu.
Sungguh, hari yang aku tak bisa mengungkapkan betapa rasa bimbang benar² mencabik-cabik jiwaku. Hari yang penuh kesakitan. Kelam kelabu.
Hari itu, Aku lihat bapakku sedang menunggu kedatangan para tamu. Ia duduk di depan rumahku. Duduk bersama keluarga dan kerabat² ku.
Mereka bercengkrama bersama-sama tanpa sedikitpun rasa haru. Seolah mereka tak peduli akan kesedihan yang sedari tadi menyiksa ku.
Sedang ibu ku aku lihat sedang sibuk menyiapkan hidangan dan jamuan untuk para tamu.
Para tetangga juga terlihat sibuk membantu ibu. Mereka sedang sibuk dengan tugas² yang membelenggu.
Bersiap-siap menyambut kedatangan keluarga besar Gus Faris yang sebentar lagi akan datang bersama rombongan mempelai pria, bertindak sebagai calon suamiku.
Mereka semua terlihat begitu riang gembira. Tertawa bahagia, bercanda ria, berbahagia penuh gelak tawa.
Bahkan Mereka mengira aku juga sedang berbahagia di hari pernikahanku.
Mereka sama sekali tak pernah tahu. Jika hari ini sama sekali bukan hari bahagiaku. Namun sebaliknya, hari ini adalah hari kehancuranku.
Dimana hari ini Hatiku hancur berkeping-keping. Bagai pecahan beling yang setiap sudutnya melukai hatiku. Melukai hingga mendarah-darah , bernanah-nanah, sakit tiada tara.
Namun tak satu pun dari mereka yang menyadari akan betapa hancur dan remuk hatiku.
Mereka sama sekali tak menyadari akan kesedihan demi kesedihan yang sedari tadi menghajarku. bahkan airmata yang berjatuhan dari kelopakku, tak cukup mampu menafsirkan akan betapa hancur leburnya perasaanku.
Sedang dari sudut jendela aku lihat Kh. Zainudin terlihat sibuk dengan HP Nokia hitam yang sedari tadi tak pernah lepas dari genggamannya. Sesekali ia berdiri, kemudian duduk kembali. Beliau berjalan kesana kemari sambil memegang HP nya tiada henti. Seolah ada rasa panik luar biasa yang mengganggu fikiran beliau sejak tadi. Terlukis jelas diri wajah beliau betapa kekhawatiran demi kekhawatiran datang silih berganti.
Mungkin beliau sedang menelpon Rombongan Mempelai pria yang tak kunjung datang hingga sampai saat ini. Atau mungkin saja sedang menunggu kabar mengapa hingga sekarang Rombongan Gus Faris Tak jua menginjakkan kaki.
Benar, mereka memang sudah telat. Bahkan ketelatan mereka hampir memakan waktu selama 2 jam. Entah dimana mereka sekarang. Aku tak tahu keberadaan mereka dan aku sama sekali tak ingin mengetahui nya. Aku tak peduli apapun yang terjadi pada mereka. Aku hanya ingin semua berjalan sesuai dengan apa yang aku harapakan dan seiring dengan apa yang aku inginkan.
Dan jujur, aku justru berharap Gus Faris bukan hanya telat datang. Bahkan aku berharap Ia takkan pernah datang.
BERSAMBUNG...