Cerita Oleh Ririn Dwiyati
author-avatar

Ririn Dwiyati

bc
Jejak Kinanthi: Harapan di Balik Senja Bab 1: Luka Masa Lalu Mentari sore menyinari wajah Kinanthi yang masih sangat muda.
Diperbarui pada Jun 4, 2025, 10:00
Jejak Kinanthi: Harapan di Balik Senja pov Luka Masa Lalu Mentari sore menyinari wajah Kinanthi yang masih sangat muda. Usia lima tahun menjadi saksi bisu pertengkaran hebat antara Ayah dan Ibunya, Melati. Pecahan gelas dan teriakan keras masih terngiang dalam ingatannya yang masih polos. Pertengkaran itu menjadi titik balik yang mengubah kehidupannya selamanya. Ibunya pergi, meninggalkan Kinanthi bersama ayahnya yang terpuruk dalam penyesalan. Sang ayah yang patah semangat tak mampu merawatnya. Kinanthi kecil kemudian diantar ke Panti Asuhan Cahaya Ilahi, sebuah tempat yang asing dan menakutkan baginya. Hanya pelukan hangat Ibu Melati yang terpatri dalam memori yang mulai memudar, sementara kesepian menyelimuti hatinya yang rapuh. Di panti asuhan, ia menemukan sosok Ibu Permata, wanita yang murah senyum dan penuh kasih sayang, yang menjadi ibu kandung baginya. Ibu Permata mengajarkannya mengaji dan membaca Al-Quran, menanamkan nilai-nilai agama dan kebaikan di hatinya. Namun, takdir berkata lain. Kepergian Ibu Permata yang mendadak menghancurkan dunianya untuk kedua kalinya. pov Mencari Cahaya di Darul Hikmah Kini, Kinanthi menginjak usia lima belas tahun. Dengan berat hati, ia meninggalkan Panti Asuhan Cahaya Ilahi dan memulai kehidupan baru di Pondok Pesantren Darul Hikmah. Bangunan-bangunan tua yang sederhana, jauh dari hingar bingar kota, menenangkan jiwanya yang terluka. Namun, rasa takut dan kesepian masih menghantui. Kamar asramanya sederhana, hanya berisi ranjang kecil, lemari usang, dan meja belajar mungil. Hanya suara adzan Ashar yang menenangkan hatinya yang gundah. Di masjid kecil Darul Hikmah, Kinanthi menemukan kedamaian. Ia bertemu dengan Ustadzah Zahra, sosok ibu kedua yang penuh kasih sayang dan selalu siap mendengarkan keluh kesahnya. Ia juga bersahabat dengan Aisha, santriwati ramah yang selalu mendukungnya. Kehidupan di Darul Hikmah penuh suka dan duka. pov Ulang Tahun yang Pahit dan Harapan yang Datang Hari ulang tahun Kinanthi ke-16 tiba. Kak Arya, kakak perempuan nya, datang membawa kue. Namun, karena bukan hari kunjungan, Kinanthi hanya bisa bertemu sebentar dengan uti Saat Kinanthi ingin berfoto bersama uti Kirana, kakak tingkatnya yang galak, datang memarahi Kinanthi karena dianggap melanggar peraturan kunjungan. Air mata Kinanthi tumpah. Ia meninggalkan Kak Arya dengan kue yang dibawanya. Padahal, uti telah susah payah bekerja lembur untuk membeli kue tersebut. Pagi harinya, Kinanthi sakit dan tak bisa mengikuti ngaji. Ia menangis tersedu-sedu di kamar asramanya, melepaskan beban yang selama ini ia pendam. Ia lelah berpura-pura bahagia. Saat ada yang mengetuk pintu, Kinanthi buru-buru menyeka air matanya. Ia pandai berpura-pura, pandai menyembunyikan perasaannya. Pada sore hari kunjungan santri, Kinanthi duduk di teras, mengamati santri lain yang dikunjungi keluarga mereka. Ia membayangkan kebahagiaan jika Ibunda Melati masih hidup. Di saat Kinanthi merasa paling lemah, Kak Sekar, kakaknya perempuan, datang mengunjunginya, membawa semangat dan kasih sayang yang begitu ia butuhkan. pov Mencari Kekuatan dan Kebahagiaan Kinanthi belajar untuk tegar dan kuat. Ia menemukan kekuatan dalam dirinya untuk menghadapi masa depan. Ia mencurahkan isi hatinya ke buku hariannya, melepaskan beban dan menemukan kedamaian. Ia belajar menerima kenyataan pahit yang telah dialaminya. Di Darul Hikmah, Kinanthi menemukan keluarga barunya, teman-teman yang mendukungnya, dan Ustadzah Zahra yang selalu membimbingnya. Ia menyadari bahwa kebahagiaan tidak hanya datang dari keluarga kandung, tetapi juga dari orang-orang yang menyayanginya dan dari kekuatan dirinya sendiri. Ia bangkit dari kesedihan dan menemukan kekuatan untuk meraih cita-citanya. Epilogi.. . . Gambaran Kinanthi: Kinanthi memiliki rambut hitam panjang yang terurai lembut, mata indah yang teduh namun menyimpan kekuatan, dan senyum manis yang mampu menyembunyikan kesedihan di baliknya. Wajahnya menunjukkan kelembutan, tetapi sorot matanya mengandung tekad yang kuat. Bab 4: Tangisan di Balik Senyum Pagi itu, pukul 08.35, saat para santri lain bergegas menuju kelas ngaji, Kinanthi terbaring sendirian di kamar asramanya. Tangisannya yang tertahan memenuhi ruangan kecil yang dihuni delapan santriwati. Kinanthi, gadis yang selalu berpura-pura tegar, menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di bantal. Air matanya adalah luapan beban yang selama ini ia pendam. Ia lelah berpura-pura bahagia, lelah menutupi kesedihannya dengan canda tawa. Ia merasa berbeda dari teman-temannya, tetapi ia selalu berusaha untuk terlihat sama. Ia lelah mencari topik pembicaraan yang lucu untuk menutupi masalahnya. Ketika ada yang mengetuk pintu, Kinanthi buru-buru menyeka air matanya, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Ia pandai berpura-pura, tetapi ia sangat membutuhkan seseorang untuk menjadi tempat bercerita. Ia sering bercerita kepada orang-orang terdekat, tetapi ia takut membebani
like
bc
tujuh warisan, satu cinta
Diperbarui pada Jun 1, 2025, 23:34
" tujuh Warisan, Satu Cinta Baru " . . . . . Aisha, pewaris tujuh bisnis besar, hidup dalam kesibukan yang luar biasa. Setelah pernikahan Salwa dan Daffa, kehidupannya terasa lebih seimbang, namun tetap saja ada kekosongan yang belum terisi. Ia fokus mengelola bisnisnya, menikmati hobinya, dan menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya. Namun, di lubuk hatinya, ia masih merindukan sebuah hubungan yang lebih mendalam. Suatu hari, dalam sebuah acara amal internasional, Aisha bertemu dengan seorang pria bernama Adrian. Adrian adalah seorang arsitek yang terkenal, dengan keahlian yang luar biasa dan ketampanan yang menawan. Namun yang lebih menarik perhatian Aisha adalah kepribadian Adrian yang tenang, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Adrian berbeda dari Daffa, lebih kalem dan memiliki selera humor yang unik. Pertemuan mereka berlanjut, dan Aisha mendapati dirinya tertarik pada Adrian. Adrian, yang juga terpesona oleh kecantikan dan kecerdasan Aisha, menunjukkan ketertarikan yang tulus. Mereka menghabiskan waktu berbincang tentang bisnis, seni, dan kehidupan. Aisha menemukan bahwa Adrian mampu memahami dan menghargai dunianya yang kompleks, tak seperti kebanyakan pria yang pernah dikenalnya. Hubungan mereka berkembang, diiringi dengan tantangan tersendiri. Aisha harus menyeimbangkan bisnisnya yang besar dengan kehidupan pribadinya. Adrian, yang memiliki cara pandang yang berbeda, memberikan perspektif baru dalam kehidupannya. Terkadang, keduanya mengalami perbedaan pendapat, namun mereka selalu mampu menyelesaikan masalah mereka dengan komunikasi yang baik dan saling pengertian. Sementara itu, Salwa dan Daffa semakin bahagia dalam pernikahan mereka. Mereka mendukung hubungan Aisha dan Adrian, seraya mengingatkan Aisha untuk selalu memprioritaskan kebahagiaannya sendiri. Daffa, yang sebelumnya menjadi satu-satunya pria yang dekat dengan Aisha, kini merasa lega melihat Aisha menemukan kebahagiaan sejati. Persahabatan mereka bertiga tetap terjaga, bahkan semakin kuat. Kisah Aisha berlanjut, dengan tantangan mengelola tujuh warisannya dan perjalanan cinta yang baru. Adrian membawa angin segar ke dalam hidupnya, mengajarkannya tentang arti keseimbangan dan kebahagiaan sejati. Aisha pun memperoleh pembelajaran tentang arti cinta dan kehidupan.Aisha, dengan gaun malamnya yang elegan, duduk di sudut ruangan, mengamati Salwa dan Daffa yang asyik bercanda. Senyum merekah di wajah Salwa, dan Daffa terlihat sangat bahagia. Suasana pesta ulang tahun pernikahan mereka begitu hangat dan meriah. Aisha merasakan sukacita yang tulus untuk sahabatnya, namun di balik itu, sesuatu yang tak terkatakan mengusik hatinya. Kenangan akan interaksi-interaksi kecilnya dengan Daffa bermunculan. Tatapan mata yang tak sengaja bertemu, sentuhan tangan yang tak disengaja, dan canda tawa mereka yang terasa begitu dekat. Semua itu kini terasa seperti kenangan indah yang tak mungkin terulang. Ia menyadari bahwa perasaannya terhadap Daffa telah lama ada, meski ia selalu berusaha menyembunyikannya. Sebuah kesunyian tiba-tiba menyelimuti Aisha. Ia merasa seperti seorang penonton dalam sebuah drama yang tak pernah menjadi bagiannya. Salwa, yang menyadari perubahan ekspresi wajah Aisha, mendekati sahabatnya itu. "Kau terlihat murung, Aisha," kata Salwa dengan lembut. "Ada yang salah?" Aisha menggeleng pelan. Ia tak mampu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Salwa bahwa ia menyimpan perasaan kepada suami sahabatnya sendiri? Itu akan menjadi hal yang sangat menyakitkan bagi salwa. "Tidak apa-apa, Salwa," jawab Aisha, mencoba tersenyum. "Aku hanya sedikit lelah." Salwa memegang tangan Aisha. "Jika kau butuh apa pun, jangan ragu untuk mengatakannya. Aku selalu ada untukmu." Kata-kata Salwa itu mampu sedikit meringankan beban di hati Aisha. Ia bersyukur memiliki sahabat seperti Salwa, yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka. Namun, rasa sesal tetap menghantuinya. Ia menyesal karena telah menyembunyikan perasaannya kepada Daffa, menyesal karena telah membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Malam itu, Aisha kembali termenung di kamarnya. Ia menatap foto-foto kenangannya bersama Daffa. Kenangan-kenangan itu begitu indah, namun kini terasa seperti mimpi yang tak mungkin terulang. Ia menyadari bahwa ia harus menerima kenyataan. Daffa telah menjadi suami Salwa, dan ia harus menjaga persahabatan mereka agar tetap utuh. Ia harus belajar melepaskan rasa cintanya yang terpendam, dan fokus untuk menemukan kebahagiaan dalam hidupnya sendiri. Meskipun hati terasa berat, Aisha memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya dengan kepala tegak. Ia akan tetap menjadi sahabat yang baik bagi Salwa dan Daffa, mendukung kebahagiaan mereka berdua.
like