hobi nulis cerpen, cerbung jaman SMA tapi gak pernah dipublish, dan bukunya pun entah kemana. sempat off nulis2 lagi semenjak kuliah ampe sekarang. dan sekarang pengen nyoba2 meluapkan emosi ke nulis lagi ya. sekarang udah jadi emax-emax bedaster, tapi kepengen bikin novel gitu. bismillah aja ya 🙏😇
Cinta seharusnya melindungi bukan saling membenci bahkan menyakiti. Cinta seharusnya bersama bukan saling pergi ketika satu masalah menghampiri.
Ketika dua hati saling menyatu, seharusnya mereka saling berbagi. Lain halnya dengan yg dirasakan Emely. Emely merasakan bak di tusuk jauh di lubuk hatinya. Sakit untuk mengingat hal saat mereka baru kenal sampai saat ini mereka yang tetap bersama tapi rasa diantara mereka entah ada atau tidak, entahlah. Ya, Beni. Lelaki yang telah melukai Emely. Berawal saat mereka seminggu setelah ijab kabul.
Orang-orang selalu beranggapan pengantin baru yang masih hangatnya karna baru beberapa minggu menikah takkan menjumpai masalah yang pelik. Karena mereka beranggapan kehidupan pengantin baru akan masih terasa manis sampai beberapa bulan kedepan. Lain halnya dengan yang dirasakan Emely. Kemelut rumah tangga telah dirasakannya di beberapa minggu awal pernikahan. Pagi itu Emely membangunkan Beni untuk berangkat kerja.
"sayang, bangun. Hari ini kamu sudah mulai masuk kantor lho ! nanti telat." ucap lembut Emely kepada suaminya itu seraya mencium mesra pipi suaminya.
"Iya sayang." balas beni sambil menggosok matanya yang rasanya masih sangat mengantuk karena pulang kemalaman dari rumah orangtuanya. Beni memeluk istrinya, Beni sayang Emely tapi selalu tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa terlihat cuek, tapi hatinya slalu berkata bahwa dia sayang kepada Emely.
Setelah beberapa saat sepasang kekasih hati tersebut berpelukan hangat. Emely mulai bergerak ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Sedangkan beni berjalan gontai menuju kamar mandi. Beni menoleh ke baju kerja yang sudah disiapkan istri di sofa kamar. Beni tersenyum sumringah, dan masuk kamar mandi.