bc

Tentang Sebuah Cinta

book_age18+
7
IKUTI
1K
BACA
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

Cinta seharusnya melindungi bukan saling membenci bahkan menyakiti. Cinta seharusnya bersama bukan saling pergi ketika satu masalah menghampiri.

Ketika dua hati saling menyatu, seharusnya mereka saling berbagi. Lain halnya dengan yg dirasakan Emely. Emely merasakan bak di tusuk jauh di lubuk hatinya. Sakit untuk mengingat hal saat mereka baru kenal sampai saat ini mereka yang tetap bersama tapi rasa diantara mereka entah ada atau tidak, entahlah. Ya, Beni. Lelaki yang telah melukai Emely. Berawal saat mereka seminggu setelah ijab kabul.

Orang-orang selalu beranggapan pengantin baru yang masih hangatnya karna baru beberapa minggu menikah takkan menjumpai masalah yang pelik. Karena mereka beranggapan kehidupan pengantin baru akan masih terasa manis sampai beberapa bulan kedepan. Lain halnya dengan yang dirasakan Emely. Kemelut rumah tangga telah dirasakannya di beberapa minggu awal pernikahan. Pagi itu Emely membangunkan Beni untuk berangkat kerja.

"sayang, bangun. Hari ini kamu sudah mulai masuk kantor lho ! nanti telat." ucap lembut Emely kepada suaminya itu seraya mencium mesra pipi suaminya.

"Iya sayang." balas beni sambil menggosok matanya yang rasanya masih sangat mengantuk karena pulang kemalaman dari rumah orangtuanya. Beni memeluk istrinya, Beni sayang Emely tapi selalu tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa terlihat cuek, tapi hatinya slalu berkata bahwa dia sayang kepada Emely.

Setelah beberapa saat sepasang kekasih hati tersebut berpelukan hangat. Emely mulai bergerak ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Sedangkan beni berjalan gontai menuju kamar mandi. Beni menoleh ke baju kerja yang sudah disiapkan istri di sofa kamar. Beni tersenyum sumringah, dan masuk kamar mandi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Hati yang Terluka
*************** "sayang. jangan lupa sarapannya." teriak Emely. "iya sayang. aku hampir kelar nih." jawab beni yang sedang sibuk memakai dasi. Beni pun telah selesai. Dia sarapan dengan lahap. sesekali memandang jam yang melingkar ditangannya. beni memulai pembicaraan dimeja makan. "hari ini kamu gak kemana-mana kan? "Enggak sayang. hari ini aku dirumah aja nungguin kamu pulang cepat." jawab emely. beni tersenyum sambil mencubit manja pipi istrinya. "Ya. kan akunya dikasih cuti sebulan dari kantor setelah menikah. dan masih tinggal beberapa hari lagi lho yang. sebenernya bosan dirumah terus, tapi gimana lagi? kalo udah nikah, ya konsekuensinya gini. gak bisa keluar hura-hura, foya-foya lagi sama temen." ujar emely cemberut abis itu senyum. Jawaban emely membuat beni senyum geleng-geleng. "asal keluarnya gak macem-macem di izinin kok sayang. tapi harus bilang kemana, sama siapa. oke ?." ujar beni. Emely mengangguk dan kasih kode dengan tangannya. Sarapan pagi pasangan kekasih tersebut selesai. Suaminya berangkat kerja. Tapi satu hal yang tak dilakukan suaminya, mencium istrinya. Emely tersentak, tapi berusaha menenangkan hati. Yah, barangkali dia lupa. dia berusaha menenangkan hati. Dari sebelum menikah sampai setelah menikah pun mereka berjanji takkan pernah berubah, akan tetap sama apapun itu yang terjadi saat pacaran akan tetap seperti itu. Panggilan, Kiss kiri kanan, bahkan setelah menikah harusnya Halal dalam hal apapun tetapi kenapa hari ini berubah. Ah. sudahlah. mungkin beni lupa. manusia tak sempurna. selalu saja emely terlalu polos dan selalu berusaha menenangkan hatinya. emely menghabiskan waktu selama cuti dengan memeriksa berkas pekerjaannya yang tertunda. tak terasa sudah beberapa jam dilewati mengerjakan tugas kantornya. emely pun mengambil ponselnya mengirim pesan singkat ke beni. dia tersenyum dan tertawa kecil membalas pesan dari suaminya itu. memang manis rasanya hari-hari yang dilalui pengantin baru itu. mereka menghabiskan hari bersama, waktu yang menyenangkan tanpa masalah karena itu mereka hidup mandiri terpisah dari orangtua beni. *************** Keesokan harinya, siang itu menunjukkan pukul 12.00 WIB. Emely yang memang tak ingin kemana-mana, memang betah saja dirumah. sambil menunggu sang suami pulang untuk makan siang. biasanya beni jam 12.00 WIB telah berada dirumah, sekedar istirahat sebentar saja dia slalu menyempatkan pulang. lain halnya dengan hari ini. emely menenangkan fikiran lagi. tidak mungkin secepat itu beni berubah. itu saja yang terpikir dibenak emely. Emely tampak mengotak-atik ponselnya beberapa kali. lalu mencoba menelpon seseorang. tak kunjung ada jawaban juga. dia sempat khawatir, dan marah. semua perasaannya bercampur aduk. dia berfikir apa beni sudah mulai berubah. inikah yang dimaksud orang, jika lelaki telah mendapatkan apa yang dia mau, dia akan cepat merasa bosan dengan hal tersebut. tapi lagi dan lagi emely menepis pikiran buruk nya itu. dia menenangkan hati lagi dengan berfikiran positif. mungkin saja beni ada kerjaan lain jadi gak bisa pulang ke rumah, barang sebentar saja. namun memikirkan beni yang tak merespon jawaban pesan singkat dan teleponnya membuat emely merasa kantuk menyiksanya. dan diapun tertidur di sofa ruang tamu. Entah berapa lama emely tertidur di sofa, dia melihat jam dinding dirumahnya. Jam itu menunjukkan pukul 20.00 WIB. "astaga. aku tertidur begitu lama. beni kenapa tidak menghubungiku. kenapa dia juga belum pulang selarut ini. tidak seperti biasa beni seperti ini. oh tuhan, ben kamu dimana sih. kenapa bikin aku kesel dan khawatir gini sih. gak biasanya kamu kayak gini loh ben!!!!" umpat emely sendirian. emely mondar-mandir, kalang-kabut menghubungi entah siapapun itu tetapi tak ada yang menyahut. emely hanya sendirian. tinggal sendiri sejak umur 18 tahun. sebelum menikah dengan ben dia tinggal di sebuah unit apartemen miliknya hasil kerja kerasnya selama bekerja. namun, sejak emely menikah dengan ben dia memutuskan tinggal dirumah yang dibelikan ben untuknya. Karena emely hanya hidup sebatang kara. orang tuanya telah tiada dan dia hanya anak tunggal. yah, memang keluarga dari ibunya ada tetapi mereka semua jahat. mereka hanya menginginkan harta orangtuanya emely, setelah mereka mendapatkannya emely didepak jauh dari rumah tersebut dan tak dianggap saudara sedikitpun. namun takdir berkata lain. emely bisa mendapatkan pekerjaan disebuah butik terkenal di kota itu tanpa syarat lulusan universitas, karena memang emely hanya tamatan sekolah menengah atas saja. tetapi karna bisa membagi waktu dan merupakan karyawan teladan di butik tersebut emely mendapat beasiswa dari direktur utama butik tersebut melihat kegigihan emely untuk sekolah lagi. emely pun melanjutkan ke perguruan tinggi yang tak tanggung2, emely kuliah di luar negeri. Ya, Amerika. emely dikirim bosnya ke amerika untuk mempelajari lebih banyak tentang fashion. kuliah disana, bahkan tempat tinggal disediakan. memang direktur butik hanya ingin emely fokus kuliah. akhirnya emely lulus dengan pujian di universitas tersebut. setelah kembali ke indonesia lagi, dia bahkan lebih mahir dalam bekerja dari sebelumnya. hal itu membuat direktur bangga dan puas, serta tak salah memilih. emely pun dipercayakan menjadi Manager di butik cabang baru yang sebenarnya itu butik hadiah kelulusan dari direktur untuk emely. tetapi emely baru mengetahui butik tersebut miliknya ketika direktur utama jatuh sakit. anak-anaknya memperebutkan kekuasaan serta harta kekayaannya. direktur pun menjelaskan kalau butik baru tersebut sah milik emely dalam hukum. emely menangis sesenggukan karena mendapatkan bos yang baik dan peduli pada masa depannya. sebagai rasa terima kasihnya, emely yang selalu menjaga ibu direktur yang sudah berumur sekitar 60 tahun tersebut. sampai di akhir hayatnya, sang ibu direktur mewariskan sebuah butik lagi diluar kota untuk dikendalikan sampai sukses oleh emely. emely merasa benar-benar terpukul saat sang ibu direktur meninggalkannya untuk selamanya. tapi wasiat dari sang bos lah yang menguatkan jalan emely, sampai akhirnya semua stabil dan sukses. yang awalnya butik hanya 2 cabang sekarang sudah menjadi 6 cabang dalam beberapa kota. kembali ke emely yang masih menunggu beni. jam dinding menunjukkan pukul 23.00 WIB. suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. lampu di dalam rumah memang selalu emely matikan setiap malam. penghematan. emely tau itu suara mobil suaminya. dia sengaja tidak menyambut suaminya pulang karena ini hal yang tak biasa, kalau memang dia pergi ke rumah siapapun itu biasanya dia selalu ngasih kabar ke emely. sampai pulang terlambat pun biasanya kasih kabar. emely duduk di kasur sambil menatap laptop dan mengotak-atik laptop tersebut. suaminya pun masuk kamar dan hendak mencium pipi emely. emely mengelak dengan mengibaskan tangannya. "kamu ngambek ya?" ujar beni. "entahlah, hari ini aku sedang sibuk!" ujar emely cuek. "kamu jangan seperti itu, hari ini aku menemui beberapa client. dan sumpah bener² gak bisa angkat telepon sama sekali lho, em." desiran hebat di d**a emely. tak biasanya juga beni menyebut namanya. biasanya berdebat pun mereka tetap menggunakan panggilan sayang sedari mereka menjalin hubungan. sejak saat itu, emely mulai membiasakan tak memanggil sebutan itu lagi karena merasakan perubahan beni sudah terlalu jauh. "terserah kamu ben. mau kamu pulang larut malam atau gak pulang sama sekali. kamu tidak akan pernah tau gimana rasanya menunggu, ben. kamu sudah terlalu jauh berubah ben. aku kecewa. kamu yang mulai memadamkan api membara ini." jelas emely. sungguh sakit rasa hati emely saat itu. tapi dia berusaha kuat. dia masih percaya kalau beni sayang sama dia, beni akan berubah kembali seperti biasanya. beni diam dan tak menggubris emely. dia menanggalkan pakaian. dan memakai handuk, lalu menuju kamar mandi. dia cuek, dia terlalu dingin dan tak mau ambil pusing. *************** malam berganti pagi. sepasang suami istri ini mulai berubah satu sama lain. tetapi sang istri tetap melakukan tugasnya sebagai istri. menyiapkan pakaian kerja dan sarapan suami. sakit yang emely rasakan, saat berdebat seperti malam tadi pun tak ada kata maaf yang keluar dari mulut beni. dia berubah. fix ! semua kebiasaan mereka sirna, tak ada bicara di meja makan, tak ada ciuman mesra lagi. habis sudah kisah romantis di antara mereka. setelah beni pergi ke kantor tanpa pamit sepatah katapun, emely menangis sejadi-jadinya. dia meratapi nasibnya. belum seumur jagung pernikahannya sudah terasa hambar. "ya tuhan, kenapa dengan semua ini. seharusnya aku yang marah. seharusnya aku yang marah, tuhan. kenapa dia malah balik membenciku. tak ada kata maaf dari mulutnya untuk mengakui kesalahannya, tetapi dia malah diam seribu bahasa seolah-olah aku yang bersalah, aku yang berdosa," ratap emely pedih. "apakah aku tidak boleh bahagia, tuhan? aku juga ingin merasakan bahagia. sedari kecil aku hidup, baru beranjak besar aku sudah ditinggalkan orang tua. belum cukup rasanya kasih sayang dari mereka. saat aku merasakan kehadiran orang tua lagi, dia pergi lagi untuk selamanya. dan saat ini aku menemukan lelaki yang benar-benar tak bisa membahagiakan ku. hanya bahagia sesaat yang dia suguhkan untukku." ratap emily lagi. tiba-tiba handphone emely berbunyi. tertulis nama nadin disana. nadin adalah sahabat terbaik emely dari kapan tahun. dia sahabat suka duka emely, tapi untuk saat ini tak mungkin bagi emely untuk menceritakan kisah pelik rumah tangga emely ke nadin. emely merasa malu untuk mengumbar masalah keluarganya, makanya emely memilih tutup mulut tentang ini. belum waktunya emily ceritakan tentang ini. emely pun mengangkat teleponnya. terdengar suara nadin dari seberang telepon itu. "hai gadisku... eh salah hahaah bukan gadis lagi ya ternyata." gurau nadin. hal itu membuat emely tersenyum. emely pun mengusap air matanya dan mencoba meredakan suaranya yang serak. "kurang ajar loe ya. kalo ketemu gue cekik juga nih orang." seru emely. "ooppss mati dong gue. hahaha." "jangan dulu deh gue matiin loe. hahaha." tawa merekapun pecah dari seberang ponsel sana dan sini. mereka adalah sahabat yang tak terpisahkan. biasanya mereka berempat, tetapi karena Rina dan Gusti udah nikah duluan dari emely dan nadin mereka lebih susah ketemu. bahkan Rina juga sekarang tinggal dikota yang beda sama mereka. apalagi gusti udh diluar negeri bersama suami bulenya. "gini. gue mau ngajak loe ketemuan nih. ada hal penting yang mau gue omongin. pokoknya kita musti dan harus ketemu. titik gak pake koma yah." pinta nadin. "oke cantikku. ketemu dimana? jam berapa?" "wahwah. semangat betul kamu ya gadisku yang bukan gadis lagi haha." "rese' lu ya. hahaha" "kita temu siang ini yes. tempat biasa nongki aja deh yaa.. gue tunggu elo ya? byebye." "oke,din. see you. bye" *************** Sesuai janjinya, emely memenuhi permintaan nadin yang ingin bertemu dengannya di sebuah cafe. Hal itu membuat emely berkesempatan keluar dari rumah untuk refreshing sejenak walaupun nantinya sampai rumah akan ingat lagi dengan perubahan sikap beni. Ah masa bodo lah ! batin emely. Emely tampak masih duduk sendiri menunggu nadin yang belum kunjung menampakkan batang hidungnya. dia sembari meminum es teh sekedar penunggu sahabatnya tersebut. beberapa menit telah berlalu, nadin masih belum datang. emely masih memandang ke arah pintu masuk cafe, tanpa sadar pandangannya tertuju pada sepasang manusia yg datang dengan mesranya bergandengan tangan menuju ke cafe. Yaa! Beni dan seorang wanita muda yang cantik. emely kaget dan membelalakkan matanya seakan tak percaya dengan penglihatannya itu. "be.. be..ni...!!" gumam emely dengan suara gemetar. tak terasa air mata emely mengalir indah melihat pemandangan sang suami yang sangat bahagia bersenda-gurau dengan wanita itu. hati istri mana yang tidak akan luka melihat suaminya tertawa lepas dengan wanita lain sedangkan dengan istrinya saja dia berbuat salah, bukannya minta maaf malah diam dan terlalu cuek dengan perasaan istrinya. emely segera mencari handphonenya, dia memeriksa tasnya sambil gemetar. lalu mengotak-atik handphonenya. sepertinya emely menelfon beni. diseberang sana beni hanya mencek handphone yang berdering beberapa kali dan menolak panggilan tersebut. bahkan setelah beberapa kali emely melakukan panggilan beni tak mengabaikan lagi. "kamu tega ben! aku istrimu. aku menelfon kamu aja, kamu abaikan. kamu asyik bersenda-gurau dengan wanita itu." ucap emely lirih menahan tangisnya. emely jadi flashback ke masa dimana dia pendekatan dengan keluarga beni. keluarga beni tidak menyukai kehadiran emely, mereka merasa emely hanya menumpang hidup dengan beni. keluarga beni tidak pernah tau tentang bisnis yang emely kelola, yang mereka tau emely hanya karyawan biasa butik. emely memang selalu merendahkan dirinya agar tidak terlihat sombong. jika ada yang menanyakan pekerjaannya dia hanya menjawab pegawai butik. oleh sebab itu, keluarga beni terutama ibunya tidak merestui pernikahan mereka. beni anak satu-satunya, anak tunggal dikeluarga itu. ibunya beni ingin beni menikah dengan orang berpangkat tinggi, punya perusahaan bagus yang mendunia. tetapi beni lebih memilih menikah dengan emily yang hanya mengelola butik bahkan mengaku pegawai biasa sebuah butik. setelah beni kekeuh ingin menikahi emely, restu dari ibu beni masih belum seutuhnya didapat emely karna mau bagaimanapun baiknya emely memperlakukan ibu mertuanya tersebut emely akan tetap jelek dihadapan ibu beni. sampai akhirnya beni membeli rumah untuk tinggal berdua dengan emely agar ibunya tidak mengomeli beni terus masalah istrinya, emely. Dan kisah kelam hubungan sampai akhirnya menikah dengan beni yang tak direstui mertua inipun tak pernah emely bicarakan dengan sahabat-sahabatnya. emely mengubur semua dalam-dalam, karna emely menganggap dia akan bisa mendapatkan restu ibu mertuanya dengan usahanya sendiri. tetapi semua itu tetap sia-sia sampai detik ini. emely menangis sesenggukan tanpa mengeluarkan suara. perih rasa hati emely saat ini. dia memilih menundukkan kepalanya agar tak melihat suaminya tersebut. setelah mencoba menarik nafas dan menghembuskan lagi beberapa kali untuk menahan semua sakit di dadanya. lalu dia mengusap air matanya. dia takut, kalau nadin datang akan melihat pemandangan seperti itu. bisa runyam urusan kalau nadin tau. karna nadin dan 2 sahabatnya lagi tak akan tinggal diam. mereka berempat saling menyayangi bak saudara sedarah sedaging. setelah menunggu terlalu lama. akhirnya, nadin datang. untungnya emely sudah tidak meratapi nasibnya lagi. emely mencoba bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa. dan sesekali matanya mencuri-curi kesempatan melihat beni. beni masih asik berbincang dan bergurau sesekali terdengar gelak tawa mereka yang renyah. "bytheway lu sehat kan? soalnya lu pucet amat," ucap nadin yang setelah berbicara panjang lebar dan emely membalas pembicaraannya. "gue sehat kok, din. mungkin karna minum es teh doang nih nungguin elu nya kelamaan," gurau emely tertawa menutupi luka hatinya. "oalah. maaf gue lupa. udah datangnya telat, makanan kagak dipesan, kapan datangnya kaan? hahaha." balas nadin tertawa kencang. nadin pun memesan makan siang mereka. sembari mereka menunggu pesanan datang nadin melanjutkan pembicaraannya. "jadi gini em. gue ngajak lu ketemu langsung dan pengen enjoy yang pertama karna gue kangen banget sama lu. yang kedua juga gue mau elu ngedesain baju buat acara gue dan edo." jelas nadin panjang lebar. "benerrrraan nihh ?? gue gak salah denger kaan din." tanya emely kaget bukan kepalang. "serius gue, sayaaaang." cubit nadin dipipi emely. mereka pun berpegang tangan dengan perasaan bahagia. emely bahagia mendengar kabar hubungan nadin dan edo. berkat buah sabar nadin selama ini, akhirnya dalam waktu dekat mereka akan melangsungkan pertunangan dan disusul pernikahan. bukan tanpa sebab, emely dan nadin bahagia karena diantara persahabatan mereka berempat hanya nadin yang belum menikah. nadin masih sabar menunggu edo menyelesaikan sekolahnya diluar negeri. kilas balik hubungan edo dan nadin, mereka pacaran cukup lama mulai dari Sekolah Menengah Atas. edo berasal dari keluarga sederhana sedangkan nadin keluarga berada. akan tetapi itu tidak menjadi hambatan hubungan mereka karena kedua keluarga mereka merestui hubungannya. terlebih lagi edo anak yang berprestasi dan smart. dia bisa melanjutkan studi ke luar negeri berkat prestasi kinerja yang diterimanya dikantor edo bekerja. hal itu sama dengan keajaiban yang terjadi dengan emely. emely berhasil dan sukses juga karena keberuntungan dan prestasi tersebut. dan akhirnya waktu yang ditunggu nadin datang juga. edo bersiap melamar nadin segera. "oke. apapun yang lu mau gue usahain semampu gue."ucap emely dengan raut bahagia. "ooooww sweet sekali kamu honey. terimakasih sudah mengiringi jalan cerita hubungan kami, em. kamu the best lah."jawab nadin terharu. "gue bahagia sekaligus seneng banget dengernya din. serius. karna perjalanan cinta elu sangat panjang. lu bahkan siap nungguin edo selama ini. lu mampu. lu kuat. wanita hebatku, nadine." jelas emely bangga. "gue sebenernya malah ngerasa ini singkat em. karna belum lama ini rasanya gue kenal edo, pacaran, LDR-an, ah macam ABG gitu gue. hahaha. dan bentar lagi bakal jadi nyonya edo wicaksono. hahaha terharu gue tuh !"ucap nadin lirih. "itulah waktu din. ga kerasa aja kan. berkat sabar loe tadi tuh. eh bdw, ngisi sumatera tengah dulu cuss.. nih takutnya kalau dianggurin jadi kedinginan. haha." canda emely. "lhaaa iyaa.. ga tau aja udh dateng nih pesanan." emely dan nadin pun melanjutkan makan mereka yang tertunda karena perbincangan dan flashback kisah mereka. namun, mata emely masih mencari pemandangan yang membuat hatinya terluka tadi. dan beni pun masih duduk disana betah berlama-lama dengan wanita itu. entah apa yang mereka bicarakan. kalaupun masalah pekerjaan mereka hanya seperti santai, tidak ada file atau tas kantor yang mereka bawa. akhirnya waktu pertemuan dua sahabat itu selesai karna nadin ada janji dengan edo untuk ketemu. nadin pamit ke emely, dan berjanji akan bertemu dikantor untuk selanjutnya. "gue pamit dulu ya buboss. besok gue kabari lagi kalau mau ke kantor loe ya."ucap nadin. "oke din. hati-hati. salam sama edo ya nyonya edo. hahaha." ledek emely. "aamiin.. semoga dilancarkeun semuanya ya em. loe doain terus yaa. byebye." ujar nadin. "pasti din. doa gue slalu menyertai lu berdua. byebye." nadin pun berlalu pergi seraya melambaikan tangan ke emely yang bersiap membereskan tas bersiap pergi. emely beranjak dari kursinya, dan berjalan menuju pintu keluar cafe. dimana posisi beni menghadap dengan pintu keluar cafe, namun posisi wanita itu membelakangi pintu cafe. emely berusaha pura-pura tidak mengenali beni. namun, sayang emely terhenti mendengar percakapan beni dengan wanita itu tepat menatap beni. "mama bilang, kamu harus nemenin aku sebelum pulang kerumah istrimu. aku gak mau tau. kalau kamu gak nurutin keinginan aku, aku telfon mama nih." ujar wanita itu. mama? setau aku beni anak tunggal. apa wanita ini sepupunya. atau apa. fikiran emely bercabang. emely melihat tingkah beni yang seakan menggoda wanita itu sembari memegang sedotan minumannya. "yah. janganlah honey. nanti pasti mama marahin aku. iya iya aku janji, sebelum aku pulang ke emely. aku nemenin kamu belanja dulu perlengkapan rumah. abis itu aku anter kamu kerumah mama ya. kamu nginep dirumah mama aja dulu, sembari rumah kamu kelar di renov." ujar beni lembut. "ahh makin sayang kamu honey. gak sabar nikah sama kamu sayang. nanti kalau kita udah nikah, kamu cerain aja emely. dia ga bisa ngurusin kamu tau. kamu kurusan begini semenjak nikah." "sabar sayang. secepatnya mama ngurusin semuanya. tapi kamu tau kan konsekuensi nikah sama aku. kamu tidak boleh menuntut aku menceraikan emely. aku sayang kamu, tapi aku juga cinta emely. jangan paksa aku ambil keputusan." jawab beni. hal ini membuat jantung emely terasa terbakar. mendengar apa yang dikatakan beni menjadi emely kaget, hingga tas yang dibawa emely jatuh ke lantai tanpa sadar. dan hal itu dilihat beni. beni membelalakkan matanya ketika tau orang yang menjatuhkan tas itu adalah istrinya. emely mengambil tasnya, dia menjongkokkan badannya sambil gemetar menangis, dan dia berdiri dan berlalu pergi. beni kaget melihat emely saat itu. tetapi, dia tidak mengejar emely. dia membiarkan wanita yang dia bilang cinta itu berlalu pergi begitu saja. beni masih tetap mendengarkan ocehan wanita itu seraya melihat mobil istrinya meninggalkan pelataran cafe. beni diam-diam memikirkan apa yang harus dijelaskan nantinya jika bertemu emely. tetapi karena wanita ini mengalihkan fikirannya dengan cerita-ceritanya akhirnya beni lupa dengan emely beberapa saat. emily yang mengendarai mobil sendiri, menginjak pedal gas sangat keras. dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. dia merasa lukanya semakin besar. dia menangis sejadi-jadinya, dia mengeluarkan suara tangisan yang membuat pilu jika mendengarnya. "ben.. kamu janji akan menjadikan aku yg utama, kamu janji mencintai aku slamanya.. tapi bukan seperti ini caranya ben. aku sakit ben. aku terluka karna kamu seperti ini." lirih emely meratapinya sendiri. tangisan pilu emely benar-benar menyesakkan d**a. dia memutar mobilnya menuju jalan puncak. dia merasa tak ingin menemui beni untuk saat ini. emely tidak tau harus berbuat apa, harus seperti apa ketika menemui beni. beni lelaki yang dipercaya menjaga hatinya, beni lelaki yang dicintainya sepenuh hati tega melukai perasaannya. belum lama rasanya mereka mengucap janji suci sehidup semati. hanya karna ingin menuruti permintaan mamanya mempunyai menantu yang kaya raya darinya, beni mampu mengkhianatinya tanpa sepengetahuannya. beni menikam hati emely. ******************

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.7K
bc

WAKTU YANG HILANG

read
43.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook