Untuk Sebuah PengakuanDiperbarui pada Jun 2, 2022, 00:30
Joni seperti memiliki dua kepribadian dalam dirinya! Namun Dokter mengatakan bukan! Joni juga dipastikan oleh Dokter tidak memiliki penyakit mental apapun atau kelainan seksual, Ia normal! Lantas, apa yang menjadikan Joni menjadi Bunga?
BAB I
Perjodohan
Joni yang kini berusia 33 Tahun akhirnya akan menikah juga dengan wanita kesekian yang dijodohkan padanya. Jika kebanyakan yang dijodohkan padanya semuanya menolak karna kepribadian yang dimiliki Joni, kali ini berbeda. Joni diterima dan "sepertinya" apa adanya.
Kepolosan si wanita, dan kondisi keluarga yang serba susah sepertinya menutup mata si wanita dan keluarganya untuk mencari tahu penyebab si Joni kenapa masih melajang di usia kepala tiga ini. Joni pria tampan dan mapan, terlahir semata wayang, anak dari keluarga terpandang dan kaya. Bapak si Joni, H. Marsudin adalah pemilik ruko terbanyak di sepanjang Jl. S di Kabupaten SS. Ia juga memiliki kebun Kelapa Sawit yang sangat luas, kebun aneka sayur dan buah membentang berhektar hektar luasnya.
Siti Hasanah, nama wanita itu. Parasnya cantik, dan bersahaja. Setelah tamat SLTA Ia menjadi Buruh Harian Lepas di Perkebunan Buah H. Marsudin. Usianya kini memasuki 20 Tahun. Ia bukanlah wanita cerdas, wanita biasa- biasa saja sebagaimana wanita tamat SLTA biasa di Kampung.
***
Bunga adalah nama panggung dari seorang Biduan yang sedang melenggak lenggok di atas panggung. Suaranya yang khas, dandanan yang menor dan penampilan yang nyentrik menjadi hiburan khas bagi setiap Warga yang mengadakan pesta hajatan dg musik Organ Tunggal. Kali ini Ia menyanyikan sebuah tembang dangdut "geboy mujair" yang diremix suka suka oleh Kang Keyboard-nya. Bunga semakin liar, Ia membokongi penonton sambil belenggak lenggok menungging, dadanya yang montok penuh sumpalan busa Ia hentak hentakkan, Ia pun berteriak melengking manja, meminta antusias penonton untuk bersorak riuh mengikuti syair yang Ia nyanyikan.
Suasana kian meriah, Bunga turun dari pentas kemudian menarik tangan laki laki paruh baya dan menuntunnya ke atas panggung. Tak hanya satu laki laki, Ia menarik empat laki laki berbeda usia, sepertinya warga yang menonton bahkan mungkin istri atau orang tua dari para lelaki yang ditarik oleh Bunga tampak tak satupun yang berkeberatan. Semuanya hanyut bergembira, menonton hiburan rakyat berupa Organ Tunggal itu. Merasa kurang seru, Bunga pun tak segan berteriak melengking meminta saweran dari para lelaki yang Ia ajak ke panggung tadi, seperti terhipnotis para lelaki yang sudah tenggelam dalam suasana, merogoh saku mereka dan melambai- lambaikan pecahan lima ribuan atau dua ribuan sambil bergoyang.
****
Joni anak semata wayang pasangan Bu Hj. Sutinah dan H. Marsudin, memang sejak remaja sampai dewasa sepertinya tak pernah lelah membuat Orang Tua dan Sanak Famili istighfar kecewa dan kaget berjamaah setiap melihat tingkahnya. Joni memang pria cerdas. Ia mampu meyakinkan Bapaknya kalau skill Manajemen dan jiwa bisnisnya mampuni!. Semua usaha yang dimiliki Bapaknya mampu Ia tangani sendiri. Bapaknya hanya memantau dan sesekali mengecek pekerjaan anaknya, dan tak pernah mengecewakan. Para Karyawan senang dengan kepemimpinan Joni, tapi sepertinya urusan asmara Joni tak pernah beruntung. Jarang sekali wanita berkenan dengan Joni. Padahal selain cerdas, Joni juga termasuk pria tampan, badannya bagus, tinggi dan putih bersih. Tiada cacat di badannya.
Adalah sesekali Joni dijodoh jodohkan, dengan si Fulanah atau Fulanih. Mungkin awalnya para wanita tertarik dengan harapan kesejahteraan hidup yang menjanjikan dari Joni. Tapi setelah melalui masa pacaran sekitar sebulanan, para wanita akan mundur perlahan, atau bahkan memutuskan sepihak hubungan mereka. Adakalanya ada yang bertahan sampai pertunangan, dan takkan berlanjut ke pernikahan, karna motif si wanita sudah ketahuan sejak awal. Yaitu ingin menguasai harta Joni, memanfaatkannya atau sekedar pelarian karna hamil di luar nikah oleh Lelaki lain.
Kali ini, sepertinya berbeda. Wanita lugu itu Siti Hasanah, sepertinya tak tahu dan tak boleh tahu tentang Joni. Ia hanya menerima saja lamaran itu karna memang kesusahan hidup di keluarganya harus ia usaikan secepatnya dengan menikahi Joni. Motifnya jelas, menginginkan kehidupan yang lebih baik, dan orang tua Joni tak masalah dengan itu, mereka tahu kalau Siti Hasanah bukan perempuan matrealistis, yang mengerti harta ini dan harta itu. Keinginan mereka untuk segera menikahkan anaknya agar tidak jadi "buah bibir" Masyarakat akan segera terwujud. Mereka memang apatis untuk mempunyai Cucu, yang penting saat ini anaknya menikahi wanita. Itu saja! tak muluk muluk harapan Orang Tua Joni.