bc

ELISA

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
drama
like
intro-logo
Uraian

Elisa tidak bisa menolak ketika Laki-laki di depannya ini membuka satu persatu kancing bajunya....

Elisa, gadis manis bertubuh mungil, dikenal ceria dan pintar, Bintang Sekolah dan Kesayangan para Guru.

Apa yang terjadi? sehingga Elisa tidak bisa melepaskan pikiran dan perasaannya terhadap Laki-laki ini?

chap-preview
Pratinjau gratis
ELISA
*** Prolog~ Seorang gadis remaja kelas dua SMP, aktif di bermacam kegiatan Sekolah maupun luar Sekolah, memiliki banyak teman, disenangi Guru dan Orangtua. Wajahnya yang babyface dan tinggi yang hanya seratus lima puluh centimeter seakan menunjukkan usia empat belas tahun tidak cocok untuknya, seperti anak SD yang loncat kelas ke SMP. Karakternya periang, lincah dan energik. Mudah bergaul, selera humornya-pun oke, tak mau kalah pula jika dilihat dari sisi keenceran otaknya. Jidatnya yang agak sedikit nongnong, sepertinya sudah cukup menjelaskan kalau dia salah satu murid cerdas di Kelasnya. Lengkap sudah profil seorang gadis remaja yang menjadi Bintang Sekolah Menengah Pertama Negeri kota M. Elisa Yudistira, nama gadis itu. *** Pertemuan~ Wicaksono, atau akrab dipanggil Ono oleh Keluarga maupun orang sekitar apalagi teman-temannya. Seorang remaja Laki-laki yang biasa-biasa saja. Prestasinya pun jika dibilang biasa-biasa saja tidak cukup menggambarkan nilai raportnya. Ia aktif ikut serta di kegiatan Sekolah seperti volly, Bolakaki dan basket, Ia juga salah satu Siswa yang diperhitungkan jika ikut Lomba tujuh belasan. Di luar Sekolah, kebiasaannya adalah menenteng gitar bututnya dan bernyanyi di pinggir jalan raya, di tengah lampu merah dan nongkrong di bawah Jembatan. Karakter Ono memang seperti Remaja Badboy di tokoh-tokoh novel remaja kebanyakan. Kulitnya bersih terawat, rambutnya hitam sehat, dan badannya sintal berisi karna sering olahraga. Tingginya juga terbilang di atas rata-rata untuk Remaja SMP kelas tiga, seratus tujuh puluh tujuh sentimeter. Hanya saja, kebiasaan buruk Remaja nakal kebanyakan, menempel juga pada diri Ono. Merokok, sesekali minum dan kadang nyopet. Mengenai wajah, mungkin bisa dibilang mirip Oppa Korea. Ono sering terlihat ngamen di tengah lampu merah. Bermodal suara ngebas berat yang tidak sesuai umurnya (mungkin karna sudah merokok terlalu dini), postur tubuh dan penampilan bak seorang Pria Idol yang sedang melakukan atraksi ngamen berkelas, membuat lembaran uang kertas tidak pernah absen terlihat masuk ke dalam topi yang Ia gunakan sebagai wadah duit ngamennya. Tak jarang, gadis-gadis remaja yang sedang ada dalam satu mobil berteriak histeris kegirangan saat Ono mampir di mobil mereka saat lampu merah, hingga sering terjadi deruan klakson mobil-mobil yang berada di barisan belakang berbunyi keras bersahut-sahutan menyuruh mobil para gadis itu segera maju karna lampu hijau sudah menyala. Adapula yang secara sengaja memanggil Ono untuk sekedar berselfie ria, dan menyelipkan lembar ratusan ribu ke saku Ono. Tampaknya, Ono mudah saja meraup followers atau subcribers jika ternyata Ia dengan mudahnya digandrungi kaum Gadis. Mengapa Ia tidak berminat jadi Selebgram atau Yutuber saja?. Sepertinya itu tidaklah demikian. Konon, Ono tak memiliki akun Sosmed apapun. Jangankan Sosial Media, Ia bahkan enggan menggunakan Gawai (HP). Jika ditebak-tebak, apakah Ono seorang remaja yang berasal dari Keluarga Broken Home? Tidak! Ia berasal dari Keluarga sederhana yang harmonis. Ayahnya bekerja sebagai Karyawan di salah satu BUMN, dan Ibunya hanya Ibu rumah tangga biasa. Ia anak semata wayang. Tidak ada alasan Ono kekurangan kasih sayang atau bahkan uang jajan sehingga memaksa dirinya harus keluyuran ngamen di lampu merah. Apakah hobi bernyanyinya ditentang Ayahnya? Tidak juga, Ayahnya adalah Pria romantis yang sering meluangkan waktu menggoda Istrinya dengan bernyanyi bersama di dapur. *** Pertemuan Pagi sekali, bekisar pukul 06:40 WIB. Seorang remaja laki-laki sedang berjalan di koridor Kelas. Ia bersiul sambil menghembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya. Ia menghentikan langkah kakinya ketika Ia mendengar isak tangis di salah satu kelas yang akan Ia lewati. Ia mendekati suara itu, terlihat olehnya sosok gadis yang sedang duduk di sudut kelas menunduk memeluk lututnya. Laki-laki itu mendekati gadis itu, gadis bertubuh mungil berambut sebahu warna cola, menangis terisak menenggelamkan wajahnya dalam dekapan lututnya... Ia mendekatinya, Ia menoleh ke seluruh ruangan memastikan ruangan kosong. Ketika sudah berjarak bekisar sehasta dengan gadis itu, Ia menyodorkan permen Lollypop. "Aiiisshhhh.... Bodoh sekali, kenapa harus nangis sih? Pasti Lo ga dikasi jajan ya sama ortu? Ni ambil! " Gadis itu terdiam, Ia mendongakkan wajahnya, terlihat wajah sembab penuh linangan air mata. Ia mengenali laki-laki yang sedang berbicara padanya. Ya, dialah Ono. Laki-laki dingin yang terkenal sering bolos dan incaran para Guru dan Siswi. Ulahnya sering sekali membuatnya bolak-balik ke ruangan Kesiswaan atau Wali kelas. Sikap dingin dan cueknya sering menjadikannya bulan-bulanan para Siswi yang semakin dicuekin semakin gila mereka mengejar Ono. Dan sekarang, Ono ada di depannya, menyodorkan permen Lollypop. Dan, Ono-pun sebenarnya sangat tau kalau yang sedang Ia hampiri itu adalah si Bintang Kelas, gadis incaran para Siswa dan kesayangan para Guru. Gadis dengan multitalenta, bisa-bisanya Ia dapati menangis di sudut ruangan sepagi ini. Gestur tubuhnya yang mungil dan rambut warna Cola-nya sudah sangat menjelaskan bahwa dia adalah Elisa. Elisa melirik Lollypop yang sedari tadi masih belum disambut oleh-nya. Ia menatap Ono dengan wajah sembabnya. Kemudian memukul-mukul Ono, mencakar semampunya, kemudian berakhir dengan menangis sekencang-kencangnya. Ono-pun hanya pasrah ketika Elisa melakukan itu, Ia tidak menampik tangan Elisa sama sekali, meski dicakar sekalipun. Ono kemudian memegang pangkal lengan Elisa dan membawanya ke dadanya, mendekap dan mengelus-elus kepala Elisa yang menangis kencang. Elisa terdiam, menangis tanpa suara, air matanya deras mengucur membasahi seragam Ono. Ia memeluk erat tubuh Ono seakan tak mau dilepas. Tiba-tiba terdengar suara pintu Gerbang Sekolah terbuka, tanda siswa-siswi lain sudah mulai berdatangan. Ya, ini sudah pukul 07.10 WIB. Ono-pun menyudahi adegan pelukan itu, dan kemudian pamit meninggalkan Elisa yang masih sesugukan. Namun, sebelum Ono bergerak balik kanan. Elisa mencegat lengan Ono. "bagaimana aku bisa menghubungimu? " Ono terdiam, pelan Ia mengatakan "nanti Lo tau sendiri gimana caranya menemukan Gue" Ono-pun melepaskan cegatan tangan Elisa dan pergi terburu-buru. Elisa sepertinya sangat kesal, berulang kali Ia meremas kepalanya, memicingkan mata dan berteriak tertahan seolah olah ingin mengeluarkan kekesalan yang sudah memuncak. *** Si Kuning Nyentrik Jam pelajaran berakhir, bel-pun berbunyi tanda jam istirahat tiba. Elisa masih saja tak b*******h, Ia terlihat membolak-balikkan ballpoint-nya sedari tadi. Pertemuannya dengan Ono sudah dua hari yang lalu, namun Ia belum menemukan cara bagaimana bisa menghubungi Ono seperti yang Ia katakan kemarin. Teman sekelas Elisa-pun agak heran dengan perubahan Elisa. Yang biasanya ceria dan ada saja yang jadi bahan untuk diceritakan, kini berubah sering diam dan melamun. Mereka kerap bertanya "are you ok? " dan Elisa selalu menjawab hanya dengan anggukan atau senyuman. Elisa mengalihkan pandangannya ke jendela, kelasnya berada di lantai dua menghadap langsung ke Lapangan Basket dan Taman Sekolah. Ia mengernyitkan keningnya seketika melihat kerumunan siswa-siswi di lapangan Basket. Ada seorang Siswa yang tampaknya sangat menonjol dan kontras sekali dan menjadi bulan-bulanan siswa-siswi di sana. Seorang Siswa dengan rambut warna kuning terang sedang berada di tengah kerumanan itu. Tampaknya Ia sedang meladeni satu-satu permintaan selfi yang mengerumuninya. Siswa-siswi yang ada di ruang kelas-pun heboh, mereka meneriaki Siswa itu dan bergosip tentang berita up to date hari ini. Elisa yang biasanya tak pernah ketinggalan, kini menjadi orang yang kepo dengan gosip apa gerangan yang mereka bicarakan. Ia memasang telinga panjang dan lebar, Ia gengsi bertanya karna khawatir dibilang gak update. "ituuuu ituu kak Ono kan?!" "Iyaaa looh, tau gak dia diberi hak istimewa sama Sekolah, bebas ngecat rambutnya pake warna apa aja sesuka-nya" "waaaaaaah!! hebat juga, pasti dia berprestasi lagi tuh di Luar Sekolah" "yaaa katanya, Dia memenangkan kejuaraan Modeling apaaa gitu lupa, yang jelas bikin bangga Sekolah siiiih, jadi selama kontrak, dia dibebaskan pake style model-nya ke Sekolah, yaaah selama gak aneh-aneh banget sih, tapikaaaan, warna kuning ngejreng gituuu, aneh gak siiiiih? nyentrik bangeetttt hahahahahahahahah!!! " "iyaaa yaaa, hahahhaahah ada bagusnya sih dia bikin rambut ngejreng gituuu, selain semakin mempertegas tampilannya mirip Oppa-oppa, dia juga gampang diketemuinnyaaa wkwkwkwk liat noh, jarak jauh gini aja ketahuan kan dia dimana hahahahahah, mata aku udah kayak radar doooong, deteksi warna kuning, warna kuning wkwkwkwwk" Deg! jantung Elisa tiba-tiba berhenti berdetak, kemudian memburu. Ia mendengarkan percakapan itu, dan mengingat kembali ucapan Ono dua hari yang lalu "nanti Lo tau sendiri gimana cara menemukan gue". Celotehan teman-teman sekelasnya tadi masih berlanjut, " eeeeh, tapi kan dulu juga Ono pernah menang Modeling yaaaa, tapi kenapa penampilannya kalo ke Sekolah biasa ajaaa, trus dia juga-kan terkenal kalem tu, sedingin kulkas, yaa gak nyangka ajjaaaa dia bisa upgrade penampilan se kontras ini" Teman yang lain menyahuti "Lo kira bolak-balik bleacing itu gak nyiksa apa? apalagi rambut full diwarnain gitu, kontras pula warnanya! capek mungkin dia, tersiksa juga. Diakan cuek abiiss... kali aja dia ga peduli orang mau nilai Dia gimana, yang penting dia gak ribet" Dan semua sepertinya setuju dengan pemahaman ini, kecuali Elisa. Entah kenapa, Iya yakin bahwa Ono mengubah warna rambutnya bukan karna alasan-alasan itu, tapi untuk memberikan sebuah sinyal tentang keberadaannya jika Ia ingin tau Ono dimana. *** Kehilangan Sinyal (jejak) Ono dan Elisa ibarat dua kutub yang berbeda. Persamannya ialah sama-sama memiliki penggemar. Masing-masing dikenal tidak pernah dekat atau bahkan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Elisa, dikenal si anak rumahan. Tidak akan diizinkan keluar oleh Orangtua-nya jika tidak dengan Supir Pribadi-nya. Pergi dan Pulang Sekolah selalu diantar dan dijemput, begitupun pergi kemana saja. Inilah penyebab Elisa tidak punya Sahabat. Ia memiliki banyak teman, namun tidak untuk Sahabat. Orangtua-nya sangat Protektif menjaga anaknya. Lain hal dengan Ono, Ia memang Putra semata Wayang, hanya saja prinsip kebebasan tertanam jelas di Keluarga Ono. Ia dibebaskan melakukan apa saja sesukanya setelah usianya di atas tiga belas tahun. Bukan tanpa konsekuensi hal ini diterapkan oleh Orangtua Ono. Jika Ia terciduk Kriminal, pemakai barang haram atau hal lain yang melanggar Hukum, Ia tanggung sendiri akibatnya. Seperti halnya merokok, meski dibebaskan namun biaya membeli Rokok harus dicari sendiri. Ia juga diminta untuk tetap menjaga adab. Sehingga Ono masih belum berani merokok di depan Orangtuanya. Seperti halnya dahulu Ia pernah ketahuan "minum". Digrebek oleh Satpol PP, dan Orang tua dipanggil. Sesampainya di rumah Ayahnya memintanya satu hal. " Ayah sudah hadir untuk pemanggilan Orangtua atas dasar Kesalahanmu. Sesuai kesepakatan, seharusnya Ayah tak perlu datang, Kamu bisa bertanggung jawab sendiri. Namun, karna Negara kita masih mengaggap di Usiamu ini masih Anak di Bawah Umur, Ayahpun hadir. kira-kira, apa yang bisa Ayah dapatkan darimu untuk ini? " Ono hanya diam, Ia sangat menghormati Ayahnya. Meskipun tetangga dan orang lain mengatakan Ayahnya adalah Orangtua teledor, memberikan anak kebebasan di zaman edan seperti ini. Namun, Ia juga paham sekali tujuan menerapkan peraturan itu untuknya adalah agar Ia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sedini mungkin. Ibu Ono yang selalu lemah akan peraturan Ayahnya. Ibu Ono gampang terpengaruh omongan tetangga, Ia terkadang menggugat dan ngomel kenapa Ayah Ono memberi kebebasan seperti itu pada anak satu-satunya mereka. Cukup lama suasana hening, Ono belum bisa mengeluarkan sepatah katapun. Kemudian, "Ayah akan ambil dua fasilitas darimu, silahkan kamu pilih. Motor, HP, atau ATM?" Ono-pun menjawab "ambil saja HP dan ATM yah, Ono bisa cari Uang sendiri" Ayahnya menampik "No! no! Ayah akan ambil Motor dan ATM mu!, bagaimanapun kau masih di bawah tanggungjawab Ayah, HP silahkan kau simpan" Ayah berlalu pergi ke kamar diikuti oleh Ibu yang memasang wajah protes yang amat sangat. Dan, dari kejadian ini. Bisa dimengerti kenapa Ono jarang sekali menggunakan Gawai, Ia bahkan sulit sekali dihubungi. Bukan karna Ia tidak memiliki HP, hanya saja Ia menyukai kebebasan. Ia hanya menggunakan HP nya untuk pekerjaan dan hal penting lainnya. Jadi, bagaimana dengan Elisa? apakah Elisa tak penting bagi Ono? apa sebenarnya hubungan mereka? teman? pacar? atau sesuatu hal besar telah terjadi di antara mereka? *** Sudah dua hari sejak Ono mewarnai rambutnya, Elisa sedikit lega. Ketika jam Istirahat, Ia tak pernah lagi bergabung dengan teman-teman sekelasnya, Ia asik memandangi sesuatu dari jendela. Di Lapangan Basket, Ia bisa dengan mudah mendeteksi Ono. Yah, Laki-laki berambut kuning kontras itu sedang bermain Basket. Terkadang, berlari ke arah kantin membeli minum, tak jarang juga Elisa sedikit lama menunggu si Rambut Kuning tak muncul-muncul dari belakang Gedung Kantin, tempat toilet umum berada. Beberapa menit tak muncul, batin Elisa bergejolak. Kemana gerangan si Rambut kuning. Matanya mengitari seluruh halaman Sekolah, seperti radar mendeteksi setiap warna kuning kontras, namun Ono tak kunjung muncul. Hingga sampai dua hari kemudian, Ono tak terlihat. Si Rambut Kuning bahkan seperti lenyap hilang jejak. "apakah dia sudah mengganti warna rambutnya jadi hitam kembali? " batin Elisa. "meski begitu, seharusnya aku mengenali gestur tubuhnya?! " Elisa gelisah, kelihatan sekali kekecewaan dan kesal di wajahnya. *** Pekerjaan Ini hari Rabu. Sejak sebulan belakangan, Elisa punya kebiasaan baru, yaitu berdiri di pinggir jendela kamar setiap pukul tiga sore, memandang lurus ke arah pintu pagar. Ia tidak akan beranjak keluar kamar atau melakukan aktivitas apapun sebelum seseorang yang Ia tunggu datang dan membunyikan bel pintu pagar. Dan kali ini adalah ke empat kali orang itu akan datang ke rumahnya. Harap-harap cemas, Elisa fokus memandangi pintu pagar. Ia selalu menghela nafas panjang dan wajah cemberut saat yang Ia memencet Bel pintu pagar bukan orang yang Ia harapkan. Sudah sejaman Ia berdiri di sana, Ia kecewa dan memutuskan untuk beranjak dan pergi ke ruang tengah. "Pakleee... Tukang Kebun itu gak datang ya hari ini? " Tanya Elisa pada Supir pribadinya. "Sepertinya gak datang Non, biasanya memang dua kali seminggu Dia datang sih, mungkin saja besok, atau lusa Non" "Gimana sih? Bunga-bunga kesayanganku bisa gak terurus dong?!" Ketus Elisa "Yaaaa... Kemaren-kemaren juga bunga-bunga nya Non Elis di rawat sebulanan sekali, gak kenapa napa tuh?! Heheheheh" "Ya ga bisa gitu doooong!!!! Ituuu, kolam ikan bakal penuh sama daun-daun, halaman pasti jorok gak kesapuu, kolam renang juga bakal kotor dipenuhi sama daun-daun dan debu" Tukas Elisa cemberut dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Pak Supir hanya cengegesan garuk garuk kepala. Ia bingung mau jawab apa, karna sebenarnya tugas membersihkan halaman dan kolam biasanya dikerjakan oleh Pak Supir sendiri atau pembantu yang lain. Hanya saja sebulan yang lalu seorang remaja Laki-laki datang dan menanyakan lowongan kerja. Remaja Laki-laki ini mengatakan Ia membutuhkan pekerjaan sampingan sepulang Sekolah, apapun bisa Ia kerjakan. Awalnya, Orangtua Elisa menolak. Alasannya mereka tidak membutuhkan pekerja apapun untuk saat ini karna mereka merasa yang bekerja di rumah sudah cukup. Hanya saja, saat itu Elisa tidak sengaja keluar dari pintu dapur. Ia mengenali sosok remaja itu, dan meminta Orangtuanya untuk menerima Remaja itu untuk mengurusi bunga-bunga inport miliknya. Elisa juga beralasan, Ia dan Remaja itu berteman di Sekolah, keadaan temannya ini cukup memprihatinkan, jadi apa salahnya jika dibantu meringankan beban hidupnya. Elisa berbohong.... Orangtua Elisa memandangi Remaja Laki-laki di hadapan mereka, mulai dari kepala sampai kaki. Sama sekali tidak memperlihatkan seorang yang berkehidupan sulit. Gesturnya meski berdiri biasa saja sudah terlihat aestetik bak model, pakaiannya rapi dan bersih, Ia juga tidak terlihat seperti Remaja SMP, malah lebih tepat seperti Mahasiswa. Orangtua Elisa malah curiga Remaja laki-laki ini adalah teman dekat atau malah pacar Elisa. Elisa ditarik oleh Orangtuanya kebelakang. Mengintrogasi Elisa, sekaligus memanggil Pak Supir untuk kejelasan hubungan Elisa dan Laki-laki itu. Elisa menjawab "Dia memang seperti itu, tapi yakinlah dia itu anak SMP. Namanya Ono. Besok deh Elis tunjukin ke Sekolah dia berpakaian SMP, tapi untuk saat ini memang dia lagi butuh pekerjaan, hidupnya sangat sulit". Elisa lagi-lagi berbohong seolah-olah mengenal betul pribadi Ono. Padahal, sebelumnya pun Elisa tidak pernah bertemu secara langsung atau bahkan berbicara dengan Ono. Ia hanya sering mendengar kepopuleran Ono di Sekolah maupun di Luar Sekolah. Ia juga pernah melihat Ono ngamen di Lampu Merah, menjadi Pelayan Restoran atau menjadi tukang ledeng. Beberapa bulan yang lalu Elisa juga tidak sengaja melihat wajah Ono ada di papan iklan Salon Pengantin, bekisar sebulanan papan iklan itu terpajang di pinggir jalan. Atau ada di lembar majalah Fashion, Ia ada di daftar remaja Kota yang terpilih menjadi Model Pria untuk sebuah brand lokal yang terkenal di kota itu. Entah bagaimana caranya dia membagi waktu untuk semua itu. Dan satu yang paling aneh, bagaimana Ia bisa meyakinkan agency-agency itu bahwa dia bukan anak SMP usia lima belas tahun? Dan bukankah dengan pekerjaan yang banyak seperti itu, Ono seharusnya sudah bisa mencukupi kebutuhannya yang sekedar anak remaja SMP? Apakah sesulit itu hidupnya, sampai harus melamar pekerjaan ke rumah-rumah komplek seperti rumah Elisa? Inilah yang meyakinkan Elisa bahwa Ono hidupnya benar-benar sulit. Dan alasannya kepada Orangtuanya menurutnya bukanlah alasan bohong.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook