Ketika rumah tangga terjalin dalam keterpaksaan. Goresan luka kecil yang dibiarkan akhirnya menganga juga. Aina memilih untuk menyerah dan melangkah pergi.
Penyesalan memang selalu datang ketika sudah tak memiliki. Meninggalkan sakit yang tak bisa terobati.
Namun, jika memang tali jodoh sudah bertaut, cinta pasti akan kembali.
Jika Aina memilih untuk bersama, bisakah Julian mengobati lukanya? Atau malah menggores luka yang baru.
Jatuh hati yang serba salah itu ialah ketika menyukai sepupu sendiri. Sudah berusaha menolak, denial sampai sakit hati, ujung-ujungnya kembali ke dia lagi.
***
Motor mulai melaju meninggalkan halaman rumah. "Kenapa Lo senyum-senyum?" tanya Fahri sambil melirik Aul dari kaca spion.
"Hmm? Anu... tadikan kita makan satu sendok. Sama nggak si dengan ciuman?" katanya malu-maluin. Dasar bocah.
Mas Adji memeluk pinggangku dan memepet tubuh kami hingga mentok ke pintu kulkas.
"Gin, bisa kamu layani Saya sekarang?"
Aku melotot mendengar pertanyaan Mas Adji. Kalimat tanya yang dia ucapkan dengan mata sayu dan nada berat itu, Aku sangat mengerti maksudnya. Dengan santainya dia meminta haknya tanpa berniat meluruskan kesalahpahaman kami.
"Gina, Saya mau kamu," ulangnya sambil membelai bibirku lembut.
Aroma segar tubuhnya yang baru mandi menggelitik indra penciumanku.Ah, sudah hukum alam kalau yang paling mencintai akan mengalah. Aku memang bucin tolol. Melihat dia memohon seperti itu saja, Aku luluh.
"Cewek itu harus di koleksi, trus di seleksi, baru deh eliminasi!"
'Rakha'
"Biar kata bulan di langit belah jadi dua, kagak bakal gue sama Rakha. Playboy cap kadal gitu!"
'Ica'
***
Orang bilang tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Yah, memang tidak selalu terjadi. Hanya saja sangat pas jika di sandingkan untuk persahabatan Rakha dan Ica. Sayangnya, perasaan itu disadari saat masing-masing sudah memiliki pasangan.