Bab 2. Pisah Ranjang

1094 Kata
Cloe menepis tangan Vikram yang hendak menyentuh punggungnya. Dengan segera ia membetulkan posisi kebaya yang sudah hampir terbuka. Gadis itu mengambil pakaian ganti dan segera berlari ke kamar mandi. "Paman, bagaimana kalau kita kembali ke apartemen sekarang," ujar Cloe yang baru saja keluar dari kamar mandi. Vikram menoleh, menyimpan ponsel ke kantong celananya. Ia menganggukkan kepala, kemudian mereka berdua keluar dari kamar dan berpamitan pada keluarga Cloe. "Kenapa tidak menginap saja di sini." Amanda menatap sendu putri bungsunya. Tentu saja ia masih merindukan gadis itu, empat tahun baru bertemu dan sekarang harus berpisah lagi. "Aku besok ada kuliah pagi, Mom, dan masih ada beberapa tugas yang belum sempat aku kerjakan," kilah Cloe. Amanda menganggukkan kepala, ia memeluk putrinya. Cloe menghapus air mata yang mengalir di pipi Amanda setelah perempuan paruh baya itu melepaskan pelukan hangat. "Jangan menangis, Mommy bisa mengunjungi ku kapan saja di apartemen." "Iya, sayang. Jaga diri kamu baik-baik ya, jangan nakal terus," ujar Amanda lalu mengusap air matanya yang tidak mau berhenti. "Kak, jaga mommy baik-baik ya," ujar Cloe pada Amber yang sedang mengusap bahu ibunya. "Pasti. Maafin kakak tidak bisa membantu kamu ya." Amber memeluk Cloe. Gadis itu adalah adik kesayangan dan satu-satunya, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apapun saat ayahnya sudah memberikan ultimatum. Terakhir Cloe berpamitan pada Rayhan, hanya bersalaman saja karena gadis itu masih sedikit kesal dengan keputusan ayahnya secara sepihak tanpa mau mendengarkan penjelasannya dulu. Tidak berubah sejak dulu, bahkan pria itu tidak meminta maaf telah mengusir Cloe dari rumahnya empat tahun yang lalu. Saat melewati Mark, gadis itu menunduk tidak mau menatap pria itu karena menghargai perasaan Amber. Tanpa menoleh ke belakang Cloe masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Vikram. Berkali-kali suaminya itu menoleh pada gadis yang beberapa saat lalu ia nikahi. "Apa kamu masih mencintai Mark?" tanya Vikram dengan tatapan lurus ke depan. Cloe menoleh pada pria itu lantas mencebikkan bibirnya. "Selama empat tahun ini Paman menanyakan hal yang sama entah sudah berapa kali tak terhitung!" Vikram meringis, ia sengaja bertanya demikian supaya Cloe bersuara karena rasanya aneh jika melihat gadis yang biasanya cerewet kini menjadi pendiam. "Kenakan safety belt mu kalau kau ingin selamat," ujar Vikram. Cloe menundukkan kepala dan memang benar ia belum mengenakan sabuk pengaman nya. Gadis itu bergegas mengenakan sabuk pengaman. "Paman, apa kita akan bulan madu?" tanya Cloe menatap pria itu. "Bulan madu?" tanya Vikram sambil terkekeh sedangkan Cloe hanya menganggukkan kepala. "Bulan madu hanya untuk pasangan suami istri yang normal. Apa kamu mau bulan madu? Apa kamu sudah siap menyerahkan mahkotamu untukku?" Dengan cepat Cloe menggelengkan kepala. "Jangan bercanda, apa Paman mau mendapatkan julukan p*****l?!" Vikram tertawa terbahak-bahak hingga giginya terlihat saat mendengarkan ucapan Cloe hingga gadis itu kini mencebikkan bibir tipis yang sudah tidak lagi dihiasi lipstick. Namun, ini pertama kali putri sultan Kalimantan itu melihat pria yang ada di sampingnya tertawa lepas. Dulu memang Vikram orang yang sangat ramah pada siapapun, tetapi setelah ingatannya kembali, pria berdarah India itu sangat dingin. Hanya pada Cloe dan beberapa orang lain terdekatnya saja Vikram ramah. "Paman, aku udah lama banget tidak melihat tawa yang seperti ini." Cloe tersenyum lalu menatap suaminya. Biar bagaimanapun juga ia senang karena yang menjadi penyebab Vikram tertawa adalah dirinya. Vikram berdehem untuk meredakan tenggorokan. Ia membetulkan posisi duduknya dan tidak mau menatap Cloe. "Kamu mau makan siang dulu?" tanya Vikram mengalihkan pembicaraan membuat gadis itu menghela napas. "Makan siang yang terlambat! Lebih baik kita makan di apartemen saja bagaimana? Paman tidak lupa kalau istrimu ini pandai memasak, bukan?" Cloe mengerlingkan mata dan dengan segera Vikram menghindarinya. "Baiklah kita makan di apartemen." Vikram mengemudikan mobilnya menuju apartemen, beruntung hari Minggu sehingga jalanan tidak macet dan lebih cepat sampai. Ketika mobil tiba di basement dan mesin sudah dimatikan, Cloe membuka pintu mobil dan merentangkan tangannya. Ia merasa sudah sangat lama tidak datang ke apartemen padahal hanya pergi satu malam saja. Cloe menghirup udara kemudian ia hembuskan secara perlahan. Namun, tiba-tiba tercium aroma mint di hidung. Gadis itu yang tadi sempat menutup matanya kini terbuka dan terkejut saat Vikram menundukkan kepala sehingga mata dan bibir mereka hanya berjarak beberapa inch saja. Napas pria tercium dengan jelas di hidung, bahkan setiap hembusan dapat terdengar di telinga. "Apa yang Paman lakukan?" lirih Cloe. "Apa? Aku sedang berdiri dan mengamati wajahmu yang masih menor. Apa kamu hanya menghapus lipstick saja?" tanya Vikram lantas pria itu mengambil tisu basah dan membersihkan wajah istrinya. "Sementara pakai ini, tidak bagus wajah kamu lama-lama memakai make up. Apalagi kamu tidak terbiasa dengan make up." Cloe hanya diam saja membiarkan Vikram melakukan itu semua. Ia juga tidak terlalu mengerti soal skin care dan teman-temannya karena yang biasanya membelikan adalah pria itu. "Nah udah selesai, kalau seperti ini tidak seperti ondel-ondel." Vikram mengedipkan satu mata. Pria itu memberikan satu lengan yang sudah ditekuk di pinggangnya dan tanpa bertanya Cloe langsung menggandeng manja pada pria berusia 35 tahun itu. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, tetapi pasangan pengantin baru itu mengabaikannya karena sudah biasa mereka seperti itu. Mereka tetap melanjutkan langkahnya menuju unit apartemen yang berada di lantai 55 di bawah penthouse. Vikram tersenyum tipis bahkan sangat tipis saat mengingat kenapa ia harus pindah ke apartemen yang lebih besar. Empat tahun yang lalu, Vikram yang tinggal di apartemen studio harus pindah ke apartemen yang lebih besar karena tidak sanggup jika terus menerus tidur di atas sofa. Ranjang single yang biasa menjadi tempat tidurnya diambil alih oleh Cloe. Meskipun dikatakan apartemen studio, tetapi ini lebih bagus dari apartemen studio pada umumnya. Apartemen nya memiliki kamar sendiri walaupun hanya satu kamar dan ruang tamunya sedikit lebih besar serta dapur yang nyaman. Akan tetapi, untuk ditinggali dua orang tentu itu tidak cukup, terlebih Cloe membuka laundry dan catering. Karena merasa tidak nyaman akhirnya Vikram membeli apartemen yang lebih luas yang sekarang ia tempati walaupun harus banyak drama karena Cloe marah kehilangan bisnis laundry. Pada akhirnya, gadis itu membuka bisnis catering dan buka private les untuk teman satu angkatnya atau anak sekolah menengah pertama. Vikram yang sejak tadi melamun kini tersadar saat Cloe melepaskan gandengan tangannya dan berjalan menuju kamarnya. Tangan Vikram terulur menarik kerah kemeja yang dikenakan oleh gadis itu hingga membuat langkah kaki istrinya itu terhenti. "Paman apa yang kau lakukan?!" pekik Cloe. "Kau mau kemana? Bukankah sekarang kita sudah menjadi suami istri? Kenapa kau kembali ke kamar mu?" tanya Vikram sambil memicingkan matanya. "Kita harus pisah ranjang, aku tidak mau kau bermacam-macam kalau kita tidur bersama!" Vikram melebarkan kedua bola matanya dan melepaskan tangan dari kerah baju gadis itu sehingga membuat Cloe terjatuh dan mengerang karena sakit. "Paman!" pekik Cloe, tetapi Vikram sudah masuk ke dalam kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN