Dengan langkah lebar Vikram masuk ke dalam perusahaan yang bergerak di bidang elektronik. Ia bersama dengan sekretaris pribadi masuk ke dalam kotak besi menuju lantai dua puluh satu. Setelah pria keturunan India itu tiba di ruang kerja, sekretarisnya memberikan serangkaian kegiatan atasannya.
“Hari ini ada presentasi untuk keluaran ponsel terbaru untuk menyaingi sumsang, Tuan.”
“Jam berapa?” tanya Vikram dingin tanpa menatap sekretaris yang bernama Lexi.
“Satu jam dari sekarang, Tuan. Untuk makan siang, kita ada janji dengan sahabat-sahabat Anda di cafe lantai satu.”
Vikram menganggukkan kepala, lantas ia mengibaskan tangan menyuruh Lexi keluar dari ruangan nya. Pria itu menatap jendela kaca yang menampilkan gedung B V Power. Gedung yang baru didirikan satu tahun belakang ini, sedangkan gedung A atau gedung utama didirikan tiga tahun yang lalu.
Pria berambut hitam legam itu mengingat saat memutuskan untuk berhenti menjadi asisten keluarga Ankarian yang merupakan salah satu orang terkaya di Asia. Setelah berhenti ia memilih untuk membuka bisnis sendiri.
Vikram mengambil ponsel di dalam kantong jas saat mendengar notifikasi pesan pada benda kecil dan pipih itu.
Cloe: Paman, aku masak nih. Nanti mau aku antar untuk makan siang atau tidak?
Setelah membaca pesan dari istri kecilnya, jari-jarinya bergerak lincah untuk membalas pesan tersebut.
Vikram: Tidak.
Hanya satu kata yang ia kirimkan sebagai jawaban untuk Cloe. Setelah memastikan tidak ada pesan lagi dari gadis itu, Vikram menyimpan kembali ponsel nya dan memutuskan untuk bekerja.
Vikram membuka berkas-berkas yang ada di atas meja nya untuk ditandatangani. Pria itu mengernyitkan dahi saat melihat ada yang tidak sesuai dari laporan keuangan yang diberikan divisi keuangan padanya.
"Panggil kan kepala divisi keuangan sekarang!"
Melalui interkom Vikram memberikan perintah pada Lexi yang berada di meja kerjanya. Tidak lama kemudian datang seorang pria yang masuk ke ruangan Vikram setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh pemilik ruangan. Begitu kepala divisi tiba di hadapannya, Vikram menatap tajam pria tersebut.
Dengan kasar Vikram melemparkan berkas ke hadapan karyawan nya. Ia menunjuk kertas itu dengan jari telunjuk.
"Lihat dan baca! Apa kau tidak bisa menghitung, hah?! Bagaimana bisa ada mis seperti itu kau biarkan saja. Kemana uang yang tidak terhitung di berkas itu? Apa kau korupsi?! geram Vikram.
"M-maafkan saya, Tuan. Saya akan memperbaiki lagi dan mencoba lebih teliti, ujar karyawan itu dengan tergagap, takut dengan Vikram.
"Saya beri waktu satu jam dari sekarang untuk revisi berkas itu. Kalau sampai ketahuan kamu korupsi atau siapapun yang korupsi akan saya pastikan dipecat dari perusahaan ini dan di blacklist dari semua perusahaan. Apa kau mengerti?!"
"Baik, Tuan. Saya akan segera memperbaikinya."
Vikram kembali mengibaskan tangan mengusir karyawan nya. Setelah bawahannya keluar, ia melonggarkan dasi yang terasa sesak. Karena kesalahan divisi keuangan membuat suasana hati Vikram tidak bagus. Pria itu memilih untuk menunda tanda tangan berkas yang lain untuk mengembalikan suasana hatinya.
"Sial! Kenapa mood ku cepat sekali berubah!" Vikram menggerutu kesal dengan dirinya. Ia menjawab panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Apa lagi?!" tanya Vikram dengan meninggikan suaranya membuat gadis di seberang sana terkejut.
"Kenapa, Paman? Aku cuma mengingatkan satu jam lagi ada pertemuan wali di kampus. Kalau Paman tidak bisa hadir ya sudah."
Belum sempat Vikram menjawab telepon sudah dimatikan oleh Cloe. Pria itu menyugar rambut, ia lupa jika hari ini harus datang ke kampus istrinya.
"Meeting ditunda nanti sore atau besok pagi!" Vikram memberikan perintah pada asistennya melalui interkom.
"Tidak bisa, Tuan. Kita sudah menundanya dua kali dan sekarang kita harus melaksanakannya atau investor akan membatalkan kerjasamanya."
Vikram menghela napasnya kasar. Ia tidak menjawab lagi ucapan dari Lexi. Pria itu berpikir keras bagaimana caranya supaya keduanya tetap berjalan.
Sementara itu, Cloe yang sudah berada di kampusnya kesal karena akhir-akhir ini Vikram seperti tidak ada waktunya. Bahkan saat ia memintanya sebagai wali untuk datang ke kampus pun pria itu tidak menyempatkan.
Pada saat ia sedang duduk di lapangan basket, tiba-tiba ada yang memegang pundaknya. Gadis itu langsung menoleh karena ia pikir itu adalah Vikram.
"Daddy," gumam Cloe. Senyum yang tadi terbit kini seketika luntur. "Untuk apa Daddy ke sini?" tanya Cloe terdengar tidak suka jika Rayhan datang ke kampusnya.
"Untuk meeting sebagai wali kamu. Kenapa kamu tidak memberitahu daddy dan mommy?" tanya Rayhan mencoba bersikap lembut pada anak bungsunya.
"Untuk apa? Memangnya selama ini Daddy peduli padaku?" Cloe meninggalkan Rayhan sendirian. "Meeting nya ada di aula. Ruangannya ada di sebelah kanan Daddy," tutur Cloe sebelum gadis itu benar-benar menghilang dari jangkauan pandangan Rayhan.
Rayhan hanya dapat tersenyum kecut dan merasa jika Cloe sulit dijangkau nya. Ia menyesali semua keputusan saat mengusir gadis itu dulu dan berniat menebus, tetapi justru ia kembali melakukan kesalahan dengan memaksa gadis itu menikah dengan Vikram.
Semoga Vikram orang yang tepat untuk menjadi suaminya, dengan begitu penyesalan ini tidak menggerogoti hatiku.
Rayhan masuk ke dalam aula, sementara Cloe sebenarnya sejak tadi bersembunyi di balik tiang kini keluar dan menatap bayangan ayahnya sudah tidak terlihat lagi. Matanya berkaca-kaca, rasanya ia ingin memeluk pria itu. Gadis itu sangat merindukan sosok ayahnya yang dulu selalu ia peluk. Namun, kini hanya dapat menatapnya. Luka yang diberikan pria itu sangat dalam bahkan terkadang ia merasa bukan anak kandung.
Senja mulai menyapa, Vikram yang baru saja kembali dari kantornya menemukan Cloe sedang duduk melamun di ruang tamu apartemen. Ia meletakan tas kerja di atas meja, lantas duduk di samping sang istri yang belum menyadari kedatangannya.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Vikram pelan membuat gadis itu menoleh.
Cloe tidak menjawab pertanyaan dari suaminya. Ia kembali menatap ke depan. Banyak sekali yang ia pikirkan. Hatinya bergemuruh ingin meluapkan emosinya tapi tidak ada tempat atau orang untuk melampiaskannya.
"Maafkan aku, tapi meeting sang tadi tidak dapat ditunda atau ditinggalkan begitu saja."
Cloe masih terdiam, ia bangkit memilih ke kamar karena tidak mau melihat wajah suaminya untuk saat ini. Langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh pria itu.
"Kamu marah? Bukankah daddy sudah datang?"
“Waliku adalah Paman bukan daddy! Sudahlah, lagipula akhir-akhir ini memang Paman tidak memiliki waktu untukku, bukan? Paman terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kalau kemarin-kemarin aku masih mengerti karena aku bukan siapa-siapa Paman. Tapi sekarang aku istrimu! Apa Paman lupa?” tanya Cloe dengan mata berkaca-kaca.
Lidah Vikram tercekat, ia tidak lupa jika saat ini mereka adalah pasangan suami istri. Namun, pekerjaannya di kantor juga tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Maka dari itu ia meminta pada mertuanya yang masih berada di Jakarta untuk menghadiri pertemuan itu sekaligus ingin anak dan ayah itu kembali dekat seperti dahulu.
“Cloe, aku sudah berusaha tapi meeting itu sangat penting. Lagi pula aku sudah meminta daddy untuk menggantikannya. Tolong mengertilah,” ujar Vikram.
Cloe menyentak tangan suaminya. “Oke.”
Vikram menatap gadis yang saat ini benar-benar sudah masuk ke dalam kamarnya. Ia mengepalkan tangannya. Pria itu malas jika ada pertengkaran seperti ini karena tidak tahu bagaimana caranya membujuk perempuan yang sedang marah.