Bab 4. Cloe dan dramanya

1205 Kata
Vikram menatap datar meja makan karena hanya ada satu piring nasi putih dan telur ceplok mata sapi. Lantas ia menatap Cloe yang sedang membereskan kertas-kertas di atas meja dan menyimpannya ke dalam tas. Pria itu mengambil satu gelas air putih lalu meneguk nya. Vikram menggelengkan kepala saat pagi ini hanya ada makanan sederhana dan air putih tidak ada kopi hitam seperti biasa. “Cloe, apa kamu yakin hanya ini sarapan kita?” tanya Vikram yang masih menatap telur itu. “Ya. Aku berangkat.” Cloe berlalu meninggalkan ruang tamu dan mengenakan sepatu nya. Vikram meletakan sendok dengan kasar. “Jangan berani kau keluar dari apartemen sebelum masalah kita selesai!” ucap Vikram dingin membuat Cloe mengurungkan niat menekan handle pintu. Cloe menghela napas, selama tinggal bersama dengan Vikram ini pertengkaran pertamanya. Ia memutar badan dan menatap pria itu. “Kita tidak ada masalah, Paman. Aku tahu terlalu banyak berharap dan aku pikir akan ada perubahan setelah kita menikah, tetapi tetap sama saja. Paman tidak memiliki waktu untukku walau hanya sebagai wali di kampus. Tidak seperti dulu saat aku masih SMA. Kini Paman sudah berubah, aku seperti tidak mengenal Paman. Aku pergi ada kelas pagi.” Cloe benar-benar keluar dari apartemen, sementara Vikram hanya terdiam. Ia menyadari perubahan yang ada pada dirinya. Hanya saja untuk kembali bersikap seperti biasa itu mengalami kesulitan karena beberapa tahun belakang ini sudah terbiasa dengan sikap dingin pada orang lain. Vikram menghela napas, ia mencoba menyantap makanan yang disajikan oleh gadis itu, tetapi tiba-tiba kehilangan selera makan. Setelah mencuci piring, pria bertubuh atletis itu meraih jas dan tas lantas langsung menuju kantornya. Memang perusahaan yang dia miliki tidak terlalu besar, dapat dikatakan masih biasa, tetapi ia sangat senang karena itu jerih payahnya sendiri. Ketika Vikram masuk ke dalam kantor, Lexi sudah bersiap menunggu di depan lift. “Tuan, hari ini ada makan siang bersama dengan Nona Ishana.” Vikram menoleh lantas menatap asisten nya. “Lexi, sudah berapa kali saya katakan jangan panggil Ishana dengan sebutan ‘nona’ kecuali pada Cloe, apa kau mengerti?!” Astaga! Aku lupa, untung nona Cloe tidak ada di sini. Kalau ada di sini matilah aku! Lexi mengangguk dan meminta maaf pada Vikram. “Kau tahu bagaimana marah nya Cloe saat kau dan beberapa karyawan memanggil Ishana, bukan? Saya tidak mau kejadian sama terulang lagi. Saya sudah pusing dengan pekerjaan, jadi jangan ditambah lagi dengan persoalan yang lainnya.” “Siap, Tuan.” Pukul sebelas siang Vikram meeting dengan karyawan. Saat tim marketing melaporkan hasil penjualan ponsel, tiba-tiba mengangkat tangan dan meminta untuk berhenti sebentar karena pria itu mendapatkan pesan singkat dari Cloe. Sekian banyak pesan dan panggilan ia abaikan kecuali pesan dari istrinya. Cloe: Paman. Vikram: Hm. Tidak ada balasan dari Cloe sehingga Vikram menyuruh karyawan nya untuk melanjutkan presentasi nya. Ketika karyawan melanjutkan meeting, Vikram kembali menoleh pada ponsel dan langsung menegakkan tubuhnya begitu membaca pesan dari Cloe. Cloe: Paman! Laper. Vikram: Baru jam segini, bukankah kamu sudah sarapan? Vikram berdehem saat menyadari kini menjadi pusat perhatian bahkan hingga karyawan yang presentasi menundanya. “Kenapa kau berhenti?! Apa saya menyuruh mu untuk berhenti?!” Karyawan itu menggelengkan kepala kemudian melanjutkan kembali presentasi nya. Mereka saling menatap satu sama lain ketika melihat Vikram kembali mengambil ponsel. Cloe: Aku belum sarapan dan Paman tidak memberikan ku uang saku. Vikram tidak membalas pesan dari Cloe memilih untuk menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya sudah selesai sejak tadi. “Saya mau, penjualan ditingkatkan lagi bulan depan! Kalian sebagai marketing harus bisa mencapai target pemasaran. Jangan katakan produk kita memiliki saingan yang cukup tinggi. Tapi tunjukkan pada customer keunggulan produk kita yang tidak dimiliki oleh brand lain. Perusahaan ini merekrut kalian karena kalian berkompeten, jadi jangan kecewa kan saya dan tunjukkan kemampuan kalian. Meeting hari ini selesai.” Vikram keluar dari ruangan diikuti oleh Lexi. Ia berhenti di depan lift lantas menghadap pada asisten nya. “Tidak ada meeting lagi kan?” “Tidak, Tuan. Hanya makan siang saja bersama dengan Ishana.” “Batalkan saja.” Sementara itu, Cloe sedang menahan lapar di kampusnya. Ia hanya memiliki uang lima ribu rupiah di dalam dompetnya. Gadis itu memutuskan jalan ke halte busway. “Sedih amat punya uang tinggal segini. Apa sebaiknya aku buka usaha lagi?” gumam Cloe sambil berjalan dan memegang perutnya. Ia bersandar di halte busway, saat sedang menatap lurus Cloe melihat mobil yang sangat dikenalnya. Gadis itu mengambil ponsel ketika mendengar dering panggilan. Wajahnya langsung berbinar saat melihat siapa yang memanggil. “Halo, Paman.” “Kemari lah, aku yakin kamu sudah melihat mobil ku.” “Hm.” Cloe langsung keluar halte melewati JPO dan turun menuju mobil miliki Vikram. Ia berlari dan hampir saja terjatuh karena tidak memperhatikan jalan, beruntung pria itu langsung keluar dari mobil begitu melihat sang istri berlari sehingga dapat menangkap pinggang gadis itu ketika hampir saja terjatuh. “Hati-hati! Kau bisa saja terjatuh.” “Maaf, Paman. Aku senang sekali Paman kemari. Aku pikir sudah tidak peduli padaku,” cicit Cloe sambil mencebik. Vikram menghela napas kemudian menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobil, tidak lupa ia menutup kepala Cloe. Pria itu mengemudikan mobilnya menuju sebuah mall yang berada di dekat kampus gadis itu. “Bukankah kamu mengatakan lapar, tapi kamu bisa berlari,” cibir Vikram saat dalam perjalanan. “Aku memang lapar, tapi saat melihat Paman aku semangat karena makanan akan datang,” ujar Cloe dengan mata yang berbinar. Vikram hanya dapat menggelengkan kepala. “Kenapa tidak sarapan tadi pagi?” “Karena di dalam lemari es hanya tersisa telur satu butir dan aku buat untuk Paman.” Vikram terdiam, ia merasa bersalah terlebih saat mengingat makanan itu dibuang karena tidak berselera. “Paman makan sampai habis, kan?” Cloe memicingkan matanya membuat pria itu gelagapan. “T-tentu saja dihabiskan, seperti biasanya Cloe.” Cloe mengangguk. Sementara itu, Vikram mengirimkan pesan pada Lexi. “Kamu sudah tidak marah? Aku pikir akan marah seharian,” ujar Vikram. “Ingin marah lama, tapi perutku lapar. Jadi aku memilih terpaksa memaafkan Paman.” Vikram tergelak. Sebenarnya Vikram mengirim uang bulanan untuk uang jajan Cloe ke rekening gadis tersebut. Ia melupakan fakta bahwa istrinya itu penuh perhitungan jika soal uang. Pria itu yakin jika gadis itu sengaja tidak mau menggunakan uang untuk makan karena tidak mau saldo rekening nya berkurang. Setelah mereka tiba di mall, mereka bergegas ke restoran yang dipilih oleh Cloe. Mereka langsung memesan makanan karena gadis itu sudah sangat kelaparan. Terbukti saat makanan datang, Cloe langsung menyantap nya bahkan tidak memperhatikan jika bibirnya berantakan akibat makanan itu. “Vikram kamu di sini?” Vikram dan Cloe menoleh saat melihat ada yang memanggil. “Kamu membatalkan makan siang bersamaku hanya untuk makan bersama dengan gadis kecil ini?” “Aku bukan anak kecil Tante Ishana!” geram Cloe. Ia selalu kesal setiap perempuan itu dekat dengan Vikram. “Kalau kamu bukan anak kecil, tidak mungkin makannya berantakan seperti itu. Pantas saja kamu jomblo pasti tidak ada yang mau berpacaran denganmu karena kamu sangat jorok. Kamu juga jangan menempel terus sama Vikram, kasihan nanti kalau dia ingin dekat dengan perempuan lain, perempuan itu merasa terganggu karena ada kamu!” Cloe meletakkan sendok lantas minum Leci tea yang ada di sampingnya. “Apa Paman berniat dekat dengan perempuan lain?!” tanya Cloe menatap tajam suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN