“Kenapa Paman diam saja? Apa itu benar?” Cloe mengulangi pertanyaannya kembali dan matanya masih menatap tajam Vikram.
“Cepat habiskan makananmu!” Vikram memilih mengalihkan pembicaraan. Hal itu membuat Cloe mencebik dan mengacak makanannya.
Ishana tertawa saat melihat wajah kesal Cloe. Sejak dulu memang ia selalu menyukai jika gadis yang selalu bersama Vikram marah. Sedangkan Cloe semakin kencang mengaduk makanan karena malu sekaligus kesal pada Ishana yang menertawakannya.
“Cepat habiskan! Kamu tidak mau kan kalau kita buang-buang uang untuk makanan yang tidak dimakan?”
Meskipun bibirnya terus mencebik, Cloe tetap menghabiskan makanan itu dengan jengkel karena Ishana terus mengajak Vikram berbicara walaupun pria itu hanya menjawab seperlunya saja.
“Hei, Tante! Paman Vikram malas berbicara denganmu, kenapa kau tidak tahu malu?” cibir Cloe setelah ia menghabiskan makannya.
“Kenapa? Apa kamu cemburu padaku? Dengar ya, anak kecil! Walaupun seandainya Vikram tidak mau denganku, dia juga tidak mungkin mau dengan mu yang masih bocah. Semuanya masih kecil bukan selera pria dewasa seperti dia,” ujar Ishana yang tidak mau kalah dengan Cloe.
Ishana mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, saat merasa sepi perempuan itu berdiri di samping Cloe.
“Lihat dong, aku seksi semua berisi, tinggi semampai. Lha kamu? Semuanya kecil cuma menang tinggi doang!” ujar Ishana sambil melenggak-lenggokan tubuhnya di depan gadis itu dan juga Vikram yang memilih fokus dengan ponsel membiarkan mereka saling menjatuhkan satu sama lain.
“Ini bukan kecil tapi padat. Tolong dibedakan ya, dasar janda gatel!”
“Biarpun janda tapi menggoda.”
Cloe kesal ingin sekali mencakar wajah perempuan yang masih berada di hadapannya, tetapi ia sadar jika saat ini sedang berada di tempat umum. Ia menoleh pada Vikram yang masih anteng dengan ponsel di tangan.
Gadis itu membuang muka enggan menatap Ishana yang saat ini tersenyum penuh dengan kemenangan. Dengan ekor matanya, Cloe melihat perempuan itu kembali duduk di samping Vikram dan sesekali bersandar pada bahu pria itu.
Vikram sebenarnya risih dengan sikap Ishana yang seperti itu, tetapi ia merasa senang saat berhasil melihat wajah kesal Cloe. Ia belum mencintai istri kecilnya itu, tetapi terasa menyenangkan jika berhasil mengerjai gadis mungil itu.
Pria itu menunduk saat merasakan ada yang menendang kakinya. Ketika mengetahui Cloe sebagai sang pelaku, Vikram mengapit kaki gadis itu. Ternyata tidak cukup sampai di sana, perempuan berasal dari suku Dayak itu mengirim pesan pada sang suami.
Cloe: Ayo pulang.
Vikram tidak menjawab, tetapi ia beranjak dari kursi membuat Ishana terkejut karena sedang bersandar dan pria itu langsung bangun begitu saja tanpa ada pemberitahuan membuatnya hampir tersungkur.
“Mau kemana? Aku belum makan.” Ishana menatap Vikram yang sudah berada di samping Cloe.
“Kami sudah selesai. Kau makanlah sendiri!”
Cloe menjulurkan lidah saat melihat Vikram bersikap dingin pada Ishana. Gadis itu menarik lengan suaminya dan bergelayut manja menyandarkan kepala pada bahu pria itu membuat Ishana mengumpat, tetapi Cloe tidak peduli. Mereka berdua keluar dari restoran setelah membayar bil.
“Paman, harusnya tadi kita pake aplikasi MauPay saja biar dapat diskon,” ujar Cloe saat melihat total pada bil.
“Cuma diskon 10%.”
Cloe mencebik, “lumayan, Paman. Diskon 10% dari sub total kan bisa dipakai buat beli yang lain, telur atau sayuran misalnya.”
Vikram menggelengkan kepala karena sifat perhitungan Cloe mulai keluar.
“Uangku tidak akan habis kalau buat beli telur dan sayuran. Mau satu truk kamu beli juga masih tersisa banyak,” ujar Vikram santai.
“Untuk apa beli satu truk? Sayang banget uangnya, yang ada sayur itu busuk dan mubazir. Ingat, Paman, kita harus berhemat karena cari uang itu tidak mudah.”
Vikram tidak menjawab. Ia paham kenapa Cloe sangat perhitungan, alasannya adalah karena gadis itu telah melalui pahitnya hidup saat tidak memiliki apapun disaat kedua orang tua kaya raya. Pria itu menjadi saksi bagaimana empat tahun lalu gadis itu melewati masa-masa remaja dengan banting tulang untuk bertahan hidup di kota Jakarta yang sangat keras.
Empat tahun lalu adalah masa kelam untuk Cloe. Gadis itu di usir oleh kedua orang tuanya yang berada di Kalimantan dan diasingkan ke Jakarta. Karena kesalahan menggoda kakak ipar yang pada akhirnya membuat kedua orang tua murka membuat Cloe kehilangan teman-teman dan berakhir masuk ke sekolah untuk kalangan masyarakat menengah.
Tidak hanya itu, Cloe juga kehilangan fasilitas, karena semuanya disita dan hanya diberi uang satu juta saja. Meski begitu, gadis itu bersyukur karena sekolah masih dibayar oleh kedua orang tuanya.
Sejak saat itu, Cloe mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Dari menjadi karyawan diskotik hingga menjadi jasa laundry ia jalani. Pernah suatu hari Vikram mendapatkan laporan dari anak buahnya jika gadis itu pulang dan pergi ke sekolah berjalan kaki hingga sepatu yang dikenakan cepat rusak dan sangat kotor.
Cloe terlihat sangat kuat, tidak pernah mengeluh dengan apa yang diterima karena ia menganggap jika semua itu adalah kesalahan dari perbuatannya. Walaupun, jika malam hari gadis itu akan menangis karena tangannya perih dan lecet. Vikram yang melihatnya tidak tahan sehingga membantu pekerjaan Cloe dan memberikan uang jajan. Sejak saat itu, Cloe sangat menghargai apa yang dimilikinya. Apalagi, jika itu berkaitan dengan uang karena ia tahu cara menghasilkan benda itu tidak mudah, harus melalui perjuangan dan kerja keras.
“Paman, kenapa melamun?” tanya Cloe yang merasa sejak tadi Vikram sedang melamun.
Vikram menoleh lantas menggelengkan kepala. Ia mengusap puncak kepala gadis itu. Pria itu merasa waktu berjalan dengan sangat cepat karena tidak terasa sudah empat tahun mereka bersama bahkan sekarang telah menikah walaupun hanya kecelakaan.
“Lho kok kita naik, Paman? Bukankah seharusnya kita ke basement?”
“Aku mau mampir ke toko. Mau lihat tim marketing apa mereka bekerja dengan baik atau tidak.”
Cloe tidak bertanya lagi. Ia memilih mengikuti kemana langkah kaki Vikram membawanya. Tidak lama kemudian mereka tiba di depan store dengan brand V-Power yang menjual ponsel dan alat elektronik lainnya seperti televisi, kulkas dan masih banyak lagi.
Hari ini mall lumayan ramai, tetapi toko Vikram lumayan sepi walaupun spg sudah berupaya untuk menarik customer.
Sales yang melihat kedatangan Vikram dan Cloe langsung menunduk menghormati kedatangan owner dari toko tersebut. Ketika Vikram hendak masuk, Cloe menarik tangan pria itu membuat Vikram terkejut.
“Astaga! Sayang, lihat deh hp ini, bagus banget! Apalagi kameranya, aku jadi kelihatan cantik banget tidak perlu pake power. Di bawa juga simple karena bisa dilipat. Warnanya cocok banget. Sayang beliin aku ini dong,” ujar Cloe memohon pada Vikram.
Pria itu tetap bergeming karena melihat Cloe yang tidak biasanya memanggil dengan sebutan ‘sayang’ di tempat umum. Apalagi, gadis itu berbicara dengan sangat lantang menarik perhatian pengunjung.