Bab 6. Invitation

1180 Kata
Vikram mengeraskan rahang saat melihat Cloe mengambil ponsel dan dibawa ke depan toko untuk berswa foto. Bahkan tak segan gadis itu memanggil namanya membuat perhatian para pengunjung mall tersebut. “Ih, Paman dipanggil tidak menjawab. Ayo kita foto dulu cobain sebelum beli,” ujar Cloe menggandeng lengan Vikram. Vikram mendengus, tetapi tetap mengikuti kemauan istrinya. Ia meraih pinggang gadis itu lantas mencoba tersenyum walaupun kaku dan hal itu membuat karyawan toko menahan tawa. Selama mereka bekerja dengan Vikram, mereka tidak pernah melihat senyum pria itu. "Senyum yang tulus dong, Paman. Katakan cheese," ujar Cloe memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Jangan membuatku malu, Cloe," desis Vikram yang diabaikan oleh gadis itu. Setelah selesai berfoto, mata gadis itu berbinar. Ini adalah foto perdana mereka setelah empat tahun bersama. Cloe sangat kesulitan jika ingin berfoto dengan pria itu. Selain sibuk bekerja, Vikram selalu mendapatkan alasan untuk menolak. "Mas, saya mau beli ponsel ini. Tolong dibungkus, pacar saya yang akan membayarnya," tutur Cloe membuat karyawan itu melirik Vikram yang mengangguk pelan. Cloe menatap pengunjung yang berdiri di depan toko, mereka terlihat mengagumi Vikram. Gadis itu berpikir mereka berkumpul karena ia yang sudah mencoba promo ponselnya, tetapi dugaannya salah. Tiba-tiba anak bungsu crazy rich dari Kalimantan itu memiliki sebuah ide. "Kakak-kakak, Ibu-ibu, silahkan yang mau membeli barang elektronik di sini bisa berfoto dengan pacar saya. Dia seorang aktor bollywood lho." Cloe tersenyum saat mendapatkan respon positif dari pengunjung, tetapi tidak dengan Vikram yang saat ini menatap tajam gadis itu. "Benar, Mbak? Pantas, Mas ini terlihat seperti John Abraham pemain film Pathan. Ternyata badannya bagus dan guanteng banget ya," ujar salah satu pengunjung membuat Vikram sedikit mundur saat di pegang lengan yang masih ditutup dengan jasnya. Cloe meringis, sejujurnya ia tidak tahu film apa yang dimaksud oleh ibu itu. Gadis itu mengatakan Vikram aktor bollywood karena pria itu berasal dari negeri Hindustan. "Syaratnya susah amat, Mbak, harus beli barang elektronik di sini," ujar salah satu yang keberatan dengan ide Cloe, "Tidak berat. Bukan, pacar saya brand ambassador V-Power, jadi kalau kalian mau berfoto harus membeli salah satu produk kami." Pengunjung perempuan merasa keberatan dengan ucapan Cloe, terlihat sekali mereka kecewa karena tidak dapat berfoto dengan Vikram. "Jangan dengarkan dia, Bu. Kalian bisa berfoto dengan saya tanpa harus membeli alat elektronik dari V-Power. Tetapi, kalau kalian mau membeli itu lebih bagus lagi karena V-Power memiliki produk yang unggulan dibanding dengan produk lainnya," ujar Vikram. Mereka terlihat terpesona mendengar suara bas pria itu. Seolah terhipnotis, mereka membeli produk V-Power walaupun ada yang hanya membeli kipas angin. Saat melihat Vikram berpose dengan pengunjung, tiba-tiba Cloe memiliki sebuah ide yang siap diberitahukan pada suaminya itu. Setelah Vikram selesai berfoto dengan pengunjung, ia hendak membawa Cloe pulang ke apartemen, tetapi gadis itu meminta untuk mampir ke supermarket karena harus belanja bulanan. Ketika selesai berbelanja mereka langsung pulang ke apartemen. Vikram membantu Cloe menyusun di kabinet sedangkan gadis itu membersihkan buah. Mereka tim yang bagus untuk urusan seperti itu. "Wah, Paman baik sekali sampahnya sudah dibuang," ujar Cloe saat gadis itu membuka tong sampah. "Aku tahu kamu tidak suka bau sampah," kilah Vikram padahal karena ia tidak mau jika istrinya itu melihat ada telur dan nasi yang ia buang tadi pagi sehingga ia menyuruh Lexi untuk membuang sampah sebelum mereka pulang. Maka dari itu Vikram memutuskan mengulur waktu datang ke toko. Cloe mencebik, ini bukan pertama kali Vikram melakukan pekerjaan ringan itu selama mereka tinggal bersama, tetapi ia merasa ada yang disembunyikan oleh pria itu walaupun tidak tahu itu apa. Gadis itu memilih mengabaikan keraguan dan melanjutkan pekerjaannya. Diam-diam Vikram menghela napas pelan supaya tidak terdengar oleh Cloe. Ia mengambil ponsel saat mendengar dering panggilan. "Ya, Dad." Cloe langsung menoleh, ia yakin yang menghubungi Vikram adalah ayahnya karena tidak mungkin pria itu memanggil 'daddy' pada selain Rayhan dan yang ia tahu kedua orang tua Vikram telah tiada. "Malam ini? Baiklah," ujar Vikram lalu menoleh pada Cloe yang masih menatapnya, lantas gadis itu memunggungi Vikram. Pria itu meletakkan ponsel di atas meja dan menghampiri istrinya. "Daddy mengundang kita untuk makan malam di restoran," beritahu Vikram, tetapi gadis itu tetap bergeming. Vikram menahan tangan Cloe saat gadis itu ingin berlalu meninggalkan. Ia tahu jika sang istri enggan datang, tetapi pria itu merasa tidak bisa dibiarkan hubungan mereka jauh terus-menerus dan ini adalah kesempatan mereka berbaikan. "Bersihkan dirimu dan ikut denganku menghadiri undangan itu!" Cloe menatap tajam suaminya. "Paman tidak meminta persetujuanku?!" tanya Cloe menatap nyalang Vikram. "Kalau kau tidak mau datang sebagai anak, setidaknya datang sebagai istriku. Satu lagi, aku tidak suka kau menatapku dengan seperti itu!" ujar Vikram dingin. Vikram meninggalkan gadis itu yang masih terdiam. Ia harusnya sudah terbiasa dengan sikap pria itu, tetapi saat mendengar ucapan yang begitu dingin tetap membuat sakit, terlebih saat ini menyandang gelar sebagai istri tidak mudah untuknya di usia yang masih tergolong masih muda. Coe masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai. Ia masih enggan bertemu dengan ayahnya. Bukan dendam yang dirasakan tetapi kecewa karena tidak pernah didengar. Setelah mengganti pakaian, Cloe keluar dari kamar dan ternyata Vikram sudah siap dengan pakaian kasual. Mereka berdua keluar dari apartemen tanpa mengatakan sepatah katapun. Saat dalam perjalanan, Vikram mampir ke toko kue ternama di Jakarta sebagai buah tangan untuk mertuanya, sedangkan gadis itu tetap diam di mobil dan Vikram tidak perlu repot untuk mengajaknya masuk ke dalam toko. "Cobalah tersenyum seperti dulu kamu yang selalu menyembunyikan luka. Bukankah kamu seharusnya sudah terbiasa?" ujar Vikram pada Cloe ketika pria itu mulai mengemudikan mobilnya kembali. "Lalu bagaimana dengan, Paman? Haruskah membentakku seperti tadi?" Vikram menoleh, ia tidak berniat membentak Cloe hanya saja gadis itu terlalu keras kepala. "Maaf." Cloe mencebik, ia seperti termakan ucapannya sendiri yang dulu mengatakan Vikram bukan tipenya pada Ishana. Empat tahun lalu, Cloe masih dapat mengingat dengan jelas saat ia berbicara pada Ishana saat perempuan itu menanyakan hubungan dengan Vikram. “Apa kalian memiliki hubungan?” tanya Ishana memastikan namun Vikram tidak berniat menjawabnya. Cloe menoleh pada Vikram yang masih setia dengan makanannya lalu ia menoleh pada perempuan yang sedang menunggu jawaban darinya. “Hubungan bagaimana, Tante?” “Hubungan layaknya seperti seorang kekasih.” Cloe melebarkan mata lalu menggerakkan kedua telapak tangannya. “Tidak, Tante. Aku tidak ada hubungan seperti itu dengan Paman Vikram. Lagi pula aku masih 15 tahun, masih harus fokus sekolah,” ujar Cloe sambil tertawa. “Lihatlah siapa yang bicara bukankah belum lama ini menggoda kakak iparnya,” gumam Vikram yang dapat didengar oleh telinga Cloe namun tidak jelas di telinga Ishana. Cloe langsung menginjak kaki Vikram hingga membuat pria itu terkejut dan hampir saja menumpahkan makanannya. “Oh, aku kira kalian sepasang kekasih.” “Tidak mungkin, Tante. Kita umurnya juga beda jauh, selain itu Paman Vikram bukan tipeku banget. Tipeku itu cowoknya putih tinggi dan macho, selain itu bersih orangnya tidak bau dan jorok.” Vikram melebarkan kedua bola matanya. Ia tidak menyangka Cloe akan berbicara seperti itu. Tanpa sadar Cloe tersenyum saat mengingat memori empat tahun lalu. Ia terkejut saat melihat Vikram sudah berada di hadapannya bahkan jarak mereka sangat dekat. "P-Paman, apa yang kamu lakukan?" tanya Cloe tetapi jemari pria itu justru menyentuh bibirnya membuat ia memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN