Bab 7. Warm Dinner

1272 Kata
Vikram menarik satu sudut bibirnya tipis, tetapi Cloe tidak melihat karena gadis itu sedang menutup mata. Tiba-tiba istrinya membuka mata dan mereka saling tatap. Terasa jelas napas satu sama lain. “Napas Paman bau ih, awas!” ujar Cloe menyadarkan Vikram dan membuat pria itu kembali ke tempat duduknya. Wajah Vikram memerah menahan malu dengan ucapan Cloe, berbeda dengan gadis itu yang wajahnya memerah menahan malu karena sudah percaya diri jika suaminya akan mencium, tetapi saat ia sudah memejamkan mata pria itu tetap pada posisi membuat perempuan itu malu. Vikram berdehem lantas menyuruh Cloe untuk keluar dari mobil. Setelah gadis itu keluar, Vikram langsung mengangkat telapak tangan dan diletakan di depan mulut lantas menghela napas kemudian dicium. “Tidak bau. Dasar gadis bodoh, ternyata dia sudah menipuku!” Vikram keluar dengan membawa kotak kue dan memberikan pada Cloe ketika sudah tiba di samping istrinya. “Bawalah, kau lebih cocok daripada aku,” ujar Vikram. Setelah gadis itu menerima, Vikram masuk ke dalam rumah meninggalkan Cloe di depan rumah mewah itu. Cloe menghela napas, dengan berat hati masuk dan ternyata suaminya tidak benar-benar masuk karena masih menunggu di depan pintu. “Tersenyumlah, kamu akan menemui Mommy. Apa kamu tidak merindukan beliau?” Cloe menatap suaminya lantas mengangguk. Ia sangat merindukan sang ibu. Rasanya ingin setiap hari memeluk perempuan itu, mendekapnya dan bercerita banyak hal. Itulah yang sangat gadis itu rindukan bersama Amanda. “Putri, Mommy. Kamu datang, Nak,” ujar Amanda dengan mata berkaca-kaca saat melihat putrinya masuk ke dalam ruang keluarga. Cloe meletakkan kue lantas memeluk ibunya. Vikram dapat melihat dengan jelas betapa istrinya sangat merindukan kedua orang tua itu. Ia bersalaman dengan Rayhan dan memeluk Mark yang berdiri tidak jauh dari Amanda dan Cloe. “Terima kasih karena kamu sudah bersedia membujuk Cloe datang kemari,” ujar Rayhan pada Vikram. “Bukan masalah besar, Dad. Cloe pasti mau datang kemari dan menemui kalian. Semarah dan kecewanya dia tetap merindukan orang tuanya,” ujar Vikram tentu tidak memberitahukan drama sebelum mereka berangkat. Vikram duduk bersama Mark dan membiarkan istrinya bersama dengan kedua mertua serta kakak iparnya. “Apa semudah itu membujuknya?” tanya Mark pada sepupunya. “Menurutmu?!” “Pasti kamu memaksanya,” tebak Mark dan hanya dijawab dengan senyuman yang terbit dari bibir pria itu. “Vi, aku tahu kamu masih kecewa dengan masa lalumu dan membuatmu berubah, tetapi jangan pada Cloe.” Vikram menoleh, “sikapku tidak berubah padanya. Hanya saja terkadang emosiku tidak terkontrol. Cloe juga mengeluh dengan sikapku yang sekarang,” tutur Vikram. Mark tidak menjawab. Ia memilih menatap mertua dan istrinya di depan sana. “Mark, apa aku akan menikah dengan Cloe selamanya? Maksudku, akankah Cloe tidak seperti dia yang meninggalkanku dan berkhianat?” Mark tahu keraguan Vikram dan kegundahan pria itu. Ia menepuk bahu sepupunya. “Tidak semua perempuan sama, Vi. Aku yakin pasti Cloe perempuan yang baik walaupun ucapannya yah kamu tahu sendiri bagaimana.” Vikram terkekeh, tentu ia tahu dan sangat paham dengan apa yang dimaksud dengan ucapan Mark. Ia ingat saat pertama kali bertemu dengan gadis itu beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Vikram baru saja keluar dari ruangan dan menutup pintu, tiba-tiba ada yang menabrak dan berhasil membuat kemejanya basah. “Sorry sorry tidak sengaja.” Vikram memejamkan matanya, pasalnya minuman yang tumpah pada kemeja adalah kopi panas tentu bukan hanya basah saja yang ia rasakan, tetapi kulit melepuh karena kopi itu masih terlihat berasap. Bisa saja ia memarahi orang itu, tapi saat tahu siapa yang menyiram maka pria itu hanya dapat meredam amarah saja. “Tidak masalah, Nona Cloe. Lain kali gunakan mata Anda dengan benar atau orang lain akan dalam bahaya karenamu,” ujar Vikram. Cloe mengernyitkan dahinya lalu tersenyum pada Vikram. “Maaf Paman, mata ku sudah digunakan dengan benar dan sudah terpasang pada tempatnya. Lain kali paman berhati-hati sebelum berbicara atau orang lain akan sakit hati mendengar ucapanmu!” Cloe meninggalkan Vikram yang masih berdiri di sana dan ia memilih memberikan kopi yang di pesan oleh sepupunya. Vikram menoleh ke belakang dan kembali memejamkan matanya saat Cloe membanting pintu ruangan itu. “Kenapa dia yang marah? Bukankah seharusnya aku? Lah kenapa dia nyolot. Bocah zaman sekarang memang unik.” Sejak saat itu berbagai macam ucapan pedas terlontar dari mulut Cloe ketika mereka bertemu. Vikram tidak henti-hentinya dikatakan laki-laki jorok dan bau serta masih banyak lainnya. Namun, pria itu tidak mengambil hati justru gemar sekali menggoda gadis itu hingga akhirnya kembali dipertemukan saat Cloe diusir dari rumah. Vikram menghela napas lantas menggelengkan kepala saat mengingat setiap momen bersama dengan Cloe hingga tidak menyadari saat ini menjadi pusat perhatian keluarga dari istrinya. “Kenapa, Vi? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Rayhan. Vikram mengerjapkan mata, ia terkejut dengan pertanyaan dari ayah mertua yang sudah ada di sana. “Aku baik-baik saja, Dad.” Rayhan tidak bertanya lagi. Mereka semua beranjak ke meja makan. Vikram melihat istrinya masih terpaksa senyum pada Amber. Sebenarnya Vikram tidak pernah tahu bagaimana perasaan Cloe yang sebenarnya pada Amber, karena gadis itu tidak pernah benar-benar menceritakan dengan detail apa yang terjadi diantara mereka. “Princess, makan ini favorite kamu,” ujar Rayhan meletakan omelet buatan istrinya. “Ini kesukaan kak Amber, Dad,” ujar Cloe membuat senyum yang tercetak di bibir Rayhan luntur. “Tapi juga kesukaanku. Terima kasih sudah berusaha, Dad,” imbuh Cloe membuat ayahnya kembali tersenyum dan langsung menghampiri lantas memeluknya. “Maafkan, Daddy. Tolong beri kesempatan pada Daddy untuk memperbaikinya,” bisik Rayhan sambil terisak. Cloe mengangguk, sejujurnya ia masih kecewa. Namun, melihat usaha kedua orang tuanya yang begitu tulus membuat hatinya tersentuh. Rayhan mengurai pelukannya, ia kembali ke kursi dan memimpin makan malam ini yang terasa beda. Bahkan pria itu tidak berhenti tersenyum. Bukan hanya Rayhan saja yang senang, Amanda beserta Amber bahkan sangat senang karena akhirnya keluarga mereka kembali utuh. “Kalian menginap di sini, satu malam saja,” ujar Rayhan setelah mereka selesai makan malam. Vikram menoleh pada Cloe yang masih terlihat belum nyaman. “Lain kali saja, Dad. Aku ada sedikit pekerjaan,” ujar Vikram sambil menggenggam tangan gadis itu. “Vikram, boleh Mommy pinjam Cloe sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.” “Ya silahkan, Mom.” Amanda dan Rayhan membawa Cloe ke lantai dua, lebih tepatnya ke kamar utama. Sementara Vikram mencari Mark, tetapi tidak terlihat. Akhirnya, ia memilih untuk melihat kolam renang mencari udara, tetapi sayup-sayup mendengar seperti orang sedang berbicara. Vikram mencari sumber suara dan melihat Amber serta sepupunya sedang berbincang. Ia mengepalkan tangan saat mendengar apa yang mereka katakan. Jantungnya berdegup, rahangnya mengeras dan menggertakan giginya. Terlihat jelas matanya memerah siap menumpahkan amarahnya. “Paman, ayo kita pulang.” Vikram menoleh dan melihat Cloe sedang tersenyum dengan kedua tangannya penuh paper bag. Tanpa menjawab Vikram berjalan melewati gadis itu begitu saja tanpa sepatah kata pun. Cloe mengernyit, lantas bergegas menyusul pria itu yang kini langkah kaki lebarnya mulai meninggalkan rumah itu. “Paman, tunggu! Ada apa?” tanya Cloe menarik tangan Vikram ketika mereka tiba di dekat mobil. Vikram membuka pintu mobil. “Masuk!” perintah Vikram dingin dan datar pada gadis itu membuat bulu kuduknya meremang. Sikap Vikram kali ini lebih dingin dibandingkan seperti biasanya. Tanpa menunggu perintah dua kali Cloe langsung masuk ke dalam mobil. “Paman, tell me! Ada apa?” tanya Cloe menarik lengan kemeja ketika pria itu sudah dibalik kemudi. Vikram langsung mendorong Cloe hingga punggungnya terbentur dan tangan mencengkram rahang gadis itu. Pria itu menatap nyalang istrinya yang juga sedang menatap mata yang penuh dengan amarah. Aku kenal tatapan ini, amarah yang beberapa tahun lalu ia berikan pada musuh-musuhnya. Ada apa ini? Kenapa mendadak perasaanku tidak nyaman. Aku tidak menyangka akan mendapatkan tatapan seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN