Bab 8. Amarah Vikram

1581 Kata
Vikram mengepalkan tangan lantas menghantam cermin yang ada di dalam kamar mandi, lantas berteriak meluapkan amarah yang sempat tertahan di dalam mobil. Jika tidak ingat Cloe adalah perempuan maka ia sudah menghajar gadis itu, tetapi ketika melihat mata sayu sang istri membuat ia melepaskan cengkraman pada rahangnya. Pria itu beranjak dari depan cermin menuju shower untuk mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin. Ia meletakan kedua tangan di tembok membiarkan tubuh yang hanya mengenakan celana panjang basah kuyup. Vikram mematikan kran, kemudian keluar dari kamar mandi. Ia terkejut saat mendapati Cloe berdiri di depan pintu kamar mandi yang terhubung dengan walk in closet. “Menyingkirlah!” Cloe tetap bergeming, ia menatap lekat netra hitam yang sedang menatapnya dingin. Gadis itu bahkan tidak menyadari jika pria itu hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang. “Aku tidak mau!” Cloe tidak mau menyingkir dari hadapan suaminya membuat pria itu terlihat sangat kesal sehingga menabrak bahu kecil milik gadis itu. Vikram terus berjalan mengabaikan Cloe yang hampir saja terbentur dinding. Ia mengambil baju di lemari, tetapi terkejut karena gadis itu langsung mengambil piyama dan diberikan padanya. Pria itu hanya menatap datar dan tidak mengambil piyama tersebut, justru mengambil yang masih ada di dalam lemari. “Aku bantu pakaikan,” ujar Cloe merebut kemeja itu dari tangan Vikram membuat pria itu semakin geram sehingga mengambil paksa piyama kembali setelah itu mendorong kasar Cloe hingga menabrak kursi lantas meja kerja membuat barang-barang yang ada di atas berantakan. Vikram benar-benar tidak peduli pada gadis itu karena sekarang pria itu sedang mematut dirinya di depan cermin. “Keluarlah sebelum aku melakukan yang lebih dari ini!” ujar Vikram tanpa menoleh pada istrinya yang tengah merasa kesakitan pada pinggang dan tangannya sedikit berdarah. Cloe mengusap darah pada kening dan segera menutupnya menggunakan rambut. Gadis itu menegakkan tubuh dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Ia melihat Vikram sedang mengeringkan rambut, dengan menahan sakit pada pinggang Cloe menghampiri sang suami sambil tersenyum. “Aku sudah memasak makanan favorit, Paman,” ujar Cloe tangannya menyentuh tangan Vikram, tetapi pria itu bergegas menepisnya. “Jangan pernah menyentuhku! Bukankah kamu mengatakan jijik padaku? Kenapa sekarang perhatian?” tanya Vikram menyeringai. Pria itu tidak perlu repot menunggu jawaban dari Cloe lantas mengambil hoodie dan dengan langkah lebar meninggalkan apartemen tanpa menyentuh makanan yang sudah disiapkan oleh gadis itu. Cloe terjingkat saat Vikram menutup pintu dengan kasar, tubuhnya luruh bersandar pada ranjang king size milik suaminya. Ia berdiri dan berjalan ke meja makan menatap nanar menu yang sudah disiapkan. Tanpa berniat mengisi perut, Cloe menyimpan semua makanan itu ke dalam lemari es dan memutuskan untuk ke kamarnya. Pukul dua dini hari, Vikram masuk ke dalam apartemen yang sudah gelap. Ia berjalan menuju kamar Cloe untuk melihat apakah gadis itu telah terlelap. Dengan perlahan pintu kamar dibuka dan melihat Cloe terlelap di atas meja belajar. Pria itu hendak melangkah, tetapi diurungkan memilih kembali ke kamar tidak memindahkan gadis itu seperti biasa. Cloe yang sebenarnya hanya berpura-pura tidur menghela napas, ia yakin jika Vikram benar-benar marah. Gadis itu merasa dejavu seperti tiga tahun lalu walaupun saat itu suaminya tidak bersikap dingin, tetapi dengan susah payah Cloe mengubah Vikram supaya lebih ramah, walaupun kenyataannya tetap dingin dan bersikap ramah hanya pada keluarga dan sahabat saja. Hari ini Cloe yang harus menerima perlakuan itu. Entah sampai kapan akan berakhir karena ini baru dimulai. Keesokan paginya, Cloe tetap seperti biasa mempersiapkan sarapan meski pinggang, perut dan kening sakit. Ia tidak menyadari keberadaan Vikram yang sejak tadi memperhatikan. Sesekali gadis itu memegang perut dan pinggangnya. Vikram berjalan, kemudian meletakkan tas di kursi. Ia duduk dengan pandangan tetap memperhatikan istrinya. “Paman sudah siap? Kopinya sudah jadi, apa mau sarapan nasi goreng atau roti bakar?” tanya Cloe dengan senyuman menyembunyikan luka membuat Vikram jengah. “Duduk!” perintah Vikram dengan dagu menunjuk kursi yang berada di sampingnya. “Tapi aku sedang me-“ Cloe tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam pria itu. Ia memilih mematikan kompor dan melepas apron yang melekat pada tubuhnya. Setelah mencuci tangan, gadis itu menghampiri Vikram dengan senyum menahan sakit lantas duduk di samping sang suami. Setelah memastikan Cloe duduk, pria itu beranjak ke dapur dan mengambil kotak obat. Ia menyibakkan rambut gadis itu yang menutupi luka pada kening. Pria itu mengambil obat dan dengan telaten mengoles obat pada kening itu dan terakhir plester. “Hari ini tidak perlu ke kampus. Datanglah ke rumah sakit bersama Lexi! Jangan membantah!” perintah Vikram saat melihat Cloe hendak memotong ucapannya. Pria itu menggapai tas kemudian meninggalkan apartemen dengan Cloe menatap sendu suaminya. Cloe benar-benar merasa ada yang aneh pada Vikram, ia tidak tahu apa yang menjadi penyebab pria bertubuh atletis itu begitu marah. “Apa aku membuat kesalahan? Apa tadi malam dia menungguku terlalu lama? Tapi, biasanya kalau dia menungguku lama juga tidak masalah,” gumam Cloe. Ia membenturkan kening pada meja makan. Lexi yang melihat langsung menahannya. “Kenapa Nona, melakukan ini? Kau bisa saja terluka, apalagi keningmu sudah ditambal seperti itu,” tutur Lexi. “Ditambal? Kamu kira aku ban kendaraan!” ujar Cloe sambil mendengkus. “Untuk apa kamu ada di sini dan apa ini? Aku tidak mau jarak kita terlalu dekat seperti ini, nanti kuman yang ada pada dirimu pindah semua.” “Saya sudah mandi, Nona.” Cloe mengedikan bahu, ia pergi ke kamar dan meninggalkan Lexi, sedangkan pria itu menunggu di ruang tamu. Satu jam Lexi menunggu , tetapi gadis itu tidak kunjung keluar. Dengan sedikit memberanikan diri, asisten Vikram mengetuk pintu kamar. “Nona, apa kau sudah siap? Kita harus ke dokter!” ucap Lexi dengan sedikit berteriak. Cloe membuka pintu kamar dengan pakaian yang sudah rapi. “Berisik! Kamu kira aku tuli sampai teriak-teriak seperti itu?! Tidak sopan! Antarkan aku ke kampus!” perintah Cloe dengan ketus lantas berjalan melewati pria itu. “Tap-“ “Kalau kamu membantah nanti aku minta pada Paman Vikram supaya memecatmu, bagaimana?” Lexi melebarkan netranya, lantas ia segera membuka pintu dan mempersilahkan gadis itu keluar. Selama dalam perjalanan ke kampus Cloe terus saja menyalahkan Lexi. “Astaga, Lexi! Mobilmu bau sekali, apa kamu tidak pernah membersihkannya? Itu lihat, spionnya kotor! Ini apalagi, masa di dalam mobil ada bantal mana bau iler lagi.” Lexi hanya dapat mengusap telinganya yang sudah mulai panas mendengar suara melengking dari Cloe. Ia tidak tahu kenapa gadis itu sangat cerewet, biasanya cerewet hanya saja hari ini lebih cerewet. Pria itu berkali-kali mengusap d**a nya berusaha sabar. Jika saja Cloe bukan istri dari atasannya maka tidak akan mau mengantarkan gadis itu. “Apa?! Mau komen apa?!” tanya Cloe galak membuat Lexi menggeleng dengan cepat. Setelah Lexi mengantarkan Cloe ke kampus, ia kembali ke kantor. Ia membuka pintu saat mendengar perintah masuk dari dalam. Baru saja ia tiba di hadapan atasannya, ia terkejut saat Vikram membanting berkas. “Apa kamu bodoh, hah?! Jelas ini salah tapi kamu memberikan pada saya!” “Maaf, Tuan. Akan saya perbaiki,” cicit Lexi. “Ini juga! Kenapa mereka mau mengadakan gathering? Penjualan biasa saja tetapi ingin mengadakan gathering. Katakan pada mereka, tidak ada gathering selama beberapa bulan ke depan kecuali kalau omset bagus!” “Baik, Tuan.” “Bagus. Apa kamu sudah mengantarkan Cloe ke rumah sakit?!” tanya Vikram menatap tajam asistennya. Lexi menelan salivanya. Ia bingung harus menjawab apa, berkata jujur sudah dapat dipastikan akan terkena amarah apalagi jika berbohong, pasti semakin murka. Vikram dan Lexi sama-sama menoleh pada ponsel Vikram saat terdengar notifikasi pesan. [Aku sudah dibawa ke rumah sakit oleh Lexi. Semuanya baik-baik saja. Terima kasih sudah perhatian.] Vikram menghela napas pelan saat membaca pesan dari Cloe. “Kau boleh keluar!” Lexi langsung mengangguk dan bergegas meninggalkan ruangan atasannya. Ia bernapas lega saat sudah tiba di meja kerja. Pria itu tidak tahu apa dan siapa yang mengirim pesan, tetapi Lexi berterima kasih karena tidak mendapatkan amarah lebih lama lagi. “Bos ada apa? Kenapa semuanya marah-marah? Apa mereka bertengkar? Pasti iya, kalau tidak mana mungkin Tuan Vikram meminta aku yang mengantarkan Nona ke rumah sakit,” gumam Vikram. Sementara itu, di kampusnya, Cloe sama sekali tidak fokus mengikuti kelasnya bahkan hingga berkali-kali mendapatkan teguran dari dosen. “Cloe! Kalau kamu tidak berniat mengikuti kelas sebaiknya keluar sekarang! Jangan mengganggu temanmu yang serius belajar!” Suara dosen memberi ultimatum pada Cloe. “Thank you, Sir,” ujar Cloe lantas ia berdiri dan hendak keluar. “Tapi beasiswamu bisa dicabut!” Sialan! Kalau begitu kenapa dia menyuruhku keluar. Dasar gendut! Dengan kasar Cloe duduk di kursi karena kesal, tiba-tiba ia mengerang saat pinggangnya merasakan sakit dan nyeri.Teman-temannya panik dan penasaran dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Cloe langsung dibopong keluar dari kelas oleh salah satu mahasiswa dan dibawa ke rumah sakit yang berada di depan kampus. Teman Cloe terlihat sangat khawatir saat gadis itu mulai tidak sadarkan diri. “Tolong bantu teman saya, Dok.” “Baik, silahkan tunggu diluar ya.” Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruangan dan menghampiri pria itu. “Apa Anda keluarganya? Kami ingin melakukan CT Scan karena pasien sudah sadar tetapi mengeluhkan sakit pada pinggangnya.” Pria itu terdiam karena tidak memiliki nomor Vikram sedangkan ponsel Cloe dan tas tertinggal di kelas. “Lakukan yang terbaik, Dok, saya yang akan bertanggung jawab.” Dokter mengangguk dan memindahkan Cloe ke ruangan CT Scan. Saat teman Cloe sedang menunggu di depan ruangan, tiba-tiba ada yang datang menemuinya. Teman kelas Cloe menunduk saat tahu siapa yang datang. “Apa yang terjadi dengan Cloe?!” tanya orang itu yang tidak lain adalah Vikram dengan suara yang menggelegar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN