“Jawab! Apa yang terjadi pada Cloe?” Vikram mengulangi pertanyaannya.
“Maaf, jangan buat keributan di rumah sakit ini, Tuan. Kalau boleh tahu apa hubungan Anda dengan pasien, Tuan?” tanya dokter tersebut yang baru saja keluar karena terganggu dengan suara Vikram.
“Saya walinya! Ada masalah apa?” Vikram bertanya dengan tatapan tidak bersahabat membuat dokter sedikit ketakutan.
“Begini, pasien mengeluhkan sakit pada pinggangnya yang bengkak, kami ingin melakukan CT Scan jika Tuan tidak keberatan.”
Vikram mengernyit, ia tidak tahu jika Cloe terluka separah itu. “Ya lakukan segera. Saya tidak mau tahu is- ... maksud saya Cloe harus sembuh dan berikan pengobatan terbaik!”
Dokter kembali masuk ke dalam ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya setelah memastikan tidak ada keributan. Setelah selesai, mereka membawa Cloe ke ruang rawat inap.
Vikram menatap Cloe yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Gadis itu tengah berbicara dengan teman pria satu kelasnya yang bernama Satria. Sesekali teman Cloe melirik Vikram yang sejak tadi melipat tangan di atas perut dan terus mengawasi mereka.
“Apa Paman tidak haus? Paman bisa meninggalkan Cloe bersamaku,” ujar Satria dengan senyum terukir di bibirnya.
Vikram terlihat enggan dan tidak ada tanda-tanda pria itu ingin menjawab. Bahkan kini tatapannya berubah tajam pada Satria.
“Pamanku kuat tidak minum berhari-hari bahkan berminggu-minggu,” ujar Cloe membuat Satria terkekeh. Ia tahu gadis itu hanya bergurau.
“Apa kamu tidak ada pekerjaan selain menunggu Cloe disini? Dia tidak membutuhkanmu, anak muda! Ada saya yang akan menjaganya!”
“Jika Cloe menginginkan aku untuk pergi, maka aku akan meninggalkan ruangan ini,” putus Satria membuat Vikram melebarkan kedua bola matanya.
Cloe meringis, ia tahu suaminya itu begitu kesal pada Satria. “Pergilah, kita bisa bertemu di kampus,” ujar Cloe pada satu-satunya teman yang dimiliki gadis itu.
“Kenapa kamu menolak Lexi untuk mengantarkanmu ke rumah sakit?” tanya Vikram membuat Cloe malas menjawab dan memunggungi pria itu walaupun pinggangnya masih terasa sakit.
“Jawab, Cloe! Jangan mengabaikanku seperti ini, bukankah kau sudah tahu aku tidak suka diabaikan?”
Dengan enggan Cloe kembali telentang lantas menatap suaminya. “Suamiku Paman atau Lexi? Kalau maunya Paman aku sama Lexi ya sudah, kalau terjadi sesuatu aku langsung minta bantuan pada Lexi saja. Lagi pula dia pantas jadi pacarku, jadi bisa pamer ke kampus, tidak malu.”
Vikram mengepalkan tangan. Baru saja ia hendak menjawab ucapan Cloe, tetapi ada perawat yang memanggil dan meminta untuk datang ke ruang dokter.
“Bagaimana keadaan Cloe, Dok?”
“Apa Nona Cloe baru saja mengalami kecelakaan? Ototnya cedera, bisa sembuh tetapi memerlukan waktu.”
“Syukurlah.”
“Saran saya, Anda jangan terlalu keras pada Nona Cloe, beliau masih sangat muda. Jadi, Anda yang lebih dewasa harus lebih banyak mengalah dan pengertian,” ujar dokter tersebut membuat Vikram mengerjapkan mata.
“Eh? Apa maksud Anda, Dok?”
“Nona Cloe sudah mengatakan jika Anda adalah suami beliau. Saya mengerti, menikahi anak muda mungkin membuat Anda merasa malu dan mungkin saja ada faktor lain, tapi Anda juga harus ingat jangan mau enaknya saja. Anda harus mengerti di usia nya yang masih 19 tahun tentu gadis itu masih labil.”
“Dok, sebenarnya apa yang sedang Anda bicarakan? Jika sudah tidak ada yang ingin disampaikan lebih baik saya pergi, permisi.”
Vikram keluar dari ruangan saat merasakan ucapan dokter itu sudah mulai ngelantur. Sedangkan dokter tersebut hanya dapat tersenyum dan mengingat saat pasiennya itu menceritakan memiliki suami yang sangat dingin. Dokter itu hanya menyampaikan apa yang Cloe katakan padanya.
Satu hari Cloe dirawat, akhirnya kini ia bisa kembali ke apartemen dan merasakan ranjang empuk queen size miliknya. Ia bernapas lega tidak menghirup aroma obat-obatan itu lagi. Gadis itu meraih ponsel dan mencebik saat tidak ada satu pesan pun dari Vikram. Bahkan, pria itu tidak menjemput pulang karena sedang ada meeting.
"Ternyata lebih penting meetingnya daripada aku," gumam Cloe. Sebenarnya ia begitu penasaran apa yang membuat suaminya itu berubah dan akan mencari tahu nanti ketika sudah sembuh.
"Dua hari absen pasti sudah ketinggalan pelajaran," gumam Cloe. Ia membuka macbook hadiah dari kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu. Bukan hanya itu, gadis itu juga mendapatkan hadiah mobil dari mereka dan masih ada satu kotak lagi ia buka betapa terkejutnya Cloe saat melihat dua lingerie merah dari kakaknya.
"Kak Amber, untuk apa dia memberikanku pakaian seperti ini?" gumam Cloe lantas menggelengkan kepala kemudian menyimpan di lemari.
Cloe melihat menyingkap t-shirt dan ternyata lukanya sudah tidak bengkak seperti kemarin. Ia mengirim pesan pada Satria karena ingin meminjam catatan. Sore harinya, gadis itu bertemu dengan Satria di lobby apartemen.
"Kenapa bertemu di sini? Apa aku tidak boleh masuk ke dalam apartemen mu?" tanya Satria ketika mereka sedang duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana.
"Tidak baik dua orang lawan jenis berada di dalam satu ruangan yang sama, Sat. Cepat mana catatannya!"
Satria mendengkus saat melihat Cloe menadahkan tangan. Padahal ia masih ingin berdua dengan gadis itu. Mau tidak mau pria itu mengeluarkan catatan dan langsung memberikan pada gadis itu.
"Kamu tidak mau memberikan aku minum, Cloe? Jauh lho aku dari kampus."
"Nih! Aku tahu kamu akan berkata seperti itu setiap datang ke sini. Tidak malu minta sama cewek? Apalagi katanya kamu suka sama aku," ujar Cloe yang sudah mengulurkan minuman boba pada Satria.
Satria yang tadinya akan mengambil minuman itu segera diurungkan saat mendengar ucapan terakhir Cloe.
"Buat kamu aja, aku tahu kamu ikhlas," tutur Satria membuat Cloe tersenyum. Minuman yang tadinya buat pria itu kini diminum sendiri membuat Satria menelan ludahnya karena benar-benar haus.
"Cloe, kamu sedang apa?!"
Satria dan Cloe menoleh dan melihat Vikram dengan langkah lebar menghampirinya. Satria yang melihat wajah Vikram tidak bersahabat bergegas pamit pada sahabatnya dan meninggalkan Cloe.
"Paman sudah pulang? Aku pikir akan menginap di kantor," ujar Cloe santai.
meninggalkan Vikram yang masih menatap kepergian Satria.
Pria itu mengabaikan pertanyaan Cloe dan mengekori gadis itu menuju unitnya. Selama dalam perjalanan tidak ada yang berbicara satu sama lain dan Cleo tidak mempermasalahkan itu.
"Makan dulu sebelum ke kamar!" perintah Vikram ketika mereka sampai.
"Aku belum lapar, Paman."
Vikram langsung mencekal tangan Cloe dan mendudukan dengan pelan perempuan itu di kursi. Ia membuka makanan yang ia beli dari restoran kesukaan gadis itu.
"Makanlah! Setelah itu minum obatnya."
Vikram meninggalkan Cloe yang menatap pria itu dengan kesal. Gadis itu meraih sendok dan menyuapkan makanan itu hingga tandas tak tersisa karena ia tidak suka membuang makanan.
Satu jam lebih Cloe menunggu Vikram keluar dari kamar, tetapi sia-sia karena pria itu tidak kunjung keluar. Akhirnya, ia masuk ke dalam kamar.
Dengan langkah berat Vikram keluar dari kamar pada pukul sebelas malam. Ia menuangkan air minum dan langsung menenggaknya. Setelah pulang dari kantor, memang pria itu langsung melanjutkan pekerjaan karena sempat tertunda dan harus selesai malam ini karena besok libur weekend.
"Lapar sekali," gumam Vikram. Ia membuka lemari es bermaksud untuk masak, tetapi netra hitamnya melihat kotak bekal dengan sebuah kertas di tutup tersebut.
"Hey, Pak Tua! Makanlah atau kau akan mati besok!"
Vikram menarik satu sudut bibir membuat sebuah senyuman tipis. Ia yakin jika sebelum Cloe masuk ke kamar sendiri, gadis itu mengintip ke kamarnya terlebih dahulu seperti biasa. Vikram menghangatkan makanan yang sudah dibuat oleh Cloe dan memakannya.
Setelah makan malam, Vikram memilih duduk di balkon mencari udara supaya lebih segar. Ia memejamkan matanya, tiba-tiba ia teringat akan ucapan Mark dan Amber.
"Apa kamu yakin jika Cloe menjebak Vikram saat kedatangan Daddy?" tanya Mark pada istrinya saat mereka sedang berada di dekat kolam renang dan tidak mengetahui jika tidak jauh dari keberadaanya ada Vikram sedang berdiri di sana.
"Daddy mengatakan seperti itu. Awalnya Daddy tidak menyadari, tapi setelah pernikahan mereka berlangsung daddy baru mengingat Cloe yang meminta Mommy dan Daddy untuk datang ke apartemen malam itu. Bahkan Cloe memberitahukan pada mereka password apartemennya karena takut saat Mommy dan Daddy datang Cloe atau Vikram belum pulang," terang Amber yang saat itu sedang bersandar pada bahu suaminya.
"Untuk apa tujuannya? Mungkinkah Cloe menyukai Vikram?"
Amber mengedikan bahu. "Kita akan tahu setelah bertanya pada Cloe."
Vikram menghela napas, ia tidak seharusnya semarah itu pada Cloe, terlebih sampai membuat gadis itu celaka. Namun, ia juga tidak membenarkan cara Cloe yang menjebaknya sehingga masuk ke dalam pernikahan tanpa cinta.
Vikram menyayangi gadis itu tetapi bukan sebagai wanita, melainkan sebagai adik. Ia yang hanya sebatang kara terlepas adanya Mark, Vikram merasa terhibur dengan kedatangan Cloe. Bahkan ketika Cloe sering mencium pipi pun ia hanya menganggap sebagai ungkapan kasih sayang gadis itu pada saudaranya.
Vikram menatap langit yang cerah dan penuh dengan bintang. Ia mengambil ponsel dari kantong celana dan melihat asisten menelponnya.
"Ya."
"Tuan, kita harus ke India, ada penyusup di rumah mendiang kedua orang tua Anda."
"Cari penerbangan paling awal, Lex."
"Apa tidak masalah Anda meninggalkan Nona Cloe?" tanya Lexi dengan hati-hati.
"Dia pasti akan baik-baik saja."
"Baik, Tuan. Penerbangan tercepat dua jam dari sekarang."
"Bagus."
Vikram segera masuk ke dalam dan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya. Tanpa membawa pakaian ganti, Vikram sudah bersiap pergi ke India. Ketika di depan pintu, pria itu menghentikan langkah dan memutuskan ke kamar Cloe.
Vikram menatap Cloe yang terlihat tidur sangat nyenyak. Ia membenarkan selimut gadis itu. Pada saat akan keluar, tiba-tiba Cloe menahan lengannya.
"Jangan pergi."
Vikram menoleh dan ternyata gadis itu masih terpejam. Ia menarik sudut bibirnya saat melihat sang istri mengigau.
"Dasar bocah!"
Cloe yang sebenarnya terbangun menatap nanar pria yang sudah keluar dari kamar. ia tahu jika Vikram sudah pulang ke India maka akan memakan waktu lebih satu hari seolah lupa dengan Indonesia. ia memilih untuk memejamkan mata dan kembali terlelap.
Sudah hampir satu bulan Vikram ke India tetapi pria itu belum kunjung pulang, bahkan pesan dari Cloe diabaikan. Gadis itu menjadi khawatir karena tidak biasanya seperti itu, tetapi untuk menyusul pun percuma.
Cloe berjalan dengan lemas melewati ruko-ruko tanpa arah dan tujuan. Saat ia tiba di depan sebuah cafe, Cloe melihat sebuah tulisan info pekerja paruh waktu.
"Permisi, Mbak. Apa benar di sini membutuhkan pekerja part time?"
"Benar, Mbak. Jika kamu mau bisa mendaftar pada manager di dalam."
Cloe mengangguk, lantas mulai mendaftar. Setelah mengikuti wawancara, ia diterima dan akan bekerja mulai nanti malam.
Gadis itu sangat senang karena dapat bekerja untuk mengusir rasa sepi semenjak kepergian Vikram. ia masih bertanya-tanya apakah pria itu sengaja menghindar atau ada hal lain.
"Oke, pertama, aku akan mencari tahu apa yang membuat Paman berubah."
Cloe masuk ke dalam kamar Vikram mencari suatu petunjuk tetapi tidak menemukan, bahkan hingga ia masuk ke dalam walk in closet karena meja kerja Vikram ada di sana.
Gadis itu mendesah kecewa saat tidak berhasil menemukan petunjuk. Ia keluar kamar Vikram dengan tangan kosong.
Cloe memilih pergi ke cafe karena sudah sore. Saat dalam perjalanan terlintas ide untuk mendapatkan petunjuk perihal kemarahan Vikram.
"Ya, aku yakin ini cara paling ampuh," gumam Cloe.
Gadis itu sudah siap bekerja menggunakan seragam t-shirt hitam dengan rambut cepol serta topi hitam. Ia tersenyum dan dengan semangat menyambut tamu serta melayani tamu.
"Iya." Cloe mengangkat tangan saat ada tamu yang memanggil.
"Mau pesan apa, Kak,?" tanya Cloe yang sudah mengeluarkan ponsel untuk mencatat pesanan pengunjung.
Ini bukan pertama kali Cloe bekerja, tentu gadis itu sudah paham walaupun hanya sekali dijelaskan oleh seniornya. Setelah mencatat semua pesanan, Cloe mengirimkan pada masing-masing divisi.
"Cloe tolong antarkan minuman ini ke meja satu ya, aku mau ke toilet dulu."
"Baik, Kak."
Cloe mengantarkan minuman sesuai mejanya. Namun, baru saja ia tiba di sana, ada perempuan baru datang mengambil minum yang berada di nampan disiramkan pada perempuan yang sedang duduk, tetapi perempuan yang sedak duduk berhasil menghindar sehingga Cloe yang berada di sebelahnya terkena air tersebut.
Sial! Hari pertama apes banget.
Cloe mengusap wajah menggunakan tisu yang ada di meja. Rasanya ia ingin mengumpat, tetapi ini hari pertama kerja. Gadis itu hanya dapat menghela napas apalagi menjadi pusat perhatian.
Cloe meninggalkan meja tersebut dengan hati dongkol. Namun, saat baru satu langkah ia menjauh, gadis itu mendengar pertengkaran mereka dan mengetahui fakta bahwa yang menyiramnya adalah pelakor.
Sudah Cloe jangan ikut campur.
Cloe berniat melanjutkan langkah kakinya, tetapi akhirnya ia memilih berputar mengambil minuman yang berada di meja tamu lantas langsung menyiramkan pada tamu yang sudah membuatnya basah.
Tamu tersebut tentu terkejut dan mengumpat pada Cloe.
"Apa?! Kamu pikir mulut sampah mu itu membuatku takut? Big no! Kamu, wanita sampah memang tidak tahu malu menemui dan marah-marah pada istri sah kekasihmu!" ujar Cloe sambil menunjuk perempuan itu.
"Sudah, Nak. Saya tidak masalah, biarkan dia yang mendapatkan karmanya."
"Cewek sialan!"
Hampir saja Cloe ditarik rambutnya, tetapi ia menendang tulang kering dan mereka berdua beradu kekuatan.
"Cloe, kamu baik-baik saja?"
Suara rekan kerja Cloe menyadarkannya dan ia bernapas lega saat menyadari itu semua hanya ada dalam imajinasi saja.
"Iya aku baik-baik saja, tapi baju aku basah."
"Akan aku ambilkan yang baru," ujar rekan kerja gadis itu.
Setelah kejadian hari itu, Cloe berusaha hati-hati jika ada yang datang ia ke meja yang dilayaninya maka gadis itu akan bersikap waspada.
Sudah satu minggu Cloe bekerja di cafe, tetapi Vikram belum pulang. Cloe terpaksa menggunakan uang yang tabungannya untuk belanja bulanan serta membayar keperluan lainnya.
"Cloe, kampus akan mengadakan Camp di Bandung, kamu mau ikut?" tanya salah satu teman Cloe.
"Kapan?"
"Belum ditentukan, kalau banyak yang ikut kita ajukan proposal."
"Aku pikir-pikir dulu deh. Pamanku sedang tidak ada di rumah dan aku harus izin padanya," kilah Cloe padahal jika mau ia dapat pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu seperti biasanya.
"Tumben kamu minta izin dulu?" tanya Satria yang sudah berada di dekatnya sejak tadi.
"Aku sedang tidak mood untuk pergi."
Satria tidak bertanya lagi. Mereka berdua keluar dari kampus dan memilih untuk mengerjakan tugas di cafe dekat dengan apartemen Cloe. Satria melihat ada perubahan dalam diri gadis itu satu bulan ini dan ia yakin ada hubungannya dengan Vikram.
"Bagaimana kalau kita lihat sunset?" tawar Satria membuat Cloe yang sejak tadi fokus pada macbook kini menoleh.
"Sekarang?"
"Nanti sore setelah mengerjakan tugas, Cloe. Sekarang mana ada sunset di siang bolong."
Satria terkekeh melihat wajah polos Cloe.
Sesuai janji Satria, ia membawa Cloe ke sebuah pantai di Jakarta Utara untuk melihat sunset. Mereka berdiri di sebuah jembatan. Semilir angin laut menerpa wajah mereka membuat rambut Cloe yang diikat asal kini beterbangan.
Tangan Satria terulur untuk merapikan rambut tersebut membuat mata mereka saling bertemu. Tanpa sadar Satria mendekatkan wajah pada gadis yang sudah mencuri hatinya.
"Sat, mau apa?"
Satria yang tersadar langsung menjauhkan wajahnya.
"Sorry, Cloe, aku tidak bermaksud kurang ajar sama kamu."
"Jangan diulangi lagi."
Setelah melihat sunset, Cloe meminta diantarkan pulang pada Satria. Saat tiba di depan lobby, Cloe terkejut karena Vikram sudah berdiri di depan sana dengan tangan terlipat seperti biasa.
Cloe menyuruh Satria supaya cepat pergi dari sana. Ia tersenyum pada pria itu yang tengah menatap tajam.
"Sudah puas kamu berduaan dengannya?!" tanya Vikram menatap tajam mengintimidasi sang istri.
"Belum." Jawaban dari Cloe membuat Vikram menurunkan kedua tangannya.