Vikram melemparkan beberapa foto ke meja tepat di depan Cloe. Ia melipat tangan dan meminta penjelasan pada gadis itu. Selama pria itu pergi ke India, ada beberapa anak buahnya yang mengawasi Cloe.
Cloe mengambil lembaran foto-foto saat ia bekerja dan bersama dengan Satria. Tidak hanya itu, saat berlari pagi dan masuk ke dalam apartemen pun ada di sana.
“Astaga! Ini banyak sekali, Paman. Apa setiap hari ada yang menguntit ku? Bahkan sangat detil setiap hari selama kamu pergi ke India. Kenapa tidak sekalian saat aku makan, dan saat mandi di foto?”
Vikram melebarkan kedua bola matanya. “Kenapa kamu bekerja, Cloe? Apa uang kamu sudah habis?!”
“Kenapa aku tidak boleh bekerja? Hanya malam hari itu juga cuma sebentar dari pada memikirkan seseorang yang pergi tanpa berpamitan!” ketus Cloe yang memang kesal dengan suaminya. “Apa sebesar ini tidak terlihat sehingga kamu tidak menganggap ada,” lirih Cloe.
Vikram berdehem. “Saya tidak mau tahu kamu harus keluar dari cafe itu!”
“Saya? Sejak kapan Paman berbicara denganku menggunakan ‘saya’?!” tanya Cloe menatap nyalang Vikram, tetapi pria itu tidak berniat menjawabnya.
“Oke, kalau Paman tidak mau menjawab, aku juga tidak akan keluar dari cafe.”
Cloe beranjak dan masuk ke dalam kamar Vikram. Pria itu yang menyadari jika gadis itu bukan masuk ke kamarnya sendiri bergegas menyusul dan melihat perempuan itu sudah terbaring di atas ranjang.
“Kenapa kamu tidur di ranjangku, Cloe?!” teriak Vikram dengan suara yang menggelegar.
“Paman! Apa salah seorang istri tidur satu ranjang dengan suaminya? Justru aneh kalau tidur terpisah. Bukankah seharusnya Paman lebih paham soal ini?”
Cloe kembali memunggungi Vikram dan menutup kepala menggunakan selimut. Cloe terkejut saat merasa tubuhnya terbang, ia membuka selimut dan ternyata Vikram yang mengangkat lantas keluar dari kamar. Pria itu melempar Cloe ke atas ranjang membuat gadis itu terpekik.
“Kenapa Paman kasar sekali?!” tanya gadis itu sambil meringis.
“Itu karena kamu ngeyel. Jangan ulangi lagi, saya tidak suka!” Vikram berlalu meninggalkan Cloe, tetapi pada saat hendak membuka pintu gadis itu kembali memanggilnya.
“Paman! Kenapa sekarang berubah seperti ini? Apa salahku?! Katakan apa salahku, Paman?!” pekik Cloe yang sudah tidak tahan dengan perubahan suaminya.
Vikram terdiam. “Inilah sifatku yang asli!” ucapnya tanpa menoleh pada Cloe.
Cloe mengusap rambutnya dengan kasar karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Sementara itu, di luar Vikram bersandar pada daun pintu kamar Cloe. Ia mengepalkan tangan, lagi-lagi emosinya tidak dapat ditahan. Pria itu memutuskan untuk beristirahat karena cukup lelah setelah melalui perjalanan yang cukup jauh.
Baru saja Vikram terlelap, ia merasakan ranjang bergerak. Betapa terkejutnya saat membuka mata, Cloe sudah berada di samping dengan senyuman menghiasai wajah gadis itu. Pria itu langsung duduk dan menatap tajam istrinya.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Cloe?” tanya Vikram tidak percaya karena gadis itu sangat nekat.
“Apa lagi selain tidur di sini?” Cloe langsung merebahkan tubuhnya dengan senyum masih menghiasi bibir tipis itu.
Vikram turun lantas membuka pintu, tetapi dikunci. Pria itu menoleh pada Cloe yang saat ini sedang menopang kepala menggunakan tangan kanannya memperlihatkan kunci pintu kamar tersebut.
“Apa kau sudah berubah menjadi w*************a? Apa kamu memang w************n?!”
Cloe masih senantiasa tersenyum pada Vikram, ia tidak marah dengan ucapan suaminya.
“Paman yang tahu bagaimana aku sebenarnya. Tunggu, apa artinya Paman tergoda? Ayolah Paman, aku hanya mengenakan piyama biasa. Bagaimana kalau aku mengenakan lingerie?”
Vikram melebarkan kedua bola matanya. “Jangan pernah kau mengenakan pakaian kurang bahan itu!”
“Apa Paman takut tergoda?” tanya Cloe ketika Vikram sudah kembali merebahkan tubuh memunggunginya.
“Really? Tergoda sama kamu? Dengar baik-baik, Cloe! Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai seorang wanita dewasa. Aku melihat mu sebagai anak kecil, jadi aku menganggap kamu hanya sebagai keponakan saja tidak lebih!” ucap Vikram dengan kesal bahkan tetap memunggungi Cloe.
Gadis itu hanya tersenyum kecut. Ia kini telentang menatap langit-langit kamar, terkadang menoleh pada pria yang tengah memunggunginya.
“Baiklah kalau itu mau Paman. Jadi, tidak masalah kalau kita tidur satu ranjang, toh Paman hanya menganggap anak kecil. Selamat malam, Paman.”
Vikram tidak menanggapi sama sekali. Mata masih terbuka, tetapi lidahnya kelu untuk menjawab ucapan Cloe.
Sinar mentari mulai masuk ke dalam kamar saat Vikram terjaga. Ia melihat jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Pria itu menoleh dan tidak menemukan Cloe di samping, bahkan tempatnya sangat rapi.
“Kemana dia? Bukankah ini weekend?” gumam Vikram.
Pria itu mulai meregangkan tubuh, lantas keluar dari kamar. Namun, apartemennya begitu sepi, biasanya Cloe akan sibuk di dapur saat pagi weekend seperti ini. Vikram memutuskan mengambil air dari lemari es. Netranya menangkap makanan di atas meja makan ketika ia baru selesai minum.
‘Happy Weekend, jangan lupa sarapan salad ini supaya tidak darah tinggi dan marah-marah terus.’
Vikram menarik satu sudut bibir saat membaca pesan yang tertulis di kertas. Ia beralih mengambil dessert coklat box dan membaca tulisan yang ada di atasnya.
‘Makan yang manis juga supaya Paman tidak berkata pedas lagi. Tidak pantas Paman berkata pedas, karena cuma aku yang pantas.’
“Memangnya hanya dia saja yang boleh berkata pedas?” gumam Vikram lantas menggelengkan kepala.
Vikram menyimpan makanan tersebut karena ingin membersihkan tubuh terlebih dahulu. Setelah selesai, Ia kembali ke meja makan dan masih tidak menemukan Cloe. Ia bahkan menghubungi ponsel gadis itu, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
Vikram: Apa kalian melihat Cloe?
Darso: Tidak, Bos. Kami baru saja berjaga.
Vikram mengumpat, lantas menghubungi anak buahnya.
“Darso! Bagaimana bisa kau baru berjaga?! “
“Ya sabar, Bos. Kan saya baru masuk. Kan tahu sendiri saya baru pulang bersama Bos tadi malam.”
“Ck! Ya sudah, cepat cari tahu di mana Cloe!”
“Siap.”
Vikram meletakkan ponsel di atas meja dan mengambil sendok mulai menyuapkan sarapannya. Sudah satu bulan lebih pria itu tidak merasakan masakan sang istri dan ia menyadari begitu merindukannya.
“Makan masakannya mau, tapi saat bertemu, Paman seolah sangat membenciku!”
Cloe yang muncul tiba-tiba dari belakang membuat pria itu terkejut dan tersedak.
“Pelan-pelan saja, Paman. Aku tidak akan memintanya.”
Vikram membersihkan mulut menggunakan tisu setelah minum air putih, sedangkan Cloe menepuk pelan tengkuk pria itu.
"Sudah, Cloe! Tepukanmu tidak enak!"
Cloe mencebik, "bukan tidak enak. Tapi tulang Paman yang keras karena udah tua!"
Vikram menarik gadis itu hingga duduk di pangkuannya. Ia merapikan rambut Cloe dan meletakkan di belakang telinga. Pria itu mendekatkan wajah membuat jantung Cloe berdebar-debar untuk yang pertama kalinya.
"Aku baru tahu, queen of cleanliness bau asam."
Cloe beranjak dari pangkuan Vikram, ia mengendus bau tubuhnya sendiri. Bibirnya kembali mencebik.
"Wangi begini dibilang bau asam! Paman perlu ke THT."
Cloe meninggalkan Vikram yang mengedikan bahu. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuh setelah lari pagi.
Setelah selesai, gadis itu mengeringkan rambut dan memeriksa ponsel dan melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Vikram.
"Cih! Pria itu! Bertingkah menghindari ku tetapi sebenarnya masih perhatian."
Cloe keluar dari kamar menggunakan hotpant dan kaos over size. Ia duduk di samping suaminya yang sedang fokus pada macbook.
"Paman, aku boleh belajar mobil?" tanya Cloe dengan suara lembut dan senyum terpancar dari wajahnya.
Vikram mengernyit lantas menoleh pada gadis itu. "Untuk apa? Kau bisa diantar jemput oleh Lexi atau Darso."
Vikram kembali fokus pada macbook, sedangkan Cloe mengerucutkan bibir.
"Aku cu-"
"Tidak boleh, Cloe. Saya tidak suka dibantah!"
Cloe bangun, kemudian menghentakkan kaki masuk ke dalam kamar gadis itu. Tidak lama keluar menggunakan celana jeans dan kemeja serta rambut ikat satu di belakang. Tanpa berpamitan pada Vikram gadis itu keluar dari apartemen.
Cloe kembali membuka pintu saat merasa Vikram tidak menahannya. Ia sedikit kecewa karena tidak biasa pria itu membiarkan pergi.
"Ooh aku tahu, karena sekarang dia mengandalkan anak buah makannya membiarkan begitu saja saat aku pergi. Oke, fine! Sampai mana dia akan mengabaikan ku."
Cloe berjalan keluar dari gedung untuk bekerja di cafe. Ia yang sudah melihat Darso, lantas memanggil pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Vikram.
"Ya, Mbak, ada apa?"
"Om, jangan kasih tahu kalau aku mau ke cafe ya. Abis ini Om pasti mau laporan sama Paman kan?"
"Lha, terus gimana saya laporannya?"
Cloe mengambil ponsel Darso dan meminta untuk dibuka password nya. Setelah itu ia ber-swafoto menggunakan ponsel pria itu lantas dikirimkan pada Vikram.
Cloe: Aku mau jalan-jalan, Paman. Bye.
Darso menelan ludahnya kasar, karena ia yakin setelah ini pasti akan mendapatkan masalah. Ia membuka pintu mobil dan mengantarkan Cloe ke cafe. Setelah tiba di depan cafe, gadis itu kembali meminjam ponsel Darso, tetapi pria itu tidak memberikannya karena takut terkena masalah.
Sementara itu, Vikram melebarkan matanya saat melihat foto yang dikirimkan oleh Darso yang ia yakini pelakunya adalah Cloe.
"Awas kamu, Cloe!" geram Vikram lantas pria itu beranjak dari duduk mengambil hoodie serta kunci mobilnya.