Bab 11. Rain

1170 Kata
“Cloe, kamu dipanggil meja nomor sepuluh.” Cloe yang baru saja selesai mengantarkan pesanan tamu menghela napas kasar karena cafe siang ini sangat ramai. Ia menghampiri meja sepuluh dengan wajah sedikit kecut. “Selamat siang, Tuan. Mau pesan apa?” tanya Cloe pada pria yang duduk dengan wajah tertutup koran. “Memang masih zaman, Tuan, membaca koran? Bukankah sekarang sudah modern, kau dapat mengakses e-news untuk mendapatkan berita?” imbuh Cloe menatap pria itu dengan malas karena tamu tersebut tidak kunjung bersuara padahal suasana cafe sangat ramai dan tentu ia memiliki banyak pekerjaan. “Begitu menurut pandangan Anda, Nona Cloe?” Tubuh Cloe menegang saat mendengar suara itu, suara yang yang ia kenali. Pria itu menurunkan koran dan melipat serta meletakkannya di atas meja. “Paman, apa yang kau lakukan disini?!” tanya Cloe saat mengetahui jika pria itu adalah Vikram. “Kenapa kamu balik bertanya?” Cloe menggaruk kepala, ia terkejut dengan kedatangan Vikram di sana. Gadis itu tidak tahu ada motif apa suaminya datang ke cafe, selain itu juga sedikit takut jika pria itu akan menyeretnya keluar. “E-news lebih simple, Paman. Selain itu juga menyediakan audio visual jadi kita hanya perlu mendengarkan saja.” “Itu untuk orang yang malas membaca seperti kamu. E-news lebih beresiko menyajikan berita hoax.” Cloe mencebik, “Paman mau pesan apa? Di sini sangat rame cepetan pesan!” “Cloe, apa kamu tidak bersikap sopan pada semua tamu atau hanya padaku saja?! Aku adalah tamu, sudah seharusnya kamu melayaniku.” “Makannya jangan lama-lama.” Vikram menghela napas, lantas pria itu membuka buku menu dan memesan coffe latte pada Cloe. Gadis itu meninggalkan Vikram yang memilih membuka macbook sambil mengawasi istrinya. Pria itu menghela napas saat mengingat beberapa hari yang lalu Rayhan menghubungi dan menyalahkan karena Cloe bekerja di cafe. Akhirnya, Vikram menjelaskan jika sedang berada di India sehingga tidak mengetahui apa yang dilakukan gadis bermulut pedas itu. Vikram mengernyit saat ada pelayan mengantarkan minuman bukan coffe latte melainkan americano. “Ini bukan pesanan saya.” “Cloe mengatakan Anda harus membaca tulisan yang ada di bawah cangkir ini, Tuan.” Setelah pelayan itu pergi, Vikram mengambil kertas yang ada di bawah sana lantas membacanya. “Hey, Paman bodoh! Nikmati saja kopi ini dan jangan memesan sesuatu yang tidak kau sukai. Dasar, Pak Tua!” Vikram mendengkus, ia meremas kertas tersebut lanas menoleh pada Cloe yang saat ini sedang menjulurkan lidah. “Dasar bocah, kalau sudah tahu aku hanya bisa minum kopi hitam kenapa masih bertanya,” gumam Vikram. Vikram menunggu Cloe hingga pukul dua siang, tetapi gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Ponselnya pun tidak dapat dihubungi. Vikram memutuskan keluar dari cafe karena sudah terlalu lama di sana dan sudah menghabiskan tiga cangkir kopi, jika menambah maka dapat dipastikan asam lambung akan naik. Sementara itu, di dalam cafe, Cloe sedang beristirahat. Ia mengambil ponsel dan ternyata habis baterai. Gadis itu sengaja tidak mengisi baterai karena tidak ingin mereka tahu ponsel yang digunakan mahal harganya. “Cloe, siapa pria yang menunggumu di meja tadi? Apa dia keluargamu?” tanya Santi, karyawan cafe itu. “Dia Paman ku.” “Sepertinya orang kaya, kamu kenapa kerja di cafe?” “Aku membutuhkan uang untuk kuliah,” kilah Cloe. Beruntung Santi tidak bertanya lagi, ia menghela napas. Rasanya tidak nyaman jika harus terus berbohong. Namun, semua yang kenal dengan Cloe juga tahu jika Vikram adalah Paman bukan suaminya. Pukul empat Cloe keluar dari cafe dan menunggu Darso untuk menjemput di halte. Gadis itu mengusap lengan saat merasakan dinginnya hembusan angin. Langit mulai tertutup awan hitam, daun beterbangan. Gadis itu menyesal karena tidak mengenakan jaket yang tebal. Ia juga merutuki dirinya sendiri karena ponselnya kehabisan daya. Suasana di halte terlihat sangat sepi. Hanya ada dua orang saja, ia dan satu orang pria berbadan besar dan memiliki sedikit rambut yang tumbuh di rahang, jangan lupakan kepala yang polos tanpa ada hambatan seperti bola lampu. Cloe tersentak saat terdengar suara petir menggelegar disusul dengan derasnya air hujan membasahi kota Jakarta. Gadis itu sedikit mundur supaya tidak terkena cipratan air saat kendaraan melintas. Dengan sedikit takut ia melirik pria yang berjarak dua meter darinya. “Apa kau mulai tertarik pada pria seperti itu?” Coe terkejut saat mendapatkan bisikan di telinga. Ia menoleh dan melihat Vikram sangat dekat dengannya. “Paman, kau membuatku terkejut!” ucap Cloe hampir saja berteriak. Vikram menegakkan badannya dan memberikan sebuah jaket pada Cloe. “Kau yang melamun kenapa aku yang disalahkan! Ayo cepat kita ke mobil sebelum kamu basah kuyup.” Cloe mencebik, tapi tetap mengikuti suaminya dan berdiri di samping pria yang memegang payung untuk mereka berdua. “Kau sudah mirip bodyguard ku, Paman,” ujar Cloe melihat Vikram yang tingginya hampir sama dengannya. “Jangan jauh-jauh atau tubuh kecilmu akan terbawa angin!” “Memangnya aku sekecil itu?” tanya Cloe dengan bibir sudah seperti bebek. “Hm.” Vikram membuka pintu dan menyuruh sang istri yang sedang merajuk untuk masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Cloe masuk, dengan segera ia menyusul. Cloe yang melihat rambut pria itu terkena air hujan berinisiatif mengusap menggunakan tangan sekaligus menyisir. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, tetapi perlakuan gadis itu kali ini membuat Vikram terdiam dan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. “Selesai. Ternyata Paman lebih tampan kalau tatanan rambutnya seperti ini. Oh ya, bagaimana kalau Paman menjadi brand Ambassador V-Power? Kan lumayan, tidak perlu mencari model lagi dan keluar uang banyak. Bisa lebih hemat,” ujar Cloe sambil tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya. Vikram sudah menebak kemana arah dan tujuan ucapan istrinya yang tidak lain adalah urusan uang. “Aku tidak berbakat menjadi model. Selain itu, memang harus menggunakan model supaya profesional pekerjaan dan jelas perhitungannya.” “Kalau begitu aku saja yang menjadi model bersama dengan Paman terus dibayar. Sama saja, bukan?” Vikram mendengus lantas menggelengkan kepala. Ia akhirnya mengemudikan mobil, tetapi ekor mata sesekali melirik Cloe yang sedang menghitung jari dengan wajah yang berbinar. Pria itu yakin jika sang istri saat ini berkhayal dan sedang menghitung uang. “Cloe, mulai besok kau keluar dari cafe! Aku sudah mengatakan pada manager cafe kalau kau tidak dapat bekerja lagi.” Cloe langsung menoleh pada Vikram dan menatap tidak suka. Pria itu berani memutuskan secara sebelah pihak, bahkan ia sudah menyuarakan keberatan, tetapi Vikram memaksa. “Kenapa Paman bersikeras?!” tanya Cloe dengan ketus. “Daddy marah padaku saat tahu kau bekerja di cafe. Bahkan selama di India setiap hari menerorku supaya pulang dan membujukmu untuk tidak bekerja karena beliau tidak tega melihat kau bekerja. Jadi, menurutlah dan jangan menambah beban pekerjaanku.” Mata Cloe berkaca-kaca, ia membuang muka karena tidak ingin Vikram melihat air matanya. “Turunkan aku!” Vikram menoleh, tetapi masih mengemudikan mobilnya. “Turunkan aku sekarang, Tuan Vikram!” desis Cloe dengan suara serak membuat Vikram mau tidak mau menepikan mobilnya. Cloe membuka safety belt, lantas keluar dari mobil menerobos derasnya hujan angin. “s**t!” umpat Vikram menyugar rambutnya. Ia hendak turun, tetapi mobil di belakang terus membunyikan klakson sehingga pria itu mengurungkan niatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN