Vikram membuka pintu apartemen dan ruangan sudah terang. Ia menghela napas merasa lega karena istrinya pasti sudah pulang. Pria itu berjalan ke kamar, tetapi tidak menemukan Cloe di sana. Pintu kamar ditutup kembali, lantas Vikram berjalan membuka pintu kamar gadis itu.
“Terkunci,” gumam Vikram. “Cloe, kau di dalam? Buka pintunya, aku ingin bicara!” teriak Vikram sambil mengetuk pintu dari luar.
Tiga kali pintu diketuk, tetapi gadis itu tidak bersuara apalagi membuka pintu kamarnya. Vikram bersandar pada daun pintu lantas memejamkan mata. Ia tahu ucapannya sudah menyakiti hati Cloe, tetapi pria itu berbicara yang sesungguhnya. Hanya saja sedikit kelewatan, gadis itu tidak benar-benar menjadi beban justru jika tidak ada Cloe akan terasa sepi. Vikram berkata seperti itu karena kesal pada sang istri.
“Cloe! Kau pikir aku tidak bisa membuka dari luar, hah?” Vikram berteriak, sejujurnya ia hanya takut akan terjadi sesuatu pada gadis itu.
Vikram membuka laci mengambil kunci cadangan, tetapi tidak ada. Ia yakin jika gadis itu telah mempersiapkannya. Pria bermata hitam itu kembali mengetuk pintu, kali ini lebih keras dan menjadi gedoran di pintu membuat pemilik kamar terusik.
Vikram sedikit mundur saat mendengar suara kunci dibuka dari dalam dan terlihat Cloe menyembulkan kepala.
“Enyahlah, Paman. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!”
Cloe hendak menutup pintu kamar, tetapi Vikram langsung masuk paksa ke dalam kamar gadis itu membuat Cloe terkejut. Vikram langsung duduk di atas ranjang sang istri.
“Untuk apa Paman kemari? Keluarlah!” Cloe menunjuk pintu mengusir suami dari kamarnya. Ia begitu geram terlebih saat ini pria itu beranjak dan membongkar semua isi koper yang sudah disusun rapi.
“Kau mau kemana membawa semua barang-barang ini?!” tanya Vikram setelah membongkar semuanya.
“Aku akan pergi dari apartemen ini besok! Bukankah aku hanya menjadi beban untuk Paman?” ucap Cloe.
Vikram menatap gadis itu yang tengah menunduk. Ia mendekati gadis itu lantas memegang dagu runcing supaya menatapnya.
“Masukan kembali pakaian ke lemari. Kalau kau pergi dari sini akan semakin menambah beban untukku!”
Cloe tergelak, ia kira pria itu akan mengatakan hal manis untuk membujuknya. Tetapi ia salah, Vikram tidak repot-repot membujuk karena pria itu ahli mendikte dan selalu memaksa sesuai keinginannya.
“Dasar Paman suami durhaka!” pekik Cloe memukul d**a bidang pria itu.
“Yang durhaka itu kamu! Tidak mau menuruti ucapan suami mu sendiri! Aku tidak mau melihat barang-barang itu berserakan di atas ranjang. Cepat masukan ke dalam lemari, aku tunggu di sini!”
Vikram hendak duduk di kursi, tetapi lengannya ditahan oleh Cloe. Pria itu menoleh dan melihat istrinya sedang mencebik, bahkan kini bertolak pinggang.
“Bukankah Paman yang membongkar semua barang-barangku?! Apa Paman tipe laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan lari dari masalah? Aku tidak mau tahu Paman harus bereskan semua barang-barang itu kembali ke lemari!”
Vikram tergelak, ia tidak suka jika Cloe berani menyuruhnya. “Kau berani memerintahku?”
“Aku tidak peduli!” ketus Cloe menatap tajam suaminya.
Vikram berjalan maju membuat Cloe mau tidak mau bergerak mundur. Gadis itu menurunkan kedua tangan dan manahan d**a suaminya yang sudah mengikis jarak mereka.
“P-Paman mau ngapain? Kalau begitu aku akan susun sendiri,” ujar Cloe tergagap karena jantungnya berdetak lebih saat berdua dengan suaminya.
“Padahal aku ingin menyusunnya, tapi karena kamu tidak keberatan menyusun sendiri maka lebih baik aku kembali ke kamar saja.”
Ucapan Vikram membuat Cloe mengerjapkan mata, saat ia tersadar pintu sudah ditutup dan pria itu sudah kembali ke kamar.
“Vikram sialan!” umpat Cloe.
Dengan kesal gadis itu merapikan kembali pakaian yang berantakan ulah Vikram. Ia merutuki kebodohannya karena membuka pintu kamar.
Seharusnya aku tidak membukanya. Biarkan besok pagi dia mendobrak dan mengetahui aku sudah tidak ada di apartemen ini.
Cloe membuka pintu kamar, ia terkejut saat melihat Vikram sudah berada di meja makan dan duduk dengan ipad di tangan kirinya. Tidak lupa satu cangkir kopi sudah tersaji di meja.
“Duduklah dan sarapan!” titah Vikram tanpa menoleh dan tetap fokus pada ipadnya.
Cloe berjalan menghampiri suaminya, ia duduk di samping Vikram tanpa menyapa pria itu. Gadis itu menatap meja makan yang sudah tersaji nasi goreng dan sandwich.
“Untuk apa Paman membuat sarapan sebanyak ini?” tanya Cloe, lantas gadis itu menyiapkan sarapan untuk suaminya.
“Sandwich bekal untukmu dan kita sarapan nasi goreng,” tutur Vikram membuat Cloe melebarkan kedua bola matanya.
“Aku tidak mau membawa bekal! Apa kata teman-temanku kalau membawa bekal!”
“Sejak kapan kau peduli dengan ucapan mereka?” cibir Vikram membuat Cloe mencebik dan mau tidak mau membawa sandwich itu karena tidak mungkin membuangnya.
Hari ini Vikram mengantar Cloe ke kampus. Selama dalam perjalanan mereka tidak ada yang berbicara karena gadis itu sibuk dengan ponsel sedangkan Vikram fokus mengemudi.
Vikram tahu jika Cloe sengaja mengabaikannya, tetapi pria itu tidak ada waktu untuk meladeni sang istri. Pria itu memilih menambah kecepatan dan Cloe sama sekali tidak terusik.
“Sudah sampai.”
Cloe melepaskan safety belt lantas turun dari mobil tanpa berpamitan pada suaminya. Vikram yang sedikit tersentil, menurunkan kaca mobil dan memanggil Cloe.
“Istriku!”
Cloe menghentikan langkah kakinya lantas menoleh pada pria itu yang sedang menatapnya datar. Ia bergegas menghampiri Vikram yang ingin bersuara lagi.
“Ada apa, Paman? Kenapa memanggilku seperti itu? Untung sepi.”
Vikram menaikan satu alisnya. “Apa salahnya? Kau istriku.”
“Paman!”
“Baiklah, jangan lagi kau mengabaikanku karena aku tidak suka. Sudah sana masuk!”
Vikram kembali mengemudikan mobil meninggalkan pelataran kampus, sedangkan Cloe mengepalkan tangan kesal akibat ulah suaminya yang semena-mena. Gadis itu masuk ke dalam kampus, lantas menuju perpustakaan karena kelas masih satu jam lagi.
Cloe sebenarnya ingin datang on time, tetapi Vikram memaksa untuk berangkat bersama. Ia tidak tahu ada apa dengan pria itu.
Tidak dapat dipungkiri jika Cloe merasa nyaman, tetapi tetap saja ia ingin Vikram kembali seperti dulu. Meskipun sering bertengkar, pria itu masih perhatian. Perempuan itu tahu yang menjadi penyebab suaminya dingin adalah ketika Vikram mulai mengingat mantan istri yang sudah mengkhianati. Cloe sangat penasaran seperti apa wajah perempuan yang sudah mengubah sikap sang suami.
Cloe menghela napas, sempat terlintas di dalam benaknya apakah ia mencintai Vikram. Namun, gadis itu menepis tidak ingin cepat mengambil kesimpulan. Putri sultan Kalimantan itu bertekad akan memastikan terlebih dahulu.
"Tapi bagaimana kalau aku mencintainya? Jantungku berdebar setiap berdekatan, ini tidak sama seperti apa yang aku rasakan dulu," gumam Cloe.
Gadis itu tersenyum saat mengenang kebersamaan dengan Vikram dulu. Saat mereka kerap mencuci baju bersama karena Vikram tidak puas jika hanya menggunakan mesin cuci. Tidak hanya itu, mereka berdua membersihkan apartemen bersama hingga berulang kali karena Cloe sangat sensitif dengan debu dan orangnya perfeksionis terhadap kebersihan. Cloe juga mengingat saat mereka memasak bersama tidak seperti sekarang, pria itu akan keluar jika sudah siap pergi ke kantor. Ia merindukan kebersamaan dengan Vikram dulu.
"Cloe, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Satria yang baru saja duduk di samping gadis itu.
"Mana ada. Kamu salah lihat kali. Sudah pake kacamata masih saja salah lihat!"
Satria sudah terbiasa dengan ucapan pedas Cloe. Di antara teman satu kelas memang hanya Satria yang mau berteman Cloe. Mereka tidak tahan dengan ucapan pedasnya sehingga tidak mau berdekatan dengan gadis itu.
Sementara itu, Vikram yang baru saja tiba di kantor langsung memanggil Lexi ke ruangannya. Lex langsung masuk sesuai dengan perintah sang atasan.
"Sudah kau buatkan proposal untuk bekerja sama dengan mall di Jakarta Selatan dan Bogor?"
"Sudah saya kirimkan ke surel Anda untuk diperiksa ulang."
Vikram mengangguk, ada yang mengganggu pikirannya saat ini. Namun, untuk bertanya pada Lexi ia ragu karena takut akan ditertawakan.
Tapi mungkin lebih baik bertanya pada Lexi dibandingkan pada Darso yang sudah pasti akan menertawakanku.
"Lexi."
"Ya, Tuan."
Vikram berdehem, belum ia bertanya tetapi sudah grogi dan tenggorokannya tiba-tiba kering.
"Apa menurutmu saya cocok menjadi model?"
Satu detik, dua detik, hingga lima detik tidak ada tanggapan dari Lexi. Bahkan pria itu hanya mengerjapkan mata, terkejut karena tidak biasanya Vikram meminta pendapatnya.
"Em, Tuan apa berniat menjadi model?"
Vikram langsung melemparkan pen yang sejak tadi ada di tangan. Ia merasa sia-sia bertanya pada asistennya itu.
"Maaf jika saya salah, Tuan. Untuk apa Tuan bertanya demikian, tentu sangat cocok Anda menjadi model bahkan aktor pun cocok. Tetapi, apa Anda akan berganti profesi?"
"Bodoh! Kalau saya berganti profesi siapa yang akan mengelola perusahaan ini? Kalian? Tidak mungkin. Yang ada baru saya tinggal satu hari perusahaan sudah hancur!"
Dalam hati Lexi mengumpat pada Vikram yang ucapannya sudah seperti Cloe. Terkadang ia kewalahan harus bersikap bagaimana pada Vikram.
"Sudahlah, kau tidak berguna ada di sini. Keluar sana!"
"Tapi, Tuan, untuk model iklan ponsel keluaran terbaru apakah Anda sudah melihat kandidatnya?" tanya Lexi dengan cepat sebelum kembali diusir. "Astaga! Apa mungkin Anda yang akan menjadi modelnya?" imbuh Lexi saat baru menyadari pertanyaan atasannya.
"Sudahlah, pergi kau dari sini. Akan aku hubungi lagi nanti."
Lexi mengangguk lantas pamit dari ruangan itu. Dalam hati ia merutuki kebodohannya yang tidak dapat berpikir dengan cepat sehingga membuat Vikram marah. Pria itu berharap sang atasan tidak memecatnya, karena saat ini susah mencari pekerjaan apalagi dengan gaji yang cukup tinggi.
Dengan langkah gontai dan sesekali memijat lehernya, Vikram berjalan masuk ke dalam apartemen setelah seharian bekerja. Ia mengernyit saat ruangan sudah gelap.
"Ah iya, ini sudah pukul sepuluh. Apa Cloe sudah tidur? Lebih baik aku istirahat saja," gumam Vikram.
Tangannya meraih handle pintu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan di hadapannya. Gadis itu, menarik sudut bibirnya sehingga membentuk senyuman yang sangat manis dan cantik. Tidak, bukan hanya itu yang menarik, tetapi pakaian yang dikenakan oleh Cloe yaitu sebuah kain yang tidak dapat menutupi tubuh dengan sempurna yaitu lingerie berwarna merah begitu kontras pada kulit putihnya.
Sial!
Vikram langsung menutup kembali pintu kamar dari luar membuat gadis itu terkejut.