Tubuh Vikram menegang saat pintu kamar dibuka dari dalam, terlebih saat gadis itu memeluk dari belakang sehingga benda kenyal terasa jelas di punggung. Biasanya ia tidak pernah bereaksi seperti ini ketika Cloe hanya mengenakan hotpants atau rok mini, tetapi kali ini bereaksi berlebihan.
Vikram melepaskan tangan Cloe, lantas ia bergegas masuk ke dalam diikuti oleh istrinya.
“Paman kenapa menghindar? Tidak suka kalau aku mengenakan pakaian seperti ini?” tanya Cloe polos.
“Kenapa kau mengenakan pakaian kurang bahan seperti itu?!” tanya Vikram lantas pria itu masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Cloe.
Lima belas menit kemudian Vikram keluar dari kamar mandi dan kembali terkejut saat melihat Cloe masih mengenakan yang sama dan saat ini berdiri di depan kamar mandi dengan mengulurkan piyama pada pria itu.
“Keluarlah. Kau jangan bertingkah seperti w************n!”
Vikram mengambil piyama lantas mendorong Cloe supaya keluar dari kamar. Namun, gadis itu berbalik sehingga berhadapan dengannya.
“Memangnya kenapa kalau aku mengenakan pakaian seperti ini, Paman, apa kamu tergoda?” tanya Cloe dengan tangan sudah menelusuri d**a bidang pria itu yang masih sedikit basah.
Vikram memejamkan mata, lantas tangannya menahan tangan Cloe dan menyentak membuat gadis itu terkejut.
“Jangan seperti ini, Cloe. Gantilah bajumu dengan yang lain, kalau tidak mau maka kau tidur di kamarmu sendiri!”
Cloe mencebik, mau tidak mau ia mengganti pakaian dengan piyama biasa. Setelah mengenakan piyama, Cloe naik ke atas ranjang di mana Vikram sudah di atas dan sibuk dengan macbook nya.
“Paman, udah jam segini masih aja kerja,” tutur Cloe.
“Aku harus kerjakan sekarang supaya besok tidak menumpuk, Cloe. Tidurlah, bukankah besok kau ada kelas pagi?”
“Tidak, besok aku dan Satria harus pergi ke pinggir kota untuk mengikuti kegiatan amal. Jadi, Paman tidak perlu mengantarku ke kampus karena Satria akan menjemput ke lobby,” ujar Cloe, lalu gadis itu merebahkan tubuhnya.
Jemari Vikram yang sedang menari-nari seketika terhenti saat mendengarkan ucapan Cloe. Namun, ia kembali melanjutkan pekerjaannya dan tidak berniat menjawab ucapan gadis itu. Cloe hanya dapat mencebik saat tidak mendapatkan respon dari pria itu.
Keesokan paginya, Cloe bangun dan tidak mendapatkan Vikram di sebelah. Ia melihat jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Dengan segera gadis itu turun dan bersiap untuk membersihkan dirinya.
Cloe mendengar suara orang sedang memasak, tetapi ia memilih masuk ke kamarnya karena sudah telat. Saat gadis itu telah rapi memutuskan untuk keluar kamar dan melihat Vikram sudah duduk di meja makan.
“Pagi, Paman. Waah ternyata kau sudah memasak? Maaf aku terlambat bangun,”ujar Cloe sambil tersenyum tanpa merasa bersalah.
“Cepat sarapan dan bereskan semua peralatan di dapur dan apartemen ini!”
Cloe menoleh, lantas mengernyit. “Bersihkan peralatan dapur? Paman hanya masak tumis kangkung dan udang memangnya sebanyak apa perkakas yang digunakan?”
Vikram mengedikan bahu. Sedangkan Cloe memilih melihat dapurnya. Rasanya gadis itu ingin menjerit saat melihat area kesukaannya berantakan. Bukan hanya itu, bahkan berminyak dan air berceceran.
“Paman, apa yang kau lakukan pada dapurku?” desis Cloe.
“Hanya sedikit pemanasan saja, ternyata aku masih belum berbakat memasak.”
Cloe hendak melemparkan sendok yang berada di tangan, tetapi ia urungkan saat mendapatkan tatapan tajam dari Vikram. Gadis itu menghela napas, mau tidak mau harus membersihkan dapur terlebih dahulu sesuai perintah dari sang suami.
Jika ada kompetisi pria paling menyebalkan maka Vikram adalah pemenangnya. Cloe membersihkan dapur dengan cepat karena sudah semakin telat. Ia yakin jika Satria telah menunggu di lobby. Gadis itu mendengar ponselnya berdering.
“Hem, kau pergilah dan jangan menunggu Cloe!”
Cloe melebarkan kedua bola matanya saat Vikram menjawab panggilan yang ia yakini dari Satria. Bibir gadis itu kembali mencebik. Setelah selesai urusan dapur, Cloe menghampiri Vikram yang sudah kembali fokus dengan ponsel di tangan.
“Kenapa Paman mengatakan seperti itu pada Satria?!” tanya Cloe ketus.
“Kau sudah selesai? Sekarang bersihkan ruang tamu ini, banyak sekali debu. Kau tahu sendiri alergi debu.”
“Kalau begitu Paman saja yang membersihkan. Aku mau berangkat!” ketus Cloe, lantas gadis itu meraih tasnya.
Cloe keluar dari apartemen dengan hati jengkel. Ia memesan ojek online supaya tiba di lokasi dengan cepat. Setelah melewati jalan macet akhirnya Cloe tiba di lokasi. Ia segera menyerahkan helm pada driver dan membayar.
“Terima kasih, Pak, ambil saja kembaliannya.”
“Non, tunggu!”
“Ya, Pak? “
“Nona kurang uangnya.”
Cloe mengerjapkan mata, lantas ia mengambil uang dari tas dan menyerahkan pada driver. Ia merasa malu, beruntung tidak ada orang lain di sana. Gadis itu langsung mencari Satria dan beberapa panitia yang lain.
“Wah, ternyata princess Cloe datang. Aku kira tidak akan datang mengingat dia yang ... yah kalian tahu sendiri bukan. Sok bersih!” cibir salah satu anggota.
Cloe hanya mendengarkan saja tanpa berniat untuk menjawab karena itu sudah biasa menurutnya. Namun, tidak ada yang tahu jika gadis itu memiliki alergi terhadap debu.
“Satria!” panggil Cloe saat Satria sedang mengangkat dus berisi alat-alat kebersihan.
“Hai, kau datang bersama paman mu?”
“Tidak. Maaf ya, tadi aku sedang di dapur.”
“Tidak masalah, yang penting kau tiba dengan selamat.”
Cloe memakai masker sebelum turun membersihkan panti asuhan yang sangat kumuh. Ia menelan ludahnya kasar saat melihat sampah-sampah berceceran hampir di setiap sudut panti.
Apa mereka tidak pernah membuang sampah di tempatnya?
“Cleo, ayo,” ajak Satria.
Cleo mengangguk. Berkali-kali ia menghela napas kasar sebelum mengambil sampah-sampah tersebut. Dengan tangan gemetar, gadis itu mengambil sampah yang sudah menjamur entah sudah berapa hari di sana.
Cloe langsung menutup hidung dan tidak dapat menahan mual karena sampah tersebut benar-benar sangat bau. Bahkan, gadis itu meninggalkan tempat sampah dan keluar dari panti. Matanya berkaca-kaca saat memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk tadi saat sarapan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Satria saat melihat wajah pucat gadis itu.
“Aku tidak tahan, Sat. Kenapa banyak sekali sampah? Bukankah ini panti asuhan? Mana bisa begini?”
Satria menghela napas. “Ini tanah dan gedung kosong yang katanya diwakafkan pada panti asuhan yang membutuhkan tempat tinggal baru karena digusur. Untuk itu kita di sini, membersihkan tempat ini supaya layak huni.”
Cloe paham, ini pertama kali ia mengikuti acara seperti ini sehingga tidak tahu kalau akan begini. Gadis itu mengusap air mata yang berada di sudut matanya, lantas berdiri.
Aku tidak mau kalah hanya karena baunya. Aku pasti bisa ikut membersihkan sampah-sampah ini.
“Kamu mau lanjut atau berhenti? Jika tidak tahan sebaiknya kau berhenti saja, jangan memaksakan diri,” ujar Satria yang tidak tega melihat gadis pujaannya sangat pucat.
“Aku baik-baik saja.”
Cloe kembali memakai masker dan sarung tangan. Ia menahan napas saat kembali memungut sampah-sampah itu. Bukan hanya itu, Cloe juga berkali-kali bersin sehingga menghambat pekerjaannya.
Gadis itu mengedarkan pandangan, ia memang kebagian berada di depan gedung bersama satu orang lagi, sedangkan Satria berada di dalam gedung untuk membersihkan dinding-dinding yang kotor. Cloe mengabaikan ponselnya yang sejak tadi berdering. Selain karena mengalami kesulitan untuk mengambil ponsel tersebut, Cloe juga yakin jika yang menghubungi adalah Vikram. Sudah berjam-jam Cloe membersihkan tempat itu akhirnya sudah mulai bersih. Tempat yang tadinya gelap sekarang lebih terang.
“Cloe, apa kantong mu sudah penuh?” tanya rekan kerja Cloe.
“Sedikit lagi.”
“Aku ke dalam ya menyusul yang lain.”
Cloe mengangguk. Ia berjongkok saat merasakan tubuh semakin lemas. Bukan hanya itu, tenggorokannya kering karena sejak tadi belum terkena air minum. Gadis itu sama sekali tidak bernafsu meneguk air putih di sana, di tempat yang kotor.
Cloe kembali bersin dan muntah. Setelah merasa lebih baik, gadis itu menarik plastik sampah yang sudah penuh untuk dibuang ke truk sampah. Ia menatap truk sampah yang cukup tinggi, dengan lemah ia mengangkat kantong dan dilempar ke dalam truk yang pintu belakangnya terbuka.
Cloe bersandar pada tiang listrik karena benar-benar lemas. Penglihatannya pudar dan merasa pusing. Lama-kelamaan Cloe kehilangan kesadaran, beruntung ada yang menangkap tubuhnya, jika tidak maka gadis itu akan jatuh ke dalam pembuangan air.