Bab 14. Siapa Satria?

1323 Kata
Cloe mengerjapkan mata ketika sadar dari pingsan. Yang pertama kali lihat adalah sebuah ruangan dengan nuansa putih serta tercium bau obat. Ia merasakan ada yang menempel pada lengan kiri dan ternyata itu adalah selang infus. “Kau sudah sadar?” tanya Vikram yang baru saja masuk ruangan. “Kenapa aku di rumah sakit, Paman?” “Menurut mu kenapa?” Vikram mengambil ponsel miliknya saat mendengar dering panggilan. “Ya, halo ada apa, Ishana?” ujar Vikram melirik Cloe yang sedang menatapnya. “Makan malam nya dibatalkan saja. Cloe masuk rumah sakit, aku tidak bisa meninggalkannya. Sudah dulu nanti aku hubungi lagi.” Vikram menyimpan kembali ponselnya. Cloe menahan senyum saat Vikram menolak makan malam bersama dengan Ishana dan memilih untuk merawatnya. “Siapa yang membawaku kemari, Paman?” tanya Cloe mencoba untuk duduk tetapi kesulitan karena tubuhnya sangat lemas. “Menurut kamu?” Cloe memutar kedua bola matanya. “Kalau aku tahu mana mungkin bertanya, Paman!” “Nah, sebaiknya tidak perlu banyak tanya. Tugas kamu adalah sembuh sudah itu saja!” Cloe mencebik, suaminya itu tidak ada manis-manisnya sama sekali. Bahkan terkadang ia berpikir bagaimana bisa orang seperti Vikram dilahirkan dan dapat bertahan hidup. Namun, disisi lain gadis itu bersyukur karena dapat dipertemukan oleh pria itu. Cloe menatap Vikram yang sedang sibuk dengan ipad-nya. Ia memindai wajah sang suami, baru menyadari jika pria itu memiliki bibir sedikit tebal, rahang yang tegas dan mata berwarna hitam dan bulu mata yang lentik serta alis tebal. “Istirahatlah, kalau infusnya habis kita bisa pulang,” ujar Vikram tanpa menoleh dan membuat kesenangan Cloe teralihkan. “Bukankah sejak tadi aku juga beristirahat? Paman, tidak bisakah kau meninggalkan pekerjaan mu sebentar saja?” Vikram meletakkan ipad-nya dan naik ke atas ranjang rumah sakit membuat Cloe terkejut. Gadis itu sedikit beringsut supaya pria itu dapat tempat. “Kenapa? Bukankah kamu ingin aku perhatikan kamu? Tapi aku lelah dan ingin tidur dulu. Kemari, sudah lama aku tidak pernah memelukmu,” ujar Vikram membuat Cloe langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan hangat dekapan pria itu. Selain karena Vikram yang berubah dingin, juga karena keadaan mereka yang membuat canggung. Tidak ada angin dan tidak ada hujan lalu tiba-tiba menikah sedangkan mereka bukan sepasang kekasih. Siapa yang tidak canggung jika di hadapkan dengan suasana seperti itu. Vikram sudah menganggap Cloe adik, setidaknya itulah yang pria itu rasakan sebelum terjadinya pernikahan. Jika dulu ia memeluk Cloe tidak memiliki getaran apapun, tetapi tidak sekarang karena mereka berdua sama-sama berdebar. Bahkan detak jantung Vikram begitu jelas terdengar di telinga Cloe membuat gadis itu gelisah. Vikram mencoba menahan gejolak di dalam dadanya. Ia memejamkan mata berharap dapat terlelap dan mengabaikan perasaan yang tidak disadari adalah cinta untuk Cloe. Pria itu akhirnya melepaskan pelukan dan turun dari ranjang lantas menyugar rambutnya. “Aku keluar dulu,” ujar Vikram membuat Cloe menatap sendu bayangan pria itu. Cloe menghela napasnya kasar. Sangat sulit menggapai hati Vikram dan mengembalikan pria itu seperti dulu. Ia kembali merebahkan tubuh, lantas menatap infus yang masih menetes pelan. Berkali-kali helaan napas kasar keluar dari mulut Cloe. Pukul lima sore Cloe bersama Vikram tiba di apartemen. Vikram masuk ke dalam kamar diikuti oleh Cloe yang membuat pria itu menghentikan langkahnya. “Kenapa kamu mengikuti ku?” tanya Vikram sambil menatap Cloe yang masih terlihat lemah. “Aku kan tidur di kamar Paman. Apa ada masalah?” “Kau tidurlah di kamar mu sendiri!” “Jahat banget si! Tega banget sama istri sendiri, bagaimana kalau aku nanti mati?!” “Menurut mu, kalau kau sudah waktunya mati pindah tidur di kamar ku akan menunda waktu kematian mu, begitu? Tidak, bukan?” Vikram mendorong bahu Cloe keluar kamar dan lekas menutup pintu. Cloe hanya mencebik, ia merasa Vikram sudah kelewatan. Bahkan kini suaminya berbicara dengan kasar dan pedas padanya. “Baiklah, Paman. Kau akan menyesal kalau menemukan ku besok pagi dalam keadaan mati!” Cleo menendang pintu kamar membuat pria itu terlonjak. Dengan kesal gadis itu masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan tubuh tanpa berniat mengganti pakaiannya. Bahkan, makan malam dilewatkan oleh gadis itu mengabaikan Vikram yang berteriak dari luar memanggil karena pintu di kunci. Pagi hari telah datang, saat Vikram keluar dari kamar tidak menemukan Cloe yang biasanya sibuk di dapur. Pria itu membuka kamar sang istri, tetapi masih terkunci seperti saat malam hari. “Cloe, kalau kau tidak mau makan nanti sakit tanggung sendiri!” Vikram mengeraskan rahang, kesabarannya sudah habis dan ia bertekad tidak akan membiarkan Cloe di kamar. Pria itu memilih untuk berangkat ke kantor. Vikram berkali-kali memegang ponsel hampir saja menekan nomor Cloe, tetapi segera diurungkan. Ada rasa gengsi saat hendak menghubungi gadis itu. Tidak dapat dipungkiri ada rasa khawatir pada sang istri. Vikram keluar bersama Lexi untuk makan siang di sebuah cafe di salah satu mall terdekat bersama dengan teman-teman satu circle nya. Pria itu hanya menyimak teman-temannya yang bercanda. "Vikram, lebih baik kamu menikah lagi. Perempuan di dunia ini masih banyak dan tidak semua seperti mantan istrimu. lihatlah, kau berubah dingin sekarang tidak sehangat dulu." "Sudah ribuan kali kau mengatakan hal yang sama, Leo, dan jawabannya masih sama. Bagaimana dengan kau sendiri? Bukankah kau baru saja diselingkuhi oleh tunangan mu?!" Vikram menyeringai, jika urusan membalikan perkataan maka Vikram adalah ahlinya. Leo berdecak, lantas netranya melebar saat melihat ada seorang gadis sedang bercermin di luar cafe yang terbuat dari kaca. "Apa yang gadis itu lakukan?" Semua orang menoleh, mengikuti arah pandang Leo termasuk Vikram. Mereka melihat gadis itu sedang mengoleskan lip balm di bibirnya dan menggerakkan secara sensual membuat mereka seolah terhipnotis mengikuti gerakan bibir gadis itu. "Cantik sekali, mungkinkah gadis itu pikir kaca ini tidak terlihat dari dalam?" "Entahlah, tapi dia bener-bener cute." "Cloe," desis Vikram pelan "Nona Cloe, Tuan." Lexi berbisik di telinga Vikram. "Aku tahu!" Mereka semakin menatap Cloe intens terlebih saat gadis itu mengedipkan matanya satu. Vikram mengepalkan tangan saat melihat teman-temannya terpesona pada istrinya. "Kalau aku punya istri seperti itu sudah aku pastikan tidak akan aku biarkan jalan sendirian." "Itu karena kamu terlalu posesif!" "Tapi, aku juga akan melakukan hal yang sama. Tidak akan aku sia-siakan gadis seperti. Rasanya ingin aku kurung di dalam kamar." Vikram berdiri lantas menggebrak meja saat mendengar ucapan absurd teman-temannya. Pria-pria yang sedang membicarakan Cloe seketika langsung diam dan menatap bingung Vikram. "Sorry, kalian lanjutkan makannya aku lupa masih memiliki janji." Vikram langsung meninggalkan cafe dan mengabaikan panggilan dari temannya. Lexi yang mengejar kewalahan karena Vikram berjalan dengan cepat mencari Cloe. Begitu melihat istrinya, Vikram langsung menarik lengan gadis itu. "Paman, kau membuatku terkejut!" ujar Cloe dengan napas tidak beraturan. "Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau masih sakit?" "Kenapa? Apa kamu kepikiran aku terus, hm?" "Jawablah, Cloe, jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!" Vikram kesal karena merasa seperti sedang dipermainkan oleh gadis itu. "Ck! Makannya Paman cek ponsel. Aku sudah kirimkan banyak sekali pesan tapi tak ada satupun yang dibaca apalagi dibalas." Vikram mengambil ponsel yang sempat ia senyap kan karena tidak ingin terganggu pekerjaannya, terlebih saat pikirannya terus tertuju pada Cloe dan mengkhawatirkan gadis itu. "Pasti ponselnya senyap. Aku tahu Paman tidak mau diganggu. Ya sudah aku pergi dulu, bye!" "Tunggu, bukankah kamu bilang akan bertemu dengan Mommy dan Daddy? Sebaiknya aku ikut," ujar Vikram yang baru saja selesai membaca spam pesan dari Cloe. "Pencitraan ya, Paman, tidak mau dinilai buruk sama kedua orang tuaku? Udah ketebak." "Lexi, kamu kembalilah ke kantor menggunakan taksi online saja. Mobilnya saya yang pakai, mungkin juga saya tidak kembali ke kantor!" Vikram memilih berbicara pada Lexi dari pada menanggapi ucapan Cloe. Setelah kepergian Lexi, mereka berdua masuk ke dalam sebuah restoran keluarga. Tidak lama kemudian mereka melihat Rayhan dan Amanda yang duduk bersama seorang pria. "Dad, sudah lama?" tanya Vikram tetapi matanya tertuju pada pria yang ada di sebelah kedua mertuanya. "Baru beberapa menit. Ayo duduk. Oh ya, kamu tentu sudah tahu Satria bukan, Vikram?" tanya Rayhan membuat Vikram bertanya-tanya bagaimana mereka kenal dengan Satria. "Ya, dia teman kelas Cloe. Bagaimana kalian mengenal Satria?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN