Bab 15. Perjodohan?

1634 Kata
Satria adalah laki-laki yang dijodohkan dengan Cloe. Vikram menatap datar kedua mertuanya. Ucapan yang baru saja ia dengar dari mulut ayah mertua terus saja terngiang-ngiang di telinga. Tanpa sadar kedua tangan yang berada di pangkuan mengepal. “Apa dia sudah tahu fakta tentang kami?” tanya Vikram datar dan dingin membuat Amanda dan Cloe merinding sedangkan Rayhan terlihat biasa saja. “Itu tergantung pada kalian,” jawab Rayhan dengan santai. Vikram menghela napasnya kasar. “Kau juga sudah mengetahui perjodohan mu dengan Satria?” tanya Vikram pada Cloe membuat gadis itu menoleh dan mengangguk. Vikram tidak mengerti dengan apa yang direncanakan oleh mereka, tetapi ia merasa dipermainkan. “Aku tidak akan pernah melepaskan Cloe walaupun apapun yang terjadi! Jadi Daddy sudah tahu keputusanku, bukan?” Rayhan mengangguk lantas tersenyum walaupun wajah Vikram sudah tidak bersahabat. Walaupun Vikram merasa belum mencintai Cloe, tetapi dia tidak akan mempermainkan pernikahan. Cukup satu kali ia gagal tidak untuk yang kedua kali walaupun pria masih trauma dengan pernikahan. “Baiklah-baiklah, lebih baik kita makan siang terlebih dahulu. Sayang sekali nanti dingin makanannya,” ujar Amanda berusaha mencairkan suasana. Cloe menggenggam tangan Vikram yang masih terkepal membuat pria itu menoleh. Gadis itu mengulas senyum membuat suaminya menghela napas pelan walaupun wajahnya masih terlihat dingin tetapi tetap berusaha menghormati kedua orang tua Cloe. “Cloe, bukankah kamu sejak dulu suka udang. Buka mulutmu,” ujar Satria yang berada di hadapan Cloe membuat semua orang menoleh. Belum sempat Cloe membuka mulutnya, Vikram sudah lebih dulu membuka mulut dan melahap udang yang berada di sendok. Pria itu terlihat sangat santai dan mengabaikan tatapan tajam dari Satria. Bibir Rayhan berkedut menahan tawa melihat kelakuan Vikram. Ia yakin jika menantunya itu sedang cemburu. Pria paruh baya itu terus saja berdoa berharap Vikram pria yang baik untuk sang putri. Sementara itu, Cloe hanya dapat mengerjapkan mata. Ia tidak menyangka jika suaminya itu dapat bersikap seperti orang yang sedang cemburu. Apa Paman cemburu? Atau hanya akting di depan Mommy dan Daddy saja? Cloe masih meraba-raba perasaan Vikram untuknya. Ia berharap pria itu sudah mencintai dan dapat menerimanya sebagai istri. Gadis itu sudah menyadari perasaan untuk Vikram memang sebuah cinta. Setelah paham kini Cloe tidak mengelak lagi. Namun, untuk mendapatkan hati sang suami pasti tidak akan mudah. Vikram selesai makan lebih dulu, kini netra hitam itu menatap datar Satria yang sedang memisahkan daging ikan dan tulang lalu diberikan pada Cloe. Dengan cepat Vikram memindahkan daging ikan itu ke piringnya. Walaupun perut sudah penuh, tetapi pria itu tetap memaksa supaya gadisnya tidak memakan pemberian dari Satria. “Paman, apa kalau kau masih lapar ambil yang ada di meja, bukan mengambil milik Cloe. Aku sengaja membuang tulang ikan untuk Cloe bukan untuk kamu!” Satria komplain karena sudah tidak tahan dengan sikap Vikram. Vikram hanya mengedikan bahu, ia sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Satria yang terpenting istrinya tidak memakan pemberian Satria. Satria mengepalkan tangan saat ucapannya diabaikan oleh Vikram. Rahangnya mengeras, ingin rasanya ia memukul wajah tampan pangeran India itu, tetapi pria itu masih menghormati keberadaan kedua orang tua Cloe. “Satria, ada yang ingin Om sampaikan pada kamu,” ujar Rayhan setelah mereka selesai makan siang. “Ada apa Om? Katakan saja, aku siap mendengarnya. Oh ya, tadi Paman Vikram mengatakan tidak akan melepaskan Cloe maksudnya bagaimana ya?” ujar Satria yang baru sempat bertanya pada Rayhan. “Begini, aku ingin membatalkan perjodohan kalian berdua. Nanti Om yang akan mengatakan kepada kedua orang tuamu.” “Tidak bisa seperti itu, Om! Apa masalahnya?” “Sebenarnya Cloe sudah menikah dengan Vikram dan tidak mungkin dia menikah denganmu.” Satria kembali mengeraskan rahang, ia menatap tajam Vikram yang sedang menyeringai. “Aku sudah memiliki feeling Paman itu bukan paman yang sebenarnya untuk Cloe. Dari sikap posesif masing-masing kalian berdua sebenarnya sudah terlihat, tetapi aku mengabaikan dan meyakinkan kalau kalian adalah paman dan keponakan seperti kebanyakan orang. Kalian menjalani hubungan i***s?” selidik Satria. “Tidak, Cloe bukan keponakanku dan kami tidak memiliki hubungan apapun.” “Maksudnya? Kalian ... lalu kenapa Cloe tinggal denganmu? Apa dia menjadi simpananmu?” Vikrma berdiri dan menarik kerah Satria hingga pria itu mendongak dan badannya terangkat. Tubuhnya yang kecil tentu mudah bagi Vikram untuk menarik kerah Satria. “Jaga mulutmu! Kalau kau tidak dapat berkata yang benar sebaiknya diam saja!” desis Vikram. Rayhan yang merasa situasi memanas mencoba menjadi penengah karena mereka kini menjadi pusat perhatian. Ia tidak ingin ada media yang menyorot dan berakhir panjang. “Sudah, Vikram kamu lepaskan Satria, tidak enak membuat keributan di sini.” Dengan perlahan Vikram melepaskan Satria, tetapi mata elangnya menatap tajam laki-laki berusia 19 tahun itu. Jika bukan karena ucapan Rayhan dan mengingat itu di tempat umum maka sudah dapat dipastikan Satria akan habis di tangannya. Satria beringsut dan membenarkan kemeja. Ia menghela napas lega karena hampir saja tercekik. Tangannya mengusap leher yang masih terasa sakit. “Aku pamit, Om. Aku harap Om segera mengatakan pada Mami dan Papi.” Satria bergegas meninggalkan restoran dengan perasaan kesal dan jengkel merasa telah dibohongi oleh kedua orang tua Cloe. Meski begitu, tidak menyurutkan niatnya untuk merebut Cloe dari Vikram. “Dilihat dari mana saja Cloe lebih cocok denganku daripada dengan pria tua itu,” gumam Satria dengan kesal. Sementara itu, Vikram juga mengambil jas dan berpamitan pada kedua mertuanya meninggalkan restoran bersama dengan Cloe. “Bagaimana ini, Mas. Aku rasa Satria tidak akan terima begitu saja, terlebih kedua orang tuanya pasti akan sangat merah pada kita. Semoga tidak ada perselisihan,” ujar Amanda pada Rayhan. Amada sudah lelah jika harus ada keributan yang akan membahayakan anak-anak. Belum lama urusan Amber dan Mark baru selesai, ia tidak mau lagi Cloe akan mengalami bahaya seperti putri sulungnya. “Aku tidak sanggup jika harus melihat putri kita dalam bahaya lagi, cukup Amber saja.” Rayhan memeluk bahu Amanda, menenangkan istrinya. Ia tidak dapat mengatakan apapun apalagi berjanji semua akan baik-baik saja mengingat keluarga Satria adalah orang yang cukup terpandang dan terkenal dengan arogan. Pria itu hanya berharap Vikram dapat menjaga Cloe dengan baik. Disisi lain, Vikram dan Cloe tiba di basement. Baru saja mereka hendak masuk ke mobil, tiba-tiba ada yang menarik bahu pria itu dari belakang dan langsung melayangkan bogem mentah tepat di wajah membuat Vikram hampir tersungkur. Cloe yang melihat itu menjerit menghampiri Vikram. “Satria! Apa-apaan kamu!” pekik Cloe menatap tajam Satria yang dipenuhi amarah. Satria tidak mengindahkan ucapan Cloe, pria itu kembali menyeret tubuh atletis Vikram lantas kembali memberikan pukulan pada wajah itu, tetapi Vikram dapat menahan tangan Satria dan diputar membuat sang empu mengerang. “Paman, lepas. Kasihan Satria,” ujar Cloe. Biar bagaimanapun juga pria itu adalah satu-satunya sahabat yang dimiliki dan ia merasa kasihan jika harus terluka. Vikram menoleh dan menatap sang istri membuat Satria memiliki kesempatan untuk memberikan bogeman menggunakan tangan kirinya membuat Vikram tersungkur. “Sial!” umpat Vikram. Rupanya Satria adalah Ambidextrous, seseorang yang dapat menggunakan kedua tangannya dengan baik. Dengan langkah lebar Satria menghampiri Vikram dan menghajar lawan tepat di wajah dan perut. Vikram yang tertipu dengan gerakan dari Satria yang mampu mengelabui membuat tidak berdaya dan kalah beberapa pukulan bahkan sudut bibirnya berdarah. “Hentikan! Aku mohon kalian jangan berantem!” pekik Cloe. Baik Satria dan Vikram tidak ada yang mendengarkan pekikan dari Cloe karena keduanya sama-sama dikuasai amarah. Vikram menahan kedua tangan Satria saat laki-laki itu kembali memberi pukulan. Sedikit demi sedikit suami Cloe itu mulai membaca pergerakan Satria. Sebenarnya kekuatan Satria tidak sekuat itu, tetapi anak muda itu menggunakan cara licik dengan cara mengelabui lawan membuat musuh kesulitan membaca pergerakannya. Hanya sekali dorongan Satria langsung tersungkur dan Vikram tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menghajar wajah oriental itu. “Aku tidak tahu kenapa namamu Satria, padahal kau tidak sekuat itu! Pulanglah anak kecil, aku yakin setelah ini kau akan mengadu pada kedua orang tuamu. Ingat! Jangan pernah mengganggu apa yang menjadi milikku!” geram Vikram lantas ia meninggalkan Satria yang terkapar. Vikram menyuruh Cloe untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu sebenarnya masih kesal karena Cloe tidak mengatakan apapun perihal perjodohan itu. Selama dalam perjalanan pulang ke apartemen tidak ada yang mengatakan apapun. Ketika tiba di unit apartemen, Vikram langsung duduk di sofa sedangkan Cloe mengambil air es dan kotak obat untuk mengobati luka pada wajah pria itu. “Sejak kapan kamu mengetahui perjodohan itu?” tanya Vikram menatap intens istrinya. “Tidak bisakah Paman bertanya nanti saja setelah selesai?” Vikram menurunkan tangan Cloe dari wajahnya. “Cepat katakan dengan jujur. Kau tahu aku tidak suka ada kebohongan!” Lidah Cloe tercekat, ia yang memiliki kebohongan bingung harus mengatakan apa. Gadis itu menghela napas. “Aku tahu dijodohkan dengan Satria beberapa bulan yang lalu, dua bulan sebelum kita menikah,” lirih Cloe. “Lalu kenapa kamu tidak jujur padaku?” Cloe yang sempat menunduk sekarang mengangkat kepala menatap suaminya. “Bagaimana aku harus bicara pada Paman, sedangkan kau sendiri terlalu sibuk bahkan hanya untuk makan malam bersama jarang sekali. Sarapan pun Paman buru-buru. Pesan yang aku kirimkan jarang sekali di balas. Berbeda setelah kita menikah, Paman memiliki waktu untukku ya walaupun sedikit.” “Ada Lagi yang kamu sembunyikan dariku?” Cloe menggeleng. “Benarkah tidak ada lagi?” Cloe mengangguk, lantas Vikram beranjak masuk ke dalam kamar meninggalkan Cloe yang masih seperti patung di sofa. Malam harinya, Vikram keluar dari walk in closet setelah mengganti piyama. Ia melebarkan matanya saat melihat Cloe kembali mengenakan lingerie merah seperti beberapa waktu lalu. Gadis itu tersenyum dan berjalan sensual mendekatinya, bahkan kini tangan gadis itu menyentuh d**a bidang yang tertutup piyama. Pria itu memejamkan mata dan merasakan darahnya berdesir. Saat sedang menikmati sentuhan Cloe, tiba-tiba ia mengingat apa yang dikatakan oleh Rayhan padanya. Tiba-tiba Vikram mendorong Cloe hingga gadis itu terjatuh di atas ranjang. Cloe menatap Vikram dengan tatapan terluka dan kecewa saat kembali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya sendiri. “Kenapa, Paman?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN