“Pantas Pak Atmoko menikahkan kamu, Non. Begini kelakuanmu.” gumam Estu sembari terus mengemudi. Sementara yang diomongkan tertidur di kursi samping kemudi. “Pak Atmoko pasti stress memikirkan kamu. Belum lagi khawatir dan lain-lain. Papamu sampai menjebakku hanya untuk menikahkan kamu kepadaku. Entahlah, aku sendiri tidak tau apakah aku bisa mengurusmu atau tidak.” Sepanjang perjalanan Estu terus bicara sendiri. Jika orang lain momen menjadi pengantin baru adalah momen yang paling membahagiakan, tidak begitu dengan dirinya. Jangankan mendapatkan malam pertama yang berbunga-bunga, kini dia malah merasakan beban yang sangat berat. Dulunya beban itu adalah milik Atmoko, tapi sekarang itu menjadi bebannya. Gitalah beban itu. 15 menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Estu menoleh pad

