8 – Kejutan

1135 Kata
Tante Icha sudah menghubungiku sejak aku masih di sekolah. Dia bahkan akan menjemputku jika Mas Abdi tidak bisa datang pada jam itu. Clarissa masih harus mengikuti bimbingan belajar, biasanya aku juga. Dan kami akan dijemput dengan mobil yang sama. Jika ada perubahan jadwal seperti ini, kemungkinan besar, aku akan dijemput agak terlambat, karena perlu adanya koordinasi dengan asisten pribadiku tersebut. Bisa jadi, dia sedang berada di kantor dan mendapat tugas dari Papa. “Lo yakin mau balik sendiri?” Nathan menatapku tidak percaya. Dia sedang mempersiapkan beberapa buku untuk dibawa ke tempat bimbel. Tempat tersebut masih di lingkungan sekolah. Sehingga kami tidak perlu membawa semua barang. Kami bisa meninggalkan tas dan keperluan lainnya di dalam loker. “Dijemput Tante Icha.” Aku berbohong. Aku harap Nathan akan mengatakan hal yang sama jika ada yang bertanya. “Mau gue anter? Gue bisa cabut sama lo.” Aku menggeleng. “Gue sudah terlalu tua untuk lo khawatirin. Cuma jalan ke depan ini.” Nathan terkekeh. Orang tuanya memang tak sekaku Papa dalam menjaga anak-anaknya. Dia tidak perlu seorang bodyguard walau berasal dari keluarga ternama. Ayahnya seorang pengusaha, sedangkan ibunya seorang pejabat teras. Karier kedua orang tuanya cukup maju dan sering menjadi sorotan. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, dia sudah ditunjuk sebagai penerus papanya sejak masih bayi. Sama sepertiku. Bedanya, dia tidak harus dikawal ke mana-mana. “Mau diajak ke mana, sih? Kok Rissa nggak ikut?” Aku hanya tersenyum. Siapa yang bisa menebak kejutan? Tante Icha sering memberiku kejutan. Dia akan menyita semua waktuku di luar sekolah sebelum kembali ke Paris. Itu yang sering membuat Rissa iri. Gadis itu pasti akan melakukan protes berat jika mendengar ini. “Pantesan Rissa sering mengomel soal ini.” Nathan terkekeh. Dia membawa beberapa buku setelah mengganti alas kaki. “Gue duluan,” katanya, setelah mengunci kembali pintu loker. “Hindari saja Clarissa, kalau lo males jelasin gue ke mana.” Nathan mengacungkan jempolnya sambil berjalan. Aku mengganti baju atasku dengan kaus. Pun celana sekolah dengan jin. Dengan begini orang takkan tahu berapa usiaku. Mereka akan berpikir ulang untuk menyakitiku. Itu hanya pemikiran Papa saja. Siapa memangnya yang akan melakukan penculikan pada remaja 18 tahun? Aku sudah terlalu tua untuk diculik. Tapi, saat Mama bilang supaya Papa bisa tenang bekerja, aku tidak bisa membantah. Terdengar cupu memang. Saat remaja seusiaku bisa membawa mobil mereka sendiri. Memodifikasi mobil tersebut. Aku masih seperti bayi yang butuh perawat. Untung saja tidak ada yang berani mengolokku mengenai hal itu. Entah karena aku menyandang nama Hartono, atau karena aku yang tidak tersentuh? Itu yang Nessa katakan saat membahas tentang Xavier Orion Hartono. Cowok tidak tersentuh yang hanya pantas diimpikan saja. Aku sebuah delusi buat cewek-cewek BSHS. Langkahku terhenti begitu keluar dari area loker. Nessa pun melakukan hal yang sama. Dia sedang apa di sini? Areal kelas sebelas tidak di sini. Apa dia mencariku? Senyumnya mengembang. Mungkin baru menyadari siapa manusia di depannya. Aku memang menambahkan topi untuk menyamarkan penampilan. “Mau cabut?” Kekehannya terdengar, setelah memeriksa penampilanku dari atas sampai bawah. Aku hanya mengedikkan bahu. “Seperti yang lo lihat.” Dia manggut-manggut dan mulai jalan. Hanya menyapa begitu saja? Aku berjalan berlawanan arah dengannya. “Butuh tumpangan?” Suaranya menghentikan langkahku. Aku berbalik. Dia masih menyunggingkan senyum yang sama. Sebuah tawaran yang tidak bisa ditolak. Walau disampaikan oleh seseorang yang pernah mengerjaiku. Sebenarnya itu kesalahpahaman. Aku hanya tidak tahu siapa dia. Lagipula dia tidak mengatakan apa-apa. “Lo bawa mobil sendiri?” Dia menggeleng. “Motor. Itu juga kalau lo boleh kena angin.” Kekehannya terdengar lagi. Dia sedang mengejekku. Sebenarnya aku tidak harus meladeni ucapannya. Lagipula aku tidak harus menjelaskan siapa diriku. Cukup orang-orang tahu apa yang tertulis di media semata. Begitulah citra yang ingin aku tampilkan. Si Pangeran yang tidak bisa disentuh sembarang orang. “Tawarannya hanya sekali.” Senyumnya benar-benar menggoda. “Gue nggak suka dibonceng cewek.” Karena sebenarnya aku tidak pernah dibonceng siapa-siapa. Nessa melempar kunci motornya padaku. Secara refleks aku menangkapnya. “Gue serahin nyawa gue buat lo. Gue percaya lo akan jaga gue, walau gue sanksi, sebenarnya lo bisa bawa motor apa nggak? Gue bahkan belum pernah melihat lo bawa mobil tanpa disupirin.” Dia nantang? Aku memeriksa keadaan sekitar. Sepi. Orang-orang pasti sudah pulang, atau sudah masuk ke ruang bimbingan, atau sedang melakukan kegiatan ekstrakulikuler sekarang. “Tanpa helm?” Aku berjalan menghampirinya. “Banyak helm yang bisa digunakan. Lo nggak alergi memakai barang orang lain, kan?” Aku melewatinya dan dia mengikutiku. Areal parkir kendaraan roda dua memang dekat dengan laboratorium biologi yang cukup luas. Ruangan tersebut bersisihan dengan loker anak kelas 12. Masih banyak kendaraan terparkir di sana. “Yang mana motor lo?” Dia menunjuk satu motor dengan dagu. Aku langsung menoleh padanya. Dia naik motor sebesar ini dengan rok sekolah sependek itu? Dia terkekeh. “Bentar, gue ganti celana dulu.” Sepertinya dia tahu apa yang aku pikirkan. Tak lama kemudian dia sudah keluar dengan balutan baju yang berbeda. Dia juga sudah mengenakan helm dengan warna yang sama dengan motonya, hitam. Lalu, dia menyerahkan sebuah helm padaku. “Pakai ini, tapi kalau lo mau menarik perhatian, gitu aja juga bisa.” Tentu saja aku harus memakai helm. Satpam sekolah bisa memberikan laporan yang tidak-tidak pada Mas Abdi jika melihatku keluar seperti ini. “Oke.” Helm dengan warna yang sama dengan yang dipakai Nessa ini tertutup. Seperti helm pembalap. Mungkinkah helm ini yang biasa dia pakai setiap hari? Aroma shampoonya masih tertinggal di sini. Aku mengenal wangi ini karena seringnya kami terlalu dekat saat berbincang. “Lo nggak takut?” Aku bertanya begitu sudah menaiki motor besar tesebut. Nessa memang tinggi. Tapi, dia ramping. Mengendarai motor ini bukannya butuh tenaga lebih. Bagaimana dia menjaga keseimbangan motor dengan tubuhnya yang terlalu tipis itu? “Kalau terjadi apa-apa sama gue, gue tahu, asuransi lo cukup besar untuk menjamin pengobatan gue hingga sembuh.” Dia terkekeh dan naik dengan mudah. Karena tidak membawa tas sekolah, tidak ada penghalang di belakangku. Aku bisa merasakan tubuhnya yang merapat di punggungku. Termasuk sesuatu ... gila saja. Dia sengaja apa, ya? Tapi posisi jog memang agak menungging. “Gue bisa ...” Suaranya terdengar ragu. “Meluk gue biar selamat? Boleh.” Konyol sekali. Kenapa juga aku harus mengatakan ini? Dua tangannya yang terbalut jaket kulit sudah melingkari pinggangku. Sialan! Seharusnya aku tidak meladeni tantangannya. Meskipun sering dipeluk oleh perempuan, dalam hal ini Mama, Kak Fema, Rissa, Chiki, Oma, maupun Tante Icha, rasanya jelas berbeda dengan yang aku rasakan kini. “Lo belum pernah dipeluk cewek, ya?” Dia terkekeh lagi. Kenapa dia senang sekali? “Sering.” Aku menyalakan mesin. “Bagus kalau begitu. Gue takut lo gemetaran.” Lucu sekali. Motor mulai berjalan dan semakin cepat begitu keluar dari gerbang sekolah dengan aman. Tidak ada pemeriksaan sama sekali. Mungkin mereka mengenali motor ini milik siapa. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN