Hana merebahkan dirinya di atas kasur. Kasur asing baginya di kamar milik Revan. Laki-laki yang satu jam lalu resmi menjadi suaminya. Resmi secara agama. Kedua orangtuanya sempat menawari Hana untuk pulang, Revan pun tidak menghalangi namun Hana tahu seorang istri harus bersama suaminya dan Revan tidak mungkin meninggalkan bunda sendirian. Lagi pula kalau Hana pulang ia harus siap diinterogasi oleh kembarannya, Hanif dan ia belum siap menerima berondongan pertanyaan. Hana menatap langit-langit kamar. Merenungi semua hal yang terjadi di hari itu. Hana menatap jari manisnya yang sudah tersemat sebuah cincin platina bertahtakan berlian. Hana ingin sekali besok pagi saat ia terbangun ternyata semua hanya mimpi. Tapi itu mustahil. Terdengar pintu kamar terbuka. Hana memiringkan tubuhnya memel

