Pagi ini Mia melangkahkan kakinya menuju gerbang kampus yang hanya berjarak beberapa meter dari hadapannya. Tampak wajah-wajah asing menatap dirinya, entah kenapa tatapan mereka seakan sinis pada Mia. ‘Jijik dan benci’ itulah yang terlihat dari tatapan anak-anak sekolah yang memandangi Mia dari atas sampai bawah.
Mia merasa sangar risih dipandang seperti itu oleh anak-anak yang ia tidak kenal sama sekali, wajar ia tidak kenal karena dalam satu kampus muridnya banyak jadi Mia tidak terlalu mengenal semua mahasiswa dan mahasiswinya. Ia hanya kenal dengan beberapa teman yang cukup famous terutama anak kelasnya yang dekat dengannya. Mia memang cukup dikenal oleh beberapa anak jurusan lain dan senior juga. Tapi ia hanya jadikan mereka sebagai teman biasa bukan teman dekat. Selebihnya ia tidak terlalu peduli dan tertarik untuk bergaul dengan siapapun.
“Eh lihat deh, lo kenal anak itu? gayanya selangit banget pakai cardigan pink, sepatu nike, tas fila, gue tahu sih dia anak orang kaya, tapi lo lihat berita pagi ini gak? Gila sih ga nyangka banget ternyata…hasil korupsi upss…”
“Dia kan Mia mahasiswi jurusan ilmu komunikasi yang katanya terkenal si paling gaya. Ortunya kaya banget bahkan rumahnya kaya istana eh ternyata endingnya membagongkan banget..”
“Jijik banget sama anak korupsi, enggak tahu diri, jelas-jelas barang branded yang dia pake hasil nyuri uang rakyat, gak tahu malu banget”
“Cantik sih, tapi bokap nya korupsi, mundur deh gue”
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapa nyinyir ditelinga Mia.
Mia sama sekali enggak menggubris ejekan anak-anak. Ia tahu memang itu semua adalah kesalahan terbodoh bokapnya. Kalau boleh milih ia lebih baik terlahir miskin daripada kaya tapi hasil korupsi. Mia juga enggak menyangka bokapnya gila akan harta. Selama ini Mia berfikir bokapnya kaya karena ia bekerja banting tulang dengan posisinya sekarang yang memang memegang jabatan, bokapnya bekerja di perusahaan perpajakan dimana memang bisa saja bokapnya tergiur akan uang dan hasutan setan yang terkutuk. Entah apa yang dipikirkan bokapnya sampai tega melakukan hal itu.
Sampai saat ini rumah Mia masih ditahan oleh pihak kepolisian dan bokapnya sedang di interograsi terkait kasus korupsi yang mengaitkan dirinya. Sementara Mia dan nyokapnya tinggal dirumah nenek sampai kasusnya selesai.
Tiap hari Mia terus berfikir apa yang akan ia lakukan? Sementara ia sekarang tidak punya rumah. Bahkan nyokapnya enggak bekerja, memang nyokap Mia hanya mengandalkan kekayaan dari bokapnya saja, ia terlalu banyak berfoya-foya menghabiskan banyak uang untuk keperluan belanjanya yang tak terhitung nilainya. Sekarang terlihat nyokap Mia sangat menyesal atas tindakannya dulu, jika saja ia lebih pintar dalam berbisnis pasti ia tetap bisa bangkit.
Mia merasa harus mencari pekerjaan sampingan dimasa kuliahnya. Ia harus bisa bangkit dari keterpurukan ini, biasanya ia tinggal di tempat mewah, dilayani, diberikan perhatian lebih. Kini ia harus mandiri dan berusaha sendiri. Hidup memang seperti ini kadang diatas kadang dibawah ibarat roda berputar.
Mia berjalan dikoridor kelas. Jelas-jelas semua mata tertuju padanya. Dari mahasiswi lain yang Mia enggak kenal sampai kelasnya sendiri ikut menatapnya dengan tatapan ingin menerkamnya.
Tampak 4 orang cewek tengah menjegat Mia memasuki ruang kelas.
“Lo gapunya muka ya? masih pede lo sekolah disini?” ucapan sinis yang terlontar dari mulut cewek berambut ikal itu. Namanya adalah Adora. Cewe jurusan ilmu komunikasi yang beda kelas dengan Mia. Ia terkenal angkuh dan suka membully siapapun yang punya masalah dengannya ataupun yang sedang menjadi topik hangat. Seperti Mia yang tampak menjadi sasaran empuk cewek angkuh itu. Mia menatap wajah Adora tajam.
“Apa? Berani natap gue lo? Sadar diri, emang lo siapa? Lo udah bukan siapa-siapa lagi, lo udah jatuh miskin jadi jangan sok-sokan masih pakai barang branded kalau uangnya hasil nyuri punya rakyat, malu lah”
“Jelas lah, buat bokapnya korupsi itu bikin nagih, sekali udah nyoba eh ketagihan terus nyemplung deh lupa daratan HAHAHAHA”
Mia tampak mengepalkan tangannya dengan geram.
“Kenapa? Lo mau mau mukul gue? Coba lihat sekeliling lo, emang ada orang yang mau bantuin lo? Ngaca dong” desis Adora dengan muka nyeringai.
Mia tampak emosi ia sangat kesal dengan tingkah gadis angkuh dihadapannya itu. “Cukup ya, gue enggak pernah nyari masalah sama lo, tapi lo kenapa sok ngalang-ngalangin gue? Denger ya, barang branded yang masih gue pake ini adalah hasil uang gue sendiri, enggak ada hubungannya sama hasil korupsi. Sekarang minggir jangan ngalangin jalan gue” Mia langsung mendorong Adora cukup kencang sampai ia hampir terjatuh.
“Dasar cewek gila, pemakan uang rakyat” teriak temannya Adora tampak hampir mau menghajar Mia yang tengah ingin duduk dibangkunya.
Mia dengan cekatan menghindari serangan Indah temannya Adora yang terkenal jago karate.
“Lo ada masalah apa sih? Gue enggak ada cari masalah sama lo, jadi jangan buat keributan” jelas Mia tampak malas meladeni Indah.
Indah tampak tidak peduli ucapan Mia. Ia langsung melakukan serangan mendadak kearah pipi Mia. Mia yang tampak enggak siap langsung terkena pukulan Indah yang cukup kencang itu.
Mia terjatuh dari bangkunya dan ia sedikit meringis kesakitan. Tampak indah yang ingin kembali menghajarnya dihentikan oleh bel masuk kelas.
Komplotan mereka pun sudah pergi dari ruang kelas Mia.
Teman-teman sekelas Mia hanya memandangi Mia yang mencoba untuk bangun. Tidak ada sedikitpun yang mencoba untuk membantunya berdiri atau menanyai keadaannya.
Mia pun berlari ke toilet untuk melihat seberapa parah luka dipipinya.
Mia menatap wajahnya dicermin. Ia tampak memegangi pipinya yang perih. “Awww” ia meringis kesakitan. ‘Cewek itu memukul gue dengan keras, bahkan pipi gue sampai merah padam seperti ini’ batin Mia kesal.
“Seharusnya tadi gue menepisnya, tapi gue enggak melihat dia menghantamkan pukulannya kearah wajah gue. Aishhhh…..gue harus lebih rajin lagi belajar karate” ucap Mia bertekad. Ia ingin bisa melindungi dirinya dalam keadaan genting seperti tadi itu.
Seorang cewe dengan bandana di kepalanya tiba-tiba memasuki toilet.
Mia tampak mengenali cewe itu. “Oh...Sarah, lo darimana saja? Tadi lo enggak ada di kelas” ucap Mia tampak semangat mengetahui teman dekatnya Sarah muncul dihadapannya. Ia berharap Sarah tidak membencinya dan tidak mengabaikannya. Karena hanya Sarah satu-satunya teman terdekat Mia disekolah.
Sarah tampak tidak acuh. Ia bahkan tidak menatap wajah Mia. Ia hanya sibuk berkutat pada wastafel untuk membersihkan tangannya.
Mia tampak berusaha untuk kembali berbicara dengan Sarah.
“Sa…sarah, lo….” belum sempat Mia menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Sarah menyela.
Ia menatap wajah Mia dengan sedikit emosi. “Ada apa? lo cari gue untuk apa? Bukankah sudah jelas ya, enggak ada satu orang pun yang mau berbicara sama lo, jadi lo pura-pura enggak keliatan aja biar haters lo berkurang”
Mia yang mendengar perkataan Sarah tampak terkejut. Ia tidak menyangka cewek perhatian dan selalu baik padanya itu tiba-tiba bersikap kasar seperti ini.
“Sarah lo kenapa? Ini beneran lo?” tanya Mia meyakinkan sambil berusaha memegang kedua bahu Sarah.
Sarah menepis kedua tangan Mia dari bahunya.
Mia tampak bingung. “Sarah lo kenapa sih? Salah gue apa?” tanya Mia lagi tampak bingung.
Sarah tersenyum sinis. “Lo pikirin aja sendiri apa salah lo, udah ya gue mau balik kelas dulu” sarah berjalan meninggalkan Mia yang tampak mematung.
Ia tidak menyangka teman terdekatnya bahkan membencinya juga. Dunia sungguh tidak adil. Mia jadi benci semuanya terlebih lagi ia membenci bokapnya sendiri. Ini semua karena kesalahan bokapnya ia jadi di asingkan disekolah, bahkan tidak ada seorangpun yang mau mendampinginya disaat terpuruk seperti ini.
Mia kembali kedalam kelas. Ia pun mengikuti mata kuliah pertama sampai selesai.
Bab