Pertemuan

1303 Kata
Mia menatap jam yang ada di tangannya. Kini ia sedang duduk sendirian diloteng sambil memakan dua potong roti yang ia beli di kantin. ‘Heran deh, semua orang jadi menjauhi gue, enggak suka kalau gue lewat dihadapan mereka, kenapa sih semua orang?’ batin Mia ngedumel kesal sekaligus kecewa. Mia membuka ponsel yang ia taruh di saku bajunya. Mia kembali membuka berita korupsi mengenai bokapnya yang viral dimana-mana. Mia menggigit bibirnya kesal. Ia hampir menangis menatap layar ponsel dihadapannya itu. Sesekali mengusap air matanya yang menetes. Ini adalah hal yang jarang Mia lakukan, karena Mia terkenal sebagai gadis yang kuat, berani dan jarang menangis untuk berbagai macam situasi, namun ia dipatahkan oleh kelakuan buruk bokapnya yang membuat reputasinya disekolah menjadi hancur. Walau Mia tampak tomboy, tapi ia memiliki sisi lemah terutama yang berhubungan dengan keluarganya. Ia paling tidak bisa jika itu menyangkut keluarganya. Mia merasa semua jadi sia-sia. Sekarang ia sudah tidak punya apa-apa lagi, bahkan nyokapnya jadi lebih sering bengong dan tidak memperhatikan Mia sedikitpun. Mental Mia jadi makin down, rasanya ia ingin pindah kampus dimana tidak ada seorang pun yang mengetahui latar belakang keluarganya. Mata kuliah terakhir pun telah berakhir. Mia merenggangkan tangannya keatas. Badannya pegal karena terlalu banyak menulis hari ini. Tiba-tiba seorang cowo berbadan pendek dengan kacamata bulat menghampiri Mia. “Mia, lo disuruh ke ruang sekdos, bu Yuli manggil lo” kata Raden sang ketua kelas. “Ada apa ya gue dipanggil tiba-tiba?” tanya Mia tampak bingung. Raden mengangkat kedua bahunya tidak tahu. “Jangan tanya gue lah, yang dipanggil kan bukan gue” jawabnya ketus sambil berlalu dari hadapan Mia. Mia menatap sinis kepergian Raden. ‘Buset dah nih cowo, padahal gue cuma nanya doang jawabnya jutek banget dah kek gue mau ngutang aja’ batin Mia jengkel. Mia pun berjalan menuju ruang sekdos. Ia berharap tidak terjadi sesuatu masalah. “Bu Yuli” panggil Mia yang tengah berdiri didepan meja bu Yuli. Bu Yuli mendongakkan wajahnya. “Mia, baguslah kamu datang” ucapnya sambil tersenyum. “Duduk disini, ada yang mau ibu katakan padamu” jelas Bu Yuli dengan wajah serius. Mia bersiap mendengarkan perkataan bu Yuli. “Kabarmu gimana? Baik kan?” “Ah…iya bu saya baik” “Sehubung dengan berita yang beredar di internet terkait kasus korupsi yang menyangkut ayah kamu, ibu turut prihatin yang sedalam-dalamnya” Mia terdiam sesaat. “Untuk selanjutnya, apa kamu masih bisa mempertahakan dirimu dikampus ini?” Mia yang mendengar ucapan bu Yuli tampak terkejut. “Mak…maksud ibu apa ya?” “Kamu kan tahu kampus ini terbilang elite, kami tidak sembarangan memasukkan murid, sistem kami lebih unggul daripada kampus lain, jadi kalau kamu tidak sanggup lagi kuliah disini, kamu bisa…” belum selesai bu Yuli berbicara Mia langsung memotong ucapannya dengan nada tinggi. “Jadi maksud ibu, ibu menyuruh saya untuk keluar dari kampus ini?” tanya Mia dengan nada yang sangat kesal. “Bukan begitu, ibu hanya menawarkan..” “Menawarkan apa? Kata-kata ibu saja bahkan sudah menjurus kesana, memangnya atas dasar apa ibu menyuruh saya keluar dari kampus ini?” “Kalau saya belum selesai berbicara tolong kamu jangan memotong kata-kata saya, itu sangat tidak sopan” jelasnya melotot pada Mia. Mia tampak tidak peduli ucapan bu Yuli. “Asal ibu tahu ya, selama saya dan ibu saya bisa membayar ukt di kampus ini, saya enggak akan keluar dari sini” tegas Mia segera melangkahkan kakinya menjauh dari hadapan bu Yuli. “Oh iya satu lagi” Mia menghentikan langkah kakinya sambil menengok kearah bu Yuli. “Sepertinya saya tahu alasan ibu ingin mengeluarkan saya, itu karena kasus yang menimpa ayah saya kan? sepertinya kampus takut reputasinya hancur karena kehadiran saya yang seorang anak koruptor ini kan?” Bu Yuli yang mendengar ucapan Mia tampak terkejut dengan ekspresi marah. “Miaaa…bicara apa kamu hah? Ibu belum selesai berbicara, kamu benar-benar anak yang tidak sopan” celetuk bu Yuli dengan nada emosi. Mia tersenyum masam. “Padahal saya berharap ibu menjadi penolong saya dikala saya dalam keadaan terpuruk seperti ini, tapi ternyata sudahlah…tidak ada seorang pun yang bisa saya harapkan” Mia pun segera keluar dari ruang sekdos menuju kelasnya lagi dengan perasaan campur aduk. Mia segera merapihkan alat tulisnya yang masih berserakan dimeja kedalam ranselnya. “Hari yang melelahkan” batinnya mendesah pelan. “Melelahkan ya?” terdengar suara yang tidak asing berbisik ditelinga Mia. Mia tampak terkejut menggidik. Ia menoleh dan menatap Adora cewe angkuh dari kelas IPA itu. ‘Ngapain cewe angkuh itu ada disini? pasti mau cari gara-gara lagi’ pikir Mia malas meladeni. Moodnya sedang buruk ditambah muncul cewe angkuh itu makin tambah mumet aja. Mia mengangkat satu alisnya dihadapan Adora. “Lo nantangin gue? Kalau gitu gue seret lo kegudang belakang, biar gue kasih pelajaran lo” Mia yang tampak tidak memahami situasinya langsung saja berjalan keluar kelas. Ia tidak peduli dengan ucapan Adora, namun Indah sudah mencegatnya dari pintu depan. Alhasil Mia tidak bisa kabur kemana-mana lagi. Mia mendesah pelan. “Haaaah…mau kalian tuh apa sih? Ini udah jam pulang kampus, gue dah capek mau pulang, jadi jangan ganggu gue” “Lo mau pulang? Emang lo punya rumah? Oh iya rumah hasil korupsi ya Hahaha” “Rumah lo kan dah disita, jadi lo dan keluarga lo ngemper dijalan…” Mia mengepalkan tangannya kearah hidung Adora dengan sangat kencang. Adora yang tidak siap langsung terkena pukulan Mia yang mendadak itu. Mia langsung mendekati Adora yang terjatuh lemas sambil memegangi kerah bajunya. “Denger ya, lo boleh ngatain gue sepuas lo, tapi gue gasuka kalo ada orang yang ngatain keluarga gue, sekali lagi gue denger lo ngomong yang macam-macam tentang keluarga gue, gue gabakal tinggal diam, ngerti lo” Mia langsung berdiri pergi meninggalkan Adora yang tampak mengalami mimisan parah. Indah yang melihat Adora terjatuh langsung segera menghampirinya dan membiarkan Mia pergi dari hadapan mereka. Dirumah nenek…. Mia yang sudah sampai di rumah langsung membanting pintu dengan cukup kencang hingga mengagetkan neneknya yang sedang berkecimpuh dengan kegiatan memasaknya didapur. “Ehh…kaget-kaget” ucap nenek terkejut sambil memegangi dadanya. Mia yang masih larut dalam emosi karena ucapan Adora tampak tidak menghiraukan ucapan neneknya dan bergegas membuka kulkas untuk mengambil sebotol air putih dingin yang sudah tersedia dikulkas. “Ahhhhhh….segarnya” celetuk Mia sambil berusaha mengelan air putih dingin yang mengalir kedalam tenggorokannya itu. Nenek tampak heran dengan kelakukan aneh cucunya itu. ia pun memberanikan diri untuk bertanya karena sepertinya Mood Mia sudah membaik setelah minum. “Kau itu kenapa? Nenek sampai kaget saat kau membanting pintu” jelas nenek sambil berupaya untuk mematikan kompor yang sedang menyala. Mia mengusap mulutnya yang penuh air. Mia mendesah pelan. Ia tidak tahu harus memulai cerita darimana, ia bahkan tidak mungkin menceritakan hal ini pada nenek, takutnya nanti nenek jadi kepikiran dan menambah beban baru untuk nenek. Mia tidak mau itu terjadi, sekarang saja ia sudah jadi beban pikiran nenek karena kasus korupsi yang dilakukan ayahnya hingga Mia harus tinggal dengan neneknya sekarang. “Ah….maaf nek sudah mengagetkan nenek” “Ini bukan apa-apa, aku pusing dengan tugas yang diberikan dosen, sangat sulitt dikerjakan” sangkal Yuna berbohong. “Kalau gitu, minta bantuan temanmu sajalah, kalau dikerjakan bareng-bareng akan cepat selesai” terang nenek berusaha mencari solusi. Mia mengangguk mengerti. “Ah begitu, kalau gitu aku ke kamar dulu untuk menghubungi temanku” Mia langsung bergegas ke kamar dan mengambil tasnya yang ia letakkan di sofa ruang tengah. Mia langsung menutup pintu dan menguncinya. “Fiuhh….untung saja nenek percaya” Mia merasa lega walau ia berbohong. Kalau dipikir-pikir memangnya ia punya teman sekarang? Enggak ada yang mau menemaninya bahkan sampai di titik terendah sekalipun seperti ini, semua orang menjauhinya, bahkan bu Yuli wali kelasnya pun sama sekali tidak peduli padanya. ‘Padahal bukan gue yang berbuat kesalahan, tapi malah gue terkena imbasnya, enggak adil banget’ gumam Mia tidak terima. Ia langsung membaringkan badannya di ranjang empuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN