Bertemu Mantan

1382 Kata
Mia iseng membuka ponselnya dan berniat untuk mengechat Sarah. Mia merasa ucapan Sarah yang tadi itu hanya kesalahpahaman saja, siapa tahu ini bisa diluruskan. Mia berharap Sarah mau menemaninya lagi seperti dulu, menjadi sahabat yang selalu bersamanya. ‘Sarah, lo dimana? Boleh ketemu?’ Mia berharap Sarah segera membalas pesannya. Sudah 1 jam lebih bahkan Sarah belum membalas pesannya. Mia pun mencoba berfikir positif, mungkin Sarah belum sempat mengecek ponselnya. Sambil menunggu balasan dari Sarah, Mia mencoba untuk keluar rumah sebentar untuk mencari makan karena perutnya terus berbunyi sedari tadi minta jatah. Mia mengambil hoodienya dan segera pamit pada nenek untuk keluar. Mia berjalan mengitari lingkungan rumahnya siapa tahu ada makanan yang menarik perhatiannya. Tak lama Mia menemukan sebuah rumah makan disebrang jalan, itu adalah warung nasi padang, sepertinya sudah lama ia tidak makan padang. Mia pun bergegas untuk menyebrangi jalan raya yang cukup padat itu karena memang saat ini adalah jam pulang kantor makanya jalanan padat merayap. Mia yang tampak sudah berhati-hati mulai melangkahkan kaki untuk menyebrang , namun ia dikagetkan dengan suara klakson mobil ferarri yang terparkir dihadapannya. Mia sontak langsung berhenti dan sedikit meringis ketakutan. Mobil itu masih saja mengklakson Mia yang masih terdiam kaku dihadapan mobil tersebut. Seorang laki-laki muda membuka kaca mobilnya dan melongo kearah Mia. “Hei, kau wanita aneh, minggir jangan menghalangi jalan” teriak laki-laki itu dengan sedikit kasar. Sandy berfikir kalau wanita ini tampak aneh lantaran dirinya hanya berjongkok diam sehingga menghalangi mobil Sandy yang ingin lewat. Mia yang mendengar ucapan cowo itu sontak langsung menghadap kearahnya dan mencoba berjalan mendekatinya. “Dasar cowo gila, kau gak lihat ada orang mau nyebrang? Jangan mentang-mentang kau pakai mobil mewah bisa seenaknya dijalan raya, mengklaksonin gue terus emangnya siapa yang enggak kaget hah? Baru punya mobil mewah aja udah belagu” desis Mia menatap dengan tajam dan kesal pada lelaki semborno itu. lelaki itu mengernyitkan dahinya. “Berani-beraninya lo membalas ucapan gue, inget ya kalau sampai lo sama gue ketemu lagi, tamat riwayat lo” ancam lelaki sombong itu sambil tancap gas dengan kencang. Mia menatap kepergian lelaki itu dengan kesal. ‘Memangnya dia siapa berani mengancam gue, dasar sinting’ batin Mia masih tersulut emosi. Mia yang tampak sedikit ling lung karena pertemuannya dengan lelaki sinting itu hingga lupa bahwa ia sedang lapar. Mia pun bergegas menyebrang menuju rumah makan padang dengan keadaan mood yang kembali buruk. Tempat Club…. “Dy, minum gak?” tawar Raffi teman sepergengannya. Sandy menggelengkan kepalanya. “Lo aja, gue lagi enggak mood” “Widih….tumben-tumbenan lo enggak mood, ada apa nih? Ada masalah?” tanya Raffi kepo. “Udah lah bukan apa-apa, Cuma lagi kesel aja ama orang” “Siapa orangnya? Mau gue bantuin buat abisin gak?” tawar Raffi mengajukan diri. Sandy menyilangkan tangannya. “Gak usah, lagian gue juga enggak bakal ketemu tuh cewe lagi” “Oh cewe toh, berani-beraninya dia sama lo, belum tau aja dia lo siapa, kalau tau mah udah K.O deh” celetuk Raffi berbicara dengan wajah serius. Sandy enggak menanggapi ucapan Raffi. Ia langsung bergegas keluar dari tempat club, namun ia dijegat oleh seorang wanita satu gengnya bernama Amel. “Lo mau kemana? Gue baru dateng loh” ucapnya berusaha ngajak masuk Sandy lagi. Sandy menatap malas pada Amel. “Mel, minggir gue mau balik” Amel mengernyitkan dahinya bingung. “Kok lo mau balik sih? Gue baru dateng loh, kan kita udah janji bakal ngumpul dulu terus baru cabut kalau dah kelar” jelas Amel masih bingung dengan tingkah aneh Sandy. “Ngumpulnya lain kali aja ya, gue sibuk banyak urusan” Sandy segera melangkahkan kakinya keluar sambil bergegas menuju parkiran mencari mobilnya. Amel menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan Sandy yang enggak biasanya kaya begini. 1 jam kemudian…. Sandy sudah berada di rumah gedongnya yang berada di Pondok Indah. Satpam rumah segera membukakan gerbang pagar yang besar itu. Sandy menghentikan mobilnya di pekarangan rumahnya dan menyuruh sopir pribadinya untuk memarkirkan mobilnya kedalam garasi. Hari ini Sandy cukup lelah dengan jadwal kegiatannya yang penuh. Maklum Sandy anak orang kaya yang mengikuti banyak les dan kegiatan yang berhubungan dengan olahraga. Sandy memang dikenal sebagai anak yang berbakat diberbagai bidang. Saat dirinya masih duduk dibangku SMA. Ia mengikuti berbagai macam les seperti les bahasa inggris, bahasa Jepang, les piano dan les vocal. Sementara ia juga mengikuti beberapa kegiatan olahraga seperti basket, sepak bola dan karate. Semua Sandy jalankan bersamaan, walau begitu nilai akademiknya dan nilai prakteknya seimbang tidak jomplang sebelah. Sampai di umurnya yang sekarang ia masih menjadi anak yang membanggakan orang tuanya. Saat ini ia sudah menyelesaikan jenjang S2 nya, rencananya ia ingin menjadi dosen, karena ia senang berinteraksi dengan orang lain. Baginya mengajar bukanlah hal sulit, jika punya pengetahuan dan kepercayaan diri yang tinggi itu akan lebih mudah dijalankan. Sandy ingin mulai melamar sebagai dosen di beberapa kampus ternama dengan gelar S2 yang dimilikinya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mengingat umur semakin hari semakin tua. Selama menjadi mahasiswa, ia merupakan anak yang aktif dalam berorganisasi. Ia tidak ingin melewatkan satu pun aktifitas yang menurutnya itu sesuai dengan hobinya. Ia memang seorang anak penjelajah yang suka mengeksplor dunia luar. “Den Sandy udah pulang toh” sapa Bi Ainun menyambut Sandy didepan pintu rumah. Sandy tersenyum kecil. “Iya nih bi lagi penat” “Aduhh….penat kenapa sih den, sini bibi bikini es jeruk ya biar semangat” “Waduh….jadi enak nih, yauda bi boleh deh” Bi Ainun segera melangkahkan kakinya menuju dapur. “Oh iya bi, mama udah pulang belum?” teriak Sandy dari ruang tengah. Bi Ainun segera menengok kearah Sandy. “Kayanya sih belum den, pesawatnya belum landing katanya” Sandy mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu bergegas menuju kamarnya dilantai atas. Sandy menjatuhkan dirinya ke ranjang besarnya yang empuk. “Besok gue harus menyiapkan dokumen untuk melamar, gue juga mesti latihan untuk interview besoknya” ucap Sandy bergumam sendirian. Tring…. Terdengar suara pesan chat masuk. Sandy pun segera membuka ponselnya. ‘Dy, lo gimana sih, malah ninggalin kita, kan kita udah janji mau ngumpul bareng sekalian ada yang mau diomongin penting, masa lo cabut gitu aja sih, parah lo’ Sandy membaca pesan chat yang masuk itu dari Raffi. Ia pun segera membalas pesan tersebut. ‘Adeuh….males gue bahas yang gak penting, emangnya apa sih omongan lo pada yang penting, paling juga engga jauh aric e*e-cewe cantik dan sexy’ Sandy segera menjauhi ponselnya. Ia sedang malas membalas pesan teman-temannya. ‘Enaknya kemana ya, bosan juga’ batinnya bertanya-tanya. Tok…tok…tok Suara pintu terdengar diketok seseorang. “Den, ini bibi mau bawain minumannya den Sandy” “Oh iya bi, masuk aja” teriak Sandy sambil pura-pura mengambil dan membaca buku yang tergeletak di rak samping ranjangnya. Bi Ainun segera masuk sambil membawa satu nampan es jeruk segar yang menyegarkan tenggorokan. “Makasih bi minumannya” “Sama-sama den langsung diminum ya soalnya dinginnya segera banget pas sama cuaca sekarang yang puanasss banget sampai silau mata” celetuk bi Ainun bikin Sandy ketawa geli. “Tenang bi, nanti aku minum buatan bibi tercintah” “Eh ngomong-ngomong itu den Sandy lagi baca buku kah?” tanya bi Ainun menunjuk buku yang dipegang Sandy. “Wih den Sandy rajin banget baca buku ya, padahal hari ini lagi enggak ada jadwal belajar via zoom” Sandy memegangi pundak belakangnya sedikit malu-malu dengan pujian bi Ainun. “Ah bibi gak usah muji gitu dong, aku emang lagi mau baca aja, soalnya bosen+enggak mood” “Kalo bosen mah main aja keluar den atau enggak shopping-shopping kan enak tuh bisa naikkin mood lagi” “Itu mah bibi kali doyan shopping” celetuk Sandy sambil menyeringai. Bi Ainun tertawa geli dengan ucapan Sandy. “Tau aja kamu mah, biasa kalau wanita memang doyan ngabisi duit hehehe” “Udah ah bibi mau balik dulu ketempat asal, mau bebenah rumah takut nyonya segera sampe” Bi Ainun segera meninggalkan kamar Sandy dengan sedikit buru-buru. Sandy pun segera meneguk es jeruknya yang segera banget. ‘Keluar kali ya sebentar refreshing mata’ gumam Sandy. Tanpa banyak ceng cong Sandy langsung mengambil hoodie warna hitamnya dan bergegas turun kebawah untuk keluar mencari udara segar. Sandy segera menuju garasi rumahnya untuk mengambil motor ninjanya. Ia berencana ingin naik motor saja karena malas bawa mobil pasti bakal kena macet dijalan. Sandy segera menancapkan gasnya dengan kencang dan melaju dengan kecepatan tinggi menghilang dari kejauhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN