Cari Part Time

1160 Kata
Mia kembali menatap ponselnya. Ia masih menunggu harap-harap cemas Sarah akan membalas pesannya, namun sampai detik ini pun pesannya bahkan tidak dibaca. ‘Apa yang gue harapkan dari teman sampah macam dia? Udah lah Mia lo harus move on, mungkin dia bukan teman yang baik buat lo’ batin Mia mencoba menasehati dirinya sendiri. Besok gue harus kesekolah lagi, rasanya gue males banget, engga ada penyemangat hidup juga bahkan gue disana antara ada dan tiada, gue udah engga berguna lagi, mereka udah membuang gue bahkan geng Mia bernama Gadis beranggotakan 5 orang dari jurusan yang sama tapi kelas yang berbeda sudah tidak pernah menghubunginya lagi semenjak kasus itu beredar. “Hidup ternyata seperti ini, baru tau gue kerasnya hidup kaya gini, gue harus bisa menghadapinya, toh bukan kesalahan gue, gue tetap harus ngampus sampai selesai” ucap Mia bertekad, kini ia sudah tidak merasa down lagi karena mempercayakan sepenuhnya pada dirinya sendiri untuk terus bangkit. Besoknya….. Mia melangkahkan kakinya menuju gerbang kampus. Ia sudah tidak mengenakan barang-barang branded lagi karena ia sudah menyimpannya didalam kardus. Ia tidak mau pakai barang-barang mewah lagi, ia hanya ingin bergaya sederhana sesuai dengan keadaannya sekarang. Para mahasiswa dan mahasiswi masih saling menatap kearah Mia. Mereka menatap dengan pandangan seperti biasa tidak suka, benci, bahkan ingin menerkamnya. Mia sudah tidak mempedulikan semua orang, ia hanya ingin melanjutkan tekadnya ngampus dengan tenang. Saat itu mata Mia menatap Sarah yang tengah berjalan berdampingan dengan geng gadis dimana Mia juga termasuk didalamnya. Mia mencoba berjalan dengan cepat untuk menghampiri mereka. “Sarah, gue cari lo dari kemarin, ada yang mau gue bicarain” jelas Mia serius. Sarah tampak acuh tak acuh menanggapi ucapan Mia. “Sar, lo kenapa dah dari kemarin cuek banget sama gue, gue ada salah sama lo?” “Sar, lo kenal ama cewe ini?” tanya salah satu anak di geng gadis bernama Via. Jelas-jelas dulu mereka temanan dekat bahkan satu geng, tapi Mia memang lebih dekat dengan Sarah dibandingkan anak-anak yang lain. Sekarang secara tiba-tiba mereka menjauhi Mia tanpa sebab. Bahkan menatap wajah Mia pun mereka sepertinya sudah sangat malas. Sarah menggelengkan kepalanya tidak peduli. “Wanita menyedihkan, sekarang dia mengemis pada kita seperti ini” ejek Sarah menatap jijik pada Mia. Mia yang mendengar Sarah melontarkan kata-kata tidak pantas itu tampak sangat terkejut. Bagaimana bisa seorang teman terdekatnya mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu. “Sar, i…ini beneran lo? Lo kok jadi berubah sih?” “Emang kenapa kalo gue berubah, gue kan Cuma manusia biasa yang kadang banyak salah, tapi kali ini kesalahan gue adalah pernah temenan sama lo” “Minggir, gue mau lewat jangan halangi pandangan gue” tegas Sarah segera mendorong Mia yang tampak terjatuh lemah mendengar semua perkataan busuk Sarah yang sangat kejam. Mia menyeringai kecewa dan marah. Bisa-bisanya Sarah merendahkannya sampai titik terendah didepan anak-anak yang lain. ‘Benar-benar cewe jahat psikopat’ gumam Mia menahan emosinya. Mia pun lantas segera berlari ke toilet untuk menenangkan dirinya yang kacau. Ia menatap cermin lalu menutup matanya rapat-rapat membayangkan kehidupannya yang sudah tidak ada harapan lagi. ‘Apa gue mati aja ya?’ batinnya bertanya-tanya dengan keraguan yang masih menghantui. Mia pun segera mengurungkan semua niat buruknya dan bergegas menuju kelas karena mata kuliah pertama akan segera dimulai. Sandy menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Angin sepoi-sepoi menyejukan badannya. ‘Paling enak emang keluar untuk sekedar senang-senang tanpa memikirkan beban apapun’ batinnya menatap pepohonan yang rindang. Menikmati udara luar dan melihat orang-orang tampak riang gembira. Kring…kring….kring. Suara telpon berdering dari saku celananya. Sandy segera mengambil ponselnya dan mengangkat telpon tersebut. “Hallo” “Den Sandy, nyonya sudah pulang den, sepertinya nyonya kelelahan karena perjalanan panjang jadi bibi suruh istirahat dulu” “Ah begitu, yauda aku segera pulang bi” “Baik den, hati-hati” Tanpa berfikir panjang Sandy segera berdiri menuju parkiran untuk mengambil motornya. ‘Perasaan belom ada berapa menit disini gue dah balik aja ya, tapi mau gimana lagi, jarang-jarang gue bisa ketemu nyokap’ ucapnya lagi sambil membatin. Sandy langsung tancap gas menuju rumah. Sesampainya dirumah….. “Bi, mama dimana?” Bi Ainun segera mengajak Sandy menemuinya di kamar orang tuanya. “Kalau gitu, bibi permisi dulu den” Sandy segera mengetuk pintu kamar. “Masuk” terdengar suara sengau dari dalam kamar. Sandy segera membuka gagang pintu dan menatapi mamanya sedang tiduran di ranjangnya. “Ma, mama sakit?” tanya Sandy khawatir. “Enggak, Cuma kecapean, oh iya mama bawain kamu sesuatu ada di dalam kamar kamu, nanti kamu buka ya” “Apasih ma, Sandy Cuma khawatir dengan keadaan mama yang terlihat lelah banget. Emangnya mama enggak bisa kalau dirumah aja? Uang mama dan papa juga udah banyak, apalagi yang kalian khawatirkan?” “Sandy” teriak bu Intan tegas. Sandy terdiam menatap wajah mamanya yang sedikit membentaknya. “Kamu enggak mikir bisa sampai ditahap seperti ini perjuangannya seperti apa? Kalau mama sampai melepaskan semuanya kamu bakal enggak punya apa-apa, jadi kamu sebagai anak nurut saja dengan perkataan orang tua, enggak usah menyuruh-nyuruh kami berhenti bekerja” terang bu Intan tampak emosi kesal dengan ucapan Sandy yang enggak masuk akal baginya. Sandy sedikit terkejut dengan bentakan mamanya. “Ka…kalau gitu Sandy keluar dulu ya ma, maaf kalau sudah buat mama emosi, Sandy enggak akan mengatakan apapun lagi” Sandy segera keluar dan bergegas menuju kamarnya sambil berlari. Sandy berfikir orang tuanya lebih menyayangi uang dari pada anaknya sendiri. Dari kecil mana pernah Sandy diurus layaknya seperti anak orang lain. Mereka Cuma sibuk kerja dan kerja tanpa memperhatikan kondisi ataupun perkembangan diri Sandy. Untungnya ada Bi Ainun yang merawat Sandy dari kecil sampai sekarang ini, hingga Sandy merasa lebih dekat dengan bibinya daripada orang tuanya sendiri. Sandy mengunci kamarnya rapat-rapat dan memejamkan matanya. Ia benci dengan orang tuanya, mereka enggak pernah menganggap Sandy ada bahkan kalau mereka memang tidak mau punya anak kenapa mereka melakukannya? ‘Apa gue Cuma hewan peliharaan buat mereka yang tiap hari Cuma dikasih uang uang dan uang’ batinnya kesal. Ia sudah muak dengan semuanya. Sepulang ngampus Mia mencoba untuk melamar part time dibeberapa café terdekat. Niatnya untuk menambah penghasilan sampingan. Mia berjalan menyusuri jalanan Jakarta yang tampak sedikit lenggang, sepertinya karena masih jam sibuk. Mia memasuki salah satu toko roti di pinggir jalan. “Permisi” “Iya selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” “Ah begini, saya lihat di depan pintu ada secarik kertas berupa lowongan pekerjaan part time, apa lowongannya masih tersedia?” Pegawai itu pun mencoba untuk mengkonfirmasi pada atasannya terlebih dahulu. “Betul kak, lowongannya masih tersedia, apa kakak berminat untuk melamar disini?” “Iya kak, aku berminat, untuk persyaratannya apa aja ya kak?” “Dikarenakan kami baru soft opening dan memang urgent mencari pegawai, kakak boleh kemari 2 hari lagi ya untuk mempersiapkan interviewnya, untuk persyaratannya bawa cv aja kak” “Oh gitu, kalau gitu besok saya kemari lagi ya” “Baik kak” Mia pun segera keluar dari toko tersebut. ‘Baguslah, semoga aja besok gue diterima part time disitu’ batinnya bertekad.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN