Di Club….
“Dy, lo kemarin kenapa sih? Tiba-tiba ninggalin kita kaya gini?” tanya Raffi penasaran sambil meneguk segelas bir.
“Enggak papa gue, biasa banyak pikiran”
“Gaya banget lo, noh lihat si Amel jadi ngambek sama gue gegara tingkah konyol lo kemarin” ucap Raffi menunjuk keberadaan Amel tengah duduk di sofa sendirian sambil memegang segelas bir.
“Samperin gih, ajak ngobrol” tutur Raffi mendorong badan Sandy mendekati tempat Amel duduk.
Sandy mencoba mendekatinya.
“Mel”
Amel menoleh kearah Sandy.
“Ng..” balasnya sambil berusaha mengabaikan sapaan Sandy.
“Lo masih marah sama gue?”
“Ya lo pikir aja sendiri, lo tiba-tiba kaya gitu ngilang enggak ada kabar lagi, sementara kemarin kita udah ngumpul sambil nungguin lo, padahal ada hal penting yang mau gue jelasin ke lo, tapi lo nya udah kabur duluan” jelas Amel sambil meneguk gelas birnya.
“Kalo gitu sorry banget gue minta maaf tentang yang kemarin, gue enggak maksud mau ninggalin kalian cuma gue lagi…” belum selesai Sandy berbicara Amel sudah memotong pembicaraannya.
“Yauda, lupain aja yang kemarin, sekarang kan kita udah baikan lagi, jadi lo temenin gue disini” tutur Amel menatap melas pada Sandy.
“Jadi lo mo ngomongin hal penting apa kemarin?” tanya Sandy penasaran.
“Sebenarnya ini penting kalo lo mau get money,yap…gue ada kerjaan buat lo” tawar Amel dengan mimic wajah serius.
“Hah? Kerjaan apa?”
“Gue ada klien, dia lagi kesel banget sama orang, gue butuh lo buat bikin dia nyesel dan berasa dipermainin abis”
“Maksud lo gimana?”
“Gue mau lo goda wanita yang jadi inceran klien gue, kalo dia kepancing terus udah jatuh ke perangkap lo, lo tinggalin dia” jelas Amel tersenyum misterius.
“Lo gila kali ya, gue enggak bisa mainin perasaan wanita apa lagi wanita itu yang enggak gue kenal sama sekali” Sandy menggelengkan kepalanya menolak tawaran Amel.
“Jadi lo nolak gitu aja? Padahal ini baru permulaan lo, gue tau lo butuh hiburan kan? kenapa lo enggak coba aja tawaran dari gue?” Amel terus membujuk Sandy sambil mendekatkan dirinya kewajah Sandy. Ia tersenyum nakal.
Sandy mendorong Amel yang berusaha mendekat kearahnya. “Berapa bayaran yang gue terima?”
“Anak orang kaya kaya lo emangnya butuh uang?”
“Bagi gue uang memang enggak penting, tapi hidup butuh uang kan? Yang kaya itu orang tua gue bukan gue, gue juga mau punya penghasilan sendiri biar enggak dibilang karena privillage orang tua gue, karena gue dah muak sama mereka”
Amel mengangguk-angguk mengerti. “Untuk masalah biaya nanti gue kabarin lagi ke lo, tapi yang jelas pekerjaan ini akan menyenangkan buat lo, orang kaya kalau lagi stres biasanya mencari kesenangan dengan wanita kan? lo tinggal ikutin alurnya aja, karena lo udah termasuk bagian dari orang kaya itu”
“Kalau gitu, lo coba jalanin trialnya dulu sama gue, kalo berhasil gue bakal jadiin ini kerjaan sampingan buat lo”
“Mel, gue..” belum selesai Sandy berbicara Amel langsung mengcutnya.
“Malam ini permainannya akan segera dimulai, gue tahu lo sebenarnya enggak sepolos itu, jadi gue tunggu kemampuan seduce lo” Amel menyeringai sambil segera pergi meninggalkan Sandy yang tampak belum begitu yakin dengan tawaran yang Amel berikan.
‘Gila, malam ini? Ah gue belum siap lagi’ batin Sandy sambil berdiri mematung.
“Woy Dy” teriak Raffi menepuk pundak Sandy.
Sandy yang tampak melamun segera tersadar.
“Amel ngomong apa sama lo? Kayanya serius banget”
“Ah…itu bukan apa-apa, gue cabut duluan ya, besok gue ada latihan basket”
“Enggak seru lo, baru juga senang-senang udah mau cabut aja”
“Biasa urgent, nanti gue hubungi lagi”
Sandy segera keluar dari tempat club menuju rumahnya sambil terus memikirkan tawaran Amel yang cukup menggiurkan itu.
Mia menatap jam di ponselnya. Cuaca hari ini sangat panas, ia lupa membawa payung untuk menutupi sinar matahari yang menyengat. ‘Hari ini males pulang, dirumah juga cuma ada nenek, mama enggak ada sibuk kerja di toko butik. Hmmm….gue kemana ya enaknya?’ batinnya menerka-nerka.
Wushhhh…
Suara mobil melewati Mia dengan kencang hingga membuat rok yang Mia kenakan terangkat.
“Huaaa…” Mia langsung segera menutupi rok itu sambil panik menengok kekanan dan kiri takut ada yang memperhatikannya.
Untungnya saat itu jalanan tidak terlalu ramai karena masih siang. Namun ada beberapa orang tampak memperhatikannya. Wajah-wajah m***m mulai bertebaran disekelilingnya. Mia menundukkan kepalanya sangat malu plus takut ada yang mau berbuat jahat padanya.
“Orang gila, bisa-bisanya ngendarain mobil didalam kota dengan kecepatan kencang, mau mati hah?” teriak Mia menatap mobil gila itu dari kejauhan.
Tiba-tiba mobil itu berhenti diseberang jalan. sepertinya pemilik mobil itu berniat membuka pintu mobilnya. Mia berfikir pemilik mobil itu ingin minta maaf padanya namun ternyata ia salah. Lelaki yang keluar dari kursi pengemudi itu lantas berjalan menuju sebuah toko bunga.
Mia yang masih kesal plus malu mencoba menghampirinya sampai ke toko bunga.
Mia menatap mobil yang terparkir didepan toko bunga itu. ‘Kayanya gue pernah lihat nih mobil, tapi dimana ya, gue enggak inget’ pikirnya bertanya-tanya.
Mia kemudian melihat dari sebuah kaca. Lelaki itu tampak sedang memilih-milih bunga yang cocok. Entah untuk apa, yang jelas Mia mencoba untuk menerobos masuk ke toko bunga itu.
“Hei” teriak Mia menatap kearah lelaki yang tengah mencium aroma bunga melati.
Sandy segera menengok.
“Astaga....bisa-bisanya gue ketemu sama lo lagi, lelaki b******k” Mia menampar Sandy didepan mbak pelayan yang tengah memegang bunga.
Mbak pelayan itu tampak terkejut melihat Mia menampar Sandy disampingnya.
Sandy memegangi pipinya yang sakit terkena tamparan pedas wanita dihadapannya ini.
Ia tampak malu didepan mbak pelayan, ia tidak menyangka dirinya akan ditampar oleh seorang wanita di toko bunga.
“Lo siapa njing” Wajah Sandy merah meledak.
“Apa-apaan sih lo, udah gila ya? dateng-dateng langsung nampar gue” terkanya emosi.
“Emang enak, rasain lo” dengus Mia menatap tajam lelaki itu.
“Permisi….” Ucap mbak pelayan itu memotong pembicaraan mereka berdua.
“Kakaknya pacar cowo ini? Kenapa datang tiba-tiba marah? Apa kakaknya diselingkuhin?” tanya mbak pelayan itu dengan sangat amat kepo.
‘Ihhh..apa-apaan sih nih mbaknya, kepo banget urusan orang lain’ batin Mia menatap julid.
Mereka berdua langsung menggelengkan kepalanya sambil tangannyamembentuk huruf x didada.
“Diselingkuhin?” dikte Mia menyeringai.
“Mana mungkin gue punya pacar macam cewe gila kaya gini, enggak level” ucap Sandy mendengus kesal.
“Dasar laki-laki belagu, gara-gara mobil lo jalannya kenceng banget rok gue hampir keangkat semua tahu, dasar lelaki m***m enggak punya rasa bersalah sama sekali” celetuk Mia kesal.
“A…apa lo bilang? m***m? Gue emang pernah ngapain lo sampe lo bilang gitu?” balas Sandy memelototi wanita dihadapannya itu.
“Padahal hari ini mood gue lagi bagus jangan buat mood gue tambah buruk dengan kehadiran lo disini, pergi lo dari sini” usir Sandy sambil mendorong Mia sampai ke depan pintu.
“Gue tau lo mau ngasih wanita itu bunga kan?” tunjuk Mia pada bunga yang Sandy sedang pegang.
Mata Mia menatap bunga yang sedang di pegang Sandy. “Gue yakin lo enggak bakalan diterima sama cewe yang mau lo tembak” Mia mengangkat satu alisnya sambil tersenyum gila. Ia mengangkat jari tengahnya sambil mengedipkan satu matanya. Lalu pergi menghilang dari hadapan Sandy.
“Kalo gue ketemu sama lo lagi untuk yang ketiga kalinya, gue enggak bakal tinggal diam, inget lo wanita rese” tegas Sandy lalu langsung membayar bunga yang sudah ia pesan. Ia pun segera bergegas keluar menuju mobilnya dengan perasaan tidak terkontrol.