[18] Watching A Movie

1819 Kata
“Wuah, aku kenyang!” pekik Aprodytha seraya merentangkan tangannya ke udara. Setelah berkutat dalam upaya menghabiskan sepiring steak tenderloin sapi yang dibuatkan oleh Jae, akhirnya Aprodytha menyelesaikan makan malamnya hingga habis. Para pelayan pun sudah tak terkejut mengetahui Nyonya mereka yang kini nafsu makannya sedang meningkat. Bahkan Aphrodite yang biasanya marah – marah, sekarang sudah berkurang frekuensi nya. Ya, karena itu memang bukan Aphrodite, melainkan Aprodytha. Jae berjalan menghampiri Aprodytha dan bertanya, “Apakah anda menyukai masakan saya, Nyonya?” Aprodytha menatap Jae yang berdiri di sisinya, “Terima kasih Jae, aku menyukai masakanmu. Sampai jumpa untuk sarapan besok, ya,” balas Aprodytha. Aprodytha pun bangkit dari kursinya dan meletakkan serbet yang tadi ia gunakan ke atas meja. Baru beberapa langkah ia pergi meninggalkan meja makan, Aprodytha pun teringat dengan ice cream yang ia beli tadi siang. Lants ia pun memutar badannya dan memanggil Hanks dengan bahasa tubuhnya. Untung saja pria itu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Aprodytha. “Iya, Nyonya?” ujar Hanks saat ia telah berada di depan Aprodytha. “Tolong ambilkan ice cream ku yang rasa cookies n cream ya,” titah Aprodytha. “Ice cream?” ujar Hanks mengulangi ucapan Aprodytha. “Iya ice cream yag aku beli tadi siang. Tolong ambilkan 5 scoops saja.” “Ah baik.” Hanks pun membalikan badannya, namun tiba – tiba ia teringat akan sesuatu, “Tapi, Nyonya.” “Bukankah anda baru saja selesai makan? Apa tidak kenyang?” sambung Hanks. Aprodytha menyentuh perutnya yang masih rata. Metabolisme di tubuhnya benar – benar cepat. “Tidak sama sekali. Aku memiliki 4 lambung, tenang saja,” balas Aprodytha. “4 lambung?” “Iya. Dulu aku sering di ejek seperti itu karena terlalu banyak makan. Padahal kebanyakan orang yang mengejek ku sebenarnya iri karena aku tetap kurus walau makan banyak.” Hanks pun menganggukan kepalanya mengerti. “Aku tunggu di ruang tengah ya. Sepertinya aku akan menonton Netflix di sana.” “Baik, Nyonya. Segera saya ambilkan ice cream anda.” Setelah mendengar Hanks yang mengerti dengan perintahnya, Aprodytha pun pergi meninggalkan ruang makan dan melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Saat sampai di ruang tengah, Aprodytha menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Saat ia merasa tak ada orang, Aprodytha pun berlarian kecil dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang luar biasa lembut dan empuk itu. Aprodytha pun membetulkan posisi duduknya dan mengambil remote tv yang berada di atas meja di depan nya. Ia juga menyeka anak rambut yang menutupi wajahnya. Tangannya terulur dan lalu menekan tombol power untuk menghidupkan tv itu. Matanya fokus ke layar, sedangkan jari nya terus bergerak mencari aplikasi Netflix pada tv itu. Setelah ketemu, Aprodytha lantas membuka aplikasi Netflix. Dia sempat terdiam sejenak, karena nama akun Netflix tersebut kosong, namun ia memutuskan untuk mengabaikannya. Saat akun Netflix itu terbuka, Aprodytha tak menemukan satu pun daftar tontonan di dalamnya. “Apa – apaan ini?” gumam Aprodytha. Aprodytha terus menggeser berbagai film ke samping kanan dan kiri, “Akun ini tak pernah di pakai? Astaga sayang sekali. Mereka belum tahu jika film – film di Netflix sangat seru,” sambungnya. Daftar tontonan kosong dan bahkan tak ada satu pun film yang masih berjalan. Biasanya jika baru menonton setengah atau sehabis menonton, film itu akan muncul di beranda, namun hasilnya nihil. “Para pelayan di rumah ini benar – benar patuh dengan aturan. Bagaimana caranya membuat pelayan rumah bisa patuh? Biasanya kebanyakan pelayan jika pemiliknya tak ada di rumah, pasti akan memakai barang – barang yang ada di rumah itu seenaknya,” gumam Aprodytha. Lalu, Aprodytha pun terpikirkan dengan ucapan Peter tadi siang yang berkata mereka memiliki wilayah sendiri di area belakang rumah dan memiliki ruangan yang masuk ke dalam tanah. “Apa mereka menikmati fasilitas yang sama denganku?” “Ah sudahlah. Mungkin sebaiknya aku menonton.” Aprodytha pun memutuskan untuk mengabaikan persepsi dalam benaknya, walau sebenarnya tak bisa dipungkiri jika para asisten di rumah itu sangat luar biasa patuh dengan aturan yang ada. Tak perlu menunggu waktu lama, Hanks pun hadir dengan semangkuk penuh ice cream yang dipesan oleh Aprodytha. Hanks meletakkan ice cream itu di atas meja lalu menambahkan sendok dan juga tissue di sampingnya. “Selamat menikmati, Nyonya,” ujar Hanks. “Terima kasi, Hanks,” balas Aprodytha lalu mengambil semangkuk penuh ice cream cookies n cream Baskin Robbin yang ia beli tadi siang. Setelah Aprodytha mengambil mangkuknya, Hanks pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Aprodytha. Namun, Aprodytha justru menarik sudut baju Hanks dan membuat pria itu terdiam dan menatap Aprodytha. “Apa kau suka ice cream?” tanya Aprodytha. “Sedikit, Nyonya,” jawab Hanks. “Apa kau ada pekerjaan lain yang harus kau kerjakan?” tanya Aprodytha lagi. Hanks tampak berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya, “Sepertinya tidak ada, Nyonya. Sekarang pun sudah pukul 10, jadi waktu kerja kami sudah beres.” “Kalau begitu, temani aku menonton tv sembari makan ice cream ya.” Hanks membelalakan matanya karena tak percaya mendengar kalimat yang baru saja Aprodytha katakan. “Tapi -” “Cepat ambil ice cream mu di belakang lalu kembali lagi ke sini,” titah Aprodytha. Hanks pun tak bisa menolak dengan perintah Aprodytha. Bukan karena ia tak mau, hanya saja, momen itu sangat langka. Kapan lagi ia bisa duduk berdua bersama Aprodytha sembari bersantai? Saat Hanks akan pergi, Aprodytha kembali menarik ujung baju nya dan membuat Hanks kembali menatap Aprodytha yang sedang duduk dengan sendok ice cream di mulutnya. Aprodytha mengeluarkan sendok ice cream dari dalam mulutnya, dan berkata “Apa kau bisa mengganti baju pelayanmu itu? Jam kerja mu sudah habis kan?” Hanks menganggukan kepalanya sebagai jawaban iya atas pertanyaan Aprodytha. “Oke, aku tunggu,” ujar Aprodytha lalu kembali menyendokkan ice cream cookies n cream ke dalam mulutnya dan matanya pun kembali terfokus pada layar tv yang ada di hadapannya. Jari Aprodytha kembali menekan tombol remote tv dan menggeser daftar tayangan yang ada di Netflix. Matanya pun tertuju pada sebuah film horror yang belum pernah ia tonton sebelumnya. Akhirnya ia pun menekan tombol ok dan film itu pun terbuka. Aprodytha menekan tombol pause, karena sejujurnya ia tak terlalu berani dalam menonton film horror. Tapi, karena ia merasa butuh senam jantung, jadi Aprodytha memutuskan untuk menonton film itu. “Tidak akan seram kan? Lagi pula akan ada Hanks di sini yang menemaniku,” gumamnya. Beberapa menit setelahnya, Hanks pun kembali ke ruang tengah. Kali ini Hanks menggunakan piyama berwarna biru dengan motif kartun beruang. Di tangannya, ada sebuah mangkuk berisi ice cream yang sudah ia ambil dari belakang. Hanks berdiri di hadapan Aprodytha dan ia merasa tak enak hati jika langsung duduk di samping Aprodytha. Namun, untung saja Aprodytha mengerti. Aprodytha menggeser tubuhnya sedikit lalu menepuk – nepuk sofa dengan maksud meminta Hanks duduk tepat di sampingnya. Hanks pun mengerti, ia akhirnya mendudukan dirinya di samping Aprodytha. Tangan dan tubuhnya kaku karena merasa tidak nyaman duduk di samping Aprodytha. Ia takut melakukan kesalahan dan justru dipecat oleh Aprodytha. Aprodytha pun sepertinya menyadari jika Hanks sangat kaku, akhirnya ia menepuk – nepuk bahu Hanks perlahan, “Santai saja. Kita hanya akan menonton Netflix.” “Dan, oh ya. Aku akan menonton film horror, tidak masalah kan?” sambung Aprodytha lagi. Hanks menatap layar tv di depannya dan melihat sebuah film yang sudah di buka oleh Aprodytha namun belum di putar. “Iya, Nyonya,” jawab Hanks kaku. “Hahaha, sudah ku bilang santai saja. Anggap saja kita berteman, oke?” Aprodytha pun menertawakan atas tingkah kaku Hanks. Hanks susah payah menelan ludahnya. Ia akhirnya meletakkan mangkuk ice cream yang sedari tadi ia pegang ke atas meja dan lalu meregangkan otot – otot tubuhnya. “Baiklah. Ayo, Nyonya!” ujar Hanks bersemangat. Seolah – olah dirinya yang saat ini dan Hanks yang tiga puluh detik lalu adalah orang yang berbeda. “Oh ya, Hanks, boleh tolong matikan lampu? Sepertinya akan seru jika kita menonton dengan suasana gelap,” ujar Aprodytha. Hanks pun bangkit dan langsung mematikan lampu ruang tengah lalu kembali ke duduknya seperti semula. Aprodytha akhirnya menekan tombol remote tv dan memutar film horror yang berjudul Insidious. Film pun dimulai, Aprodytha dan Hanks sama – sama memeluk bantal sofa dan menyantap ice cream mereka dengan mata yang terfokus menatap layar tv. Satu jam kemudian . . . Hanks dan Aprodytha tetap fokus menatap layar tv. Ice cream yang mereka santap pun sudah habis dan kini mereka hanya memeluk bantal sofa dengan mata yang masih menatap film Insidious di layar tv. Lama kelamaan film berjalan menjadi tegang, terlebih saat terror anak kecil dalam film itu terasa semakin nyata. Suara hening dalam film tersebut justru menambah kesan seram di dalamnya. Hingga akhirnya … Jreng ! “Aaaaakkkk!!!” pekik Hanks saat melihat hantu dalam film tersebut yang muncul secara tiba – tiba dan spontan ia pun melempar sofa bantalnya ke udara dan mengenai kepala Aprodytha. “Ciaaaaa!!!” pekik Aprodytha saat bantal sofa milik Hanks mengenai kepalanya. Usai teriakan mereka, akhirnya, film pun berakhir. Hanks berjalan menghampiri saklar lampu dan menyalakan lampu di ruangan itu. Setelah cahaya menerangi ruangan itu, Hanks pun mengambil bantal sofa yang tanpa sengaja ia lempar ke udara. Aprodytha memegang kepalanya yang terasa sakit karena sofa yang di lempar oleh Hanks. Hanks pun menyadari jika bantal yang ia pegang ternyata mengenai kepala Aprodytha. “Maafkan saya, Nyonya! Saya tidak sengaja,” ujar Hanks dengan wajah khawatir dan paniknya karena merasa bersalah telah melemparkan bantal itu hingga mengenai kepala Aprodytha. Aprodytha bukannya marah justru tertawa terbahak – bahak, “Hahahaha, astaga kau berteriak karena melihat hantu dan aku justru berteriak karena bantal mengenai kepalaku.” Hanks pun kebingungan melihat Aprodytha yang justru tertawa akibat ulahnya. Melihat wajah bahagia Aprodytha dan tak marah sama sekali padanya, Hanks pun akhirnya ikut tertawa. “Nyonya, mungkin sebaiknya anda tidur karena hari semakin larut,” ujar Hanks. “Ya, kau benar. Aku harus tertidur,” lirih Aprodytha lalu tanpa sadar ia pun menguap dan rasa kantuk mulai menerpanya. Aprodytha hendak membereskan mangkuk beserta remote tv, namun Hanks sudah lebih dulu menahannya, “Biar saya saja, Nyonya. Anda silakan ber istirahat.” Aprodytha yang sudah mengantuk pun hanya menganggukan kepalanya. Ia akhirnya meninggalkan Hanks di ruang tengah dan membiarkan pria itu membereskan sisa – sisa menonton mereka. Aprodytha masuk ke dalam kamarnya. Suasana dingin dari pendingin ruangan membuat Aprodytha semakin merasa mengantuk. Ia pun langsung melempar tubuhnya ke atas tempat tidur lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya. “Selamat malam,” gumamnya pada dirinya sendiri. Matanya pun terpejam. Dan beberapa saat kemudian napasnya kembali stabil, menandakan bahwa Aprodytha sudah masuk ke dalam mimpinya. Sedangkan Hanks di luar sana, ia masih merasa tak percaya dengan apa yang ia alami. Ia baru saja menonton film bersama Aprodytha yang terkenal dingin, kaku dan tak peduli terhadap pelayannya. “Aku harap, Nyonya Aphrodite tetap seperti itu hingga seterusnya,” gumam Hanks. Setelah membereskan ruang tengah, Hanks pun segera menuju belakang dan turut pergi beristirahat untuk melanjutkan harinya esok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN