[19] Damien Zeousin?!

1893 Kata
Aprodytha menggeliatkan tubuhnya saat merasakan sesuatu menimpa perutnya. Matanya masih terpejam karena rasa kantuk yang masih menguasainya. Sinar matahari perlahan menyeruak masuk di antara celah gorden kamar itu. Nyawa nya masih belum terkumpul sepenuhnya, tapi Aprodytha merasakan perutnya bergejolak dan menjadi pertanda bahwa alam sudah memanggilnya. Tangan Aprodytha menyingkirkan selimut dan berbagai benda yang menurutnya menghalangi bagian perutnya. Ia pun bangkit dan dengan mata setengah terpejam, rambut berantakan lalu menguap, ia beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Tubuhnya sesekali hampir terjatuh karena rasa kantuk yang lebih menguasainya. Setelah masuk ke kamar mandi, Aprodytha menutup pintu kamar mandi dan langsung membuka toilet sekaligus celana nya dan duduk di atasnya. Rasa sakit perut pun langsung mendatanginya. Dengan sekuat tenaga, Aprodytha mendorong sisa ampas makanannya tadi malam. “Ahhhhh, lega,” lenguh Aprodytha setelah berhasil mengeluarkan ampas makanan dari dalam tubuhnya. Selesai mengeluarkan seluruh sisa makanannya, Aprodytha meraih flusher dan membersihkan bagian bawah tubuhnya. Ia pun lalu menutup closet dan menekan flusher pada closet tersebut untuk membawa sisa ampas yang baru saja ia keluarkan barusan ke pembuangan akhir. Aprodytha berjalan menghampiri wastafel dan mencuci tangan nya dengan menggunakan sabun. Setelah mencuci tangannya, Aprodytha merapikan rambutnya dengan sisir yang ada di sana sembari bercermin. “Astaga, rambutku selalu saja terlihat seperti singa,” gumamnya. Merasa rambutnya sudah jauh lebih rapi, Aprodytha pun keluar dari kamar mandi. Matanya langsung melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar itu. “Masih pukul enam pagi, tapi cahaya matahari sudah cukup terang,” gumamnya lagi. Ia melihat lagi ke arah tempat tidur yang masih berantakan, “Sepertinya hari ini aku akan membuat janji dengan tempat tidur untuk tidak saling meninggalkan satu sama lain.” Aprodytha kembali berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut dan bersiap terlelap kembali setelah tadi malam tidur larut akibat menonton film horror bersama Hanks. Baru saja Aprodytha kembali terlelap dalam mimpi indahnya, tiba – tiba saja ia merasakan sesuatu yang seperti melingkar di pinggangnya. Dengan setengah sadar, Aprodytha pun menggeser benda aneh itu dan kembali tertidur. Namun lagi – lagi ia merasakan benda itu melingkar di pinggangnya. Akhirnya Aprodytha pun bangun karena kesal dengan benda itu dan bermaksud ingin membuangnya ke lantai. Aprodytha menyibakkan selimut dan membuangnya ke lantai. Mata Aprodytha membulat saat ia melihat sosok pria yang tidur di sampingnya. “Aaaaaaaakkkkkkkkkk!!!!!!!!!” teriak Aprodytha kencang saat ia melihat pria yang terlelap di sampingnya. Perlahan pria itu menggeliat, membuat Aprodytha semakin waspada, terlebih pria itu tak mengenakan kaus. Aprodytha melihat pakaian yang ia kenakan dan untungnya masih utuh. Hingga ia bisa mengambil kesimpulan tak ada yang terjadi antara dirinya dan pria itu. Aprodytha menggeser tubuh pria itu hingga jatuh ke lantai. Bruk! Suara benturan keras dari tubuh pria itu dengan lantai terdengar keras dan sedikit ngilu. Aprodytha segera mengambil bantal miliknya dan bersiap menyerang pria asing yang tiba – tiba saja berada di sampingnya. Benar saja, pria yang di tendang paksa oleh kaki Aprodytha pun terbangun sembari memegang kepalanya yang terbentur keras ke lantai. Pria itu berdiri di hadapan Aprodytha hingga Aprodytha bisa melihat dengan jelas roti sobek kotak – kotak berjumlah enam yang menempel di perut pria itu. Rambut pria itu pun terlihat berantakan, hingga menimbulkan fantasi dan kesan seksi bagi Aprodytha. “Aaaaaaaaaaakkkkkk!!!” teriak Aprodytha lagi. “Astaga mataku sudah tidak suci!” pekiknya lalu menutup kedua matanya rapat – rapat. Pria itu tak berkutik, ia justru bingung melihat Aprodytha yang justru menutup mata karena melihatnya. Aprodytha lantas melempar bantal yang ia pegang. Namun pria itu dengan sigap menahan bantal yang di lempar oleh Aprodytha dengan satu tangan lalu menaruhnya di atas kasur. Pria itu naik ke atas kasur dan merangkak mendekati Aprodytha, membuat Aprodytha panik setengah mati. “Jauh – jauh dariku, orang m***m!!!” pekik Aprodytha. Bukan nya marah karena dipanggil sebagai orang m***m, pria itu justru tertawa mendengar ucapan Aprodytha. “Buka matamu,” ujar pria itu perlahan dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun tidur. “Tidak mau!” jawab Aprodytha cepat dengan tangan yang masih menutupi kedua matanya. Pria itu meraih satu tangan Aprodytha perlahan dan memaksa Aprodytha untuk melepas tangannya agar tak menutupi matanya lagi. “Aku bilang, buka matamu,” ujar pria itu lagi. “Dasar pria m***m! Kau pasti akan menyuruhku membuka mataku, lalu melihatmu yang telanjang kan? Lalu kau akan b*******h dengan memperlihatkan senjatamu itu!” Pria itu tertawa mendengar ucapan Aprodytha, “Kau pikir aku penderita eksibisionis, hah? Lagi pula, aku ini bukan orang asing. Jika aku menginginkannya, kenapa aku harus menunjukanmu secara paksa? Bukankah kau punya kewajiban untuk melayaniku?” ujar pria itu seraya menekankan kata ‘melayani’ pada ucapannya. Sebesit pikiran terlintas dalam benaknya saat pria itu menjawab ucapan Aprodytha dengan jawaban yang di luar akalnya. “Apa dia Damien?” ujarnya dalam hati. Aprodytha pun menurunkan tangannya dan membuka matanya lalu menatap wajah pria di hadapannya. Mata Aprodytha bisa melihat jelas wajah pria itu dari jarak dekat. Mata berwarna cokelat, alis tebal, hidung lancip dan dagu yang tegas membuat wajah pria itu terlihat tampan dari segi manapun. Aprodytha pun segera menyadarkan dirinya dalam fantasi ketampanan pria di hadapannya. Aprodytha langsung memundurkan tubuhnya karena tak ingin berdekatan dengan wajah pria yang batang hidungnya hanya berjarak 5 cm dari hidung miliknya. “Akkh!” pekik Aprodytha saat tangannya keluar dari batas tempat tidur karena ia terus menerus mundur menjauhi pria di hadapannya. Pria itu pun dengan sigap meraih pinggang Aprodytha dan menariknya mendekatinya. Pria itu menatap Aprodytha dingin. Tatapan nya sangat tajam, membuat Aprodytha terdiam dan tak berkutik. “Apa ini yang kau lakukan untuk menyapa suamimu yang baru saja pulang selama 3 tahun tak bertemu?” tanya Damien. Mata Aprodytha langsung melotot. Sepertinya bola mata miliknya sebentar lagi akan keluar dari tempatnya. Tubuh Aprodytha kaku seketika, ia merasa tubuhnya bak di sambar petir dan waktu di sekitarnya pun terhenti. “Da – mien?” gumamnya. “Hm?” jawab Damien. Tubuh Aprodytha yang semula kaku langsung lemas saat pikiran dalam benaknya ternyata benar. Pria asing yang tadi memeluknya selama tidur dan bahkan satu ranjang dengan nya, adalah Damien. Suami Aphrodite. Wajah Aprodytha pun memucat, membuat Damien merasa khawatir dengan wanita yang ia anggap sebagai Aphrodite – istirnya. “Kau baik – baik saja?” tanya Damien. Aprodytha tak berkutik. Plak! “Aw!” pekik Aprodytha setelah memukul kepalanya sendiri dengan harap ini adalah sebuah mimpi. Namun nyatanya tidak. Dia sudah terbangun dan ini adalah dunia nyata. “Apa yang kau lakukan?” tanya Damien karena terkejut dengan reaksi yang diberikan oleh Aprodytha. “Ti – tidak,” jawab Aprodytha sembari memperlihatkan senyuman mirisnya. Damien mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah jam dinding. “Sudah waktunya sarapan,” ujar Damien. Aprodytha bukannya menjawab ucapan Damien, ia justru menatap pria itu dengan lekat. Damien merasakan tangannya mulai keram karena menahan pinggang Aprodytha, akhirnya ia pun melepaskan pegangannya pada pinggang Aprodytha hingga wanita itu terjatuh ke atas bantal. “Kau yakin, kau baik – baik saja? Sepertinya tidak terlihat begitu,” ujar Damien yang masih bingung dengan sikap Aprodytha. Aprodytha mengutuk Aphrodite yang sedang berlibur di Bali. Ia menghujani hati nya dengan berbagai ucapan memaki karena ia harus berhadapan dengan Damien yang notabene adalah Aphrodite. “Awas saja kau!” pekik Aprodytha dan membuat Damien terkejut dengan respon tiba – tiba dari Aprodytha. “Mau ku panggilkan dokter?” ujar Damien. Damien merasa jika Aprodytha sedang dalam kondisi yang tidak baik – baik saja. Terlihat saat ini Aprodytha justru tiduran dengan posisi yang tentu saja tidak enak dan mata kosong lalu tiba – tiba mulutnya meracau tidak jelas. Ddddrttt Ddddrttt Ddddrttt Ponsel Damien yang berada di atas nakas pun bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Damien langsung memutar tubuhnya, lalu duduk di tepi ranjang dan mengangkat panggilan masuk. Aprodytha yang masih tiduran di atas bantal dengan posisi yang tak jelas, hanya menatap punggung Damien yang berotot. Ia pun menyadari jika Damien sedang menelepon seseorang dengan menggunakan ponsel. Usai Damien mematikan sambungan panggilannya, ia pun membalik badannya dan betapa terkejutnya Damien dengan Aprodytha yang saat ini sudah duduk persis di belakangnya. “Kau punya ponsel?!” tanya Aprodytha. Damien menatap heran ke Aprodytha lalu melirik ponsel yang masih ada dalam genggamannya, “Tentu saja aku punya,” jawab Aprodytha. “Jika kau punya ponsel, kenapa kau tidak berniat menghubungi istirmu sama sekali?!” pekik Aprodytha. Damien pun terdiam. “E – eh, itu.” Damien memutar bola matanya dan berusaha mencari jawaban. “Aku selalu heran kenapa kau tak pernah menghubungi istrimu sendiri. Menanyakan kabar saja tidak pernah, apa lagi memberikan kabar. Ku pikir kau orang kuno dan katrok yang tak mengenal teknologi. Tapi tunggu - ! Jika kau tak mengenal teknologi, seharusnya kau tak tahu cara mengirimkan uang, kan? Lagi pula sangat tidak mungkin jika pria tampan, muda dan kaya raya sepertimu tak mengenal teknologi!” ujar Aprodytha dengan serentetan kalimat yang terasa seperti rumus matematika dan fisika di telinga Damien. Yap, masuk telinga kanan lalu keluar ke telinga kiri. “Oke! Cukupkan dulu rasa amarahmu. Sekarang aku harus pergi dulu-” ujar Damien lalu dipotong oleh Aprodytha secara tiba – tiba. “Pergi lagi? Kali ini berapa lama kau akan pergi? Satu tahun? Dua tahun? Tiga tahun? Sepuluh tahun? Lima belas tahun? Atau mungkin selamanya?” tanya Aprodytha dengan emosi yang sudah memuncak. Aprodytha bahkan tak tahu mengapa ia menjadi sangat emosional saat melihat pria yang meninggalkan saudari kembarnya selama 3 tahun tanpa kabar padahal pria itu memiliki ponsel dan jelas – jelas bisa menghubungi istrinya sendiri dengan berbagai cara. “Kali ini kau mau pergi ke pelosok lagi, atau pergi ke ujung dunia dan pada akhirnya hilang karena menyelam di segitiga bermuda?” sambung Aprodytha dengan cara bicara yang sangat cepat. Mungkin rapper dunia sekelas Eminem akan kalah saat bertemu dengan Aprodytha yang meracau karena emosi nya. “Stop!” ucap Damien dengan nada tinggi hingga Aprodytha tersentak. “Maafkan aku, tapi aku tak bermaksud untuk membentakmu. Tapi, kenyataannya aku sedang terburu – buru. Jadi, tolong berhenti sejenak. Dan jika aku sudah senggang, silahkan kau lanjutkan racauanmu yang tak jelas itu,” ujar Damien lalu beranjak dari kasur dan langsung masuk ke kamar mandi lalu menutupnya, karena sebenarnya Damien pun sedang berusaha menghindari omelan dari mulut Aprodytha. Aprodytha berdecak kesal, “Asal kau tahu, kau yang menyebabkan Aphrodite berselingkuh darimu karena kau tak pernah memberi kabar padanya selama 3 tahun! Kau menggantungkan harapan anak orang, tahu!” ujar Aprodytha meski ia rasa percuma saja karena kamar mandi itu sangat kedap suara, dan sekalipun ia berteriak dengan keras hingga pita suaranya putus. “Tapi tunggu,” gumam Aprodytha. Aprodytha pun tersadar kembali jika Damien alias suami dari saudari kembarnya baru saja kembali. Aprodytha buru – buru mengambil ponselnya dan hendak mengirimkan pesan bahwa Damien baru saja pulang. Rasa panik yang semula mati karena emosi, tiba – tiba kembali bangkit. “Astaga, jangan sampai pria itu tahu kalau aku bukan Aphrodite,” gumam Aprodytha seraya mencari nama kontak Aphrodite di dalam ponsel itu. Namun, hasilnya nihil. Karena ia tak pernah mencatatat nomor itu dan terlebih seluruh pesan selalu di hapus. “Tamatlah riwayatku.” Aprodytha merasa berdiri di ujung tanduk. Di satu sisi ia harus berhadapan dengan Damien dan bertingkah layaknya seorang Aphrodite, dan di sisi lain ia juga tak ingin Aphrodite menderita, dan di sisi sisa nya, Aprodytha harus menutup rapat – rapat perselingkuhan yang dilakukan oleh Aphrodite. “s**t!” lirihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN