"Iya Pak, sekarang saya bayar biaya kuliah sendiri," jawab Inggit.
"Sayang sekali ya. Untung saja kamu pintar dan tidak ada mata kuliah yang di ulang," ujar Pak Tejo.
"Sebenarnya saya juga menyesal Pak, harusnya saya sudah wisuda dari tahun lalu," ujar Inggit dari dalam hatinya sembari melempar senyumannya masamnya kepada Pak Tejo.
Sekarang giliran Rorra yang diperiksa skripsi miliknya. Rorra bisa melihat dengan jelas dahi Pak Tejo yang berkerut saat membaca skripsi miliknya.
"Sepertinya kemarin bagian ini sudah saya coret untuk dihapus, kenapa masih ada?" tanya Pak Tejo lalu menunjukan bagian yang ia maksud kepada Rorra.
"M - maaf, Pak. Sepertinya saya lupa menghapusnya," jawab Rorra.
"Masih banyak yang berantakan Rorra. Harus di revisi ulang. Coba kamu revisi lagi dengan benar lalu berikan ke saya lusa," ujar Pak Tejo lalu mengembalikan skripsi milik Rorra kepada pemiliknya.
Dengan canggung, Rorra mengambil kembali skripsi miliknya.
"Kalau begitu lusa saya tunggu hasil revisi Rorra. Tolong perhatikan lagi bagian yang saya hapus dan harus diperbaiki. Dan secepatnya saya akan langsung ajukan untuk antri sidang. Semoga saja bisa cepat mendapat jadwal," ujar Pak Tejo.
Setelah selesai melakukan bimbingan, Inggit dan Rorra pun bangkit dari duduknya dan langsung berpamitan dengan Pak Tejo.
"Baik Pak. Terima kasih banyak atas bimbingannya, semoga anda dan istri anda sehat selalu," ujar Inggit.
"Terima kasih pak," sahut Rorra.
Lalu kedua orang itu pun memberikan salam dan keluar dari ruang dosen.
"Astaga rasanya aku mau mati saja, Inggit!" pekik Rorra yang langsung mengerang setelah keluar dari ruangan dosen.
"Jangan mati dulu, selesaikan revisimu dengan benar, Rorra," ujar Inggit kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruang dosen.
Rorra pun berjalan menghampiri Inggit dan memeluk lengan kanan Inggit.
"Kau jadi membantuku kan?" tanya Rorra.
Inggit langsung menghentikan langkahan kakinya dan menatap Rorra.
"Iya, aku akan membantumu, tapi kau juga harus berusaha untuk membereskan skripsimu sendiri terlebih dahulu. Jangan karena aku mau membantu, jadi menggantungkan semuanya padaku," ujar Inggit pada Rorra.
Rorra pun menatapnya dengan tatapan sendu.
"Tidak akan aku bantu jika dari awal. Kau harus memahaminya. Aku hanya akan membantu untuk menyempurnakannya saja," sambung Inggit lalu kembali berjalan hingga akhirnya Rorra kembali tertinggal.
Rorra kembali berlari mendekati Inggit dan merangkul lengan Inggit.
"Aku tak percaya jika kau Nesringgita yang selama ini jadi bahan pembicaraan seisi fakultas. Kau pintar tapi kau mengajukan cuti. Apakah tidak sayang dengan beasiswanya?" tanya Rorra.
"Sebenarnya sayang, tapi karena ada suatu masalah, aku terpaksa mengajukan cuti," jawab Inggit.
Akhirnya mereka tiba di halte yang ada di depan fakultas mereka. Kedua wanita itu pun menunggu bis hijau kembali melintas. Sembari menunggu Rorra hanya menatap sendu ke arah Inggit hingga wanita itu merasa risih.
"Apa?" tanya Inggit.
"Hari ini kau pergi bekerja tidak?" tanya Rorra.
"Tidak. Aku hanya datang hari Senin sampai Kamis. Karena sekarang Jumat, jadi aku tidak akan datang," jawab Inggit.
"Temani aku makan siang ya?" pinta Rorra.
Tepat setelah Rorra bertanya, bis pun tiba di hadapan mereka. Inggit langsung naik tanpa menjawab dan membuat Rorra harus kembali mengejarnya dan kemudian duduk di sebelahnya.
Tanpa bersuara, Rorra terus menatap Inggit dengan tatapan memohonnya.
"Oke, kita makan siang bersama," ujar Inggit menyetujui ajakan Rorra.
Rorra langsung tersenyum senang akhirnya memiliki teman untuk makan siang hari ini.
* * * * *
Dua mahasiswi semester akhir itu akhirnya memutuskan untuk makan di sebuah restaurant hamburger yang terletak tepat di gerbang depan seberang kampus Universitas Depok. Inggit dan Rorra langsung mengantri untuk memesan makanan.
Saat masuk ke dalam tempat itu, seketika Inggit kembali flashback pada memorinya 2 tahun silam. Dimana sebelumnya ia juga pernah bekerja. Namun karena ia ceroboh dan seolah dijebak oleh Pirez, Inggit dipecat dengan cara yang sama sekali tidak terhormat.
"Selamat datang di Burger Queen, ada yang ingin dipesan?" sapa sang pelayan itu sembari mengeluarkan sebuah nampan ke hadapan Inggit dan Rorra.
Rorra sibuk melihat menu yang berada di papan menu, sedangkan Inggit yang 2 tahun lalu pernah bekerja di restaurant itu tentu saja sudah tahu dengan menu yang ada di sana.
"Saya pesan paket Whooper Jr 1 ya," pinta Inggit.
"Baik kak," balas sang pelayan.
"Kamu mau apa, Ra?" tanya Inggit pada Rorra yang masih sibuk melihat daftar papan menu.
Rorra pun menyerah karena bingung harus memesan apa.
"Samakan saja dengan yang tadi," ujar Rorra yang akhirnya memutuskan untuk menyamakan pesanannya dengan milik Inggit.
"Baik. Berarti 2 paket Whooper Jr ya kak. Mau diganti minumannya?" tanya sang pelayan wanita itu.
"Ganti lemon tea," jawab Inggit.
"Aku juga," sahut Rorra.
"Kalau begitu keduanya ganti minum menjadi lemon tea. Totalnya jadi 90 ribu kak," ujar sang pelayan.
Inggit mengeluarkan debit card miliknya dari dalam dompet dan langsung memberikannya pada sang pelayan sekaligus kasir itu.
"Aku saja yang bayar," ujar Inggit.
"Terima kasih," balas Rorra.
Setelah selesai memesan, Rorra dan Inggit pun bergeser. Satu persatu pesanan mereka masuk ke dalam nampan yang disiapkan barusan. Setelah semua pesanan siap, pelayan lain yang bertugas menyiapkan makanan milik Inggit dan Rorra pun memberitahu kepada mereka bahwa seluruh pesanan mereka sudah masuk ke atas nampan mereka.
"Semua pesanannya sudah ya--" ujar pelayan pria itu namun tiba - tiba terhenti saat ia menyadari wanita yang mengambil nampan dan hendak membawanya.
"Inggit?" sambung pria itu.
Inggit yang merasa namanya dipanggil langsung menengok ke arah sumber suara. Tangannya langsung gemetar saat mengetahui pria yang memanggilnya.
"Ya?"
Deg !
Tubuh Inggit seketika terasa kaku saat melihat Pirez, orang yang membuat dirinya dipecat oleh atasannya kini berdiri di hadapannya. Berbeda dengan 2 tahun lalu, kini Pirez telah menjabat sebagai manager cabang Burger Queen yang berada di depan kampusnya.
"Ya ampun sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Oh rupanya kau mahasiswi di Universitas Depok. Aku baru tahu," ujar Pirez saat melihat sebuah tanda pengenal yang berada di balik ponsel Inggit.
Rorra bisa melihat Inggit yang tampak kaku dan bahkan wajahnya memucat. Seolah mengerti Rorra langsung mengambil alih nampan dari tangan Inggit dan mengajak wanita itu pergi.
"Git ayo makan, aku sudah lapar," ujar Rorra lalu mengajak Inggit pergi.
Tapi Pirez tak tinggal diam, dia justru menahan tangan Inggit hingga wanita itu berhenti melangkah.
"Kau masih ingat aku kan?" tanya Pirez.
"Ti - tidak. Aku tidak tahu. Maaf," ujar Inggit lalu ia pun kabur dari sana dan mencari tempat duduk lain yang jauh dari kasir.
Rorra pun berjalan mengikuti langkahan kaki Inggit yang memiliki tempat makan di luar. Rorra bisa melihat wajah Inggit yang berubah seketika saat melihat pria tadi.
Rorra meletakkan pesanan milik Inggit ke hadapan wanita itu. Lalu memasangkan sedotan ke wadahnya dan mempersilakan Inggit minum.
"Minumlah lebih dulu," titah Rorra.
Inggit langsung mengambil minum yang ada di hadapannya dan meneguknya hingga tersisa setengahnya. Matanya berkaca - kaca namun buru - buru Inggit mengambil tisu yang ada di atas meja makan dan menyeka air matanya.
"Tenanglah. Ada aku," ujar Rorra yang berusaha menenangkan Inggit.
"Terima kasih," balas Inggit yang merasa tertolong karena ada Rorra yang menemaninya di sana.
Rorra tak bertanya. Wanita itu justru memakan whooper yang ia pesan tadi.
Setelah beberapa menit mereda, Inggit pun akhirnya memberanikan diri untuk bercerita.
"Sebenarnya aku memiliki trauma pada pria tadi. Ya kau tau kan aku tak memiliki siapapun ditambah aku cuti juga," ujar Inggit sembari memakan kentang goreng miliknya.
Rorra berhenti sejenak, lalu menatap Inggit. "Sudah mendingan?" tanya Rorra.
"Sedikit lebih baik. Aku tak tahu akan bertemu dengannya lagi. Karena dia aku jadi dipecat dan bahkan trauma melihat wajahnya," ujar Inggit.
"Huah, aku bisa langsung tahu jika kau tak menyukai pria itu saat kau menatap matanya. Setidaknya pria itu tidak bersikeras untuk menahanmu. Jika iya, aku akan ajukan petisi ke restaurant ini untuk memecatnya. Oh, atau aku ajukan saja?" tanya Rorra.
Inggit menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu. Sepertinya ia juga sudah menikah. Kasihan dengan anak dan istrinya nanti jika dia berhenti bekerja. Dia sudah bertahan selama 2 tahun untuk mendapatkan posisinya sebagai kepala manager cabang," ujar Inggit yang tak ingin Pirez merasakan seperti dirinya.
"Kau terlalu baik," ujar Rorra.
Suara ponsel berdering pun memecah keintiman percakapan yang sedang dibangun oleh Rorra dan Inggit. Inggit pun langsung mengambil ponsel dari dalam tas nya dan melihat layar ponselnya. Tertulis nama Edo di sana. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung mengangkat telepon dari pria itu.
"Halo?" sapa Inggit setelah sambungannya terhubung dengan Edo.
"Halo, Git. Kau dimana?" tanya Edo dari seberang sambungan telepon.
"Aku? Habis dari kampus. Sekarang sedang makan. Kenapa?"
"Aku menerima pendaftaran VIP baru dan langsung memesan untuk malam ini. Tapi sepertinya Jeslyn sedang sakit, kau bisa tidak menggantikan Jeslyn sebagai bartender?"
"Loh? Memangnya Michelle kemana?"
"Wanita kaya raya itu bekerja untuk bergaya saja. Dia hanya kerja jika ada Jeslyn. Dia tidak butuh uang. Kau bisa ya bantu untuk menjadi bartender. Sepertinya dia memesan untuk private bar. Jadi nanti akan aku sediakan ruangan khusus di lantai 2. Bar di bawah biar aku tutup."
Inggit tampak berpikir sejenak hingga menyisakan suara hening yang membuat Edo kebingungan.
"Halo? Git? Kau masih disana?"
"I - iya halo. Aku masih di sini. Baiklah nanti malam aku akan kesana."
"Terima kasih banyak Git! Nanti akan aku berikan bonus untuk ini."
"Tidak perlu. Bayar aku seperti biasa saja. Dan oh ya, memangnya siapa pelanggan VIP nya? Sepertinya ini pertama kalinya ada pelanggan VIP yang mendaftar sejak tahun 2022, setelah kau naikkan biaya member bulanannya yang mencapai 10 juta perbulan."
"Dia sepertinya hanya mendaftarkan dengan nama belakangnya. Dallas? Entahlah siapa. Dia langsung membayar member untuk 1 tahun dan memesan bar malam ini."
"Dallas?" Inggit langsung memikirkan sesuatu.
"Bukan laki - laki itu kan?" gumam Inggit di dalam hatinya.
"Kalau begitu sampai jumpa jam 9 ya. Dia memesan jam 10 malam," ujar Edo.
"Oh oke - oke."
"Terima kasih sekali lagi Git. Muach!" ujar Edo lalu memberikan nada seolah - olah mencium Inggit yang membuat wanita itu menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Inggit langsung mematikan ponselnya dan menatap Rorra.
"Ra, sepertinya aku harus langsung pulang sekarang karena ada panggilan mendesak. Tidak apa kan aku pergi lebih dulu?" tanya Inggit pada Rorra.
Rorra pun menganggukan kepalanya.
"Tak apa. Pergi saja. Aku sebentar lagi juga pergi setelah menghabiskan makananku," ujar Rorra.
"Terima kasih banyak," balas Inggit lalu ia pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Rorra seorang diri yang masih sibuk menghabiskan makan siangnya.