2 tahun kemudian . . .
Satu tahun yang lalu, Inggit kembali mengaktifkan dirinya sebagai mahasiswi dari salah satu kampus terbaik di Depok yang terletak di Kota Depok. Dirinya kembali aktif sebagai mahasiswi jurusan sastra indonesia, meski ia harus kehilangan beasiswa yang menanggung biaya pendidikannya.
Selama 1 tahun setelah kembali aktif menjadi mahasiswi, Inggit merasa kehidupannya jauh lebih baik. Dirinya yang dulu enggan mengenal teman satu kelasnya, kini berubah. Ia mulai membaur dengan mahasiswa dan mahasiswi yang lain.
Inggit sudah tak lagi menerima kelas di tahun ini. Ia hanya tinggal fokus pada skripsi yang ia susun untuk persiapan kelulusannya. Dan hari ini, kebetulan ia akan menemui dosen pembimbingnya di kampus.
Nesringgita Lucelence, kini berubah menjadi seorang gadis mandiri. Bahkan dirinya mendapat pekerjaan sebagai seorang karyawan magang di sebuah perusahaan bernama Regular Company, yang pernah ia tempati selama 2 bulan untuk melakukan riset demi kepentingan skripsi yang ia bangun. Meski begitu, Inggit masih memiliki pekerjaan sampingannya yakni sebagai seorang bartender di klub malam Angelwings Bar milik Edo.
Tentu saja Inggit tak pergi begitu saja setelah berhasil bangkit dari keterpurukannya. Dirinya masih tetap membantu Edo dan akan tetap datang bekerja di bar untuk melayani para pelanggan VIP di bar milik Edo.
Baru saja Inggit melangkahkan kakinya melewati gerbang pintu keluar stasiun yang langsung terhubung dengan area kampusnya, tiba - tiba ia merasakan lehernya dirangkul oleh seorang wanita yang langsung melompat ke arahnya.
"Inggit!" pekik wanita itu sembari merangkul bahu Inggit.
Inggit sontak membalikkan tubuhnya dan melihat orang yang baru saja merangkulnya.
"Astaga, Rorra!" pekik Inggit saat melihat wanita yang baru saja merangkulnya.
"Hari ini kau ada bimbingan, Git?" tanya Rorra lalu menyamakan frekuensi langakahan kakinya dengan Inggit.
"Iya. Pak Tejo minta ketemu hari ini. Katanya sih revisi terakhir," jawab Inggit sembari melangkahkan kakinya menuju fakultas tujuannya.
Seraphine Aurora atau yang kerap disapa sebagai Rorra adalah teman dekat Inggit. Sebenarnya Rorra lebih muda 2 tahun dari Inggit, tapi karena Inggit mengajukan cuti, alhasil kini Inggit menjadi satu angkatan dengan Rorra. Mereka pertama kali bertemu tepat 1 tahun yang lalu, saat Inggit baru saja kembali menjadi mahasiswi aktif di Universitas Depok jurusan Sastra Indonesia.
Rorra adalah satu - satunya wanita yang berani berteman dengan Inggit. Bahkan kemana pun Inggit pergi, Rorra akan selalu ada di sana. Dan kini, mereka cukup beruntung karena ditempatkan dengan 1 dosen pembimbing yang sama, yaitu Pak Tejo.
"Wah yang benar? Lalu sudah ada jadwal sidang?" tanya Rorra.
Inggit menggelengkan kepalanya, "Mungkin bulan depan baru keluar jadwalnya," jawab Inggit.
"Tapi jika sudah revisi terakhir seharusnya sebentar lagi sudah ada jadwal sidang," lirih Rorra lalu memasang wajah sedih karena dirinya yang tak kunjung menemui titik revisi akhir.
"Nanti kalau aku sudah selesai sidang, aku akan membantumu menyelesaikan revisi. Lagi pula topik kita kan 11 12," sahut Inggit.
Rorra langsung mendongakan kepalanya saat mendengar Inggit yang bersedia memberikan bantuan padanya.
"Benarkah?" tanya Rorra yang memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Inggit adalah benar.
"Iya. Aku akan membantumu. Selama setahun terakhir kau juga selalu membantuku menyelesaikan tugas. Nanti aku bantu sedikit. Tapi tetap kau harus mengerjakan semuanya sendiri, karena itu skripsimu. Jangan sampai kau hanya terima beres dan tahu isinya saja," ujar Inggit.
Rorra langsung memeluk tubuh Inggit hingga wanita itu hampir terjatuh.
"Terima kasih Inggitku sayang!" ujar Rorra lalu mencium pipi Inggit karena terlalu bersemangat dengan bantuan yang ditawarkan oleh Inggit.
Tubuh Inggit bahkan hampir kehilangan keseimbangan akibat Rorra yang tiba - tiba memeluknya.
"Astaga, Rorra!" pekik Inggit lalu mendorong tubuh Rorra agar menjauh darinya.
Mereka pun berjalan sedikit hingga tiba di sebuah halte tempat pemberhentian bis hijau. Inggit dan Rorra bisa melihat banyak juga mahasiswa lain yang turut menunggu kedatangan bis hijau.
"Git," panggil Rorra.
Inggit menoleh dan langsung menatap Rorra yang duduk di sebelahnya.
"Aku bertanya - tanya, tentang pria yang waktu itu mengantarmu sampai ke depan kampus dengan mobil lamborghini. Dia pacarmu?" tanya Rorra.
Inggit mengerenyitkan dahinya, "Lamborghini? Mengantarku? Yang mana?" tanya Inggit balik.
"Itu loh yang saat kelasnya Bu Siska. Aku kan menunggumu di depan gedung kelas. Lalu kau datang dengan mobil lambroghini berwaran biru dan berhenti. Kau bahkan menjadi pusat perhatian. Banyak yang membicarakanmu setelah itu, terlebih lelaki yang mengantarmu sangat tampan!" ujar Rorra yang mengingatkan Inggit kepada kejadian yang dimaksud olehnya.
Seolah berpikir, Inggit melihat ke langit dan berusaha mengingat kejadian itu. Sampai akhirnya Inggit mengingat kejadian yang dimaksud oleh Rorra.
"Oh yang itu. Astaga itu kan semester lalu? Benarkah aku dibicarakan banyak orang?!" bukannya menjawab Inggit justru kembali bertanya karena dia menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
"Iya, bahkan Kak Carly yang suka pamer itu membicarakanmu. Jadi siapa cowok itu? Pacarmu?" tanya Rorra lagi.
"Ah bukan. Dia kakakku," jawab Inggit.
"Kakak? Bukankah kau yatim piatu dan tidak memiliki sanak saudara? Eh maaf aku tak bermaksud begitu tapi--"
"Iya, memang benar. Seperti ceritaku, aku sebatang kara di tengah kota ini. Aku bahkan yatim piatu dan tak memiliki keluarga. Tidak perlu merasa tersinggung, aku tidak merasa demikian kok. Dia Edo, aku sudah menganggapnya sebagai kakak laki - lakiku sendiri. Jadi istilahnya kakak ketemu gede," potong Inggit lalu sedikit tertawa.
"Aku pikir dia pacarmu. Dia tampan dan stylish sekali!" ungkap Rorra saat kembali mengingat penampilan Edo yang tampil maskulin. Terlebih Edo sempat turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Inggit.
"Pasti banyak ya berpikir demikian, padahal aku tidak pernah berpikir kesana. Hanya sebatas seperti seorang kakak dan adik saja, tidak lebih," balas Inggit.
"Dia jomblo?" tanya Rorra yang penasarana.
"Sepertinya iya. Aku tidak pernah melihat dia dengan wanita lain," jawab Inggit.
"Berapa umurnya?" tanya Rorra lagi.
Baru saja Inggit mau menjawab, wanita itu pun mengerenyitkan dahinya dan menatap Rorra.
"Kau menyukainya?" tanya Inggit balik.
Rorra yang mendengar tebakan Inggit langsung salah tingkah.
"Dia 4 tahun di atasku. Berarti sekarang mungkin sekitar 27 atau 28, entahlah," ujar Inggit sembari mengingat usia Edo.
"Benarkah? Dia tampak maskulin sekali dengan gayanya. Seperti seorang pengusaha muda," tutur Rorra.
"Ya dia memang pengusaha," ujar Inggit.
"Wah? Pantas saja dia tampak keren begitu. Bahkan hanya dalam beberapa menit, dirinya menjadi pusat perhatian. Bahkan pria lain yang katanya menyukaimu langsung mundur karena melihat pria yang datang bersamamu itu,"tukas Rorra.
Akhirnya bis hijauyang mereka tunggu pun tiba di hadapan mereka. Para mahasiswi lain langsung berbaris memasuki bis yang berhenti tepat di depan halte.
"Ayo," ajak Inggit lalu mulai mengantri di depan pintu masuk bis hijau.
Rorra pun hanya berjalan mengikuti Inggit dan akhirnya mereka masuk ke dalam bis hijau.
Bis itu akan membawa mereka menuju fakultas ilmu pengetahuan budaya. Atau lebih teptanya bis itu akan mengitari kampus dan berhenti di setiap halte yang berada di depan fakultas.
"Jika ada waktu, kenalkan aku dengan pria itu ya," sahut Rorra dengan nada berbisik pada Inggit.
Inggit pun menoleh, "Kalau sempat ya. Karena dia cukup sibuk," ujar Inggit.
Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 10 menit dan mengitari kampus Universitas Depok, akhirnya mereka berhenti di depan fakultas yang dituju. Sang supir langsung berhenti tepat di depan halte yang mereka tuju.
"Terima kasih ya Pak!" pekik Inggit sebelum turun dari bis.
Inggit dan Rorra berjalan bersama - sama menuju ke dalam fakultas mereka untuk menemui dosen pembimbing mereka.
"Rasanya aku menikah saja jika harus revisi lagi," ujar Rorra sembari melangkahkan kakinya menuju ke dalam bagian kampusnya.
"Menikah tidak akan menyelesaikan masalah Rorra," balas Inggit.
Kedua wanita itu akhirnya tiba di depan sebuah ruangan dosen. Tanpa ragu, Inggit langsung mengetuk pintu itu.
Tok ! Tok ! Tok !
Inggit membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. Matanya bisa menangkap beberapa mahasiswa lain yang turut datang di dalam sana untuk menemui dosen pembimbing mereka untuk keperlan revisi skripsi.
"Pak Tejo ada?" tanya Rorra pada Inggit yang masih melihat keadaan dalam ruang guru.
Inggit pun mendapati Pak Tejo yang sedang meminum kopi di mejanya.
"Ada," jawab Inggit lalu masuk.
Rorra mengikuti langkahan kaki Inggit dan masuk ke dalam. Mereka langsung menghampiri Pak Tejo, sang dosen pembimbing.
"Selamat siang Pak. Saya Inggit dan ini Rorra yang mendapat jadwal bimbingan hari ini untuk revisi," ujar Inggit.
Pak Tejo yang semula sedang menyesap kopinya langsung meletakkan kopinya di atas meja.
"Oh Inggit dan Rorra. Oke silakan duduk. Untuk saja kalian sudah datang, tadinya saya sudah mau pulang karena istri saya jadwal cek USG hari ini," ujar Pak Tejo.
Inggit dan Rorra langsung menarik kursi kosong yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Mana skripsi kalian? Yang saya coret sudah di revisi?" tanya Pak Tejo.
Dua buah skripsi pun diletakkan di atas meja Pak Tejo, yang tak lain adalah milik Inggit dan Rorra.
"Saya periksa punya Inggit dulu ya. Revisi terakhir kan, Git? Bulan depan harusnya bisa sidang lah ya," ujar Pak Tejo sembari membuka skripsi yang disusun oleh Inggit.
Inggit hanya tersenyum kaku dan menganggukan kepalanya. Ia bisa tahu Rorra yang duduk di sampingnya tampak gelisah. Inggit pun meraih tangan Rorra dan memegangi tangan wanita itu yang sedari mengepal karena gugup.
"Revisi kamu bagus, Git. Informasinya sudah lengkap dan pembahasannya sudah cukup mendetail. Ini saya simpan ya untuk bahan pengajuan sidang. Nanti secepatnya akan saya daftarkan sidang, dan semoga saja bisa dapat jadwal sebelum istri saya melahirkan sudah ada jadwalnya," ujar Pak Tejo lalu menutup skripsi milik Inggit.
"Baik, Pak," jawab Inggit.
Pak Tejo sempat melihat ke arah nama penyusun skripsi itu lalu meyadari sesuatu.
"Oh kamu toh Nesringgita Lucelence yang pernah cuti 2 tahun lalu," ujar Pak Tejo.
"Ya emang Bapak pikir saya siapa?" tanya Inggit karena Pak Tejo yang tampak tak tahu nama lengkapnya.
"Iya saya pikir nama kamu Inggit apa gitu. Kamu sempat jadi bahan pembicaraan dosen karena mengajukan cuti dan sayang sekali kamu melepas beasiswa full kamu. Berarti kamu sekarang bayar kuliah sendiri ya?" tanya Pak Tejo.
Rorra yang duduk di samping Inggit sampai membelalakan matanya saat mendengar Inggit yang ada di sebelahnya adalah wanita yang menerima beasiswa full dan melepas beasiswanya hanya karena pengajuan cuti yang tidak ada dasar apapun.