[7] Keguguran

1616 Kata
Semakin malam, suasana di Angelwings bar akan semakin ramai. Banyak orang yang berdatangan untuk sekedar bercengkrama, memesan minuman atau menari di tengah pusat perhatian untuk melepas penat mereka. Inggit masih duduk di balik meja bar sembari mengelap beberapa gelas yang akan digunakan oleh para pelanggan. Dentuman musik membuat dirinya ikut bergerak dan menikmati alunan musik yang menggema ke seluruh penjuru ruangan. Seorang wanita tampak berjalan ke arah Inggit dan tersenyum menatapnya. "Halo, mau pesan apa?" tanya Inggit pada sang wanita itu saat melihatnya berhenti di hadapannya dan mengambil duduk tepat di depan meja bar. "Aku mau 1 gelas vodka saja," ujarnya. Inggit menganggukan kepalanya mengerti lalu ia pun mempersiapkan sebuah gelas di hadapannya dan mengambil sebotol vodka lalu ia tuangkan dengan gesture khas bartender yang menuangkan vodka ke dalam gelas. Setelah sedikit terisi, Inggit kembali bertanya pada wanita di hadapannya. "Mau tambah es?" tanya Inggit. Wanita itu sempat melirik ke arah gelas yang baru saja diisi oleh Inggit dengan vodka pesanannya, "Boleh," jawabnya. Inggit pun membuka kotak es yang ada di dekatnya lalu memasukan beberapa buah es batu ke dalam gelas. Setelah siap, Inggit memberikan gelas itu kepada sang wanita. "Terima kasih," ujar wanita itu lalu mengambil gelas di hadapannya dan langsung meneguknya hingga habis dalam satu tegukan. "Tambah lagi," ujarnya sembari menyodorkan gelas yang telah kosong dan hanya tersisakan es batu. Inggit menuruti permintaan wanita itu lalu menuangkan kembali vodka ke dalam gelas itu dan lagi - lagi wanita itu meneguknya hingga habis. "Akh!" lanjut wanita itu lagi. Tangannya tampak merogoh ke dalam tas selempang kecil yang ia pakai, lalu mengeluarkan uang pecahan 100 ribu sebanyak 5 lembar kepada Inggit. "Totalnya jadi 120 ribu saja, ini kebanyakan," ujar Inggit lalu mengembalikan 300 ribu sisanya kepada wanita itu. Wanita itu tampak menyunggingkan senyumannya dan tertawa pelan. "Kau t***l atau memang tidak tahu? Itu tip, bodoh!" ujarnya. Inggit tersenyum kaku mendengarnya, "Ah be - begitu. Terima kasih," ujar Inggit. "Kau bartender baru ya? Kemana Jeslyn? Biasanya dia yang selalu melayaniku," ujar wanita itu yang tampak sedikit mabuk sembari mengedarkan pandangannya dari ke sekitar Inggit untuk mencari Jeslyn. Baru saja dibicarakan, Jeslyn tiba - tiba merangkul wanita yang ada di hadapannya. "Hai Michelle! Kau datang lagi rupanya! Astaga aku sangat merindukanmu," ujar Jeslyn lalu memeluk tubuh wanita itu dan menyapanya. "Oh hai! Baru saja aku bertanya pada wanita ini. Dia tampak sangat bodoh dan polos. Aku memberikannya tip tapi malah ia kembalikan," ujar Michelle sembari menunjuk ke arah Inggit yang berdiri di hadapannya. Jeslyn menatap sinis ke arah Inggit namun kembali tersenyum saat menatap Michelle. "Mau menari di sana? Ada Lusi," ajak Jeslyn kepada Michelle sembari menunjuk arah yang mereka tuju. Michelle menoleh ke arah jari Jeslyn menunjuk lalu tersenyum dan turun dari kursi yang ia tempati. "Ayo," ajak Michelle lalu segera memeluk lengan Jeslyn dan berjalan ke arah meja yang dimaksud oleh Jeslyn. Inggit hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian Jeslyn dan Michelle. Sementara itu, ia mengambil gelas bekas Michelle dan langsung mencucinya pada sebuah mesin pencuci piring yang berada di belakangnya. Saat berbalik, tiba - tiba saja Inggit merasakan nyeri pada perutnya. Lama kelamaan rasa sakit itu semakin terasa dan bahkan membuat Inggit sampai menundukan tubuhnya. Edo datang menghampiri Inggit dengan segelas wiski. Pria itu langsung membelalakan matanya saat melihat Inggit yang tampak kesakitan. "Git? Kau tidak apa?" tanya Edo pada Inggit lalu menghampiri wanita itu. Bruk ! Tubuh Inggit seketika jatuh ke lantai dan kesadarannya menghilang. Tiba - tiba saja darah segar mengalir melewati kedua kakinya dan bahkan mengotori dress yang ia gunakan. Edo panik melihat Inggit yang tiba - tiba kehilangan kesadaran. Matanya mengedar ke sekitar lalu tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Vasko, sang penjaga pintu masuk bar. "Kemari!" titah Edo sembari memberikan gestur tangan yang meminta Vasko untuk menghampirinya, karena berteriak pun percuma. Suaranya tak akan terdengar karena kalah kencang dengan dentuman musik yang ada di sana. Vasko berlari menghampiri Edo. Sama seperti Edo, Vasko juga sama terkejutnya saat melihat Inggit yang tak sadarkan diri di lantai. "Tolong siapkan mobilku, aku akan membawa Inggit ke rumah sakit," titah Edo. Vasko menganggukan kepalanya, "Baik, pak!" jawab Vasko lalu segera pergi dari hadapan Edo. Edo langsung melangkah mendekati tubuh Inggit yang sudah tak sadarkan diri, ia langsung melepas jas miliknya dan ia gunakan untuk menutupi area bawah tubuh Inggit. Tentu saja ia lakukan karena Inggit mengenakan pakaian minim bahan, terlebih ia tak ingin membuat orang - orang panik karena Inggit tiba - tiba pingsan dan mengalami pendarahan. Tubuh Inggit langsung diangkat oleh Edo ke dalam dekapannya. Dari kejauhan, Jeslyn bisa melihat Edo yang tampak kesusahan mengangkat tubuh Inggit yang sudah tak sadarkan diri keluar dari bar. Jeslyn buru - buru menyusul Edo yang sudah lebih dulu jalan keluar dari bar. "Kau mau kemana?" tanya Jeslyn saat melihat Edo yang tengah memasukan Inggit ke dalam mobilnya. Edo menoleh lalu menutup pintu mobil dan menatap Jeslyn. "Aku titip bar. Aku akan ke rumah sakit mengantarkan Inggit," ujar Edo. Tanpa penjelasan lain, Edo pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area bar seperti ucapannya. Sedangkan Jeslyn hanya menatap kepergian mobil Edo dari halaman bar. * * * * * Akhirnya, mobil Edo menepi tepat di depan Unit Gawat Darurat (UGD) di sebuah rumah sakit yang terletak tidak begitu jauh dari bar miliknya. Edo langsung memanggil seorang suster untuk membawa ranjang pasien. "Sus, tolong bawakan ranjang pasien! Ada yang pingsan disini!" pekik Edo saat baru saja turun dari mobil. Suster yang berjaga di sana pun langsung berlari ke dalam untuk mengambil ranjang pasien sesuai permintaan Edo. Setelah sang suster keluar dan menghampiri Edo dengan ranjang pasien, Edo langsung memindahkan tubuh Inggit dari dalam mobilnya ke atas ranjang pasien. "Tolong jaga dia sebentar, aku mau parkir dahulu," pinta Edo kepada sang suster.  Suster itu pun hanya menganggukan kepalanya seolah mengerti dengan ucapan Edo. Sang suster langsung mendorong ranjang itu ke dalam, sedangkan Edo kembali masuk ke dalam mobilnya untuk memindahkannya ke area parkir terlebih dahulu. Tentu saja Edo tidak ingin membuat kemacetan di depan UGD. Setelah memarkirkan mobilnya, Edo pun kembali menuju UGD dan langsung menghampiri meja jaga untuk mencari keberadaan Inggit. "Saya mau mencari wanita yang baru saja masuk tadi," ujar Edo. Sang perawat pun menunjuk ke arah tirai yang tertutup. "Sedang diberikan penanganan, silakan menunggu," ujarn sang perawat itu kepada Edo. Edo pun menghampiri tempat Inggit mendapatkan perawatan. Dirinya menunggu dengan duduk di atas ranjang pasien lain yang kosong. Beberapa menit kemudian, tirai pun terbuka, seorang dokter dan juga suster yang tadi membantunya keluar dari sana. "Apakah anda walinya?" tanya sang dokter kepada Edo. Edo langsung berdiri dan menghampiri dokter itu. "Iya saya walinya," jawab Edo. "Sepertinya wanita ini mengalami keguguran karena kelelahan, terjadi pendarahan hebat dan janin di dalamnya tidak bisa diselamatkan," ujar sang dokter. Edo yang mendengar hal itu pun tersentak. Terlebih baru saja beberapa waktu yang lalu Edo memberikan semangat untuk Inggit dalam menjalani kehidupan bersama dengan anaknya. "Apa? Bagaimana mungkin?" tanya Edo yang masih tak percaya dengan penuturan sang dokter. "Kehamilannya masih muda, seharusnya dia lebih banyak beristirahat dibanding melakukan aktifitas berat. Stress juga bisa mempengaruhi kehamilannya," jawab sang dokter. Edo pun menyadari jika Inggit selama ini terus bekerja keras dan bahkan seringkali pulang pagi dan melebihi jam kerjanya hanya untuk mendapatkan upah tambahan. "Kalau begitu terima kasih dok," ujar Edo kepada sang dokter. Dokter yang menangani Edo pun pergi. Kemudian sang suster yang tadi membantunya datang menghampirinya dengan sebuah baskom berisikan air yang telah berubah menjadi warna merah dan handuk di dalamnya. "Saya sudah bantu bersihkan untuk bagian kaki dan area kewanitannya dari darah yang keluar. Nanti tolong urus pendaftaran dan administrasinya di sana ya," ujar sang suster sembari menunjuk ke arah meja pendaftaran. "Sus, sepertinya akan langsung pergi saja, tidak perlu dirawat. Nanti saya akan membayar biaya penanganan daruratnya dan setelah itu akan membawa pasien pulang," ujar Edo. "Baik, nanti akan kami siapkan tagihan pembayarannya," ujar suster itu lalu pergi dari hadapan Edo. Edo langsung berlari menuju Inggit yang masih tak sadarkan diri. Melihat kondisi wanita itu.  Tak berapa lama kemudian, Inggit menggeliatkan tubuhnya dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Edo yang menyadari Inggit yang telah sadar langsung dengan sigap berdiri di hadapan Inggit dan menatapnya. "A - aku dimana?" tanya Inggit saat tak lagi menyadari tak ada dentuman musik di sekitarnya yang menandakan ia tak lagi berada di bar. "Kau di rumah sakit. Tadi pingsan." ujar Edo. "Rumah sakit? Aku kenapa?" Inggit pun berusaha bangkit dari posisinya, tiba - tiba ia merasakan sakit yang mendera perutnya sampai terasa begitu mencengkram dengan kuat. "Akh!" pekik Inggit sembari memegangi perutnya yang terasa sakit. Edo dengan sigap langsung menahan tubuh Inggit dan merangkulnya. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa di rumah sakit?" tanya Inggit. "Kau pingsan, dokter bilang karena terlalu kelelahan," jawab Edo. Inggit menyadari jika perutnya merasakan sakit yang tidak biasa, Inggit langsung menatap ke arah Edo sedangkan Edo langsung menundukan kepalanya seolah sedang bersedih. "Ba - bayiku?" tanya Inggit dengan mata yang berkaca - kaca sembari menatap Edo. "Maafkan aku, Git. Aku tidak bisa menjaganya seperti janjiku tadi," jawab Edo. Seketika Inggit langsung berurai air mata saat mendengar jawaban Edo. Inggit langsung menangis dan Edo dengan sigap memeluk tubuh Inggit. Tangisannya semakin menjadi saat Inggit menyadari dia kehilangan bayinya karena kesalahannya sendiri. Selama ini Inggit terus bekerja dengan keras untuk mengumpulkan pundi rupiah demi persiapannya untuk bersalin nanti.  Tapi, Inggit tak pernah memperhatikan kesehatan janinnya. Bahkan selama kehamilan, Inggit tak pernah sekalipun memeriksa kandungannya. Hingga akhirnya, Inggit harus kehilangan bayinya yang masih berusia 3 bulan akibat kelalaiannya. "Ma - maafkan Ibumu yang belum bisa menjagamu dengan baik, nak," ujar Inggit di sela - sela isakan tangisnya dengan tangan yang masih memegangi perutnya. Edo masih memeluk Inggit, ia tak berani berkomentar apapun. Edo hanya bisa mengusap punggung Inggit seolah memberikan kekuatan kepada wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN