[6] Rahasia Inggit

1648 Kata
Rasa hancur pada hati Inggit semakin menjadi ketika dirinya menyadari bahwa ia baru saja kehilangan pekerjaan yang ia tekuni selama 1 bulan terakhir. Dengan berat hati, Inggit melangkahkan tempat yang ia jadikan sebagai ladang mencari uang. "Tidak apa, Git. Masih ada pekerjaan lain. Masih banyak tempat yang bisa kau jadikan untuk mencari pundi rezeki," gumamnya sembari melangkahkan kakinya menyebrangi jalan raya dan menuju ke halte bus yang terdapat tepat di seberang restaurant tempat ia bekerja. Baru beberapa saat ia duduk di halte, sebuah bus berwarna biru pun langsung berhenti di hadapannya. Dengan cepat, Inggit langsung bangkit dan masuk ke dalam sana. Selama perjalanan, Inggit hanya menatap ke arah luar jendela. Memperhatikan Kota Jakarta yang tampak biasa saja di matanya. Namun kota itu memiliki segudang kenangan, terlebih kenangan saat dirinya bersama dengan Bisma. Tanpa terasa, waktu 30 menit berlalu, Inggit telah tiba di halte tujuannya. Kakinya langsung melangkah menuju kos yang selama ini ia tempati. Sesekali matanya melirik ke arah langit, memperhatikan langit yang kian berwarna jingga. Matanya pun menoleh ke arah jam tangan yang melingkat di lengan kirinya. "Sudah jam 5," gumamnya. "Langit sore cukup cerah," sambungnya sembari melihat langit sore hari yang semakin berwarna jingga. Hingga akhirnya kakinya berhenti melangkah di depan gerbang kos - kosan yang terletak hanya 15 menit dari kampusnya. Tangannya langsung mendorong gerbang yang membatasi antara jalan raya dengan halaman rumah tempat kos yang ia tempati. Sesekali, Inggit melemparkan senyumannya kepada orang - orang yang menyapanya. Tak jarang juga dari mereka yang tampak membicarakan Inggit karena dirinya yang kini memutuskan untuk cuti kuliah dan bahkan melepas beasiswa yang ia terima. Inggit berhenti di depan pintu kamar kos berwarna cokelat yang terletak di lantai 2. Satu tangannya merogoh ke dalam tas yang ia pakai dan langsung memasukan sebuah kunci ke dalam lubang yang ada di pintu. Inggit langsung masuk ke dalam kamar kosnya dan meletakkan tas yang ia gunakan di atas meja. Kakinya pun langsung melepas sepatu yang ia gunakan. Tubuhnya terasa begitu lelah. Terlebih dengan rentetan kejadian yang membuat Inggit merasa kesal.  Inggit pun melempar tubuhnya di atas tempat tidur sembari menatap langit kamar yang kosong dan hanya dilapisi dengan cat anti air berwarna putih. Matanya perlahan terpejam dan sebesit ingatan kembali melintas ke dalam ingatan Inggit. Memori tentang Bisma kembali berputar, hingga hatinya kembali merasakan bahagia akan memori yang pernah ia jalin bersama pria keturunan Indonesia - Canada itu. Baru saja memori itu kembali terputar, suasana hatai Inggit kembali bercampur aduk. "Sebenarnya kamu kemana sih Bis? Kenapa kamu pergi tanpa kabar? Kalau kamu gak mau bertanggung jawab, setidaknya beri aku kabar dan jangan biarkan aku menunggu kehadiranmu sampai selama ini," gumam Inggit. Tanpa ia sadari, air mata menetes dan membasahi pipinya. Buru - buru wanita itu membuka matanya, bangkit dari posisi tidurnya lalu menyeka air matanya. "Tidak! Tidak Inggit! Kamu bukan wanita lemah! Kamu sudah kuat sejauh ini. Kamu hanya tinggal menjalankan semua yang telah kamu mulai. Dan cepat atau lambat, akan ada hasil yang kamu tuai. Tidak apa kamu hanya tinggal berdua dengan anakmu saja tanpa kehadiran Bisma. Itu sudah lebih dari cukup untukmu Inggit. Kamu harus bisa menjadi wanita yang kuat untuk anakmu sendiri," gumam Inggit lagi lalu mengepalkan kedua tangannya seolah memberikan kekuatan kepada hatinya sendiri untuk menjadi lebih kuat. Inggit bangkit dari posisi duduknya. Baru saja beberapa langkah ia berjalan hendak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi bekerja menuju klub malam -- tempat ia bekerja sebagai bartender, matanya langsung menangkap sejajaran piagam yang ia pajang di dinding.  Inggit merupakan siswa berprestasi, bahkan ia juga termasuk mahasiswi dengan segudang bakat. Tak heran bagi Inggit jika ia seringkali memenangkan penghargaan bergengsi baik tingkat Kota maupun Nasional. Namun karena kecerobohannya, Inggit justru jatuh ke dalam lubang hitam. Dan kini, Inggit hanya bisa menanggung semua dosa dan perbuatannya. Waktu tentu saja tidak bisa diputar, dan Inggit kini hanya bisa menjadikan dirinya untuk menjadi lebih kuat dalam menjalani hidup. Inggit bahkan rela mengajukan cuti dan meninggalkan beasiswanya hanya untuk menikah dengan Bisma. Namun Bisma yang menghilang entah kemana sempat membuat Inggit frustasi dan terpuruk. Butuh waktu 2 minggu bagi Inggit untuk membuat semangat dalam dirinya kembali bangkit. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Edo dan Inggit pun diajarkan bagaimana cara menjadi bartender dan diperkenalkan dengan orang - orang kelas atas yang seringkali datang ke klub malam untuk melepas penat. * * * * * Setelah selesai membersihkan dirinya, Inggit pun segera bersiap untuk pergi ke klub malam. Ia terbiasa mengenakan sebuah mini dress yang memang beberapa kali dibelikan oleh Edo untuk membantu penampilannya.  Tidak seperti dulu yang saat ia datang pertama kali ke bar, justru mengenakan celana jeans, kemeja dan bahkan dengan rambut yang dikuncir asal di atas kepala. Inggit terduduk di depan meja riasnya. Tangannya pun mengambil beberapa make up dan mulai menyapukan pada wajahnya. Dengan lihai, Inggit mulai memoles wajahnya dengan rapi. Namun meski sudah 1,5 bulan Inggit bekerja di klub malam, Inggit masih belum bisa mengenakan eyeliner dan bulu mata dengan baik.  Setelah memoles wajahnya menjadi sedikit cerah dan segar, Inggit kemudian mulai mencatok rambutnya menjadi bergelombang. Inggit bahkan menambah minyak rambut agar terkesan wangi sepanjang malam. "Orang lain mungkin tidak akan percaya jika bertemu denganku di malam hari," gumam Inggit sembari menatap pantulan dirinya yang telah siap dengan tampilannya.  Inggit yang siang hari memang terkesan tertutup. Bahkan tak ada yang tahu jika Inggit sedang hamil. Terlebih Inggit memiliki badan yang kurus.Dan di malam hari, Inggit mengenakan pakaian yang sedikit terbuka seolah memantaskan diri dengan tempat kerjanya. Setelah siap dengan penampilannya, Inggit pun bangkit dari duduknya. Sebelum beranjak pergi dari sana, Inggit melihat pantulan dirinya di cermin lalu menyampingkan tubuhnya untuk melihat perutnya yang sudah sedikit menyembul keluar. Mungkin orang - orang tidak akan menyadari jika Inggit sedang hamil, karena kehamilannya yang masih berada di trimester pertama. "4 bulan lagi aku akan bekerja. Setelah itu akan cuti dan hidup dari uang tabungan," gumam Inggit lalu akhirnya pergi dari hadapan cerminnya. Inggit melirik ke arah jam dinding dan melihat waktu yang sudah menunjukan pukul 8 malam. Sebelum keluar, seperti biasas Inggit akan mengambil jaket tebal selutut yang akan menutup penampilannya. Terlebih untuk mengurangi pembicaraan orang lain terhadapnya. Setelah membuka pintu, Inggit langsung melangkahkan kakinya keluar dan menuju ke tepi jalan. Setelah itu, dirinya langsung menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya. "Kemana mbak?" tanya sang supir kepada Inggit yang baru saja masuk ke dalam mobilnya. "Angelwings Bar," jawab Inggit. Sang supir hanya mengangguk lalu melajukan taksinya. Selama 20 menit perjalanan, Inggit hanya diam menatap ke arah pemandangan Kota Depok di malam hari. Dan akhirnya mobil taksi yang ia tumpangi berhenti di depan klub malam bernama Angelwings Bar. Tempat ia bekerja. "Jadi 40 ribu," ujar sang supir.  Inggit pun mengeluarkan uang pecahan 50 ribu dan memberikannya kepada sang supir. "Ambil saja kembaliannya pak," ujar Inggit lalu turun dari dalam mobil. Kondisi Angelwings bar sudah cukup ramai dengan beberapa pengunjung yang sudah hadir di sana. Inggit langsung berjalan masuk dan melewati para pengawal yang bertugas memeriksa identitas para tamu undangan. "Hai, malam Vasko," sapa Inggit pada seorang penjaga yang bertugas di ambang pintu Angelwings bar. "Malam Inggit. Wah kau tampil cantik seperti biasa," balas Vasko. Inggit hanya melempar senyumannya. Kakinya langsung melangkah masuk ke dalam dan bertemu dengan Edo yang sudah dengan pakaian jasnya yang siap bekerja malam ini. "Wah lihatlah siapa wanita cantik yang baru saja datang," sapa Edo saat melihat Inggit yang baru saja tiba. Inggit mengulum senyumannya. Dirinya langsung menuju ke area belakang, ruangan khusus karyawan dan meletakkan jaket yang ia gunakan ke sebuah gantungan yang tersedia. Inggit bisa melihat Edo yang mengikutinya dan kini bersandar pada ambang pintu. "Jeslyn sudah datang?" tanya Inggit. Edo menyesap wiski miliknya hingga habis sebelum menjawab pertanyaan Inggit lalu menatap Inggit. "Sepertinya sudah. Dia sedang melayani beberapa pelanggan di sana," ujar Edo. "Hari ini ada pelanggan VIP?" tanya Inggit lagi. "Tidak. Joseph tidak ada," jawab Edo. Inggit memutar bola matanya malas, "Aku bertanya pelanggan VIP, bukan Joseph, Edo," ujarnya. Edo tertawa mendengar penuturan Inggit. "Tapi nyatanya pelanggan VIP mu adalah Joseph. Aku juga heran kenapa dia sangat suka dengan minuman buatanmu. Padahal kau juga baru bekerja selama 1,5 bulan di sini," ujar Edo. "Jangankan kau, aku juga demikian," balas Inggit. Inggit pun berjalan menghampiri kaca yang ada di ruangan itu dan menatap pantulan dirinya. Sembari menatap dirinya, Inggit terus berusaha menyemangati dirinya. "Padahal dulu kehidupanku tidak seperti ini," gumamnya. Edo mendengar Inggit yang bergumam di depan cermin dan langsung menghampiri Inggit dan memegangi bahu wanita itu. "Kehidupan akan terus berjalan, Git. Tidak ada yang tahu kapan kau ada di atas dan di bawah. Bahkan tak akan ada yang bisa memprediksi orang baik - baik saja yang pastinya akan memiliki sisi gelap lain yang tak diketahui oleh siapapun," ujar Edo. Inggit membalikan dirinya dan menatap Edo. "Mungkin jika waktu itu aku tidak bertemu denganmu, aku sudah bunuh diri karena terpuruk," ujar Inggit. "Kau harus kuat demi anakmu, Git," ujar Edo. Inggit sontak membelalakan matanya saat mendengar Edo yang mengatakan hal yang selama ini selalu ia sembunyikan. "K - kau? Tahu?" tanya Inggit. "Tentu saja. Titik terpurukn seorang wanita hanya ada 2 Git, kehilangan keperawanan atau hamil di luar nikah dan lelakinya pergi dari tanggung jawab. Hanya dua itu. Namun selama 1 bulan aku melihat dirimu yang kerap mengusap perut meski aku tahu itu masih datar, tapi aku jadi tahu bahwa kau sedang hamil kan? Aku tidak akan bertanya kemana perginya laki - laki itu. Aku hanya akan menguatkanmu dan berusaha memberikan dorongan yang terbaik untuk kehidupanmu," ujar Edo. Inggit langsung memeluk Edo, "Terima kasih atas dukunganmu. Terima kasih sudah mengerti kondisiku," ujar Inggit. "Kau akan mempertahankannya?" tanya Edo. Inggit melepas pelukan Edo dan menatap pria itu. "Aku akan mencobanya," ujar Inggit. "Baguslah. Aku akan terus mendukungmu dan akan menjadi paman yang hebat untuk anakmu," balas Edo. Setelah pembicaraan singkat, Inggit pun keluar dari sana dan diikuti dengan Edo. Inggit tentu saja akan bekerja seperti biasa, yakni menjadi bartender di Angelwings Bar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN