"Apakah anda tidak lihat ke arah wanita yang juga menabrak anda? Sepertinya di sini anda yang lebih bersalah karena membawa makanan sembari menelepon dan perhatian anda teralihkan pada hal lain sampai menabrak salah satu karyawan kami dan makanan anda tumpah," ujar Hanna.
Pelanggan pria itu pun kalah telak. Dia hanya berdiam tanpa membalas ucapan Hanna.
"Kami akan mengganti senilai makanan yang anda beli dengan yang baru," ujar Hanna.
"Pirez, tolong siapkan makanan yang ia pesan seperti tadi dan langsung antarkan ke mejanya," titah Hanna pada Pirez.
Pirez menganggukan kepalanya dan langsung pergi menuju tempat ia bekerja untuk mempersiapkan makanan sebagai ganti rugi atas makanan yang telah jatuh ke lantai.
"Anda dipersilakan menunggu sampai makanan anda datang. Kami akan menyiapkan secepat mungkin," ujar Hanna.
Pria itu akhirnya mengalah dan memilih kursi yang berada cukup jauh dari keramaian. Pelanggan lain pun menatap ke arah pria yang membuat keributan dan kini mukanya terlihat menekuk karena kalah dalam beradu argumen.
"Mohon maaf atas keributan yang terjadi, silakan lanjutkan makan kalian," ujar Hanna kepada pelanggan lain.
Sebelum meninggalkan Inggit, Hanna pun berbisik pada Inggit.
"Ke ruanganku sekarang," ujar Hanna.
Inggit menganggukan kepalanya dan Hanna langsung pergi setelah mendapat respon dari Inggit.
"Matilah aku," gumam Inggit lalu akhirnya membawa sisa nampan dan perlengkapan lain yang ia gunakan untuk membersihkan meja ke belakang.
Pirez yang masih menyiapkan makanan untuk pelanggan pria tadi pun bisa melihat dengan jelas wajah ketakutan Inggit.
"Semangat! Kau tidak salah apapun," ujar Pirez kepada Inggit berusaha memberikan semangat pada Inggit.
Sedangkan Inggit hanya menganggukan kepalanya.
Setelah meletakkan kembali peralatan yang tadi ia gunakan serta membuang sisa makanan yang masih utuh dan jatuh ke lantai, Inggit langsung melepas apron miliknya yang basah akibat terkena minuman. Lalu membersihkan bagian pakaian yang lain yang juga ikut basah.
Mata Inggit berusaha melihat ke arah pakaian yang lain karena takut kotor sebelum menemui Hanna sang manager. Setelah merasa bersih dan jauh lebih baik dari sebelumnya, Inggit pun pergi menuju ke ruangan Hanna.
Tok ! Tok ! Tok !
Setibanya di depan ruangan Hanna, Inggit langsung mengetuk pintu lalu membuka pintu itu.
Inggit bisa melihat dengan jelas Hanna yang tampak marah sembari duduk di balik meja kerjanya.
"Masuk. Silakan duduk," ujar Hanna dan mempersilakan Inggit untuk duduk di depan kursi yang ada di tepat di seberang meja yang ia tempati.
Inggit pun menurut. Ia masuk dan menutup kembali pintu ruangan Hanna. Lalu duduk di kursi yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Hanna.
"Bisa jelaskan pada saya apa yang terjadi barusan?" tanya Hanna yang langsung ke poin utama tanpa basa - basi terlebih dahulu.
Meski usia Hanna hanya berbeda 5 tahun dari Inggit, sebenarnya Inggit sudah tahu jika Hanna memang memiliki pribadi yang tegas. Wajar saja jika ia cukup ditakuti sekaligus di segani oleh karyawan lain meski ia baru menjabat selama beberapa bulan sebagai seorang manager restaurant.
"Saya tadi sedang bekerja seperti biasa untuk membersihkan meja, Bu. Lalu saat berdiri, tiba - tiba pelanggan tadi menabrak saya dan makanannya tumpah. Maafkan saya," ujar Inggit.
"Bukannya kamu seharusnya lebih berhati - hati? Kamu tau kan pelanggan itu adalah prioritas utama? Sekalipun ia salah, ia tidak boleh disalahkan dan semua kesalahan akan dijatuhkan kepada karyawan. Kamu tahu itu sejak awal bekerja kan?" ujar Hanna dengan nada yang sedikit meninggi.
Inggit meremas tangannya di atas paha dan menundukan kepalanya.
"Saya tahu, Bu. Maaf atas kelalaian saya," balas Inggit.
"Bahkan sampai terjadi keributan besar. Bagaimana kalau pelanggan lain merasa tidak nyaman dan tidak lagi datang ke tempat ini? Memangnya kamu mau mengganti semua kerugian restaurant atas perbuatan kecil yang mungkin menurut kamu tidak seberapa tapi berdampak besar pada kemajuan restaurant?" tambah Hanna.
"Maafkan saya," ujar Inggit yang kebingungan karena tidak tahu harus berkata apa.
Ternyata memang benar, istilah pelanggan adalah raja selalu benar adanya. Bahkan karena diagungkan seperti itu, seringkali pelanggan menjadi besar hati dan meremehkan pekerjaan kecil.
"Saya akan memberikan surat peringatan pertama pada kamu. Dan semua kerugian hari ini akan dipotong langsung dari gaji kamu!" ujar Hanna.
Mendengar hal itu, Inggit langsung menatap Hanna, "Ta - tapi Bu," potong Inggit.
"Terus siapa yang mau mengganti kerugian? Saya? Padahal sedari tadi saya hanya duduk disini dan bekerja. Kamu yang membuat keributan di luar sana," balas Hanna.
Inggit hanya bisa menundukan kepalanya lagi tanpa berkomentar apapun.
"Saya lihat kamu juga sepertinya dekat dengan Pirez. Tolong ingat aturan awal ya, saya tidak mau ada karyawan yang berpacaran di sini. Jika kamu masih menjalin hubungan sesama karyawan, silakan keluar dari sini sebelum yang yang memecat kamu," sambung Hanna.
Hanna pun kembali terfokus pada laptopnya.
"Silakan keluar," ujar Hanna yang meminta Inggit keluar.
"Te - terima kasih, Bu," ujar Inggit lalu ia pun beranjak dari duduknya dengan kepala yang masih menunduk.
Inggit sekuat tenaga menahan rasa sakit pada dadanya dan menahan agar air matanya tidak turun. Mungkin memang benar, setiap kesalahan pelanggan pasti akan ditimpakan pada karyawan. Dan karyawan yang tampak dekat, pasti kesalahannya akan diberikan lagi pada seorang wanita.
Padahal Hanna juga wanita, apa dia tidak mengerti posisi Inggit saat ini? Apa karena Hanna seorang manager jadi mengabaikan rasa empatinya?
Baru saja Inggit menutup pintu, ia dikejutkan dengan kehadiran Pirez yang rupanya sudah berdiri di depan ruangan Hanna entah sejak kapan.
"Dimarahi ya? Apa katanya?" tanya Pirez yang penasaran dengan apa yang terjadi.
Inggit dengan malas menatap Pirez.
"Tidak perlu tahu urusanku. Dan bisakah kita menjaga jarak? Aku tidak ingin orang lain salah paham," balas Inggit.
"Orang lain? Salah paham? Siapa? Kau punya pacar?" tanya Pirez.
Inggit terdiam dan menatap ke arah Pirez.
"Bukan pacar, melainkan Bu Hanna. Dia memperhatikan kita. Jika kita masih sedang mungkin saja aku akan dipecat. Tolong jangan persulit hidupku. Aku hanya bekerja tanpa gangguan dari apapun," ujar Inggit,
Akhirnya wanita itu pergi meninggalkan Pirez. Namun Pirez tak mau menyerah begitu saja. Ia terus berjalan mengikuti Inggir dan menarik lengan wanita itu hingga menatapnya. Pirez bahkan ikut masuk ke dalam gudang, tempat Inggit akan mengambil beberapa peralatan kebersihan lagi sekaligus mengambil apron yang baru.
"Berarti kau tidak punya pacar kan? Jangan sok jual mahal padaku. Aku tau dari sikapmu yang selalu peduli, kau pasti juga suka padaku kan?" ujar Pirez.
Inggit berusaha melepaskan kaitan tangan Pirez dari lengannya.
"Lepaskan aku!" pekik Inggit.
Bukannya dilepas, Pirez justru mendorong tubuh Inggit dan menghimpitnya ke tembok.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku dan kembali bekerja! Jangan sampai kau kena marah karena meninggalkan posisi depan!" ujar Inggit.
"Sudah ada Dante yang menggantikanku. Sekarang urusanku hanya denganmu," ujar Pirez dan kini mendekatkan wajahnya pada wajah Inggit.
Mata Inggit berkaca - kaca, "Aku mohon lepaskan aku," lirihnya.
Pirez menyunggingkan senyuman. Tanpa permisi, pria itu langsung mencium bibir Inggit dan melumatnya.
"Lep -- mppph!" pekik Inggit saat merasakan bibir Pirez yang langsung melahap bibirnya.
Inggit berusaha menendang dan bahkan mendorong tubuh Pirez. Tapi kekuatan pria itu tak sebanding dengannya.
Pirez akhirnya melepas lumatannya dan menatap Inggit, "Tidakkan kau menyadari jika aku menyukaimu sejak awal? Kau cantik, Inggit! Kau sangat cantik! Jangan jual mahal padaku. Tidak bisakah kau membuka hatimu sedikit untukku? Aku lelah menunggu sendiri," ujar Pirez.
Plak !
Saat Pirez lengah, Inggit langsung menampar pria di hadapannya. Tanpa Inggit sadari, air mata pun menetes membasahi pipinya.
"Dasar pria gila!" ujar Inggit.
Inggit hendak menampar pria itu lagi, tapi Pirez dengan cepat menahannya dan justru menarik tangan Inggit hingga ke bagian atas.
Baru saja Pirez hendak mencium Inggit, tiba - tiba mereka mendengar sebuah suara dari ambang pintu dan Hanna berdiri di sana sembari meremas tangannya dan menatap tajam ke arah Inggit.
"Apa yang kalian lakukan?! Kalian akan berzina di dalam gudang?! Kurang ajar kalian!" pekik Hanna.
Hanna langsung menarik rambut Inggit dan melempar tubuh Inggit ke sembarang arah.
"Bukankah aku sudah katakan tidak boleh ada hubungan antar karyawan? Baru juga aku katakan barusan, kau malah asik b******u dengan Pirez di gudang! Dasar jalang!" pekik Hanna.
Inggit yang jatuh tersungkur hanya menatap Hanna, ia tak percaya wanita yang ia percayai sebagai pelindungnya di tempat ia bekerja justru memakinya. Bahkan sialnya lagi, Hanna hanya berlaku kasar pada Inggit, sedangkan Pirez hanya menyeka bibirnya dan menyunggingkan senyumannya.
"Seharusnya aku langsung memberikan peringatan dua saja tadi jika tahu seperti ini jadinya! Baru bekerja 1 bulan saja sudah tebar pesona!" sambung Hanna.
Hanna pun pergi melewati Inggit dan masuk ke dalam ruangannya. Beberapa saat kemudian, wanita itu kembali dengan 2 buah amplop berwarna putih.
"Mulai hari ini, kau berhenti dari pekerjaan ini! Dan tidak usah datang lagi besok. Ini gajimu selama 14 hari dan silakan pergi dari sini. Aku muak melihat wajahmu yang sok cantik itu!" pekik Hanna lalu melempar 2 amplop putih tadi ke wajah Inggit.
"Bu! Bu!" Inggit berusaha memanggil Hanna karena tak terima dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
Ia menangis seketika saat mengetahui dirinya yang dipecat.
"Sayang sekali. Sepertinya kita belum berjodoh ya, Inggit," ujar Pirez lalu pria itu pergi meninggalkan Inggit.
Inggit menatap tajam ke arah kepergian Pirez. Mungkin karena Pirez telah bekerja lebih lama darinya, Hanna jadi tidak menimpalkan kesalahan pada Pirez.
Inggit menatap ke arah amplop yang dilemparkan padanya. Satu tangannya ia gunakan untuk menyeka air matanya.
"Kau tidak boleh menangis! Ayolah, kau kuat. Kau masih memiliki pekerjaan lain! Masih ada pekerjaan lain juga yang lebih layak dan akan menerimamu," gumam Inggit lalu bangkit dari posisinya.
Tiba - tiba ia merasakan keram pada perutnya.
"Astaga, apa aku jatuh terlalu keras tadi? Kau pasti terguncang di sana ya, Nak?" ujar Inggit sembari memegangi perutnya yang berisikan buah hatinya sendiri.
Perlahan rasa sakit dari perutnya pun menghilang. Inggit segera berjalan menuju tempat ia menyimpan barang - barangnya dan langsung keluar menuju pintu belakang.
Sebelum pergi, Inggit menatap ke arah restaurant tempat ia bekerja selama 1 bulan terakhir.
"Mungkin memang ditakdirkan bekerja di klub malam," ujar Inggit lalu akhirnya pergi melangkahkan kakinya meninggalkan restaurant itu.