13

1859 Kata
Mobil Dion terus melaju menyusuri jalanan kota bandung. Malam ini pertama kali mereka hanya berdua saja pergi dalam satu mobil. Dion menyalakan musik jaznya demi menghilangkan rasa sepi dan canggung yang ia rasakan. Sesekali Dion mencuri pandang pada perempuan di sebelahnya. “Kamu mau makan apa, Kay?” “Ngikut Mas Dion aja!” “Oke, nggak jauh dari sini ada cafe dan resto, makan di sana aja ya!” Lagi-lagi Kayana mengangguk, Dion tidak ingin berlama-lama memilih tempat. Dia tahu betul Kayana sedari tadi pasti belum makan. Dion berhenti pada sebuah caffe dan resto yang bernuansa rumah kayu dan kaca, tertihat ada kolam renang dua tingkat yang sejuk. Mematikan mesin mobilnya, membuka seatbelt dan memberi kode pada Kayana untuk melakukan hal yang sama. Mereka berdua beriringan berjalan memasuki tempat itu, kemudian disapa seorang karyawan caffe dengan seragamnya untuk di arahkan menuju ke dalam, memilih tempat duduk. Ada dua pilihan tempat, area seating di bawah dengan pemandangan kolam yang ciamik sedangkan di atas, ada lounge dengan interior yang stylish. Kayana memilih area atas, pelayan itu lalu mengantarkan mereka naik. Mempersilahkan duduk dan menyodorkan menu makanannya yang sudah ia bawa. Lembar demi lembar menu mereka lihat sampai akhirnya memilih dua makan malam dengan menu yang sama. Pelayan itu berlalu, meninggalkan dua pelanggannya menunggu pesanan. Mata mereka dimanjakan dengan seluruh design interior cafe ini, semua bangunan dengan bahan kayu dan kaca yang mendominasi. Suasana yang ramai pengunjung namun tetap nyaman. Butuh hampir sepuluh menit untuk dapat menikmati hidangan yang mereka pesan. Dua orang pelayan kemudia datang membawa makanan yang tadi dipesan. Begitu ramah dan sopan. “Silahkan, semoga suka dan berkesan dengan hidangan kami! Selamat menikmati” “Terima kasih, Kak.” Mereka pun bersiap untuk menikmati makanan yang sudah ada di atas meja. “Mas, tempatnya bagus ya.” “Iya, kamu suka?” “Suka, Mas. Mas Dion udah sering kesini?” “Baru sekali ini juga, lewat sih sering tapi belum sempat kesini. Banyak sih temen-temen yang merekomendasikan tempat ini, tapi kok males aja kalau mau kesini sendiri.” “Oh, kirain udah sering kesini, Mas. Kok udah ngerti ada tempat nyaman kayak gini.” “Belum Kay. Tadi kebetulan aja yang paling dekat dengan yang kita lewat ya disini. Eh iya, gimana proses pembangunannya hari ini? Tadi aku lihat udah 75% progresnya. Bentar lagi selesai tuh, Kay.” “Iya, Mas. Estimasi satu minggu lagi lah tinggal finishing. Aku udah nggak sabar banget nungguinnya, Mas.” “Udah pengen cepat-cepat grand opening ya?” “Hu um, jadi udah ngebayangin deh Mas!” “Sabar… tinggal satu langkah lagi. Persiapannya masih kurang apa aja, Kay?” “Apa ya Mas? Kayaknya udah sih, furniturnya kemarin juga udah deal, tinggal antar kalau tempatnya udah siap.” “Bagus lah kalau gitu. Nanti kalau butuh sesuatu bilang aja ya, Kay.” “Baik, Mas. Oh iya, tentang rengganis kemarin. Ternyata itu usahanya orang tua temen Mas Dion ya? Namanya siapa Mas? Aku lupa kemarin.” “Iya bener, Kay. Barra namanya. Aku juga kaget banget, Kay. Dia nggak bilang kalau itu milik abahnya. Pas baru sampai sana, nah dia baru ngenalin tuh abahnya ke aku.” “Masa sih, Mas?” Kayana mulai tertarik mendengar penjelasan Dion. “Iya beneran, emang menyebalkan sih tuh anak. Bikin aku malu banget.” “Bisa-bisanaya ya, Mas. Di kalangan para dokter juga bisa ya saling usil kayak gitu, Mas?” Kayana tertawa sambil ke dua tangannya sibuk dengan makanan di piringnya. “Dokter-dokter juga manusia kali, Kay. Yang selera humornya juga tinggi, nggak ada yang beda. Sama pasien-pasien juga kita suka bercanda, Kay.” “Iya juga sih, Mas. Jadi pasiennya nggak pada takut gitu ya?” “Betul banget, mereka yang sakit nggak Cuma butuh obat kan? Tapi mereka juga butuh suport dan hiburan.” “Coba aja deh mas, semua dokter berpikiran kayak gitu pasti banyak orang sakit di luar sana yang nggak lagi takut periksa.” “Ya… kembali lagi ke pribadi masing-masing sih, Kay. Mau kasih bonus suport dan hiburan atau nggak.” “Makanya aku kadang takutnya disitu, Mas. Udah takut duluan sama kenyataan tentang apa sih penyakit yang kita rasakan, kalau ketemuanya sama dokter yang kaku, tegas, galak kayak gitu kan malah jadi tegang, ujung-ujungnya jadi down kan?” “Nah, kayak gitu yang kami khawatirkan Kay. Kita punya kode etik juga, jadi apa yang kita sampaikan ke pasien harus dengan bahasa yang seharusnya nggak bikin mereka shock, meskipun diagnosanya juga harus kita sampaikan.” Kayana mengangguk sambil melanjutkan makan, memahami dunia kedokteran bukan lah bidangnya. Namun mendengar cerita-cerita tentang itu cukup menarik baginya. “Kay, jarang banget ya kita bisa jalan berdua kayak gini?” entah keberanian dari mana Dion bertanya seperti ini, wanita di depannya menunjukkan ekspresi kaget, menghentikan suapan makannya dan menelan dengan sulit sisa makanan di mulut. Lalu meraih gelasnya dan meneguk air minumnya. “Maksud mas Dion?” “Iya, jadi sepi. Biasanya kan sama Erland,” bukan jawaban yang sesungguhnya ada dalam benak Dion, bukan itu maksudnya. Namun ia hanya tidak mau Kayana akan salah mengartikan perasaannya. Padahal bagi Dion ini adalah kesempatan yang menyenangkan bisa pergi berdua dengannya. “Makanya tadi aku galau banget di rumah sendiri nggak ada dia, Mas.”’ “Udah aku duga, kay,” Dion tersenyum simpul. Menyelesaikan makan malamnya, sesekali mencuri pandang pada Kayana. Perempuan itu sadar akan perhatian Dion dari tatapan matanya. Karena itu ia segera mengajak pulang setelah makanannya habis. *** Dion melangkah masuk ke arah teras rumah Kayana, bermaksud untuk mengantarnya sampai disana setelah ia pastikan Kayana sudah masuk ke dalam rumah ia ingin segera pamit. “Hm… Mas Dion udah mau langsung pulang?” “Iya, gimana Kay?” “Ya udah,” Kayana sedikit ragu mengatakannya, seperti ada yang masih ingin ia ucapkan,”hati-hati di jalan, Mas. Terima kasih untuk malam ini ya.” “Iya sama-sama, gimana Kay, kayak ada yang disembunyikan?” “Mas Dion besok ada jadwal?”’ “Ya ada, biasa Kay, sampai sore. Kenapa sih?” “Em… jadi. Eh nggak jadi aja lah, udah Mas Dion kalau mau pulang nggak apa-apa.” “Kenapa sih, Kay? udah, bilang aja! Apa ada masalah?” “Mas… aku takut.”’ “Takut kenapa?” “Takut di rumah sendiri.” Dion menggaruk kepalanya, sedikit nyengir melihat muka Kayana yang tampak malu-malu mengatakan itu. Ia masih belum bisa menanggapi, tapi otaknya tengah berpikir mau memberi solusi apa. “Aduh, kalau mau nyusul Erland juga udah jam segini pasti sampai sana udah kemaleman banget, Kay. Gimana ya?” Kayana hanya mematung di depan pintu, yang tadinya hendak mengeluarkan kunci dari tasnya menjadi ragu. Rasanya sangat malu jujur pada Dion, namun daripada nanti malah terjadi apa-apa lagi dengannya karena rasa takutnya, lebih baik ia ungkapkan. “Ya udah, aku temenin kamu malam ini, Kay. Aku temenin di mobil ya!” “Ha… Mas Dion mau tidur di mobil?” “Iya nggak apa-apa.” “Jangan lah, Mas. Mas bisa tidur di dalam, di kamar Erland.” “Nggak apa-apa, Kay. Di mobil juga sama aja.” “Masalahnya aku tetep takut, Mas. Setidaknya ada orang lain di dalam rumah, aku takut mas.” Deg. Jantung Dion seakan berhenti berdetak sejenak. Menghela panas satu kali tarikan, mencoba menenangkan hatinya yang mulai tidak normal. “Mobilku juga dekat, Kay. Cuma disini. Masih di halaman rumah kamu juga kan?” “Masih jauh, Mas. Aku buka pintu dulu ya!” akhirnya ia merogoh kunci dalam tasnya, membukanya dan mempersilahkan Dion masuk. Ada keraguan dalam hati Dion, merasa canggung menginap di rumah Kayana yang tidak ada orang selain mereka berdua. Tapi melihat perempuan itu benar-benar takut, Dion benar-benar tidak tega. “Mas mau minum apa?” “Nggak usah, Kay. Tadi juga udah abis minum,” Dion akhirnya masuk rumah sebelum akhirnya memastikan bahwa mobilnya sudah terkunci. “Nggak apa-apa, Mas. Bentar ya aku buatin dulu.” Dion mengangguk, lagi-lagi ia tidak bisa menolak Kayana. Dan benar saja, sikap Kayana yang manja ternyata sangat terlihat dari malam ini. Dion tersenyum sambil duduk di sofa dan mengeluarkan handphone dari saku celana. “Ini mas, aku buatin teh hangat. Oh iya, aku siapin kamar Erland dulu ya!” “Kay, nggak usah. Aku tidur di sofa sini aja ya! Enak disini, adem.” “Oh gitu, tapi nggak enak lah mas, masa sih tamu disuruh tidur di luar?” “Ha ha ha, nggak masalah Kay. Yang penting kamu udah nggak ngerasa takut lagi. Ya udah kamu istirahat gih! Aku jaga kamu disini.” “Ya udah, makasih sekali lagi ya, Mas.” Dion mengangguk dan membiarkan Kayana beranjak masuk kamar. Dia masih senyum-senyum sendiri melihat tingkah Kayana yang manja namun manis. Kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah pada sofa panjang disana, mencoba melepaskan lelah seharian ini dengan aktivitas di rumah sakitnya. Menyilangkan tangannya di d**a, pikirannya masih menerawang jauh membayangkan wajah Kayana. Malam itu, detik itu rasanya begitu bahagia bisa menjaga perempuan spesial meskipun awalnya sedikit ragu dengan keputusan menginap disana. Baru saja ia ingin menutup mata, terdengar langkah kaki Kayana mendekatinya. “Mas, ini selimutnya,” memberikan sebuah kain tebal berwarna navy pada Dion, ketika pikiran Dion tengah penuh dengan namanya. Dion terkejut, senangnya bukan main melihat senyum indah itu melengkung di bibirnya. “Terima kasih ya, Kay. Ya udah kamu buruan istirahat, capek banget kan?” “Mas Dion masih mau ngobrol dulu atau nggak?” “Sebenarnya masih, Cuma udah malem gini takut kamu jadi kurang tidur. Besok lagi nggak apa-apa Kay.”’ “Ya udah deh, kalau gitu aku istirahat duluan ya, Mas. Tehnya diminum lho, selimutnya di pakai juga!” Dion tersenyum dan mengangguk saat Kayana mulai berdiri masuk ke kemar. “Terima kasih perempuan hebat,” bathinnya dalam hati, namun kenyataannya ia hanya mengangguk dan berbalas senyum. Malam sudah terlalu larut, Dion masih terjaga. Belum benar-benar bisa tertidur. Mata itu mengarah pada pintu kamar kayana. Berharap bahwa ia baik-baik saja di dalam sana. Tak apa lah tiudr di sofa, asalakan ia bisa memenuhi permintaan Kayana. Ia ingin menjaga Kayana dengan baik malam ini. Memastikan bahwa Kayana akan baik-baik saja. “Aku siap melakukan yang terbaik untukmu, Kay. aku rela menjadi pelepas pilumu, asal keadaan kamu bisa lebih baik dari sebelumnya. Tidur lah, aku disini masih terjaga.” Cinta masih mengalir dalam hati Dion. Senyum kekaguman mendera-dera dalam hatinya. Andai saja malam ini Dion bisa mengungkan perasaannya pada Kayana, mungkin ia akan menjadi lebih lega. Di tempat yang tak jauh dari Dion merebahkan tubuhnya, Kayana tengah membereskan kamarnya. Merasa lebih aman sebab ia tidak lagi sendiri malam ini. Ia kemudian masuk ke kamar mandi, mencuci muka dan mengganti pakaian. Kayana lalu di duduk di kursi meja riasnya, bersyukur banyak orang yang peduli aku. Apalagi Dion yang selalu mengupakan semua hal terbaik untuk Kayana. Tanpa berpikir panjang untuk membantunya. Tidak peduli siang atau pun malam. “Banyak orang-orang yang mengatakan kalau kamu menyukaiku, Mas. Namun aku sadar diri, Mas Dion begitu baik. Aku seperti tidak pantas bersanding denganmu. Apalagi kamu dan Mas Julio bersaudara. Mas Dion sudah aku anggap seperti kakakku sendiri.” Kayana menyisir rambutnya sambil berbicara sendiri di depan cermin besar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN