[Kay, maaf ya aku pulang tanpa pamit. Aku ada jadwal poli pagi ini, jadi aku harus pulang ke apartement dulu ya. Baik-baik, maaf nggak sempat nyariin sarapan atau apa pun. Masih pagi banget. Sampaikan salamku untuk Erland, ya!] send to Kayana. Pukul 04.00
Matahari belum merekah.
Suara alarm berdering dari sebuah handphone yang berada di meja sofa, Dion merengkuh dari lelapnya. Membuka mata perlahan, sedikit kaget dengan pemandangan di sekitarnya. Terlihat tidak seperti pagi-pagi biasanya, hanya sebentar, lalu tersenyum manis mengingat bahwa ia sedang di rumah Kayana.
Dion sudah bersiap untuk meninggalkan rumah Kayana setelah ia sempatkan berpamitan dengan perempuan itu melalui pesan pada aplikasi hijaunya. Tersenyum dan mantap pulang. Berada dalam satu rumah dan dalam satu malam dengan Kayana, belum pernah ia bayangkan. Apalagi dengan niat menjaganya, sama sekali ia tidak berani berharap. Namun malam tadi memang terjadi meskipun seperti sebuah mimpi. Dion berharap Kayana tidur dengan nyaman malam tadi tanpa ada perasaan takut lagi.
Mengingat-ingat lagi senyum Kayana semalam, cukup membuatnya semangat hari ini. Dokter Ardiansyah Dion, termasuk dokter idola bagi para dokter-dokter muda di rumah sakitnya. Dokter yang banyak disegani karena prestasinya, juga dokter yang terlihat cool namun sangat ramah dengan pasien-pasiennya. Ia termasuk dokter senior yang sudah hampir tujuh tahun mengabdi disana. Dan pastinya pesona tampannya yang sering menghipnotis dokter perempuan di sana, dengan status single berkelasnya.
Jalanan sudah begitu padat ketika Dion berangkat menuju tempat kerja, beruntung jarak apartement dan rumah sakit tidak begitu jauh. Jadi Dion tidak harus terlalu lama menikmati kemacetan di setiap harinya. Tempat parkir kendaraan dokter dan karyawan sudah mulai penuh, dengan dibantu seorang tukang parkir, Dion dengan mudah menempatkan mobilnya.
Celana katun kasual navy, kemeja lengan pendek berwarna sky blue dengan ikat pinggang yang terpasang, snelli putih kebanggaan ia sampirkan di tangan kanan, sedang tangan kirinya menyelempang tas warna hitam. Pemandangan yang begitu memesona. Membuat orang-orang yang dilewatinya tertegun memandang dokter berkarisma ini. Rapi, wangi, selalu tampil fresh dan tampan sudah melekat pada diri dokter muda itu.
Dion melangkah pelan langsung menuju poli ortopedi, ada jadwal sampai pukul 11.00 siang ini. Ruang tunggu poli sudah hampir penuh pasien dengan nomor antreannya. Sedangkan beberapa perawat tengah menyiapkan segala sesuatunya. Dengan memasang senyum dan sedikit membungkukkan badannya ketika melewati pasien-pasiennya, Dion memasuki ruangannya. Mempersiapkan diri memakai jas putih, masker dan sarung tangan medis.
“Dok, tadi ada dokter Stevanie, beliau berpesan jam 11.00 ada meeting. Setelah poli selesai dokter Dion diminta untuk ke ruang meeting.”
“Kok dadakan, Sus? What is the problem?”
“Saya kurang tahu, Dok. Tidak ada pesan lain selain itu.”
“Baik lah. Pasien pertama sudah bisa suster panggil masuk sekarang,” Dion membuka rekam medis pertamanya sambil menunggu pasiennya masuk ke ruangan. Menyambut dengan ramah seorang ibu berumur kurang lebih enam puluh tahun dengan kursi roda dan ditemani anak perempuan yang sepertinya adalah putrinya. Memeriksa dengan teliti dan bekerja dengan baik.
***
Ceklek!
Dion dan Barra keluar dari pintu ruangan meeting. Berjalan perlahan dengan raut wajah yang terlihat begitu lelah.
“Hasil meeting tadi lo share ke gue ya ntar, Bar!” Dion memutar kepalanya sekali untuk mengurangi rasa pegalnya, sambil melepas jas dan menentengnya setelah keluar dari ruangan meeting.
“Iya, tenang aja. Lo kenapa sih?” tangan Barra menepuk pundak sahabatnya itu.
“Ngantuk banget gue, kurang tidur semalam.”’
“Ada kerjaan apa coba lo? Sampai lembur gitu?”
“Gue semalam nginep di rumah Kayana.”
“Hah… serius lo Di?” suaranya mengeras, melotot melihat Dion yang terlihat lemas dengan rasa curiga, “lo ngapain? Wah diem-diem nih bocah nggak beres banget? Lo.. gituan?”
“Gituan apa sih? Ngeres banget pikiran lo, dasar kotor!”
“Iya lo ngapain coba nginep di sana kalo nggak gitu-gitu?”
“Lo kira gue segila itu apa? Emang tampang gue kelihatan m***m apa? Rese banget pikirannya.”
“Ha ha ha, sabar sabar, udah emosi aja sih lo, bro. Oke, coba deh lo jelasin kok bisa-bisanya nginep disana, kayak berani nikahin dia aja.”
“Siapa bilang gue nggak berani nikahin? Cuma belum, inget lo!”
“Oke, gue tunggu lo ajak dia kawin kalo lo emang bener-bener berani. Yang kayak gitu baru temen gue, tahu nggak bro, hidup bakalan lengkap kalau lo cepetan melepas masa lajang. Biar ada yang ngurusin, ada yang nemenin kemana, ada yang manja yang jelas lo bakalan nggak kedinginan deh tiap malam, ha ha ha”
“Ya gue bilang sabar kan, semua butuh proses.”
“Iya, iya… terus kenapa lo nginep di sana? Jadi belum dijawab dari tadi.”
“Kayana nggak berani di rumah sendirian, anak sama mamanya lagi nginep di rumah saudaranya. Ya mau gimana lagi, gue nggak tega lah ninggalin dia sendirian, Bar.”
“Wah... lo emang pahlawan, Bro. Harusnya setelah ini Kayana jadi sadar sama perhatian lo selama ini. Eh… tapi lo beneran nggak macem-macem kan semalem?”
“Ya Tuhan, lo masih nggak percaya sama muka polos gue?”
“Bro… bro… kalau gue nih yang jadi lo, bisa jadi nggak terkontrol. Jiwa nakal gue bisa aja berontak, Di. Ha ha ha, lo emang keren sih. Berarti lo semalam jadi satpam gitu?”
“Iya jadi apa aja lah gue rela demi Kayana, bro. Makanya gue ngantuk banget hari ini, pengen cepet-cepet pulang rebahan.”
“Lo sama sekali nggak tidur, bro? Segitunya banget yang lagi jagain calon istri.”
“Ya gue tidur lah, Bar. Cuma kan jadi ngerasa punya tanggung jawab gue, jagain anak orang.”
“Ya ya ya, salut banget gue, sikat Di… jangan kelamaan,”
“Dokter Dion!” ada seseorang yang memanggil dari arah belakang saat Dion dan Barra sudah jauh berjalan dari ruang meeting. Mereka berdua menoleh, melihat ada dokter Stevanie berjalan cepat mengejar. Dokter dengan perawakan tidak begitu tinggi, make up tebal dan rambut blonde sebahu berwarna brown itu tengah memberi kode pada mereka untuk menunggunya.
“Tuh, fans lo udah mau tebar pesona, dia termasuk orang paling setia setelah lo tolak berkali-kali. Kasihan tahu, Di,” goda Barra nyengir.
“Ya gue nggak suka, mau gimana?”
Mereka akhirnya berdekatan, Dion masih dengan muka datar. Berbeda dengan Stevanie yang terlihat sangat terpesona dengan laki-laki di depannya.
“Dokter Dion ada visite hari ini?” sapanya dengan basa-basi sambil merapikan rambut cantiknya. Langkahnya ia samakan dengan kedua dokter laki-laki itu agar bisa seiringan.
“Iya, ada dua pasien yang musti saya kunjungi setelah ini, Dok.”
“Oh, ruang apa, Dok?”
“VVIP 3 dan satunya di bangsal. Kenapa, Dok?”
“Boleh saya temani? Hari ini saya free, Dok. Mungkin Dokter butuh bantuan.”
“Wah, terima kasih Dokter Stevanie. But not much I need today. Sudah ada perawat jaga, Dokter. Lain kali mugkin.”
“Tapi beneran kok, Dok. Saya nggak apa-apa, saya temani ya. Saya hari ini nggak ada visite kok.”
“Serius Dokter Stevanie, saya masih bisa sendiri. Terima kasih ya.”
“Oke, kalau dokter nggak mau saya temani visite. Gimana kalau setelah visite kita makan-makan dulu, ada resto rekomended lho nggak jauh dari rumah sakit ini.”
“Mohon maaf sekali dokter, saya ada acara sore ini. Terima kasih untuk tawarannya ya.”
“Yah.. Dokter Dion sayang banget. Sebentar aja nggak ada waktu ya, Dok?”
“Sekali lagi mohon maaf ya, Dok. Saya permisi dulu.”
Dion beranjak, menganggukkan kepala lalu meninggalkan Stevanie yang masih dengan muka penuh harap. Barra mengekor di belakang Dion sambil geleng-geleng kepala melihat sikap dinginnya pada dokter cantik yang umurnya kurang lebih lima tahun lebih muda dengan mereka.
“Tega banget lo, Di. Nolak ajakan dia di depan gue. Kelihatan malu banget tahu, dia.”
“Terus gue harus gimana, sekali aja gue mau di ajak jalan sama dia, semakin dia berharap sama gue. Dikira gue ngasih harapan ke dia dong! Harusnya dengan sikap gue tadi bikin dia berhenti deketin gue.”
“Heran deh gue sama lo, Di. Lo punya jampi-jampi apa sih sampai semua wanita single disini mupeng banget pengen deketin lo?”
“Ah nggak tahu ah, malah jadi risih gue.”
“Begitu lah resiko jadi cowok kelamaan jomblo, Di. Cewek-cewek yang suka sama lo bakalan menaruh harap terus selama lo belum punya pasangan. Makanya kalau lo pengen aman ya buruan nikah.”
“Itu terus sih yang lo bahas, lo udah kayak mami gue tahu nggak? Tiap hari nanyain kapan gue kawin.”
“Ha ha ha, masa sih? orang tua lo tahu nggak kalau lo lagi ngarepin Kayana?”
“Belum tahu sih, Bar.”
“Tapi kira-kira gimana sama mereka, Di? Seumpama lo sama Kayana, mereka bakal setuju nggak?”
“Ya gue belum bisa mastiin sih, Cuma sejauh ini mereka nggak terlalu selektif tentang pasangan hidup gue nantinya. Ya semoga aja mereka merestui, Bar.”
“Menurut gue sih, nggak ada sisi buruknya dari sosok Kayana dibanding dengan cewek-cewek lainnya. Ya mungkin Cuma karena dia single parent aja yang bedain.”
“Nah itu dia, bro. Gue juga mikir gitu, single parent pun menurut gue sama aja sih, dengan perempuan lajang di luar sana. Apa sih yang beda? Malah mereka spesial kok, karena bisa melewati masa kehilangan seseorang di hidupnya.”
“Iya bener, gue satu frekuensi sama lo kalau soal ini. Gue juga kadang heran sama orang-orang yang sering mendeskriminasi, mereka yang sering memandang sebelah mata para single parent. Toh nggak ada yang mau kan di posisi itu? Kayaknya nggak adil banget buat mereka.”
“Mereka yang bersikap kayak gitu kayak nggak akan ngalamin hal yang sama ya, Bar. Padahal mereka juga punya saudara, mama, adik bahkan pasangannya sendiri nggak menutup kemungkinan bakalan ngalamin jadi single parent kan?”
“Iyes, udah pada mati deh kayaknya tuh perasaan. Makanya gue justru dukung banget waktu gue tahu lo deketin Kayana. Hati lo emang baik, Di. Di saat banyak gadis di luar sana yang suka sama lo, lo memilih bertahan dangan perempuan spesial itu. Gue benar-benar salut sama lo. Segerakan, bro.”
“Thanks, Bro. Gue juga nggak tahu persisnya kapan rasa simpati gue jadi sayang gini sama dia, apalagi sama Erland. Dia benar-benar bikin gue nangis, Bar. Dia yang justru bikin hati gue luluh, rasanya pengen bisa di sampingnya setiap saat, jagain dia, temenin dia sampai dewasa. Erland bikin gue jatuh cinta, Bar.”
“Syukurlah, Di. Kalian juga kayaknya udah saling deket, jadi nggak butuh banyak cara buat mengambil hati Erland. Gue rasa dia juga nggak akan sulit menerima lo jadi bapaknya.”
“Iya gue harap sih kayak gitu, Bar. Sejauh ini Erland welcome banget sama gue, bahkan kalau gue lama nggak kesana dia pasti nanyain. Jadi nggak tega juga kan kalau gue nggak kesana?”
“Bener juga, bro. Mungkin kalau dia udah paham, bisa jadi dalam hati, dia punya keinginan yang sama deh kayak lo. Sama-sama saling menginginkan satu sama lain, usia dia yang masih segitu benar-benar butuh sosok ayah, bro. Erland kayaknya kalau sama anak gue seumuran deh. Anak gue ajak nih, bro tiap kali gue baru pulang kerja udah semangat banget ngajakin main.”
“Nah.. kayak gitu tuh Erland bro, tiap kali gue datang dia pasti kegirangan banget. Ngajak main ini lah itu lah dan gue happy banget lihat dia seantusias itu.”
“Ya kurang lebihnya begitu lah, Di rasanya jadi bapak.”
“Tapi sebaliknya, Bar. Rasanya hati gue kayak teriris tiap lihat dia nangis kangen sama Julio. Kayak kemarin waktu dia gue ajak jalan-jalan, dia yang tadinya ceria banget bisa berubah langsung murung.”
“Alasannya?”
“Iya dia abis lihat ada anak seumuran dia lagi lari-larian bercandaan sama bapaknya, langsung lah dia keinget sama papanya. Hancur gue bro lihat akhirnya Kayana dan Erland nangis saling berpelukan.”
“Kasihan ya, Di. Merinding lho gue dengernya. Bocah segitu udah harus ditinggal sama papanya, perasaannya peka banget lagi. Bisa semudah itu ngerasa kehilangan. Padahal yang namanya perasaan kangen itu sakit.”
“Makanya itu, bro. Rasanya hancur banget gue lihatnya, lihat hidup mereka yang udah perih bikin gue nggak tega. Kayak jadi punya tekat, punya janji pengen bikin mereka bahagia, bro. Gue nggak pengen lihat mereka sakit fisik ataupun psikisnya.”
“Semangat, bro. Gue yakin niat lo baik banget, suatu saat nanti Kayana bakal tahu itu kok. Yang terpenting sekarang gimana cara lo memperjuangkan mereka, jadi yang terbaik buat mereka. Semoga kalian berjodoh dan biar gue juga bisa lihat lo laku, nggak jadi jomblo terus. Ha ha ha.”
“Ujung-ujungnya ngeledek gitu kan lo!”
***