[Its oke, Mas. Maaf aku bangun kesiangan sampai nggak tahu kalau Mas Dion udah pulang.] send to Mas Dion.
Beberapa menit kemudian.
[Nggak apa-apa, Kay. Aku tahu semalam kamu pasti capek.]
[Lumayan, Mas. Makasih udah ditemenin dan dijagain ya, maaf jadi ngerepotin Mas lagi.]
[Sama-sama, Kay.]
Walau hanya via pesan dan tidak melihat langsung ekspresi Dion, Kayana sudah hafal bagaimana reaksinya ketika membalas permintaan maaf dan ucapan terima kasihnya.
Sudah hampir jam sembilan pagi, Kayana masih enggan beranjak dari kamarnya. Sehabis mandi dan menikmati teh hangat di dapur tadi, ia memilih kembali ke ruangan favoritnya. Menyisir rambut dan ber make up tipis di depan meja riasnya. Ia baru sadar, akhir-akhir ini ia memang tidak berminat untuk rajin merawat mukanya. Kulit wajah yang dulu putih bersih dan bibir yang selalu dilapisi dengan lipstik, kini pucat, polos dan kantung mata yang mulai nampak. Juga dua jerawat yang muncul di dagu sebelah kirinya membuat Kayana mulai tidak nyaman. Kulitnya yang sedikit berminyak menandakan bahwa dirinya sudah cukup lama tidak bersua dengan bedak dan juga teman-temannya. Dan baru pagi ini ia memperhatikan betapa tidak menariknya ia.
Dulu Julio selalu perhatian sekali terhadap penampilan istrinya. Jangankan jerawat, melihat Kayana yang lupa memakai lipstik saja pasti Julio langsung mengambilkannya. Ia ingin Kayana selalu tampil cantik sepanjang hari, meskipun setiap harinya ia hanya di dalam rumah.
Karena ingat akan pesan Julio, ia ingin tampil cantik seperti dulu lagi. Setidaknya bisa lebih terawat dan percaya diri lagi.
Hari-hari berikutnya akan lebih sibuk, tapi bukankah ini menjadi lebih baik. Kayana memang harus memiliki kegiatan yang positif untuk kebaikan dan masa depannya. Sangat mungkin bagi Kayana berdiri kuat dengan ke dua kakinya, hanya saja memang butuh waktu yang tidak instan untuk membuatnya menjadi perempuan seperti itu.
Kehadiran Dion membuatnya semakin kuat, seperti mendapatkan energi positif secara berkala. Kayana bahagia tapi dia sama sekali belum mengerti tentang arti kebersamaannya selama ini. Hatinya yang rapuh, yang masih selalu rindu dengan Julio menjadi lebih tenang ketika Dion datang menguatkan. Namun ia masih yakin bahwa perasaan itu hanya sebatas adik dan kakak saja. Kayana belum mau menganggapnya lebih dari itu.
Akhirnya ia putuskan untuk menjauh dari zona nyaman, keluar dari kamar kemudian pergi ke depan melihat perkembangan kiosnya.
Baru saja membuka pintu, Kayana melihat ada sebuah taxi memasuki halaman rumahnya. Ia masih menebak-nebak siapa yang datang, sampai pada akhirnya seseorang yang ia kenali turun dari balik pintu. Seorang perempuan tengah baya dengan rambut yang diikat rapi di belakang menjadi orang pertama yang terlihat, di susul anak laki-laki berkaos kuning dan mainan yang ia pegang di tangan kanan. Berlari menghampirinya dan berteriak, “Maaamaaaa…..”
Senyumnya melebar ketika melihat siapa yang datang, saling menghampiri dan berpelukan. Seperti lebih dari satu tahun saja tidak bersua. Hangat dan menentramkan sekali untuk dilihat.
“Uuuu… anak mama udah pulang ya, bukannya mau tiga hari di rumah Oma Mutia?”
“Anakmu yang ngajak pulang terus, Kay, nggak betah dia lama-lama nggak ada kamu,” ucap Anandita sembari menjatuhkan dirinya di kursi teras, meletakkan tas kecilnya di atas meja.
“Oh gitu, Erland nggak betah ya?” laki-laki kecil di depannya lalu ia gendong dan diusap-usapnya punggung kecil itu, “Erland kenapa?”
“Erland kepikiran sama mama terus, kasihan mama di rumah Cuma sendiri. Harusnya mama kan ikut kemarin, jadi Erland bisa bareng-bareng terus sama Mama,” Erland mengadu dengan bersemangat, bersungut-sungut di gendongan sang mama.
“Oh sayang, maafin mama ya. Harusnya mama ikut ya kemarin? Tapi nanti siapa yang mau ngurusin pekerjaan tokonya mama? Maaf ya, lain kali mama pasti ikut.”
“Janji ya, Ma. Iya deh, Erland maafin mama. Janji ya Ma, besok kita kesana lagi bareng-bareng. Mama cantik,” Erland menyentil lembut pipi Kayana, menyadari ada yang beda hari ini.
“Nah, gitu dong anak cakep. Ya udah Erland sekarang masuk dulu ya sama bibi, sarapan yang banyak baru boleh mainan lagi.”
Erland mengangguk dan menurut. Masuk ke dalam menyusul bibi Ana. Dengan senyum yang merekah, Kayana duduk mendekati mamanya.
“Gimana kabar tante Mutia, Ma?”
“Tantemu baik, Kay. Dia nitip salam sama kamu, nanyain tentang kamu banyak banget. Kangen dia sama kamu, Kay. Tantemu rada kecewa pas tahu kamu nggak jadi ikut. Sebenarnya mama masih pengen lama di sana. Rencananya nanti sore baru mau ke makam papamu, tapi Erland udah ngajak pulang aja.”
“Syukur lah, nanti Kay coba telepon tante buat permintaan maaf Kay yang nggak bisa ikut. Lain waktu kita kesana lagi ya, Ma. Maafin Erland jadi bikin rencana mama gagal.”
“Iya, nggak apa-apa. Anak-anak udah biasa seperti itu, Kay. Apalagi Erland juga belum terbiasa pergi jauh tanpa kamu. Dari semalam Erland khawatir banget sama kamu, Kay. Takut kamu sakit lagi katanya. Kamu nggak apa-apa kan semalam?”
“Ya Tuhan Erland, Kay baik-baik aja kok ma. Semalem emang mulai stres lagi, ternyata Kay takut sendiri.”
“Mama bilang apa, Kay. Mama udah minta biar kamu ikut aja, mama juga sebenarnya ragu kamu bakalan berani di rumah sendiri. Tapi kamu tetap aja nggak mau ikut.”
“Kay kayak nggak tenang banget ninggalin tenaga yang pada kerja keras gitu, Ma. Lagian banyak yang harus kay kerjain juga kemarin. Lebih cepat beres kan lebih cepat juga opennya, Ma. Jadi Kay harus lebih semangat juga.”
“Iya, yang penting kamu inget kesehatan. Kamu punya riwayat sakit kepala yang bisa tiba-tiba kambuh kalau kamu kecapekan. Hm… mama Cuma nggak mau kamu kenapa-napa, Kay. Bekerja sesuai kemampuanmu, jangan malah apa-apa pengen dikerjain aja. ”
“Iya Mama, makasih udah selalu diingatkan, udah selalu perhatian dan ada buat Kay. Maafin Kay udah banyak bikin Mama kepikiran.”
“Sama-sama, Kay. Lihat kamu udah semangat kayak gini bikin hati mama adem. Semalam nggak lupa kunci pintu kan?”
“Enggak kok, aman Ma. Oh iya, semalam Kay ditemenin sama Mas Dion.”
“Ditemenin?”
“Iya, Mas Dion nginap disini semalam, Ma.”
“Kay….” Anandita heran, dahinya berkerut mendengar ucapan Kayana. Ada perasaan curiga namun cepat-cepat ia hilangkan, “Kalian nggak ngapa-ngapain kan?”
“Ya Tuhan, Mama. Mama percaya sama Kay kan?” Kayana meyakinkan, memegang tangan mamanya dengan lembut, “Mama, semalam Kay stres. Kayana mulai berhalusinasi lagi, Ma. Suara-suara Mas Julio dulu kayak deket banget di telinga Kay. Kepala Kay udah hampir sakit lagi. Untung Mas Dion datang, nenangin Kay. Kita lalu keluar cari makan malam dan sepulang dari makan, Kay nggak berani di rumah sendiri. Dengan baik hati Mas Dion nemenin Kay di ruang tamu. Demi Tuhan tidak terjadi apa-apa semalam di rumah ini, Ma. Tadinya Kay suruh Mas Dion buat tidur di kamar Erland, tapi dia nggak mau. Mas Dion memilih tidur di sofa ruang tamu, Ma.”
“Syukur lah Kay, Mama tenang dan percaya sama kamu. Apalagi Mama juga tahu betul gimana Dion. Dia juga nggak mungkin melakukan hal-hal yang nggak baik. Yang penting kamu baik-baik aja kan sekarang?”
“Iya ma, terima kasih karena mama udah percaya sama Kay. Kay baik, Ma. Utuh, sehat dan bahkan lebih baik daripada kemarin,” dengan yakin Kayana menjelaskan.
“Kay…” Anandita memandang Kayana penuh harap lalu memegang tangannya dengan cinta, “dalam hatimu apa kamu sudah menemukan ada cinta dari diri Dion buat kamu?”
“Ma…”
“Kay, dulu pertama kali Mama ketemu dengan Julio, Mama merasa sangat yakin dan mantap ketika dia dengan berani meminta ijin untuk melamarmu. Mama tahu betapa dia menginginkanmu dengan tulus dan menghargaimu sebagai perempuan spesial. Perlakuannya terhadapmu, perhatiannya dan semua pengorbanannya. Sangat, sangat mencolok, Kay. Dan ini kali ke dua mama merasakan hal yang sama pada Dion. Perlakuan Dion sama persis dengan Julio. Tulus dan sangat menghargai kamu. Apa kamu tahu itu?”
Kayana masih terdiam meresapi perkataan mama yang tiba-tiba mengarah kesana. Kepalanya tertunduk, melihat ujung kakinya yang terbalut sandal flat warna merah muda. Bingung bagaimana ia harus menjawab.
“Tempo hari yang lalu, Mama sempat menanyakan perihal hati Dion. Bagaimana dia bisa rela melakukan hal-hal yang berhubungan tentang kamu dan Erland, kalau dia tidak memiliki perasaan terhadap kamu. Sedangkan apa ada orang lain selain Dion yang sampai detik ini ada buat kamu? Setahu Mama, Dion adalah dokter yang aktivitasnya sangat banyak, tapi ia selalu mengusahakan untuk tetap siaga buat kalian.”
“Mas Dion selalu baik pada siapa pun, Ma.”
“Oke, iya mama tahu itu. Apalagi dengan semua pasien-pasiennya. Namun baik karena tulus mencintai dengan baik terhadap semua orang itu beda, Kay. Mama disini bukannya mau terlalu ikut masuk dalam perasaan kamu. Mama Cuma mau ngasih tahu ke kamu kalau Dion orang yang tepat buatmu, mama yakin itu. Mama juga nggak mau maksain perasaan kamu, tapi mama harap kamu bisa membuka hati untuk dia. Kay… belajar mencintai itu nggak ada salahnya.”
“Mama… Kay tahu betapa baiknya Mas Dion yang rela siang malam ada buat Kay.Tapi kalau Kay boleh jujur sampai saat ini Kay belum menemukan perasaan yang lebih dari seorang kakak. Kay menghormati Mas Dion sebagai kakak, Kay percaya sama dia sebagai orang yang ada hubungan keluarga dengan Mas Julio.”
“Mama tahu itu, Kay. Kalau kamu berpikir bahwa Dion peduli denganmu hanya karena sebatas seorang kakak, menurut Mama itu semua nggak tepat Kay. Kamu harus bisa membedakan itu. Tapi kembali lagi, memang itu hak kamu, tapi kalau suatu saat nanti Dion datang dengan kepastiannya coba kamu pertimbangkan baik-baik ya. Mama seratus persen merestui kalian. Dan saat ini yang menjadi pertimbangan adalah Erland, Kay. Mama seneng banget lihat kedekatan mereka. Mereka kelihatan saling menyayangi dengan tulus.”
“Iya, Ma. Kay ngerti dan bakalan Kay pikir baik-baik. Mungkin Kay Cuma butuh waktu untuk belajar membuka hati, Ma.”
“Iya, kamu bener. Ingat, Kay… kamu juga butuh bahagia, kamu masih muda. Kamu masih butuh pendamping hidup yang baik, Erland pun butuh seorang ayah yang kelak bisa menemani dia sampai dewasa nanti. Menjadi pelindung yang bisa membuatnya teduh. Dan menurut Mama Dion lah orangnya.”
“Siapa pun itu nanti yang bakalan menemani Kay, semoga dia benar-benar tulus ya, Ma.”
“Aamiin Kay, doa yang kuat ya. Semoga Tuhan mengirimkan orang-orang baik untuk kamu dan Erland.”
“Iya, Ma. Terima kasih untuk semua doa terbaik Mama buat Kay. Kay nggak bakalan jadi apa kalau nggak ada Mama di sini.”
“Kay… kamu anak Mama satu-satunya, tidak pernah sekalipun Mama lupa mendoakanmu. Mama mau dampingi kamu sampai nanti. Mama pengen kamu bahagia, melihatmu dengan kondisi seperti ini, Mama udah jauh lebih bahagia. Kamu yang udah mau bangkit dan senyum lagi rasanya tenang hati Mama,” tangan lembut seorang ibu mengusap-usap ke dua pipi Kayana, mengelap air mata yang jatuh tanpa ijin,”Mama senang lihat kamu mulai memperhatikan penampilan lagi, hari ini kamu cantik sekali sayang,”Anandita tahu persis, ini pertama kali Kayana memakai make up. Terlihat lebih fresh dan cantik dari biasanya.
“Kay sadar sudah berapa lama Kay terlalu abai, apalagi Kay lupa bahkan nggak ada niat untuk merawat diri lagi setelah Mas Julio pergi. Selama ini Kay sibuk melawan diri sendiri, sampai lupa kalau Kay juga butuh untuk dikipirkan. Sedangkan kalau bukan diri sendiri, siapa yang pertama akan mengerti. Ma, ajarkan Kay untuk jadi wanita hebat seperti Mama. Mama yang kuat untuk Kay selama ini tanpa mengeluh sedikitpun. Yang rela berjuang sendiri demi Kay. Mama… Kay beruntung dilahirkan dari rahim Mama,” lagi-lagi pecah lah tangis Kayana, menghamburkan tubuhnya pada pelukan Anandita.
“Kayana… selama ini Mama nggak pernah sendiri dengan arti yang sebenarnya, ada Tuhan yang selalu menemani Mama, saat Mama sedih, rapuh atau hampir lelah. Kasih sayang Tuhan begitu terasa buat Mama. Jadi kamu nggak boleh nyerah ya, semua akan baik-baik saja dalam bantuan Tuhan.”
***